
Alisa menjerit, karena Tiba-tiba tubuhnya melayang karena Hadi gendong begitu saja.
"Eh, lepaskan. Turunkan aku? aku bisa jalan sendiri lagian sendal ku di sana!" Pekiknya Alisa sambil mengalungkan tangan kirinya takut terjatuh.
"Di mana sendalnya?" tanya Hadi sambil celingukan.
"Di situ!" Alisa menunjuk ke arah sendalnya nya dia simpan di sebelah sana dengan tangan kanan.
Hadi pun membawa wanitanya ke tempat yang ada sendalnya. Lalu menurunkan nya di sana.
Alisa mengambil dan menjinjing sendalnya, namun ketika mau jalan ... lagi-lagi Hadi mengangkat tubuh Alisa. Namun kali ini di panggulnya bagai bagai memanggil karung beras.
"Ahc, lepaskan! aku mau jalan sendiri?" Alisa terdiam dan sedikit memukul punggungnya Hadi dan juga menggerakan kakinya.
"Diam sayang? malau dilihat orang," Hadi melihat Kana dan kiri yang masih ada orang yang sedang menikmati malam di pantai ini.
Alisa pun menoleh ke arah sekitar. Lalu Dian dan tenang!
Zidan yang melihat dari kejauhan hanya bisa tersenyum dan tidak terasa meneteskan air mata.
"Tapi turunkan aku? aku bukan karung beras Om ... turunkan?" pinta Alisa dengan pelan.
Akhirnya Hadi menurunkan tubuh Alisa, ketika berancang-ancang mau membopong kembali. Alisa berlari sambil menjulurkan lidahnya.
"Ayo, Om kejar? kalau bisa ha ha ha ..." Alisa tertawa sambil berlarian.
"Kau meragukan ku ha? lihat saja kalau kau bisa aku tangkap sejauh mana pun kau berlari." Hadi mengejar Alisa yang keluar dari area pantai.
Dan akhirnya Alisa bisa tertangkap juga di saat dia hendak memakai sendal. Dikarenakan kakinya terasa perih dan sakit yang tidak beralaskan sendal tersebut.
"Auw!" pekik Alisa seiring di angkatnya tubuh mungil itu melayang di udara.
"Kau meragukan ku bukan? ternyata kau bisa ku tangkap juga kan! Hadi di lawan, mau lari lagi ha?" suara Hadi sedikit memburu.
"Nggak mau, capek. Kaki ku sakit," sahutnya Alisa sambil mengeratkan rangkulan tangannya di pundak Hadi.
"Suruh siapa lari hem? sudah aku kasih ringan malah minta yang berat dan sulit, dasar wanita. Ada-ada saja." Gumamnya Hadi.
__ADS_1
"Dasar wanita, ibumu bukan wanita apa?" balas Alisa.
"Iya, wanita. Tapi ibu ku gak seperti kamu yang bandel." Jadi mesem sambil berjalan memasuki lobby.
"Aku mau turun, sudah di lift ini kan?" pinta Alisa setelah memasuki sebuah lift yang akan menghubungkan ke lantai sekian.
Hadi pun menurunkan Alisa di dalam lift. "Bawel!"
Manik mata Alisa mendelik pada Hadi sambil melihat telapak kakinya yang memerah.
"Nanti kita obatin ya?" Hadi ikut melihat itu.
"He'em. Panas! padahal dulu kemana-mana gak pakai sendal santai aja tuh!" suara Alisa pelan.
"Karena sekarang beda, kau sudah jadi istri Hadi Dirgantara. masa istri Hadi nyeker! kan gak mungkin." Tambahnya Hadi.
Hadi meraih tangan Alisa yang lantas di tuntunnya ke dalam kamar. Alisa sempat melihat pintu kamar Zidan yang sepertinya belum pulang.
Alisa membuka Hoodie nya, lalu ia simpan di gantungan. Hadi mendekat berdiri di hadapan Alisa yang terdiam.
Hadi menggerakan tangannya mengelus pipi Alisa dengan punggung jarinya dengan lembut. "Kan tadi bisa bilang kalau mau ke pantai, bukan sama pria lain yang tentunya bukan muhrim!" lirihnya Hadi sembari menatap lekat juga.
"Alisa cemburu hem?" saya tidak ada apa-apa! cuman teman biasa!" ungkap Hadi sambil maju selangkah kemudian memeluk gadis itu dengan erat.
"Nggak, aku gak cemburu kok," suara Alisa sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hadi yang tengah memeluknya.
"Beneran gak cemburu?" goda Hadi sambil mengusap punggungnya Alisa dengan halus.
"Nggak ... aku gak cemburu." jawabnya Alisa tidak mau mengakui.
Hadi memudarkan rengkuhannya pada Alisa, memberi jarak di antara mereka. Kedua tangan jadi membingkai wajah istri kecilnya itu.
"Dengar, aku tidak suka bila kamu dekat-dekat dengan pria lain slagi tanpa adanya aku. Aku gak suka, siapapun itu!" kedua netra Hadi bergerak menatap kedua manik mata Alisa.
Alisa membalas tatapan itu. "Enak saja bilang aku gak boleh deket-deket pria lain, dianya juga dekat-dekat wanita lain." Batinnya Alisa tanpa dia ungkapkan.
Kemudian mereka bersiap tidur dengan satu selimut. Alisa memunggungi Hadi yang memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Sebenarnya Hadi ingin sekali bermain lagi. Memanjakan singa nya yang menunggu di ajak bermain gol-gol'an yang bikin dia happy.
Tetapi Hadi menekannya keinginan nya itu, kasihan dengan istri kecilnya ini, sebab baru beberapa jam lalu.
"Tenang, sabar! kasihan istri ku nanti kelelahan. Lagian baru beberapa jam yang lalu." Hati Hadi bermonolog sambil mencium wanginya bau shampo yang Alisa Paksi.
Setelah beberapa saat mereka tertidur. Alisa bergerak merubah posisinya memutar dan menghadap ke arah Hadi yang sudah terlelap dengan nyenyak.
Perlahan manik matanya Alisa terbuka dan menemukan pria tampan yang sedang tidur begitu nampak pulas.
Bibir nya Alisa di tarik ke samping. Dengan pandangan tertuju pada wajah itu. Perlahan tangannya menyentuh rahang Hadi yang berbulu sangat halus.
"Tampan juga si om ini. Wajar kalau banyak yang suka, termasuk Tante Aleta yang notabene nya teman dari jaman dulu." Batinnya Alisa sembari terus mengembangkan senyumnya.
Diam-diam Hadi memicingkan kedua netra matanya tanpa Alisa sadari.
Bibir Hadi pun tersenyum tipis melihat istri mudanya itu. Alisa buru-baru menarik tangannya ketika sadar Hadi sedang memandangi dirinya.
"Kenapa, malu-malu begitu?" suara Hadi dengan parau.
Alisa pura-pura tidur. Namun bibirnya tersenyum tipis, cuph! kecupan kecil mendarat di bibir Alisa yang tipis itu.
Kedua manik mata Alisa pun terbuka. Memandangi wajah Hadi yang tersenyum dan menatap dirinya dengan lekat dan tampak sekali muka bantalnya itu.
"Aku mau tidur, ngantuk!" Alisa menyembunyikan wajahnya di leher Hadi.
"Ya, kita sehari lagi di sini. Besok sore kita pulang ke habitat kita lagi. Sorry ya? bulan madunya kita lanjutkan di rumah saja. Nggak harus di tempat romantis seperti ini," lirihnya Hadi lagi, suaranya serak khas bangun tidur.
Bibir Alisa senyum simpul sembari mencubit kecil dada Hadi. "Ini orang pikirannya ngeres Mulu."
"Bukan ngeres sayang, tapi kebutuhan setiap orang yang normal, kalau mereka tidak membutuhkan nya! berarti tidak normal." sambungnya Hadi seraya kembali memejamkan matanya itu.
"Aku gak mau," gumamnya Alisa sembari semakin menyusupkan kepalanya ke dada pria yang sedang memeluknya erat.
"Nggak mau apa hem?" kepala menggeleng! yang bawah minta nambah, iya?" Hadi menyungging kan bibirnya dengan tetap terpejam.
Sepersekian waktu kemudian. Mereka pun langsung kembali melayani mimpi ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Mereka berdua sudah mulai menunjukan, kalau keduanya saling membutuhkan.