
Gadis dengan penampilan formal, rambut terurai itu sedikit hentakan kaki ke lantai dan menyusul Hadi dengan segera.
Di parkiran, bertemu dengan Zidan yang langsung menawarkan tumpangan.
"Eeh, maaf ya? makasih juga. Tapi Ku masih ada urusan sama bos!" Alisa dengan halus menolak sembari menunjuk ke mobil Hadi yang di dalam sudah ada orang nya.
"Ya ... sayang banget ya? masih ada urusan ya? baiklah." Eksekutif muda dan tampan itu sedikit kecewa, namun apa boleh buat. Dia cukup mengerti dengan kesibukan Alisa sebagai asisten CEO di perusahaan tempatnya bekerja.
"Sorry ya?" Alisa menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Langkah Alisa buru-baru memasuki mobil Hadi yang tanpa bicara apapun.
Hadi melihat dan mendengar perbincangan antara Zidan dan Alisa barusan.
Alisa melamun sembari melihat ke arah jendela sambil mengandalkan punggungnya ke kursi mobil.
Hatinya masih kesal dengan kelakuan Hadi yang membuang bunganya.
Sesekali Hadi melirik ke arah Alisa, biarpun masih marah karena gadis itu tidak peka dan menjaga perasaannya. Namun sebagai pria dewasa, Hadi berusaha netral dan melembutkan hati nya.
"Mau beli makanan gak?" tanya Hadi seraya melirik sekilas.
Alisa menggeleng. Tanpa menoleh ke arah yang bertanya.
"Mau beli minuman apa?" tanya Hadi kembali.
Kini Alisa menoleh ke arah pria yang sedang menyetir itu. "Nggak mau!"
"Marah apa?" Hadi kembali bertanya sambil melajukan mobil dengan pelan.
"Bertanya lagi, ya marah lah. Itu pemberian orang yang buang begitu saja! kalau aku sendiri yang membuangnya itu wajar," Alisa bersuara sedikit menggebu-gebu.
"Lagian, bukankah aku berhak menata hidup untuk masa depan ku? jadi bila aku dekat dengan pria yang baik-baik, itu wajar dong lagian aku juga punya batasan kok! sambung Alisa kembali sambil sedikit menggeser posisi duduknya.
"Sudah ngomong nya? sudah?" selidik Hadi sambil menoleh.
"Sudah," ketus Alisa.
"Kalau saya harus menghargai soal itu, apa kamu juga menghargai saya sebagai suami kamu, apa kamu peka dengan yang saya butuhkan dari dirimu?" Hadi berkata dengan jelas.
"Ha? aku harus peka dengan apa mau mu? semua keperluan mu aku siapkan, aku layani sebagaimana mestinya dan kalau soal yang lebih pribadi sih ... kan sudah ada dalam perjanjian! apa aja yang tidak boleh dilakukan," ungkap Alisa.
__ADS_1
"Oh, gitu. Maaf saya lupa!" jelas Hadi dengan perasaan yang semakin gondok. Mengambil kaca mata hitamnya lalu di kenakan.
Alisa pun terdiam dengan hati yang juga marah, berasa tidak di anggap. Sudah 99% mengurus pria ini masih juga di anggap tidak peka dan tidak mengerti kebutuhan nya.
Tanpa di sadari ya, Alisa meneteskan air matanya sebagai luapan perasaan nya.
Dari balik kaca mata hitamnya. Hadi melihat Alisa menyeka air matanya kasar.
Sampai tiba di rumah, tidak satu pun yang mengeluarkan suaranya, hanya suara mesin saja yang terdengar halus.
Hadi turun dari mobil dengan menenteng tas kerjanya, sementara Alisa menenteng tas dia dan jas miliknya Hadi.
"Assalamu'alaikum ..." suara Alisa ketika melintasi pintu.
Dan Hadi menjawabnya dalam hati, sembari terus berjalan. Di ujung tangga lantai atas, Hadi memberikan tasnya pada Alisa karena dia mau menemui sang istri pertama.
Sejenak, Alisa menatap punggungnya pria itu yang kini bersikap dingin padanya. Helaan nafas Alisa begitu tampak berat dan lalu membawa langkahnya ke dalam kamar.
Diana sedang berada di balkon menikmati sunset yang indah bersama ibu mertua dan tidak jauh darinya si putra bungsu yang sedang bermain gadget.
"Ibu, gimana apa ibu sudah menanyakan pada abang! apa dia sudah melakukan kewajibannya pada Alisa?" Diana menatap ke arah ibu mertuanya itu.
"Diana sudah menanyakan itu, namun Abang jawabnya sudah. Tapi Diana percaya kalau mereka belum melakukan apa-apa. Abang pria yang normal dan Diana ikhlas kok, Bu ... makanya Diana menikahkan mereka berdua." Tambahnya Diana dengan tampak tulus dengan nada bicaranya.
"Assalamu'alaikum ..." Hadi menghampiri keduanya.
Kedatangan Hadi membuat obrolan mereka berdua berhenti.
"Wa'alaikumus salam ..." jawab kedua bidadari yang ada di sana dengan serempak.
Lalu Hadi mencium tangan sang bunda dan lanjut mengecup kening sang istri dengan sangat mesra.
"Hi ... jagoan Papa. Lagi nemenin Mama ya?" Hadi mengangkat tangan pada Dirga.
"Iy, Pah!" Dirga lalu berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
"Baru pulang Abang ... mana Alisa?" selidik Diana sambil menatap intens ke arah suaminya yang masih mengenakan pakaian kerja.
"Iya sayang, Alisa di kamarnya." jawab Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke pagar balkon.
"Ehem, Hadi ... apakah sudah ada tanda-tanda Alisa ngidam?" tanya sang ibu pada putranya.
__ADS_1
Hadi yang langsung terkejut mendengar pertanyaan dari sang bunda. Menggaruk tengkuknya. "Em ... belum, Bu ... lagian kasihan Alisa nya kayanya belum siap bila mengidam secepat itu."
"Tidak apa-apa, kan Alisa juga sudah dewasa untuk itu, dia bukan gadis di bawah umur. Lagian bersuami." Tambahnya sang bunda sambil melirik ke arah Diana.
"Abang sudah, itu kan?" selidik Diana.
Sejenak Hadi terdiam. Menatap lekat pada Diana. "Sudah, Abang sudah melakukannya." Jadi meyakinkan.
"Syukurlah, kalau sudah. Aku cuma tidak ingin Abang berdosa karena Abang mengabaikan istri." Timpal Diana.
Di balik pintu balkon. Tadinya Alisa mau menghampiri mereka,, namun terdengar sedang tampak bicara serius. Membuat ia urungkan niatnya dan berdiri di balik pintu tersebut.
"Gimana, sayang ini? Abang mengabaikan istri. Gimana maksudnya? setiap hari Alisa menunaikan kewajibannya sebagai istri. Di rumah sebagai istri dan di kantor sebagai asisten. Dia cukup tau tanggung jawabnya terhadap Abang!" protes Hadi.
"Diana percaya sama Alisa yang sudah berusaha mengurus dan melayani Abang. Tapi yang Diana tanyakan, apakah Abang sudah menidurinya? Abang itu suami dan laki-laki yang normal, jadi Abang berkewajiban untuk memberikan nafkah lahir maupun batin, kalau Abang tidak memberikannya pada Alisa. Abang berdosa!"
"Iya, Hadi ... istri itu diibaratkan ladang untuk bercocok tanam. Tempatnya berkasih sayang, jangan sampai kau itu berdosa karena tidak melakukan kewajiban mu itu sebagai suami!" tambahnya sang bunda, melengkapi omongan mantu nya, Diana.
Degh.
Jantung Alisa mendadak berdegup sangat kencang. Mungkin yang mereka omongkan adalah soal ranjang antara dirinya dengan Hadi.
"Ya Allah ..." Alisa bengong.
Hadi yang dengan sekilas melihat keberadaan Alisa di situ langsung memanggil. "Lisa sayang ... sini?"
Manik Alisa melotot, kok Hadi tahu sih kalau dirinya berada di situ. Kemudian Alisa mengayunkan langkahnya menghampiri sambil berusaha menunjukan senyum nya.
Hadi menarik tangan Alisa agar berdiri dengannya. "Kalau kalian tidak percaya, tanya saja orangnya! kalau kita sering berkasih sayang, iya kan sayang?"
Hadi menatap wajah Alisa yang dia elus pipinya dengan lembut.
Membuat Alisa terlihat kikuk dan gugup. Namun kepalanya tak ayal mengangguk sembari terus mengulas senyumnya yang dia tunjukan kepada sang ibu mertua dan madunya, Diana.
Diana dan ibu mertua mengguratkan senyumnya pada Alisa yang masih tampak menyembunyikan gugupnya.
Sesaat kemudian, sesuatu yang tidak Alisa duga. Kalau Hadi berani mencium pipi nya dengan mesra. Alisa menoleh menggerakan matanya pada Hadi, mau marah gimana di hadapan Diana dan ibu mertua, hingga akhirnya Alisa hanya bisa terdiam sembari mengulas senyumnya dan bukan cuma itu saja, tangan Kana Hadi merangkul pinggang Alisa hingga menempel ke tubuhnya. Sesungguhnya Alisa dibuat malu! sebab Hadi melakukannya dihadapan orang. Diana dan mertuanya ....
...🌼----🌼...
Kemarahan tidak akan lama bila dibalas dengan kelembutan dan kasih sayang.
__ADS_1