
Alisa hanya terdiam dengan wajah yang mengarah seperti tomat. Malu, lalu melonjak berdiri. "Aku mau mandi."
Geph!
Pergelangan Alisa. Hadi tangkap. "Kita mandi bareng ya?" goda Hadi.
Alisa langsung menarik tangannya dari tangan Hadi, bergidik geli seraya berkata. "Tidak."
Bibir Hadi tertarik ke samping. Menatap punggung Alisa yang memasuki kamar mandi dengan terburu-buru.
Namun detik kemudian, Alisa kembali setengah berlari memungut selimut dan bantal yang tadi terjatuh dan dia simpan terlebih dahulu. Hampir saja dia lupa untuk menyimpannya ke dalam wardrof.
Setelah menunaikan subuh, seperti biasa Alisa membereskan kamar dan bersih-bersih, menyiapkan pakaian formalnya di atas tempat tidur yang sudah rapi dan wangi itu, setelah selesai semua. Barulah di menyiapkan sarapan buat sang suami di bawah.
Hadi sendiri setelah rapi, dia pergi ke kamar sang istri pertamanya, siapa lagi kalau bukan. Diana.
Dia berjalan melewati koridor dan dan bertemu dengan Dania yang langsung menyapanya.
"Abang, pagi?" sapa Dania dengan sedikit genitnya.
"Pagi juga, kau sudah tampak rapi pagi-pagi mau kerja lebih pagi apa?" Hadi menatap penampilan Dania dari atas ke bawah.
"Ach, Abang ... kan Abang juga sudah rapi pagi-pagi, gak berangkat jam segini juga bukan?" Dania melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Oo, aku sih jelas. Kerena sudah di siapkan oleh istri ku, Oya kapan kau akan mengenalkan calon mu pada ku?" selidik Hadi sambil berjalan berbarengan dengan Dania.
Dania sejenak hentikan langkahnya dan menoleh pada Hadi yang terus berjalan. "Kan kamu, calon ku, Abang!" batinnya.
Hadi menolehkan kepalanya ke arah Dania yang berdiri di belakang Hadi. "Kenapa, kenapa tidak menjawab? bawalah ... kenalkan pada ku dan biar aku yang menilainya. Baik atau tidak nya!"
"Em, em ... gampang lah nanti aku kenalkan." Dania sedikit kebingungan lalu kembali berjalan beriringan.
"Ok," Hadi mengangguk pelan.
Mereka berdua melanjutkan langkahnya untuk menemui Diana.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ... sayang, sudah mandi kah? tampak sudah segar sekali." Hadi langsung menghampiri dan memberikan kecupan di kening Diana dengan sangat mesra.
Bikin iri yang melihatnya. Jelas Dania pun merasa terbakar dan panasnya sampai ke hati.
Sesak dada ini bila melihat Hadi bermesraan dengan istrinya. Padahal siapakah dirinya? yang bukan siapa-siapa.
"Wa'alaikumus salam ... Abang juga sudah tampan, tapi dan wangi." Diana menatap suaminya dan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku senang, sekarang Abang ada yang urus. Alisa mengurus Abang dengan baik kan?" gumamnya Diana dalam pelukan sang suami.
"Tentu, dia mengurus Abang dengan baik." Balasnya Hadi sambil mengusap punggung sang istri dengan lembut.
Dania yang sedari tadi berada di sana hanya mematung dan memandangi ke arah pasangan suami istri tersebut yang menunjukan kemesraan nya. "Bikin BT. Di sini aku hanya bagaikan kambing congek saja."
Dania memutar badan keluar dari kamar Diana. "Uuh, bikin sesak. Kapan sih matinya dia? apa perlu ku racun ya?" gumamnya Dania sambil terus berjalan di koridor menuju lift.
Sementara Alisa dari tangga menapakkan kakinya di lantai atas membawa sarapan buat Hadi dan sekalian buat Diana juga, makanya dia langsung membawa itu ke kamarnya Diana.
"Assalamu'alaikum ..." salam Alisa sambil berdiri di ambang pintu, dengan pandangan mengarah ke dalam kamar, dimana Hadi dan Diana sedang berpelukan.
Hadi melepas pelukan nya terhadap sang istri lalu menoleh pada Alisa yang berdiri di depan pintu. "Wa'alaikumus salam ... sayang masuk?"
"Em ... Alisa bawakan sarapan buat kalian berdua!" gadis itu berjongkok menyimpan beberapa piring dan gelas di meja, menyimpan nampan di bawah meja.
Sorot manik Diana tertuju ke arah meja dan Alisa bergantian. "Itu buat Tante juga Lisa ..."
"Iya, Tante ... buat Tante juga." Alisa duduk yang tidak jauh dari Diana dan bersiap menyuapinya.
Diana mengulas senyum nya pada Alisa, lalu membuka mulut bersiap sarapan. "Makasih ya? Lisa ... Lisa juga sarapan dong!"
"Aku sudah di bawah, Tante ... gimana perkembangan Tante setelah berobat kemarin?" tanya Alisa membuka obrolan.
Diana mengembuskan nafasnya kasar. "Begini lah. Seperti yang Lisa lihat."
"Sabar ya? dan semangat terus. buang pikiran-pikiran yang hanya akan mengganggu kesehatan Tante." Lirihnya Alisa sambil terus menyuapi Diana.
__ADS_1
Hadi yang masih terdiam sambil memegangi tangan Diana yang sebelah. Mendengarkan obrolannya istri pertama dan istri muda.
Diana menoleh pada Hadi yang bengong. "Abang ... kok gak makan sih? makan lah, Diana sudah kenyang, sudah Lisa. Cukup, Tante dah kenyang!" mengalihkan pandangan pada Alisa juga.
Alisa mengangguk lalu memberikan minum pada Diana.
Setelah menyimpan piring Diana. Alisa melirik pada Hadi yang menatap dirinya. Kemudian terdengar suara notif dari ponselnya sehingga kini tangannya sibuk dengan benda pipih itu.
"Nggak mau sarapan?" tanya Alisa pelan kepada Hadi yang menggerakan matanya.
Alisa menghela nafas dalam-dalam, dia tau kalau dah kaya gini pasti minta di suapi. "Alamak ... Dirga aja gak pernah tuh minta aku suapi. Ini bapaknya manja amat sih!" umpatnya dalam hati.
Namun tak ayal, Alisa menyuapi Hadi di hadapan istrinya yang pertama. Sementara Diana tersenyum melihat kemanjaan suaminya tersebut.
Lalu teringat, kalau Hadi sebenarnya sosok yang selalu ingin di manja oleh sang istri. Tetapi karena keadaan dirinya yang sakit-sakitan, membuat Hadi lebih mandiri dan mengurus dirinya dan justru memanjakan dirinya.
Jadi wajar bila sekarang, Hadi pun ingin di manjakan oleh istri barunya. Alisa.
"Lisa?" panggil Diana.
"Ha? iya Tante?" Alisa menoleh pada Diana.
"Alisa harus maklum ya? Abang ini memang pada dasarnya manja, ingin di manja dan diperhatikan oleh istri. Dari dulu juga kaya gitu, semuanya apa-apa harus istri yang kerjakan, dan ..." Diana menggantungkan perkataannya sambil memegang tangan Alisa.
Hadi hanya merespon dengan lirikan sambil mengunyah dan tangannya tetap sibuk dengan benda pipih nan canggih.
Alisa menatap ke arah Diana penasaran dengan yang akan Diana ucapkan lagi.
"Setelah, Tante sakit. Abang barulah lebih mandiri dan di layani asisten pun tidak mau, kecuali di luar kamar. Seperti makan dan dan mencuci pakaian yang berbau pribadi dia tidak mau, jadi wajar ... kalau sekarang ada Alisa dia maunya dimanja dan apa-apa harus Alisa yang kerjakan, bukan?" sambung Diana kembali.
Alisa yang masih menyuapi Hadi hanya mengangguk pada Diana.
"Pantas, semuanya harus aku layani. Mandi saja kali yang tidak aku layani. Eeh nyiapin air di bathub juga aku yang nyiapin. Ada ya laki semacam ini!" batinnya Alisa.
"Harap Alisa maklumi ya? dan jangan bosan untuk melayani suaminya dengan baik dan sayangi dia seperti Alisa menyayangi diri Alisa sendiri, dan itu juga akan mendapat pahala!" lanjut Diana sambil mengulas senyumnya yang manis dan tulus kepada Alisa yang kini menjadi madunya itu ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Lagi-lagi Alisa diingatkan tentang melayani suami. Dan itu akan membuahkan pahala ?