Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Sabar ya


__ADS_3

Setelah beberapa saat mereka berpelukan, saling lepas rindu yang begitu dalam. Kemudian Hadi pun memudarkan pelukannya itu.


"Kata ibu, istri ku ini belum makan siang, bilang saja mau makan di mana? aku akan mengantarmu!" tawarnya Hadi sambil mengelus pipinya Alisa.


Alisa terdiam sembari memutar kedua bola matanya lalu dia berkata. "Aku pengen makan di luar!"


Hadi menunjukkan senyumnya. "Boleh, kita makan di luar. Mau berdua saja atau rame-rame, ngajak ibu dan anak-anak?"


"Iih ... yang bener ya? di restoran maksudnya, jangan-jangan makan di luarnya. Di teras lagi atau di halaman!" Alisa mengerucutkan bibirnya bikin Hadi merasa gemas dan mengecupnya.


"Iya sayang ... di restoran, bukan di halaman ataupun di teras!" balasnya Hadi.


"Makasih ... ajak saja ibu sama anak-anak masa kita berdua saja, nggak enak. Kasihan! ya! ajak mereka juga ya?" wajah Alisa merona bahagia dan mengalungkan tangannya di pundak Hadi.


"Emangnya kenapa kalau berdua saja? biar saja mereka nggak ikut, biar kita nggak ada yang ganggu!" Hadi mengulum senyumnya.


"Kalau, mau berdua. Di rumah saja, ajak mereka ach." Alisa menarik tangannya dari pundak sang suami.


"Ya sudah, aku mau mandi dulu," dan tangan Hadi menarik tangan Alisa agar ikut bersamanya.


“Lho, kok menarik tangan ku sih?” Alisa merasa heran.


“Biar kita bareng mandi nya.” Hadi terus menarik tangan Alisa yang sedikit menolak sehingga Hadi pun menggendong tubuh mungil itu ke kamar mandi.


“Aish ... aku mau menyiapkan baju kamu dulu Yank ...” Alisa tak ayal mengalungkan tangan di leher


Hadi.


“Nanti saja. Kalau sudah mandi kita nya sayang,” ucap Hadi sambil menurunkan tubuh itu di dekat


bathub.


Hadi membuka semua pakaiannya dan Alisa menyiapkan air di bathub. Kemudian Hadi mendekati istrinya dan menarik kimono Alisa.


Selanjutnya mereka berdua berendam di dalam bathub, sambil bercanda dan sesekali Hadi mencumbu sang istri. Sambil mandi ... Hadi berselancar di tempat-tempat kesukaannya. Mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra.


Setelah puas dengan bermain-main di air bathub tersebut dan merasa lemas. Keduanya membersihkan diri di bawah air shower.


“Eeh capek sayang. Padahal tidak belah duren tapi cukup melelahkan,” ucap Hadi sambil mengelus sesuatu yang menggunung dan berhutan tipis.

__ADS_1


Alisa merasa di ingatkan dengan perkataan itu. “Oya. Apa sih maksudnya belah duren itu? aku tidak mengerti dengan pribahasa itu.”


Hadi tertawa lapas, ha ha ha ... “Kamu tidak tau itu apa sayang, hem?”


“Tidak,” kepala Alisa menggeleng dan mendongak ke arah Hadi yang lebih tinggi dari dirinya itu.


Hadi menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi sang istri dengan tatapan yang lembut dan penuh kasih sayang pada istri kecilnya tersebut.


“Belah deluren itu artinya ... kata lain dari istilah berbulan madu sayang, aku jadi kangen melakukan itu dengan mu!” Hadi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Alisa di bawah kucuran air shower yang mengalir dan tampak mengepul hangat.


Alisa memejamkan kedua manik matanya yang indah itu sambil menghayati sentuhan dari Hadi yang seakan tidak ada bosan-bosannya melepaskan niat mesumnya yang terus ingin mencumbu.


Sesekali Alisa bergidik geli ketika melihat yang di bawah kadang bergelantungan, pedang keramat yang kadang berdiri tegak seolah siap mengoyak lawannya dengan buas.


Setelah sekitar 30 menit kemudian. Keduanya menyudahi ritual mandinya dan sekarang sudah sama-sama mengenakan kimono nya masing-masing.


Dan merapikan diri dengan pakaian yang rapi karena nanti malam akan makan malam di luar. Bersama keluarga.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


Alisa dan Hadi saling beradu pandang mendengar suara Dirga yang lagi-lagi terdengar memekik memanggil papa dan mommy nya. Kemudian Hadi membuka pintu setelah membawa langkahnya ke sana.


Blak ...


Pintu terbuka dan Dirga berdiri di depan sana. “Pah, aku dapat juara di lomba puisi. Dan aku minta hadiah dari Papa.”


“Iya, apa itu minta hadiah apa coba? nanti Papa belikan!” tawarnya Hadi sambil berjongkok mensejajarkan dengan putranya.


“Aku mau adik bayi. Kalau bisa kembar, kalau tidak bisa satu aja Pah ... yang lucu dan gemuk pokonya menggemaskan.” Dirga kekeh sangat dengan keinginannya.


Hadi menolehkan kepalanya pada sang istri yang sedang menyisir rambut sambil memainkan matanya. Lalu melihat ke arah Dirga kembali. “Iya nanti Papa dan Mommy kasih ya? tapi harus sabar, biar Dirga menjadi abang.”


“Oke, yey ... nanti aku jadi abang ya? wiuuh ... abang Dirga! Keren-keren ...” Dirga tampak senang.


“Oya, sayang. Ajak oma dan kakak buat makan malam di luar, bilang saja biar siap-siap. Oke?” Alisa sambil mengikat rambutnya di atas mengekspos lehernya yang mulus dan jenjang.

__ADS_1


“Oke, Mommy ... aku akan mengajak mereka oma dan akak.” Dirga pergi dan meninggalkan mereka berdua.


Hadi menutup kembali daun pintunya lalu menghampiri sang istri yang kini berdiri di dekat gorden hendak menutup nya kerana sebentar lagi juga Maghrib.


Tangan Hadi mengulur memeluk perut nya Alisa yang sedikit terkesiap dan langsung menoleh ke samping lalu memeluk tangan Hadi yang melingkar di perutnya itu.


“Kenapa? melamun ya sehingga terkesiap begitu dan sayang mikirin apa sih? bilang sama suami mu ini. Jangan jadikan beban mu sendiri,” ucap Hadi sambil membungkuk meletakkan dagunya di bahu sang istri.


Alisa yang kepikiran Liana yang sudah melakukan sesuatu dengan Rahman bikin dia merasa gusar, bercampur aduk was-was dan takut bercampur menjadi satu. Ingin sekali Alisa bercerita secepatnya, namun dia pikir lagi tunggu dulu sebentar! Ingin tahu niat baik dari Rahman setelah dia datangi.


‘Nggak sih gak mikirin apa pun dan ... salat maghrib dulu, nah ... sudah terdengar suara adzan.” Alisa menggeleng lalu menunjukan suara adzan pada suaminya itu.


“Kalau ada masalah  ... apa pun itu, bilang sama aku jangan di pendam sendiri ya? gak baik.” Hadi mengecup pucuk kepala nya sang istri dengan durasi yang cukup lama.


Alisa berbalik dan kini memeluk Hadi dengan erat, menenggelamkan wajah nya di dada bidang suaminya tersebut. Alisa bisa membayangkan kecewanya hati Hadi bila tahu kelakuan putrinya itu. Sementara Liana sendiri dipersiapkan untuk kuliah lebih tinggi agar biasa menggantikan sang ayah kelak sebelum sang adik, Dirga dewasa.


“Yank?” gumamnya Alisa pelan.


“Hem ... apa sayang?” jawabnya Hadi tidak kalah lirih.


Dengan masih di posis yang sama. Alisa berkata. “Kalau seandainya Liana mendapatkan jodohnya lebih cepat. Apa kamu akan menikahkannya?”


“Kenapa bicara seperti itu. Liana sendiri memilih ingin kuliah terlebih dahulu, dan aku pun ingin dia lebih siap menggantikan aku nantinya sebelum Dirga dewasa. Memang sekarang ada kamu yang bisa mengurus semua dan menggantikan ku. Tapi kamu istri ku dan anak ku yang punya porsinya masing-masing.” Jelas Hadi sambil membelai kepalanya Alisa.


Alisa yang sudah mendapat kenyamanan dia dada bidang suaminya itu perlahan menjauh dan memudarkan rangkulannya. Hadi menatap lekat dan intens ke arah sang istri kecilnya tersebut.


“Salat dulu gih? sudah Maghrib kan!” Alisa menjauhkan tangan Hadi dari bagian tubuhnya.


“Baik lah ... nanti kita pergi, dan sekarang aku mau menghadap yang maha kuasa terlebih dahulu. Tapi bukan untuk mati he he he ....”


“Yank ... bilang apa sih?” protes Alisa sambil mendorong bahunya Hadi yang ngeyel dan membuatnya kesal.


Hadi menghilang di balik pintu kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian Setelah beberapa saat, keduanya keluar dari kamar mereka dan menemui oma dan anak-anak.


“Beneran, kita mau makan di kuar?” tanya sang bunda pada Hadi sambil menghampiri menggandeng


tangannya sang istri.


Hadi mengangguk pelan. “Iya, kita akan makan di restoran. Ya ... sebagai hadiah kalau Dirga jadi juara puisi.” Hadi tersenyum sambil mengarahkan pandangan ke arah Dirga ....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2