Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Dinner


__ADS_3

Di sebuah restoran yang ternama di kota tersebut, Liana dan Zidan sedang makan malam berdua alias dinner.


Mereka berdua tampak sangat menikmati makan malamnya, dihiasi dengan canda tawa yang terkadang saling menyuapi.


"Oh ini ... yang membuat kamu ingin bercerai dari aku, dia? pantas saja kamu ngotot banget bercerai dariku." Tiba-tiba suara Rahman muncul yang tidak jauh dari Liana dan Zidan duduk.


Dengan sontak Zidan, dan Liana menoleh ke arah sumber suara.


Liana menatap ke Rahman dengan tatapan yang datar. "Man. Sedang apa kau di sini? dan gimana kabarmu?" tatapan Liana meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Dia, laki-laki yang membuat kamu kekeh ingin bercerai dariku? semudah itu ya? kamu itu ingin mendapatkan seseorang! ketika sudah dapat kamu persia kan!" ucapan Rahman membuat Liana menggeleng.


"Apa maksud kamu Rahman, siapa yang persia kan? kamu atau aku, pikir dong ... Bukan Aku yang menyia-nyiakan, tapi kamu! aku nggak mungkin minta cerai darimu seandainya kamu bertanggung jawab dan sungguh-sungguh menyayangiku." balasnya Liana.


"Nama kamu Zidan kan?" Rahman mengalihkan pandangan ke arah Zidan yang langsung merespon dengan anggukan.


"Hati-hati ya? wanita ini kalau ada maunya terus mengejar!.tapi setelah dia dapatkan akan langsung dia tinggalkan--"


"Maksud kamu apa sih Man? denger ya dan pasang kupingmu baik-baik ya? aku terkesan mengejar mu kenapa? aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu dan aku pikir kamu pun bisa mencintai aku! menyayangi aku walaupun tidak bisa instan, tapi ternyata aku hanya menjadi pelampiasan perasaanmu saja. Aku tahu kamu sangat mencintai Lisa. Tapi sudah sewajarnya kamu melupakan dia! karena Alisa sudah bahagia dengan bokap aku." Liana memotong perkataan dari Rahman.


"Waktu itu kamu istri aku, seharusnya kamu nggak usah pergi dari aku, kan aku bisa merubah diri aku! aku bisa belajar menyayangi kamu, bukannya pergi setelah kamu mendapatkan diriku!" suara Rahman agak meninggi.


"Aku pergi dari kamu' karena sikap kamu sendiri yang tidak mau mempertahankan ku. Aku nggak mungkin pergi, Man ... apalagi mau cerai. Aku nggak mungkin meminta cerai sama kamu--"


Mendengar kedua orang yang dihadapannya Zidan masih bersi tegang, Zidan berdiri dan berkata dengan tenang. "Kalau kalian ingin mengobrol, duduklah ... bicarakan dengan baik dan tidak perlu memakai otot! bila perlu Saya akan pergi dulu!"


"Tidak perlu, dan kamu tidak perlu pergi. Sekarang kamu calon suami aku dan ... dia bukan siapa-siapa aku lagi!" jawabnya Liana sembari menunjukkan Rahman.


Membuat Zidan duduk kembali dan melirik ke arah Rahman, berharap dia itu bisa duduk dan bicara baik-baik.


"Aku harap kamu bisa terima kenyataan, Man. Jodoh kita hanya sampai situ dan biarkan aku bahagia! mungkin aku sudah salah berharap dicintai sama orang yang tidak pernah mencintaiku, bahkan dari saat kamu masih hubungan dengan Alisa!" Kini suara Liana sangat lirih yang ditujukan kepada Rahman yang mendudukan dirinya di hadapan Liana dan Zidan.

__ADS_1


Rahman terdiam mendengarkan perkataan dari Liana.


"Dulu aku tahu kamu dan Alisa saling mencintai, dan aku ingin masuk diantara kalian berdua. Tapi aku nggak pernah ada niat untuk memisahkan kalian berdua kok! hanya masa itu dengan sangat kebetulan orang tua aku melamar Alisa dan disaat itu juga kamu dan Alisa sedang bermasalah," sambungnya Liana.


Zidan menyentuh tangan Liana, diusapnya dengan lembut. "Sudahlah, nggak usah dibahas! yang lalu biarlah berlalu dan yang akan kita hadapi adalah masa depan, buat apa mengingat masa lalu jika hanya akan membuatmu sedih!"


Rahman menghela nafas dalam-dalam lalu dia menghembuskannya dengan panjang sembari melihat kanan dan ke kiri, rasanya tidak sanggup melihat mantan istrinya yang kini sudah mendapatkan pengganti dirinya. Bahkan mungkin lebih bahagia dibandingkan ketika dengan dirinya.


"Huuh ... ya sudah, sorry jika kedatanganku mengganggu kalian berdua. Aku minta maaf atas segala kesalahanku sama kamu Lian. Aku yang tidak bisa membahagiakan mu yang tidak mampu menjadi suami yang baik serta bertanggung jawab untuk mu." Rahman menatap ke arah Liana yang berwajah sendu.


"Ya, aku pun minta maaf. Aku bukan wanita sempurna ataupun wanita seperti Alisa yang terbaik di matamu. Aku hanyalah aku yang banyak kekurangannya!" Liana mengangguk pelan.


Lalu Rahman mengalihkan pandangan kepada Zidan, sebelum bicara dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sekitar. "Aku titipkan Liana padamu! semoga dia mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan dariku!"


"Insya Allah! aku akan berusaha membahagiakan Liana dengan semua kemampuan dan sebisa ku!" Zidan pun mengangguk lalu mengelurkan tangan kepada Rahman.


Setelah berjabat tangan, Rahman pun meninggalkan tempat tersebut dengan langkah yang begitu gontai.


"Benar, dia mantan Alisa! tapi Alisa meninggalkan dia bukan semata-mata gara-gara dilamar orang tuaku, tapi sangat kebetulan Rahman dan Alisa waktu itu bermasalah intinya sih mungkin ibunya Rahman tidak menyetujui hubungan mereka berdua. Mungkin emang harus seperti itu Alisa menjadi istri papa! dan mereka kini saling mencintai, bahagia! ach ... bikin aku iri deh," gumamnya Liana sembari menyandarkan punggungnya ke belakang kursi.


"Jangan iri, kita pun sedang meniti kebahagiaan. Emangnya kamu tidak bahagia sudah menjadi calon istriku?" Zidan menunjukan senyuman dan tangannya mengusap punggung tangan Liana dengan sangat lembut.


"Ha? aku bahagia kok dan aku percaya jika kita berdua nantinya akan lebih bahagia! hanya dari sekarang aku minta maaf. Mungkin aku bukan wanita sempurna--"


"Lah, yang sempurna itu rokok Lian. Rokok sempurna! hakikatnya manusia itu tak ada yang sempurna pasti punya kekurangan dan kelebihan karena yang sempurna itu hanya milik Allah. Hendaklah kita saling melengkapi itu saja!" Zidan memotong perkataan Liana.


"He he he ... kamu bisa aja. Kamu ngerokok nggak? aku belum pernah melihat kamu merokok?" selidiknya Liana sembari menyesap minumnya.


"Nggak! tapi kadang sih, kalau lagi pengen saja. Sebelum bisa mengisap yang lain." Jawabnya Zidan sembari menggeleng dan menyeringai kan senyumnya.


Liana mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksudnya mengisap yang lain. "Menghisap yang lain apanya? maksudnya apa?"

__ADS_1


"He he he ... Nggak, nggak jadi ach. Lupakan saja!" Zidan terkekeh sendiri.


"Iih ... gajebo. Nggak jelas banget deh." Liana mengulum senyumnya sembari memutar bola matanya.


"Aku rasa ....kamu juga mengerti kok! apa yang aku maksudkan," tambahnya Zidan sembari melanjutkan makannya kembali.


"Iya-Iya ....aku ngerti-ngerti. Kita makan lagi!" Liana pun menghabiskan makanan yang tadi terjeda dengan kedatangannya Rahman.


...----------...


"Mommy-Mommy, kapan sih lahirannya? lama banget. Abang kan sudah menghilang adek bayi mau mengasuhnya!"


"Iya sabar, kan belum waktunya!" jawabnya Alisa sembari minum susu.


"Iih lama! Nanti kalau sudah lahir adik bayi yang laki-laki aku mau kasih bola dan mainan mobil-mobilan." Kata Dirga sambil mengusap perutnya Alisa.


"He'em. Kalau yang cewek mau dikasih apa?" tanya Lisa sembari merapikan rambut Dirga.


"Ooh iya, mau kasih apa ya? Aku kan nggak punya mainan cewek seperti boneka gitu! tapi gampang, Mom. Aku kan bisa beli dan kasih hadiah buat Dede bayi cewek." Balasnya Dirga.


"Makasih ya sebelumnya kakak ... eh Abang!" Alisa tersenyum pada anak itu.


Tampak Hadi baru datang dan menghampiri sang istri dan Dirga. "Sedang ngobrol apa nih?ngomong Papa ya?"


"Iih, ge'er ... Pah. Mau di kasih nama apa si kembar nya?" Dirga bertanya sembari melihat keduanya bergantian.


Hadi mengusap perut sang istri, sejenak tidak dulu menjawab pertanyaan sang putra nya itu ....


...🌼---🌼...


Like komen. Serta dukungan lainnya ya? makasih

__ADS_1


__ADS_2