
Langit dah mulai terang benerang, pertanda pagi dah menggantikan malam. Alisa sudah terbangun dan sudah rapi juga dengan kostum nya yang formal.
Dia duduk di tepi tempat tidur menatap ke arah Hadi yang masih tampak pulas. Bibir Alisa monyong meniup dada pria yang masih lelap tersebut.
Jari-jari menari di dada bidang itu. "Hi, bangun? dah subuh!" suaranya pelan sambil terus memandangi wajah tampan dan berbulu halus.
Hadi yang mendengar suara lembutnya sang istri membuka netra nya perlahan dan langsung mendapati bidadari tepat di depan mata. Pria itu langsung menunjukan senyumnya.
"Hem, sudah subuh kah?" gumamnya Hadi dengan suara parau khas bangun tidur sembari menggeliat meregangkan semua otot-ototnya.
"Sudah, makanya bangun!" jawabnya Alisa sambil menarik tangannya dari dada Hadi.
"Kenapa gak bangunkan sedari tadi? biar mandi bareng sayang!" Hadi mengangkat kepalanya dan duduk.
"Em, ogah. Takut dimintai yang macam-macam," ucap Alisa sembari mesem. Lalu beranjak dengan niat mau menyiapkan pakaian buat Hadi.
Geph!
Tangan Hadi menangkap lengan Alisa dan menariknya, sehingga gadis itu terjatuh ke dalam pelukan.
Jemari Hadi menyingkirkan anak rambut yang menghiasi keningnya dan ia selipkan ke belakang telinganya. "Belum di kasih kiss pagi?"
"Apaan sih? sudah, bangun dulu. Nanti kesiangan." Alisa berusaha duduk namun tangan Hadi menguncinya.
"Kiss dulu? bentar saja. Ayolah sayang," pinta Hadi dengan suara yang masih khas bangun tidur.
"Em ... di pipi ya?" Alisa menatap pria itu.
"Nggak mau, pengen di bibir." Hadi menggeleng.
"Ya sudah, nggak usah. Lagian masih banyak tugas kok," kata Alisa sambil berusaha duduk.
"Nggak akan ku lepas bila belum kasih kiss nya!" lalu Hadi pura-pura tidur.
"Ck, manja!" Alisa berdecak kesal pada Hadi sambil mendorong dada pria tersebut.
"Biarin. Kiss dulu? ayolah sayang, ya udah aku aja yang ngasih! sulit amat," kemudian kepala Hadi mendekat untuk menggapai bibir Alisa yang langsung melonjak dan Hadi tidak mendapatkan apa pun.
"Emang enak, buruan mandi ... nanti kesiangan. Aku juga yang berdosa karena tidak mengingatkan suami tidak bangun subuh!" Alisa berdiri beberapa langkah dari posisinya Hadi yang masih di tempat tidur.
Dengan malas dan kesal kalau keinginannya tidak kesampaian. Hadi menyibak selimutnya lalu turun menapakkan kakinya ke lantai dan membawa langkahnya ke kamar mandi.
"Nanti ya, harus mau." Pekik Hadi sambil melintasi pintu dan membiarkan terbuka begitu saja.
__ADS_1
Alisa tersenyum senang melihatnya Hadi yang tampak kesal tersebut. Dia menyiapkan pakaian Hadi dan sekalian mengemas semua barang karena sore akan terbang.
Alisa berdiri di balkon untuk menghirup udara yang masih segar, kicauan burung pun terdengar begitu riang menyambut pagi yang cerah ini.
Kedua tangan Alisa di rentangkan, kepala mendongak ke langit dengan mata terpejam dan menghirup udara sebanyak-banyak nya.
"Hem ... udaranya begitu segar sekali." Gumamnya Alisa dengan ekspresi wajah yang tampak bahagia.
"Tentu, apa lagi bila menggunakan waktu ini sebaik-baiknya!" suara Hadi dengan tangan memeluk perut Alisa dari belakang.
Alisa terdiam dan membuka manik matanya ketika tangan itu menyentuh bagian tubuhnya, dan suara bariton tersebut mengganggu ketenangannya.
Tubuh Alisa memutar menghadap ke arah Hadi di tatapnya pria itu yang masih mengenakan sarung dan kaos.
"Lho, kok masih belum siap?" Alisa menatap heran dengan pandangan meneliti.
"Gimana mau siap? kan istrinya masih di sini." Balas Hadi sambil menarik pinggang nya Alisa ke dalam pelukannya.
Alisa menggelinjang dari rangkulan Hadi. "Ya udah, yo? kita siap-siap, lanjut cari sarapan."
"Ayo, tapi masih pagi sayang. Gimana kalau kita senam pagi dulu, kebetulan suasana enak nih di pakai senam pagi." Ajak Hadi.
Alisa terdiam sambil menggelembungkan pupunya. "Boleh, tapi aku gak bawa baju senam. Terus nanti harus mandi dulu, ini baru jam 6 sih!"
"Terus pakai apa? masa begini. Ini kan buat kerja! lagian semua pakaian sudah ku kemas." Alisa menghentikan keningnya.
"Sini, Ku kasih tau!" Hadi menarik tangan Alisa ke dalam kamar tidak lupa mengunci pintunya.
Hadi terus menarik tangan Alisa ke tempat tidur, membuat Alisa terheran-heran.
"Katanya mau senam, di mana jangan di atas tempat tidur dong. Kan sudah aku bereskan dan untuk meringankan kerjaan pekerja hotel." Alisa mencegah Hadi yang mengajaknya naik ke atas tempat tidur.
"Terus mau di mana?" tanya Hadi sambil menyeringai.
"Di lantai lah!" kata Alisa yang tidak berpikir macam-macam.
"Emang sayang tidak sakit bila senam di lantai, aku kasihan! jalan tanpa sendal saja kau kesakitan." Timpal Hadi sambil membuka kaosnya.
Alisa berdiri tegak melihat ke arah Hadi yang juga membuka sarungnya yang langsung Alisa lipat.
"Ayo dong sayang buka?" Hadi mendekat.
"Ha? Apaan emang?" Alisa tetap tidak mengerti padahal dia melihat dengan sekilas kalau singa nya Hadi sudah siap untuk mendobrak pintu teralis nya.
__ADS_1
Hadi dengan lembut menyentuh kedua tangan Alisa sambil menunjukan senyum nya. "Sayang, masa gak ngerti sih? apa memang istri kecil ku ini belum peka kalau suaminya menginginkan dirinya yang seutuhnya kaki ini hem!"
Alisa semakin bingung. Lalu detik kemudian manik matanya terbelalak ketika menerima kecupan hangat di bibirnya. Dan tangannya Hadi arahkan untuk mengelus singa yang sedang gelisah dan meronta.
Sontak Alisa menarik tangannya dari, dia benar-benar sangat terkejut dan merasa geli bukan main sehingga bahunya bergidik hebat. Ini kali pertama dia menyentuh dengan tangan meskipun tidak menyentuh langsung, terhalang kain tipis.
Hadi menyungging lebar melihat ekspresi Alisa dengan ciuman yang tidak Hadi lepaskan. Karena tangan Hadi yang satunya mengunci kepala Alisa. Dan satunya meraih dan memainkan balon yang empuk juga hangat, setelah tangan itu menyelusup tanpa permisi.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara pintu di ketuk dari luar, membuat Hadi terdiam tak bergeming. Mendengarkan suara itu apakan akan terdengar lagi.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Ternyata terdengar lagi, membuat Hadi menghentikan aktivitas nya yang baru saja mau di mulai.
Hadi mendesah kesal dan mengusap bibir Alisa yang lembab dengan saliva nya. "Nanti saja kita lanjutkan."
Alisa mematung melihat ke arah Hadi yang berjalan ke kamar mandi, tampak sekali kalau dia kecewa karena tidak jadi menyalurkan hasratnya.
Helaan nafas Alisa begitu tampak berat, lalu merapikan dirinya sebelum menghampiri pintu.
"Siapa?" Blak pintu di buka dan siapa yang datang? yaitu pelayan hotel yang mengantar sarapan buat tamunya.
"Ooh makasih ya, makasih banyak?" Alisa penuh keramahan.
"Sama-sama, Nona ... permisi!" pelayan hotel mengundur diri dan Alisa pun memberikan uang insentif.
Pintu di tutup kembali dan Alisa membawa sarapan ke meja. Hadi keluar dari kamar mandi, tanpa bicara apapun dia meraih pakaian nya.
Setelah menyimpan sarapan di meja! Alisa pun membantu Hadi dalam berpakaian dan mengenakan dasi juga jasnya ....
...🌼----🌼...
Ayo-ayo ... mana dukunganny nih?
__ADS_1