Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Salah ku


__ADS_3

Sesaat kemudian, Hadi menelepon Mita agar dia membawakan pakaiannya, baju yang sedang dia kenakan sekarang terkena bercak darah dan bau anyir.


Jelas, Mita terdengar begitu syok mendengar Alisa masuk rumah sakit.


"Pokoknya bawakan saja pakaian ganti saya dan nanti saya share lokasinya," jelas Hadi lalu menutup sambungan teleponnya.


Kemudian, Hadi menggerakkan kedua kakinya melangkah ke dekat Alisa kembali, yang masih belum juga sadar.


Tubuh Hadi membungkuk dan memegangi tangan Alisa yang terasa begitu dingin. "Sayang bangunlah, sayang ... aku yang salah yang tidak memperhatikanmu."


Hadi menciumi punggung tangan Alisa dengan sangat mesra. Ini masih terasa sakit dan sesak, dia belum bisa merasa tenang dan lega bila melihat Alisa belum juga sadar ataupun siuman.


"Semuanya aku yang salah sayang, kalau saja aku tidak bersikap seperti itu dan memberi tanggung jawab yang terlalu berat padamu, pasti tidak akan terjadi seperti ini!" Hadi terus menetes air mata yang jatuh ke tangan Alisa.


Alisa mulai siuman menggerakkan jari-jarinya lalu ... kedua matanya pun terbuka, merasakan sakit di sekujur tubuhnya lebih-lebih terasa ngilu.


Dengan sedikit terbuka, mata Alisa melihat Hadi yang sedang duduk di samping dia berbaring, memegangi tangannya yang menempel di Dagu pria tersebut.


Lalu kemudian. Alisa yang menggerakkan manik matanya mengitari semua sudut ruangan, sedikit demi sedikit dia menyadari kalau dia berada di ruang inap rumah sakit dan tangannya yang sebelah pun terpasang selang infus.


"Aku di mana? kenapa ada di rumah sakit ini?" suara Alisa begitu lemah dan terdengar begitu pelan.


Hadi yang baru menyadari kalau istri kecilnya sudah ciuman langsung mencium kening dan pipi Alisa. "Sayang kamu sudah siuman? ya Allah ... Alhamdulillah sudah menyadarkan istriku!" Hadi mengusap mukanya dan bersyukur kalau Alisa sudah sadar.


"Kamu mengalami insiden di kamar mandi dan kamu juga pingsan ketika aku bawa ke rumah sakit ini." Jawabnya Hadi dengan lirih.


Alisa mengerutkan beningnya mengingat-ingat apa yang terjadi.


Kini Hadi menciumi punggung tangan Alisa, dia sangat merasa senang karena Alisa sudah siuman.


Alisa mengingat kejadian terakhir ketika dia berada di kamar mandi, hingga akhirnya sadar-sadar di ruangan ini. "Sebenarnya aku kenapa sampai dirawat begini?"


"Sayang, kenapa nggak bilang kalau kamu sedang hamil? coba bilang dari awal, mungkin tidak akan terjadi yang seperti ini." Jawabnya Hadi dengan pelan.

__ADS_1


"Apa? aku hamil! kata siapa?" mendengar dirinya hamil, membuat Alisa shock, kaget bukan main.


Sebab dia merasa tidak hamil, kalau soal dia sering telat datang bulan, itu sudah biasa bagi Alisa. Sudah nggak aneh! jadinya dia nggak ngeh kalau dia hamil.


"Dokter yang bilang, karena Kamu kecapean, stress. Sehingga kamu pendarahan dan akhirnya keguguran, calon baby kita sudah tiada, sayang." Hadi memeluk Alisa dengan rasa penyesalan.


"Apa, aku mengalami keguguran?" Alisa terus saja bertanya-tanya.


"Apakah sayang nggak tahu! kalau sedang hamil muda, hem? kenapa nggak bilang sama aku. Kenapa sayang? seharusnya kau katakan itu agar aku bisa menjagamu." Hadi terus menciumi tangan Alisa.


Tanpa sadar, air mata Alisa yang mengalir di kedua sudut matanya yang terasa panas. "Aku nggak tahu kalau aku lagi hamil, karena siklus haid ku memang nggak lancar. Aku gak tahu soal itu!" suaranya bergetar.


"Sayang nggak tahu hamil?" menatap sang istri menyeka air mata wanitanya.


Alisa langsung menggeleng, dia benar-benar tidak tahu soal kehamilannya.


"Calon baby kita sudah berusia 2 bulan, ini semua memang salah ku yang sudah memberimu pekerjaan yang cukup banyak dan tanggung jawab yang begitu berat. Maafkan aku sayang? maafkan aku!" kini Hadi menyembunyikan wajahnya di atas perut Alisa, bahunya bergetar karena menangis.


"Yank, beneran aku nggak tahu, kalau sedang hamil muda. Aku tidak mengetahui itu, kalau saja aku tahu. Setidaknya aku bisa menjaganya sendiri! biarpun aku gak bilang sama kamu, sebab aku pun capek dengan sikap mu yang terus-menerus larut dalam kesedihan. Sehingga kamu melupakan aku dan aku sempat beranggapan kalau kamu akan membuang aku! hik-hik-hik."


Mendengar ucapan Alisa, Hadi langsung mengangkat kepalanya. "Aku minta maaf, aku yang salah dan aku tidak sama sekali menyalahkan mu, tidak. Aku yang salah dan aku menyesali itu," ucapnya Hadi.


Kemudian Mita dan Zidan datang ke tempat tersebut, membawa pakaian buat tadi ganti. Mereka berdua sangat kaget dan setengah tidak percaya kalau Alisa sampai masuk rumah sakit.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sehingga bu Alisa masuk rumah sakit?" datang-datang Mita langsung mengajukan pertanyaan seperti itu sambil menyerahkan pesanan dari bosnya tersebut.


"Alisa mengalami pendarahan Dan ... akhirnya dia mengalami keguguran di usia kehamilannya yang baru menginjak 2 bulan." jawabnya Hadi.


"Bagai mana Alisa tidak keguguran Pak, dia itu terlalu capek, stress dia yang menghandle semua pekerjaan yang seharusnya Bapak handle. Dan sekarang ini akibatnya." Suara Mita menggebu-gebu sembari mendekati ke arah Alisa.


Hadi terdiam, tidak bisa menjawab ataupun membela diri dengan apa yang dikatakan oleh Mita barusan.


"Aduh Bu ... aku turut berduka, dan yang sabar ya! insya Allah akan segera mendapat gantinya." Kata Mita sambil memegangi tangannya Alisa.

__ADS_1


Zidan yang sedari tadi mematung, akhirnya bergerak juga seraya menepuk bahu Hadi yang tak bergeming, lalu dia menyusul Mita yang kini duduk di dekat Alisa.


"Kalian tahu aku di sini Dari siapa?" tanya Alisa sembari mengusap air matanya.


"Ya ... siapa lagi kalau bukan dari suami ibu yang minta pakaian ganti," Mita melirik ke arah Hadi.


Begitupun dengan Alisa melihat ke arah suaminya yang ia tatap dengan intens, pakaiannya kotor dengan darah yang itu pasti darah dari dirinya, membuat hati nya semakin teriris.


"Mbak Mita Aku nggak tahu kalau aku sedang hamil, karena siklus haid aku emang nggak teratur." Lirihnya Alisa.


"Justru saya pikir Ibu memakai kontrasepsi!" sambungnya Mita.


Alisa menggeleng. "Nggak, malah aku nggak kepikiran ke sana! saking terlalu sibuknya bekerja dan bolak-balik ke luar kota, kan?"


"Iya benar, berarti ... kalau mau nyalahin seseorang itu pasti Pak Hadi sendiri, karena dia yang sudah buat kamu seperti ini!" manik Mita mendelik ke arah Hadi yang masih berdiam diri.


"Aku nggak mau nyalahin siapapun, mungkin ini sudah takdirnya. Sebab sekalipun aku capek, stress atau apalah. Tidak mungkin terjadi seperti ini kalau bukanlah takdirnya!" balasnya Alisa yang berusaha berlapang dada.


"Ya sudah ... sekarang kan sudah terlanjur ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, diapain pun tidak akan menjadi nasi kembali, tinggal kita menikmatinya sebagai bubur dan supaya enak ditambahin menu lainnya!" akhirnya Zidan mengeluarkan suara dari bibirnya Setelah sekian lama terdiam membisu.


"Kata-katamu manis juga!" Mita melirik ke arah Zidan.


Kemudian Hadi membawa paper bag yang berisi pakaian, dia bawa ke kamar mandi. Dan setelah dari kamar mandi dan sudah berganti baju, Hadi pun berpamitan juga menitipkan Alisa pada kedua stafnya itu.


Hadi memutuskan, kalau Alisa akan segera dibawa dan dipindahkan ke rumah sakit terbesar di Jakarta. Malam ini juga.


Sehingga Hadi menyiapkan semuanya dengan gerak cepat. Soal kerjaan, dia pasrahkan sepenuhnya kepada Zidan dan Mita.


Keduanya pun pun gak bisa apa-apa ataupun protes. Karena ini emang darurat kalau tidak terjadi seperti ini, pasti Hadi ataupun Alisa akan tetap bersama mereka dalam mengurus semua pekerjaan di sana ....


...🌼---🌼...


Selamat menunaikan ibadah puasa yang kesekian harinya. Bagi yang menjalankannya.

__ADS_1


__ADS_2