Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Tidak cemburu


__ADS_3

Hadi tampak gelisah, dan akhirnya memutuskan untuk mencari sang istri. dan yang pertama-tama dia ingin menghubungi Zidan terlebih dahulu.


Namun nomor Zidan tidak aktif, Hadi pun kembali memanggil lagi dan hasilnya tetap sama.


"Kemana dia? apa mungkin ke pantai? dan Alisa ikut!" Hadi buru-baru memasukan ponselnya ke dalam saku, lalu dia mengayunkan kakinya yang lebar itu keluar kamar.


Hadi sempat melirik ke arah kamar Zidan, namun dia yakin kalau Zidan tidak berada di tempat. Sehingga dia melanjutkan langkahnya mendekati lift.


Di lobby, Hadi sempat bertanya pada pihak resepsionis. Apakah melihat istri nya tadi tanpa dirinya.


Mereka bilang kalau istri anda keluar dengan seorang temannya. Membuat Hadi yakin kalau Alisa pergi bersama dengan Zidan.


"Pasti dengan Zidan!" gumamnya Hadi sambil mengangguk hormat pada staf hotel, kemudian berjalan menuju pantai.


Setibanya di pantai, kedua netra Hadi mencari-cari keberadaan Alisa atau Zidan.


"Mana dia? bisa-bisa nya pergi tanpa ijin ku!" Hadi terus planga-plongo mencari keberadaan sang istri.


Setelah merasa lelah lehernya menengok kanan dan kiri. Pada akhirnya yang di cari ketemu juga. Zidan dan Alisa tengah berdiri berduaan dan seperti ya tengah asik mengobrol.


"Oya, jadi kamu cuma lulusan SMA ya?" Zidan sangat terkejut.


"Iya, cuma lulusan SMA, apa lagi. Kuliah pun nggak." Alisa mengangguk sambil menyedot air kelapa nya.


"Gila, fantastis! tapi dengan mudah kau bisa menguasai menjadi asisten CEO besar! wieh, gila hebat-hebat. Ukuran kamu yang belum kuliah atau menguasai di bidang ini, tetapi mampu." Zidan sungguh takjub dibuatnya.


"Aku berusaha untuk belajar, agar aku mampu dan dapat kerjaan. Tau kan? untuk dapat kerjaan itu sulit." Tambahnya Alisa.


"Katanya mau tidur! kok malah ada di sini? di tungguin lama malah asik di sini ya?" suara Hadi mengagetkan keduanya yang sedang mengobrol itu.


Alisa menoleh dengan rasa kaget dan di balik itu ada rasa senang juga karena pada akhirnya Hadi mencari dirinya juga. "Aku!"

__ADS_1


"Yo, pulang. Katanya mau tidur!" Hadi mendekati keduanya.


Zidan pun menoleh pada Hadi yang memergoki mereka berduaan, ada rasa was-was. Khawatir kalau Hadi cemburu dan marah pada Alisa.


"Bukannya tadi sedang asyik ngobrol, mana wanita itu? kau tampak bahagia bersamanya!" Alisa celingukan, kali saja Hadi datang bersama wanita itu.


"Aku segera menyusul mu ke kamar, tapi kau malah nggak ada! aku tunggu lama di sana. Kamu sendiri lagi ngapain di sini? berduaan juga, mana nggak ada muhrimnya lagi?" sambungnya Hadi sambil melirik ke arah keduanya.


"Saya memang ingin ke pantai ini, dan tadi bertemu Alisa di lobby. Dan ... Alisa pun meminta ikut, ya ... kami jalan lah ke sini." Timpalnya Zidan.


"Aku sedang mencari angin di sini," jawabnya Alisa.


"Ayo kita pulang? sudah malam." Ajaknya Hadi sembari memegang tangan Alisa.


"Sebentar lagi ya? aku masih ingin di sini." Alisa menepis tangannya Hadi.


"Katanya tadi mau tidur! tapi sekarang malah asik di pantai tidak minta izin juga!" ucapnya Hadi dengan suara pelan dan kepala di condongkan ke dekat telinganya Alisa.


"Gimana mau minta izin? aku nggak bawa ponsel, lagian kan sedang asik sama dia! iya sih .. tadi aku mau tidur. Tapi berubah pikiran untuk menaikkan bad mood aku yang hilang," sambil berjalan beberapa langkah maju ke depan, kakinya yang tanpa alas menginjak pasir putih secara langsung.


Sementara Zidan berdiri saat ini agak jauh dari Hadi dan Alisa. Bagaimanapun mereka itu pasangan suami istri yang tidak boleh diganggu ataupun mencampuri urusannya.


"Mau dong jadikan istri, nikahin aku dong ..." suara Alisa menirukan perkataan dari Aleta tadi dengan bibir yang sedikit mencibir.


Hadi menyungging kan bibirnya mendengar perkataan dari Alisa seperti itu. "Spakah kau cemburu?"


"Ha? nggak lah! siapa yang cemburu, aku cuma menirukan saja. Kok bisa gitu? wanita terhormat seperti dia berkata demikian kepada seorang laki-laki yang jelas-jelas ada istrinya!" manik mata Alisa sedikit mendelik ke arah Hadi.


"Ya, kalau cemburu bilang saja enggak apa-apa! jujur saja, aku suka jika istriku ini cemburu!" bisiknya Hadi dengan senyuman yang masih merekah di bibirnya.


"Kan aku udah bilang! aku nggak cemburu aku cuman aneh aja, kok bisa dia bilang seperti itu. Nggak nyadar apa? kalau perkataannya itu menurunkan harga derajatnya sebagai wanita!" Alisa menjadi merepet bicaranya kemana-mana.

__ADS_1


"Iya kah seperti itu? aku baru tahu, dia itu teman aku kuliah dan kami menjadi teman dekat dan Sudah lama kami tidak bertemu. Baru kali ini! setelah sekian lama kita baru berjumpa lagi." Akunya Hadi sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku.


"Ooh, teman dekat ya? tapi naksir juga kan! pantas kok. Tampak bahagia sekali anda bisa ketawa lepas dengan wanita itu, iya kan?" sambungnya Alisa sambil sedikit menghadapkan tubuhnya ke arah pria yang menjadi lawan bicaranya itu.


"He he he ... katanya nggak cemburu? tapi ketara banget kau ingin membahasnya." Hadi terkikik sendiri, dia merasakan kalau Alisa sedang dilanda rasa cemburu saat ini.


"Aku ingin membahasnya karena aku nggak suka saja mentang-mentang nggak ada tante Diana!" ucap Alisa dengan suara yang sedikit lebih tinggi.


"Terus, kamu mau ngadu sama tante? silakan tante tahu kok kalau wanita itu teman aku!" Hadi tampak serius menatap wajah Alisa yang berekspresi agak aneh.


"Ya-ya ... nggak juga sih! buat apa aku mengadu? nggak ada untungnya," kata Alisa sambil menggeleng dan menyatukan jari-jemari tangannya saling bertaut.


"Oh kirain. Mau mengadu sema tante!" Hadi kembali menunjukkan senyumnya sambil menatap langit yang bertaburan dengan bintang-bintang.


"Emangnya aku anak kecil apa! yang bisanya mengadu? nggak lah!" suara Alisa kembali merendah.


"Siapa bilang kamu bukan anak kecil? kamu masih kecil kok istri kecil Tuan Hadi!" bisiknya Hadi ke telinga Alisa yang bikin bergidik sang empu.


"Nikahin aku dong ... mau dong jadi istrinya!" Alisa kembali bergumam, dia menjadi terngiang-ngiang dengan kata-kata wanita itu.


Hadi terus tersenyum mendengarnya. " Kok jadi ngapalin itu sih! apakah kau sedang mendapatkan PR sehingga kau hafalin itu?" tanyanya Hadi sambil meraih tangan kanan Alisa.


"Nggak juga, bukan PR. Cuma aneh aja dengan kata-kata itu, dia kan naksir Om. Kenapa juga Om gak naksir balik? dia cantik nyaris sempurna! apalagi ketika masih muda, bohong sekali bila kau tidak menyukainya." Alisa menatap tajam ke arah Hadi sesaat lalu mengalihkan pandangannya ke lain arah.


"Suka, aku suka sama dia!" jawaban Hadi bikin manik Alisa terbelalak.


"Tapi ... hanya sebagai teman! nggak lebih! dari dulu juga!" ralat nya Hadi sembari menatap lekat ke arah Alisa.


"Bohong sekali anda, jika cuman menganggap seperti itu!" Alisa berjalan cepat meninggalkan Hadi yang langsung menyusulnya.


"Ahc!" Alisa berteriak dengan refleks ....

__ADS_1


...🌼----🌼...


Tampak sekali kalau Alisa merasa jeles dengan kebersamaan Hadi dengan teman wanita nya itu.


__ADS_2