Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Gampang


__ADS_3

"Em, sebelumnya aku mau bilang kalau makan malam buat om sudah siap!" ucap Alisa sambil berdiri yang tidak jauh dari Diana.


Diana melirik ke arah sang suami. "Tuh ... kan Abang, Lisa tidak lupa dengan tugasnya untuk abang," ucap Diana sambil menaik turunkan alisnya.


"Emang Alisa tahu makanan kesukaan saya?" tanya Hadi sambil menoleh dengan pandangan yang tajam seakan ingin menusuk jantung.


"Hem ... soal itu sih gampang, aku kan bisa bertanya pada mbak apa kesukaan Om, bukan Lisa namanya kalau tidak bisa yang begitu saja. Kecil ..." ucap Alisa sembari menjentikkan jarinya dengan bibir menyungging.


Diana menarik dua sudut bibirnya seraya berkata kepada Alisa. "Hebat, Lisa pasti pintar kok dan Tante percaya itu."


Hadi beranjak dan berkata pada sang istri kalau dirinya akan makan terlebih dahulu. Dia berjalan mendekati pintu, namun sebelum sampai dan melintasi pintu, Hadi menoleh ke belakang. "Alisa sudah makan belum?"


"Em ... Alisa sudah," jawabnya Alisa sambil melihat ke arah Diana yang melihat ke arah dirinya, lalu Alisa duduk di dekat wanita tersebut.


"Ehem, gimana hari pertama bekerja nya, lancar atau--"


"Alhamdulillah, Tante. Cukup pusing, menyita waktu dan menguras otak. Tante bisa bayangkan ya? aku yang belum pengalaman sedikitpun, tidak ada background sebelumnya. Secara tiba-tiba menjadi asisten priadi yang tugasnya bisa dibilang lebih berat dari sekertaris umumnya, aduh. Om tega banget sama aku, gila ... seorang Alisa menjadi asisten pribadi seorang ceo," Alis menggeleng kan kepalanya dengan kasar.


Diana terus mengulas senyumnya dan sambil mengusap punggung tangan Alisa. "Tapi Lisa bisa dong ... masa gak bisa?"


"Insya Allah bisa dan akan Lisa coba. Ya sudah dulu Tante, Lisa mau ke kamar nya Liana dulu! kali saja belum tidur, atau ... apa dia sedang keluar?" Alisa mengerutkan keningnya.


"Ada kok, di kamarnya. Lisa jangan terlalu malam. Sebab Lisa harus pagi-pagi sekali bangunnya," pesan Diana pada calon madu nya itu.


"Iya, Tante. Tante istirahat ya?" Alisa pun beranjak pergi dari tempat tersebut dan menuju ke kamar Liana.


"Liana, apa kau sudah tidur?" Alisa mendorong handle pintu yang kebetulan tidak di kunci oleh sang empu.


Manik Alisa menemukan Liana yang sedang di atas temat tidur dengan beberapa buku, tapi dia sendiri sibuk dengan ponselnya dan telinga pun mengenakan earphone.


Alisa berdiri di bibir ranjan miliknya Liana sambil menggeleng. "Ehem, ehem." deheman Alisa tidak membuat Liana menoleh pada Alisa.

__ADS_1


Karena tidak ada respon dari Liana. Membuat Alisa membuka earphone dari telinga Liana yang sontak Liana menolah dan menunjukan giginya pada Alisa yang berdiri di sampingnya berbaring.


"Hi hi hi ... sejak kapan kau berdiri di situ? bagai patung baju aja di toko." Tanya Liana sambil mendudukan dirinya di atas tempat tidur.


"hem, sejak tadi. Ku lihat-lihat sedari tadiĀ  nyengir mulu bagai sedang iklan pasta gigi saja kamu ini, iklan pasta gigi apa?" Alisa duduk di sampingnya Liana.


"Iklan pasta gigi, iklan obat kutu air gue. Ha ha ha ..." Liana tertawa lepas.


"He he he ... bisa aja, eh. Kenapa si lu gak masuk kerja saja di perusahaan bokap lu? itung-itung cari pengalaman gitu." Kata Alisa sembari menarik guling untuk dia peluk.


"Ogah gue, mana bisa lagi. Gue harus punya skill yang bagus dulu, harus kuliah dulu biar lebih pinter," jawabnya Liana sambil merebahkan tubuhnya.


"Gue, apa? gue boro-boro skill, pendidikan. Otak gue aja lemotnya minta ampun, terus kenapa gue dimasukan ke kantor bokap lu coba?" gumamnya Alisa seraya bertanya pada diri sendiri.


"Mana gue ta ... hu, yang jelas ... nih ya? lu itu sekalian belajar, latihan--"


"Latihan apa, Non ... latihan jadi istri itu cukup di rumah! bukan juga di kantor," Alisa memotong kalimat yang Liana ungkapkan.


"Ahc, gak mungkin itu ..." ucap Alisa sambil memukulkan guling ke bagian perut Liana, lalu dia turun meninggalkan Liana di kamar tersebut dan tidak lupa menutup pintunya kembali.


Alisa membawa langkahnya ke kamarnya sendiri, karena kedua netra mata nya sudah lelah dan mengantuk. Rasanya ingin sekali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk dan langsung memejamkan kedua matanya, tidur.


"Abang ... aku rasa Lisa itu orangnya cukup cerdas dan mau belajar, gimana kerjanya di hari pertama ini?" selidik Diana sambil merebahkan kepalanya di dada sang suami.


"Lumayan, seperti yang sayang bilang dia cukup mudah mengerti dan mau belajar, oya besok Abang mau membelikan dia ponsel yang bisa menunjang dia dalam bekerja. Dia harus belajar banyak, misalnya bahasa. Kepribadian dll nya. Dengan adanya benda pintar! dia bisa belajar sendiri," ujar Hadi sambil membelai rambutnya Diana.


"Lakukan lah, dan itu hak mu sebagai calon suaminya Alisa juga. Bukan sekedar bos saja," ucap Diana sembari memejamkan kedua matanya.


Tiada lagi kata-kata yang terucap, suasana begitu hening. Hadi melihat sang istri sudah tertidur dan lantas dia bangun dengan sangat perlahan agar tidak mengganggu yang sedang tidur.


Hadi menyelimuti tubuh Diana sampai dada dan dia pun segera meninggalkan sang istri, yang sebelumnya mengecup keningnya nan mesra. Serta ucapan penuh cinta.

__ADS_1


Hadi berjalan, membawa langkah kaki yang teratur menuju kamar pribadinya. Tiba-tiba bertabrakan dengan Dania yang mengenakan piyama dan tanpa kerudung, memperlihatkan rambutnya yang sebahu.


"Abang ... lihat-lihat dong jalan nya," ucap Dania sambil menatap ke arah Hadi dan tangan mengusap bahunya sendiri.


"Lho, Kau sendiri yang menabrak saya. Saya lihat-lihat kok jalannya." Elak nya Hadi sambil menggeleng.


Hadi mengerutkan keningnya, merasa heran karena Dania kan selalu memakai kerudung, lagian ini bukan di dalam kamar.


"Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku abang ku! akan buat kau jatuh ke dalam pelukan ku." Batinnya Dania sambil tersenyum di balik menundukkan kepalanya.


"Aduh, kepala ku kok tiba-tiba pusing ya, Abang. Tolong dong bantu aku ke kamar? kepalaku pusing banget dan rasanya mau pingsan nih." Tangan Dania memegangi lengan Hadi yang kebingungan.


Alisa yang hampir mau tidur, tiba-tiba mengingat sesuatu sehingga dia mengharuskan keluar kamar. Dan manik matanya mendapati tante Dania mendekati om Hadi.


"Tante, kau kenapa? wajah mu terlihat pucat begitu, apa kau sedang mengalami sakit?" tanya Alisa sambil melihat ke arah Hadi dan Dania bergantian.


"Idih, ngapain sih anak bau kencur harus datang segala?" hatinya Dania dengan tatapan yang tidak suka.


Dania memegangi kepalanya. "Ini kepala Tante sakit dan pusing, aduh-duh, Abang tolong dong ... antarkan aku ke kamar, bukan diam saja?" Dania sedikit kesal.


"Ooh, kasihan. Minum obat dong, Tante," Alisa berdiri di sana.


Sementara Hadi hanya diam saja dengan tangannya yang dipegangi oleh tangan Dania. Matanya melihat ke arah Alisa.


Alisa berasa mendapat ide yang bagus untuk menjauhkan Dania dengan om Hadi. "Oh, Tante. Biar sama aku saja ya ke kamar nya? Om kayanya capek banget tuh kasihan," kedua tangan Alisa memegang kedua bahu Dania dan mendorongnya menjauh dari Hadi yang sebelumnya, Alisa menarik tangan Dania dari lengannya Hadi.


Sementara Hadi tersenyum dan buru-buru meninggalkan tempat tersebut.


Betapa kesalnya Dania pada Alisa yang sudah mengacaukan rencananya tersebut ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2