Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Nenek sihir


__ADS_3

Sejenak, Hadi melongo memandangi wanita tersebut. Dia memang sudah lama tidak berjumpa dengan wanita itu yang dia kenal Aleta.


Hadi berdiri dan mengulurkan tangannya. "Hi ... juga, baik. Apa kabar sebaliknya? Wahh ... saya juga pangling nih."


"Kamu semakin tua semakin tampan saja. Berwibawa, keren-keren ..." balasnya Aleta teman masa kuliah nya Hadi.


"Ahc, bisa aja! duduk. Sama siapa di sini?" Hadi menyilakan Aleta untuk duduk di kursi yang ada di depannya itu.


"Em ... aku sedang menenangkan pikiran, sendiri lah." Wanita yang usianya di bawah Hadi dan tampak masih awet muda dengan penampilan yang tidak monoton walaupun dia wanita yang sudah berumur. Dia melihat ke arah Alisa yang duduknya tidak jauh dari Hadi.


"Ooo, liburan ya?" tanya Hadi kembali.


"Liburan sih nggak, ada urusan kerjaan sih. Cuma sambil menyelam minum air gitu! Oya istri mu mana?" Aleta celingukan.


"Ada di rumah." Jawabnya Hadi.


Alisa menghabiskan makannya sambil mendengarkan obrolan mereka yang kadang terkadang mengenang kisah sewaktu kuliah.


"Ups, ngomong-ngomong dia asisten kamu ya? sekretaris!" Aleta mengedarkan pandangannya pada Alisa yang sedari tadi hanya diam dan sesekali melempar senyuman ke arah dirinya.


"Dia ... istri ku!" akunya Hadi.


Sebuah pengakuan yang Alisa kira tidak akan di akui di hadapan teman wanitanya itu.


"Apa? is ... tri? kau. Bilang tadi ... di rumah, kan bukan dia istri kamu. Jangan bercanda deh. Aku tahu betul kalau istri mu itu bernama Diana dan usianya tidak jauh dari ku!" Aleta mengerutkan keningnya.


Hadi menyandarkan punggungnya ke bahu kursi. "Iya, masih. Dia di rumah!"


Aleta semakin kebingungan dengan jawaban Hadi. "No-no ... jangan bilang kalau kau itu mendua. Sebab yang ku tau kau itu tipe pria setia!" wanita tersebut menggeleng kasar dengan manik mata yang terus memandangi ke arah Alisa dan Hadi bergantian.


"Benar. Ini istri saya juga," jelas nya Hadi.


"Oo, mungkin kah! secara kalian tidak memakai cincin kawin!" Aleta menatap ke arah jari Alisa dan Hadi yang berada di atas meja.


Hadi mesem sembari berkata. "Hem, cincin itu hanya simbol. Dan simbol itu bisa saja di pakai tanpa adanya ikatan yang sesungguhnya."


"Tapi, apakah istri mu tau atau--"

__ADS_1


"Tau, sangat tau. Sebab dia juga yang menikahkan kami berdua." Hadi tidak lepas melirik ke arah Alisa yang melirik juga.


"Kok, bisa seperti itu?" pikiran Aleta mulai traveling.


"Dia sakit dan menyarankan ku menikah lagi. Dan dia ini pilihan dari istri ku juga." Timpalnya Hadi sembari melirik lagi ke arah Alisa.


"Uwaw. Mau dong aku jadi istri mu! ha ha ha ..." wanita itu tertawa sambil bersikap sedikit genit.


"Apaan sih, obrolan yang bikin bad mood." Batinnya Alisa sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


"Menurut ku sih ... kok istri mu menikahkan kamu dengan dia yang jauh lebih muda, secara usia mu itu sudah kepala empat." Tambahnya sembari menyeringai.


"Kau ingat saja kalau usia ku sudah kepala empat ha ha ha ..." Hadi tertawa lepas.


"Lepas banget ketawanya. Perasaan belum pernah aku melihat dia segitunya. Sama Tante juga gak pernah ketawa lepas lagi setelah Tante sakit sih, dulu ketika Tante sehat pernah ku lihat om Hadi ketawa seperti ini." Monolog Alisa sambil memandangi ke arah Hadi yang tampak sangat bahagia.


"Emangnya kau lupa apa? aku kan perhatian banget sama kamu waktu dulu, kau saja yang gak nyadar. Hem!" ucap Aleta sambil mendelik.


"Ooh, wanita ini pernah naksir juga sama om Hadi. Terus kenapa om Hadi abaikan dia? dia cantik, sekarang juga sudah berusia masih terlihat cantik. Apalagi ketika masih muda, kenapa om Hadi gak tertarik sih!" dalam hati Alisa terus bermonolog.


"Oya, gak tau saya! ha ha ha ..." Hadi sok tidak tahu.


Alisa berdiri dan meraih Hoodie nya. "Aku balik ke kamar ya?" ucap Alisa yang ditujukan kepada Hadi.


Hadi sejenak melihat ke arah Alisa yang memeluk Hoodie nya. "Em ... sudah ngantuk ya! ya sudah duluan saja!"


Mendengar ucapan Hadi seperti itu. Alisa pun berpamitan pada Aleta. "Permisi."


"Iya," Aleta pun mengangguk.


Alisa memutar badan dan mengayunkan langkah nya untuk kembali ke kamar hotel.


"Hem, cantik juga! wajar bila kau betah juga. Cuma yang buat ku heran kok bisa ... ya punya istri dua? kalau gitu nikahin aku dong?"


Suara Aleta yang masih sempat Alisa dengar. "Nikahin aku dong?" gak salah! sudah tahu sudah punya istri dua! masih juga bercanda minta dinikahin, sadar Tante, emangnya mau jadi yang ketiga apa?" Alisa menggeleng dengan mulut bermonolog sendiri.


Alisa terus berjalan memasuki lobby dan di sana bertemu dengan Zidan, jelas mereka bertegur sapa seperti biasa dan Zidan bulan mau ke pantai sebentar.

__ADS_1


Alisa menggembungkan kedua pipinya sembari berpikir sejenak. "Em ... aku ikut deh, gak lama kan?"


"Nggak, paling satu jam. Lagian besok takut kesiangan kan!" balasnya Zidan sambil berjalan dan diikuti oleh Alisa kembali meninggalkan lobby.


Keduanya jalan-jalan di pinggir pantai menikmati angin laut dan deburan ombak yang menerpa pantai lalu kembali ke tengah.


Sesekali manik mata Alisa mencari-cari, siapa tahu Hadi mencarinya.


"Apa dia masih asik berbincang dengan nenek sihir itu kali ya, sehingga lupa sama aku? uuh ... bahagia banget dia ketemu nenek sihir itu!" batinnya Alisa.


"Oya, kalau boleh tahu. Sejak kapan kau menjadi istri nya pak Hadi?" selidik Zidan sambil melirik ke arah Alisa yang menatap jauh ke arah laut yang luas terbentang.


"Ha! apa? maaf aku kurang mendengar, anginnya kencang juga." Alisa berbalik melihat ke arah Zidan.


"Em, sejak kapan kau menikah dengan pak Hadi?" ulang Zidan.


"Ooh, sejak kapannya aku lupa!" Alisa menikmati angin yang menerpa wajahnya.


Zidan memandangi gadis itu dengan lekat. Perasaan nya akan selalu tersimpan di relung hati yang paling dalam.


"Apa kau mencintai nya?" Zidan kembali bertanya sambil berdiri di dekat Alisa.


Alisa menoleh pada Zidan. "Suasana malam di pantai terasa lebih tenang ya? cuman pemandangan indahnya tidak terlihat." Gumamnya Alisa.


"Iya," Zidan mengangguk, lalu menunjuk pada bintang-bintang yang bertaburan dan cahayanya terlihat indah.


Sementara Hadi yang selang sekitar 30 puluh menit dari kepergian Alisa, menyusul ke kamar hotel. Namun Alisa tidak dia dapatkan di sana.


Hadi menghubungi nomornya, ada di kamar tersebut. Karena Alisa memang sejak pergi makan dengannya tidak membawa benda pintar tersebut dan dia tinggal di dalam tas.


"Kemana anak itu? katanya mau balik ke kamar hotel. Tapi tidak ada!" monolog Hadi setelah mencari Alisa ke kamar mandi dan balkon yang tampak kosong.


Hadi melempar jas nya ke sofa, lalu melipat kedua tangannya di dada. Berjalan mondar-mandir. sembari berpikir kemana istri mudanya itu? bikin khawatir dia saja ....


...🌼----🌼...


Seiring benih cinta dan sayang yang tumbuh di dalam hamparan hati. Menjadikan akan adanya rasa cemburu yang menghiasi.

__ADS_1


Makasih?


__ADS_2