Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Berartikah


__ADS_3

"Hai. Mau kemana? mobilnya di sebelah sana!" pekiknya Hadi sambil melihat ke arah mobilnya yang terparkir.


Alisa menoleh, lalu melihat ke arah yang ditunjukan Hadi. Yaitu mobil Hadi.


Dengan langkah lebarnya.Hadi mengikuti Alisa yang berjalan lebih dulu. "Kau habis menangis. Nanti orang rumah bertanya kenapa?"


Alisa kembali mengusap wajahnya dan mengeringkannya. Tanpa menjawab apa pun.


Hadi membukakan pintu mobil untuk Alisa, dan ketika Alisa mau masuk! tangan Hadi memegang kepala Hoodie milik Alisa dan memakainya agar menutupi kepalanya sang empu.


Alisa tertegun dan melihat ke arah Hadi yang tampak perhatian pada dirinya.


"Jangan ge'er, ini sebagai bentuk tanggung jawab saya saja sebagai tunangan kamu." Hadi menyentuh bahu Alisa secara tidak langsung menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Siapa juga yang ge'er? Om saja yang gede rasa." Gumamnya Alisa sambil mendudukan dirinya di samping kemudi.


Hadi berjalan mengitari depan mobil untuk menjangkau kemudi. Kemudian Hadi menyalakan mesin yang lantas melaju dengan kecepatan rendah saja.


Alisa terus terdiam dengan sesekali mengusap air mata yang tidak terasa terus mengalir membasahi pipinya.


"Sudah tidak ada harapan lagi untuk Rahman percaya pada ku. Ya Allah ... aku tidak melakukan apa yang Rahman tuduhkan!" hati Alisa bermonolog dengan apa yang sudah terjadi.


"Buat apa kau menangisi pria itu? berarti kah dia untuk mu?" ucap Hadi sambil fokus nyetir.


Alisa menoleh pada Hadi yang fokus nyetir tersebut, Kemudian menghela nafas dalam-dalam lalu membuang kembali pandangannya ke luar jendela.


"Aku sangat sayang sama dia dan aku hubungan dengan dia sudah lama, bukan baru bulanan." Balas Alisa tanpa oleh pada pria yang mengajaknya bicara tersebut.

__ADS_1


Hadi melirik sekilas ke arah Alisa yang anteng melihat ke luar jendela tersebut. "Apalah artinya perasaan sayang mu itu, bila tidak berjodoh. Dia akan sangat beruntung dapatkan kamu yang sangat menyayanginya, tapi kamu kebalikannya! karena apa? dia tidak sesayang itu sama kamu. Jadi percuma kamu membuang air mata hanya demi dia''


"Kenapa seperti itu?" Alisa menoleh pada Hadi dia kurang mengerti dengan yang Hadi ucapkan.


"Karena buktinya dia lebih percaya berita burung tanpa mendengarkan kebenarannya dari mu, dia langsung percaya saja dengan omongan orang tentang dirimu, padahal hubungan kalian sudah lama bukan? apa artinya? apabila kalian tidak saling mengenal satu sama lain?" ungkap Hadi kembali dengan pandangan terkadang ke samping.


Alisa terdiam dan seolah sedang memikirkan sesuatu, mencerna omongan Hadi.


"Sangat rugi bila kau sampai menangisi pria itu apalagi sampai menjadikan mu kurang semangat, gak mau makan. Nggak mau mandi dan gak mau bekerja. Pria yang lebih dari dia itu masih banyak, yang lebih baik." Tambah Hadi seraya memberikan botol minuman kepada Alisa dan tisunya juga.


Alisa mengambil dan mengusap pipi nya. Kata Om Hadi benar juga namun hati tak dapat di pungkiri. Dan semua orang pasti merasakannya.


"Kata, Om memang benar. Tapi hati ini tidak bisa di pungkiri dan semua orang pasti merasakannya. Mungkin dengan berjalannya waktu ... semua akan berubah." Lirihnya Alisa sambil meneguk air minum dari botol.


"Bagus lah bila berpikir seperti itu," ucap Hadi sambil melajukan mobilnya dengan cepat.


Sebentar Alisa menatap ke arah Hadi yang sedang asyik menyetir, Lalu kembali melepas pandangan ke luar.


"Em ... pulang saja, aku capek." Jawabnya Alisa sambil menyimpan botol di depannya.


Mobil terus melaju menuju kediaman mereka berdua, dan setelah beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi pun sudah sampai juga, dan langsung masuk ke dalam kamar masing-masing. Namun Hadi keluar lagi dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Diana, yaitu sang istri.


Namun Diana sudah tampak lelap, Hadi melirik ke arah mbak yang baru mau keluar dari kamar tersebut. "Ibu minum obat gak, Mbak?"


"Sudah, Tuan. Dan semakin ke sini, Ibu semakin susah minum obat, katanya sudah bosan dan tidak merubah keadaan." Kata Mbak dengan suara pelan.


Hadi menghela nafas panjang. "Tolong bujuk dia untuk terus minum obat, jika dia sedang susah ya, Mbak?"

__ADS_1


"Baik Tuan, itu memang tugas saya," mbak mengangguk pelan sambil pamit untuk ke luar sebentar.


"Oke, terima kasih!" Hadi berjalan mendekati sang istri yang sedang tertidur itu, dia duduk di samping nya dan memegang tangannya. Dia ciumi beberapa kali dengan mesra.


"Sayang, jangan berputus asa, selama kita masih bisa ikhtiar, kita akan terus berusaha agar sayang sembuh." Lirihnya Hadi sambil menempelkan punggung tangan Diana ke pipinya.


"Aku sangat mencintai dirimu, sampai kapan pun. Dan kita harus terus bersama, sampai menjadi kakek dan nenek. Mempunyai menantu dan cucu, Kita akan mengasuh cucu kita berdua," gumamnya kembali Hadi.


Diana tetap tertidur nyenyak namun di sudut matanya terdapat buliran air bening yang menetes, seolah mendengar yang Hadi ceritakan. Tanpa Hadi ketahui kalau dirinya kini menangis.


Dengan cara apapun akan aku lakukan, asalkan sayang sembuh! agar kita membina rumah tangga dengan baik seperti dulu lagi, saling menyayangi dan mengasihi, aku rindu dengan bawel dan perhatianmu. Setiap Hari kau selalu menyiapkan segala keperluan ku. Saya rindu tawa mu yang renyah dan lepas." Ungkap Hadi dengan tak kuasa air matanya pun menetes begitu saja.


Diana yang tertidur, sebenarnya terbangun dari semenjak Hadi datang, sehingga dia mendengar semua yang Hadi ungkapkan. Ungkapan yang cukup mengiris hati, makanya air mata Diana menetes dan tangan yang satu lagi dia pergunakan untuk mengusap air matanya.


Hadi mengecup kening Diana berkali-kal. "Selamat bobo sayang!" lalu pergi meninggalkan Diana di kamar tersebut.


Diana membuka matanya setelah Hadi pergi dan masih dia lihat ketika melintasi pintu yang lantas Hadi tutup kembali.


"Maaf, abang. Aku tidak bisa melakukan lagi pungsi ku sebagai istri mu? aku sudah tidak mampu apa-apa lagi untuk mu, dan aku sudah malas untuk minum obat. Karena percuma rasanya minum obat juga. Kondisi ku tetap saja seperti ini. Aku tahu kebutuhan mu sudah lama tak terpenuhi oleh ku," gumam Diana dengan nada sedih dan akhirnya dia menangis tak bersuara.


Dan hanya di saksikan oleh bantal guling dan tempat tidur, atau benda mati yang boro-boro bisa menghibur, yang mereka bisa hanya terdiam dan melihat ke arah Diana saja tanpa melakukan sesuatu yang sangat berarti untuk Diana.


Hadi terus berjalan di koridor tersebut yang menghubungkan dengan kamarnya. Sambil berjalan sambil terus memutar memorinya mengenang masa-masa indah bersama sang istri, yang sulit untuk di lupakan


Bugh!


Suara yang cukup mengagetkan Hadi yang sedang melamun ....

__ADS_1


.


Jangan lupa like komen dan subscribe juga ya


__ADS_2