
Sejenak Hadi terdiam melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Area yang merah merona itu memang tampak sedikit bengkak. Mungkin dia masih aneh dan belum terbiasa di kunjungi singa lapar miliknya. Yang mengoyak sekaligus.
Dengan bibir yang menyungging. Jemari Hadi menari-nari dan mengoleskan salep di sana yang Alisa rasa ngilu menjalar ke seluruh tubuhnya serta sensasi yang aneh.
Hadi mendekati bibir Alisa yang tak disadari nya terbuka. Manik mata terpejam.
Nyess ....
Ada benda tipis menempel di bibir Alisa, rasanya sejuk dan menghangatkan. Kedua manik matanya terbuka dan terbelalak.
Tubuh Hadi yang menindihnya Alisa terus mematikan bibirnya dengan lembut dan menggairahkan.
Alisa merapatkan kedua kakinya yang tadi terbuka. Namun siapa sangka kalau tangan Hadi kembali membukanya dan memposisikan dirinya dengan tepat.
Agar bila nanti tiba-tiba mendesak, sudah siap tinggal menyerang saja. Begitu pikir Hadi sambil terus dengan gencar menyerang gadis yang baru sekali dia jambangi itu.
Dan saat ini merasakan ada dorongan untuk melakukannya lagi, Hadi mulai menikmati perannya sebagai suami gadis yang seusia putri ya tersebut.
"Aku mau berpakaian." Suara lembut Alisa di sela penyatuan bibirnya itu.
"Nanti sayang, nggak mau kah menemani barang sebentar?" balas Hadi yang tidak membiarkan Alisa bangun dan lepas dari kungkungan nya.
"Tapi aku belum berpakaian. Dan aku juga belum menyiapkan pakaian buat dirimu!" Alisa terus beralasan agar Hadi bisa beranjak meninggalkannya.
"Iya, nanti saja sayang! itu gampang!" suara Hadi dengan sedikit parau.
"Kapan, singkirkan tubuh mu itu. Aku mau bangun kan?" sambung Alisa sambil berusaha menurunkan kimono nya yang terus Hadi angkat.
Serta tangannya yang kekar mengelus lembut sekitar kaki bagian atas.
"Aku lapar, dan kita belum pesan makanan. Sebab aku malas keluar, kaki ku pegal-pegal." Suara Alisa kembali.
Hadi yang terus menghujani bagian wajah Alisa dengan kecupan itu menatap penuh damba. "Nanti. Itu gampang sayang, kalau pegal-pegal ... nanti aku pijit juga kakinya."
"Sekarang biarkan aku bangun dan melakukan segalanya!" pinta Alisa sambil membalas tatapan Hadi yang begitu dalam.
"Tidak, aku bilang tidak! ya tidak." Lirihnya Hadi tanpa beralih dari tatapan ke wajah lawan bicaranya.
"Kenapa?" nada Alisa begitu lembut, sepertinya dia sedang menekan perasaan yang sulit dia ungkapkan.
Ya, Alisa sudah merasakan sensasi yang mendorong keinginannya buat melakukan sesuatu. Inginkan sesuatu yang membuatnya melayang dan terbang ke langit ke tujuh.
Hadi yang lebih mengerti dan apalagi dia yang sudah merasakan darahnya naik ke ubun-ubun, tidak sabar untuk mencetak gol yang sebanyak-banyaknya. Bibir kembali mendekat dan m***m*t dengan lembut dan tangannya mulai berfantasi ria.
__ADS_1
Tangan Hadi bermain di bukit yang bersih nan indah, semut pun terpeleset bila melewatinya.
Sementara si singa sudah mulai memasuki bukit rimbun dengan pohonnya masih muda-muda.
Si singa memainkan bolanya di sana dan ada tantangan tersendiri bermain di bukit rimbun bukannya di tempat yang lapang.
Tiba-tiba gool ....
Si singa memasukan kepalanya sebagai pencetak gol di gawang yang tersedia dia sana.
Hekh.
Manik mata Alisa yang terpejam mendadak melotot. Dengan tiba-tiba! ketika gawang dia kebobolan lagi yang ke sekian kalinya. Padahal yang sudah pun masih terasa sakit. Di tambah lagi sekarang.
Namun Hadi berusaha menenangkan, kalau sudah terbiasa tidak akan sakit lagi. Dan mohon di maklumi kalau singa yang dua miliki terlalu gemuk dan garang. Belum jinak! karena terlalu lama dibiarkan di kandangnya menjadikannya tidak sabaran.
Sehingga maunya lebih cepat untuk melepas tendangan dan sedikitnya mau bersabar.
Kedua manik mata Alisa berkaca-kaca karena merasakan sakit di awal. Dan Hadi pun sedikit memberi jeda dan istirahat lebih dulu sampai Alisa bisa tenang. Namun lama-lama sakit itu berubah berbalik serta lebih terkontrolnya gerakan Hadi dalam mengasuh singanya itu.
"Cuph. Terima kasih sayang! sudah memberikan ku kebahagiaan," ucap Hadi setelah mengeluarkan singanya dari area permainan.
Alisa mengangguk pelan, lalu menggeser tubuhnya agar mendekat dan meletakkan kepalanya di dada Hadi yang juga menarik bahunya itu.
Rettttt ....
Rettttt ....
Ponsel Hadi bergetar, sehingga tangan Hadi yang panjang menjangkau dan membukanya.
Wajah Alisa mendongak menatap ke wajah Hadi yang menunjukan wajah seriusnya.
Kemudian, Hadi berbicara lewat sambungan telepon tanpa melepas rangkulannya pada Alisa.
^^^Hadi: "Saya baik-baik saja sayang, sayang juga di sana jangan lupa makan dan minum obat, jaga kesehatannya baik-baik. Abang besok sore akan pulang cepat kok!"^^^
Alisa menatap dan mendengarkan obrolan Hadi yang dia yakini itu adalah Diana. Istri pertamanya Hadi.
Hadi pun menyimpan kembali ponselnya ke tempat semula. "Bersih-bersih yo? lapar nih." Sembari mengusap perutnya yang sudah keroncongan.
Alisa mengangguk pelan sambil beranjak dan menjepit selimutnya yang Hadi dengan usilnya tarik sehingga kelihatan semuanya.
"Iih ... suka usil deh." Alisa kembali menarik selimutnya itu.
Bibir Hadi pun tertarik ke samping dan ia pun mengambil kimononya dan setelah itu kembali menarik selimut yang masih menutupi tubuh Alisa, menggendong tubuh nya ia bawa ke kamar mandi dengan tubuh polos.
__ADS_1
Tadinya Alisa mau memakai kimono dulu. Eeh ... keburu di gendong duluan, suaminya ini mungkin tipe memanjakan istri kali ya. Tapi dia sendiri manja banget.
Selesai mandi. Keduanya mencari makan di luar sambil bergandengan tangan.
"Mau makan apa sayang?" tanya Hadi sambil mendudukan dirinya setelah menarik kursi buat Alisa duduk.
"Em ... apa ya? steak aja!" Alisa menutup daftaran menu.
"Minumnya sama ya? jur jeruk?" Hadi kembali berkata.
"Iya," Alisa mengangguk. Kemudian mengedarkan pandangan ke pesisir pantai yang anginnya nyiur terasa menyapu kulit.
Hadi memesan makanan untuknya dan Alisa. "Oya, air kelapanya juga dua."
Pelayan pun mengangguk ramah dan sambil mencatat semua pesanan Hadi.
"Mau ke pantai?" suara Hadi membuat Alisa menoleh.
"Mau, tapi takut sendirian!" balas Alisa sambil kembali melihat ke arah pantai.
"Emang siapa juga yang akan membiarkan dirimu sendiri ke sana! nanti lah sama saya.
Saat ini Alisa yang mengenakan setelan panjang di barengi dengan Hoodie warna biru tua. Rambut di kuncir simpel dan mengesankan kesederhanaan.
Sementara Hadi t-shirt panjang berwarna abu. Serta jas dengan warna senada celananya, namun jas nya hanya menutupi punggung.
Tidak lama kemudian, pesanan pun datang spaghetti buat Hadi dan steak daging buat Alisa.
"Selamat menikmati dan semoga menjadi langganan kami?" ucapnya ramah sang pelayan.
"Makasih, Mbak?" Alisa mengangguk tak kalah ramah. begitupun dengan Hadi.
Kemudian mereka menikmatinya hidangan di mejanya dengan sangat lahap. Maklum habis bekerja langsung tugas pribadi yang menyita banyak tenaga.
"Coba, ini. Enak lho," Alisa menyuapi Hadi potongan daging.
"Nggak mau!" Hadi menggeleng sambil menikmati spaghetti miliknya.
"Kenapa?kan suka daging?" Alisa heran.
"Suka lah, tapi lebih suka lagi daging kamu!" Hadi tanpa ekspresi.
Alisa bergidik. Menggoyangkan bahunya. "Apaan sih? gak jelas banget."
"Hi ... Pa kabar? ya ampun ... lamanya kita tidak bertemu ya? pangling aku!" sapa seorang wanita dengan penampilan elegan menghampiri Hadi ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Ayo, siapa yang suka. Jangan pelit jempol nya ya? makasih sebelumnya🙏