
“Saya tidak tau harus membawa mu kemana? Sementara kau tidak dapat ku tanya bukan? saya tinggal juga takut kau tiba-tiba kabur dan bunuh diri, kan saya yang akan repot. Masih mending nanti roh nya tidak gentayangan! Kalau gentayangan mencari saya minta dikawin gimana? masih mending manusia, lah ini mayat gentayangan. Ogah saya.” Hadi mengulum senyum nya.
Alisa mengerutkan keningnya, mencoba mencerna maksud dari Hadi barusan. Dia kepikiran lagi yang terjadi di cafe nya Rahman tadi, membuat hatinya kembali teriris.
“Lah sedih lagi, gimana sih?” ucap Hadi ketika melihat Alisa malah tampak sedih dan meneteskan kembali air matanya.
Alisa membuang wajahnya keluar jendela. Mengusap pipinya yang kembali basah dan rasa perih yang kini menyiksa batinnya, lalu dia menghela nafas panjang dan ia hembuskan dengan perlahan.
“Aku gak menyangka di awal-awal kedekatan kita, justru menimbulkan fitnah yang teramat sangat menyakitkan seperti ini, masa ada yang bilang kalau kita masuk hotel dan boking kamar? kan aneh," ucap Alisa sembari mengusap sudut matanya.
“Iya, dalam mimpi kali. Ha? Apa yang kau katakan barusan, kita masuk hotel dan boking kamar? itu dalam mimpi atau dalam khayalan?” tanya Hadi menatap ke arah Alisa yang menatap ke arah dirinya dan detik kemudian menunduk.
“Om jangan bercanda deh, aku serius dan aku sedang tidak ingin tertawa,” ungkap Alisa sambil menunduk dan tampak serius.
“Saya juga serius. Apa kau lihat saya bercanda? kan tidak! saya sih sebenarnya tidak ingin tahu kau kenapa bersimpuh di pinggir jalan sambil menangis tersedu, saya sih tidak perduli! tapi bila dapat membuat hatimu merasa lega ... apa salah nya kau bercerita pada saya tentang apa yang sudah terjadi dan kenapa juga kau tidak berkerja?” ungkap Hadi sambil kembali menyibukkan jari-jari di papan keyboard laptop nya.
“Apa tidak kepanjangan pertanyaan nya itu Om?” balas Alisa sambil melamun.
“Ya kalau kau tidak mau cerita juga tidak apa, saya tidak paksa kok.” Kata Hadi dengan santainya.
Kemudian Alisa menghela nafas dalam-dalam lalu dia bersiap untuk bercerita yang menimpanya dari mulai terdengar suara yang memanggil namanya. Sampai dia luruh di pinggir jalan.
Hadi yang mendengarkan menganggukkan kepalanya beberapakali, lalau dia mengembuskan nafas dari mulutnya.
“Tetapi pada kenyataan nya kita tidak melakukan apapun kan? bersentuhan pun tidak, kecuali barusan—“
“Barusan apa Om?” Alisa memotong perkataan dari Hadi dengan tatapan penuh rasa penasaran.
Hadi hanya menatapnya dengan tatapan datar terhadap Alisa yang tampak cemas itu.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan, Om?” tanya Alisa kembali, hatinya sudah was-was. Jangan-jangan Hadi melakukan sesuatu ketika dirinya tidur barusan.
Bibir Hadi tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman dan mengalihkan pandangan nya ke lain arah. “Sepertinya kau takut betul saya melakukan sesuatu pada dikala tidur tadi!”
“Iya dong, saya khawatir kau melakukan apa-apa padaku,” balas Alisa.
“Saya hanya hanya mengusap pipi mu yang basah dengan sehelai tisu, itu saja tidak lebih. Takut benar Neng?” Hadi menggeleng.
Alisa merasa lega dan ternyata hanya itu. Dia sudah menduga yang bukan-bukan, tapi memang tidak mungkin bila Hadi macam-macam terhadap dirinya.
“Jadi sekarang kau memutuskan untuk berhenti bekerja juga?” selidik Hadi sambil melihat layar laptopnya.
Alisa mengangguk pelan. “Iya, Om. Aku berhenti dan sekarang aku harus memikirkan lagi untuk mencari kerjaan, padahal baru beberapa hari.” Ungkap Alisa dengan nada lesu.
“Sesungguhnya kau harus bersyukur dengan yang terjadi hari ini, karana Tuan menunjukan siapa orang-orang itu yang sebenarnya.” Hadi sambil menutup laptop dan menyimpannya ke dalam tas.
Alisa tampak melamun dan tidak tau harus ngapain di saat ini, pikirannya masih kalut dan bingung. Pulang pun malas menjadi was-was.
“Tapi Om. Aku belum ingin pulang sekarang,” Alisa menggeleng dan belum siap untuk pulang di saat ini.
“Terus kau mau kemana kalau tidak pulang? dan saya tidak mungkin terus di sini menemani mu,” ucap Hadi mengurungkan niatnya untuk menyetir.
“Aku tidak tau! Tapi aku belum ingin pulang. Atau antar saja aku ke tempat tante Diana, em maksud ku ke ... rumah Om saja,” ucap Alisa penuh harap.
“Ya. oke, baiklah. Kebetulan sekali saya juga mau pulang dulu,” Hadi mengangguk dan bersiap menyetir memundurkan mobilnya lantas merayap maju dan melaju dengan kecepatan sedang.
Di sepanjang perjalanan. Tidak ada obrolan yang signifikan, Hadi maupun Alisa hanya sibuk dengan pikiran nya masing-masing. Sampai tidak terasa mobil tersebut tiba di halaman yang luas dan rumah yang super mewah tersebut, di samping terlihat pos scurity yang menyambut kedatangan Hadi dangan anggukan hormat dan senyuman yang ramah.
Alisa pun turun sambil menatap ke arah rumah tersebut yang tampak asri dan sepi.
__ADS_1
“Masuk?” Hadi lebih dulu berjalan menuju teras pintu, disusul oleh Alisa yang berjalan pelan dan langkah kaki nya berasa mengambang.
“Assalamu’alaikum ...” ucap Alisa sambil celingukan melihat-lihat ke setiap sudut ruang yang tidak ada orang.
“Wa’alaikum salam ...” balasnya Hadi sambil menoleh ke belakang yaitu kearah Alisa.
“Selamat siang, Tuan. Nona?” sapa kepala asisten yang baru muncul di hadapan mereka berdua.
“Met siang juga, Ibu bi mana?? Tanya Hadi sambil celingukan ke atas di mana kamar sang istri memang berada di atas.
“Ibu Diana ada di atas bersama asisten nya.” Asisten tersebut menunjuk ke atas.
“Oke!” Hadi melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Alisa dari belakang.
Setibanya di kamar Diana. Hadi masuk dan mendapati sang istri sedang baringan dan ditemani olah asisten pribadinya.
“Assalamu’alaikum sayang? apa kau tidur?” Hadi mendekat dan duduk di samping sang istri yang perlahan membuka kedua manik matanya itu.
“Wa’alaikumus salam ... abang dah pulang?” lirihnya Diana sambil berusaha duduk dan di bantu oleh Hadi.
“Iya, aku pulang dulu. Apa kau sudah makan siang?” selidik Hadi dengan tutur kata yang lembut.
“Saya sudah belum lama ini, karena harus minum obat. Abang pasti belum makan bukan? baiknya abang makan dulu, setelah itu salat atau bela perlu mandi dulu.” Tutur Diana sambil mengusap punggung tangan Hadi dengan lembut.
“Iya, sebentar lagi.” Hadi melirik ke belakang dimana Alisa masih berdiri di depan pintu. “Coba kau lihat, siapa yang datang?”
Diana pun menoleh ke arah Alisa yang lantas menunjukan senyuman dan menghampiri dirinya dengan teratur ....
.
__ADS_1
...Bersambung!...