Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Bawel juga


__ADS_3

Kini Alisa dan Hadi sudah berada di mobil untuk ke


Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Hanya suara mobil saja yang terdengar menghiasi pendengaran, namun lama-lama Hadi menyetel musik kesukaannya yang berjudul segenggam setia.


"Lepaskan lah genggaman tangan mu ... pergilah, dia menanti mu ... jangan menangis!" bayit lagu yang Hadi nyanyikan, lalu kembali diam dan mendengarkan sambil fokus menyetir.


Alisa hanya menggerakan manik matanya melihat ke tipe rekorder musik dan Hadi secara bergantian. Ternyata pria yang berada di sampingnya itu suka musik juga.


Alisa menyandarkan kepalanya ke belakang dengan manik mata yang kadang-kadang melihat ke arah Hadi yang tidak fokus dengan menyetirnya itu.


“Kanapa, melihat seperti itu? apa ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Hadi tanpa menoleh.


“Nggak, gak da apa-apa.” Alis menggeleng pelan.


Alisa turun dengan tas dan berkas di tangan, lalu meraih tas Hadi yang akhirnya Hadi ambil dan membawanya.


"Hari ini apakah ada jadwal yang penting?" selidik Hadi sambil berjalan.


"Em ... jadwal untuk hari ini ... sementara waktu hanya meeting saja dengan para staf, kalau besok ada meeting di Bandung dan Lusa akan ada jamuan makan malam bersama beberapa klien. Besoknya lagi anda harus memenuhi undangan seminar di daerah Depok." Alisa membacakan jadwal buat Hadi dengan tetap sambil berjalan.


"Yang saya tanyakan itu buat hari ini saja, besok ataupun lusa belum saya tanyakan. Karena yang saya butuhkan adalah informasi untuk hari ini saja," ungkap Hadi sambil berjalan lebih cepat.


Alisa mencibirkan bibir di bawah. "Ya ... biar kamu tau aja Bos."


Langkah Alisa dipercepat karena Hadi pun sudah sampai di ruangan kerjanya, setelah bikin drama sapa-sapaan dengan karyawan dan staf sebentar.


"Bikinkan saya kopi, bila mau pake sendok ukuran tembok. Gelasnya sebesar gayung ya? jangan lupa," pinta Hadi kepada Alisa yang baru saja mau mendudukan dirinya di kursi kerja dia.


"Om bisa saja, berarti bila aku masukan ukuran sendok pasir satu ember ya airnya? he he he ..." Alisa beranjak dari duduknya menggeser kursinya lalu meninggalkan ruangan tersebut dan juga penghuninya.


"Sekalian saja di bathub, untuk berendam. Biar orang mandi lumpur dan kita mandi kopi ha ha ha ..." Hadi tertawa sendiri.


"Mbak, apa perlu saya belikan sendok tembok buat takaran gula? wk-wk-wk ..." sapa office yang sudah tidak asing lagi dengan Alisa.


"Nggak usah, Mas. Aku butuh gayung saja," Balasnya Alisa sambil menuangkan air panas ge dalam gelas.


"Buat gula Mbak?" selidik orang tersebut menatap penasaran.


"Bukan, Mas. Buat mandi, Yo ahc, Mas aku duluan?" kata Alisa sambil berjalan membawa secangkir kopi buat Hadi.

__ADS_1


Kini Alisa sudah berada di hadapan Hadi serta menyajikan kopinya. "Kopinya sudah siap, tapi cuma pake cangkir saja. Embernya dipake bersih-bersih sama office. Ha ha ha ...."


Hadi menunjukan senyumnya kepada Alisa. "Saya kira kau akan muram dan tidak semangat, gara-gara patah hati." Kata Hadi sambil menyesap kopinya yang masih panas itu.


Alisa yang sedang melangkah menuju kursinya terhenti dan berbalik menghadap ke arah Hadi. "Kalau aku begitu, apa boleh? Aku diam di kamar dan meratapi nasib dan mungkin mengejar cinta yang belum tentu aku miliki."


"Bagus lah. Kalau kamu tidak terpuruk dengan ke adaan, dan untuk apa juga kau seperti itu percuma!" Hadi mengacungkan jempol untuk Alisa.


Kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya. Kemudian ada office yang mengetuk pintu dan Alisa yang langsung membuka dan menerima paket kecil yang berisi salep pesanannya tadi


“Apa itu?” tanya Hadi sambil tetap menatap layar laptopnya.


Alisa menoleh dan menatap sesaat, lalu berkata. "Ini ... salep buat yang luka di lutut ku. Bukan luka sih, perih doang."


“Kenapa yang tadi terjatuh bukan?” Hadi langsung berdiri dan menghampiri.


'Iya tadi," Alisa duduk di kursinya dan sedikit menaikan span panjangnya sampai lutut karena dia mau mengobati kedua tutunya yang memang terasa perih, merah dan ternyata lecet juga.


Melihat seperti itu, Hadi berjongkok sambil berkata. "Kenapa gak bilang dari tadi? kan bisa bili tadi di jalan, lagian di rumah juga ada obat yang lebih bagus." Hadi mengambil salep tersebut dari tangan Alisa dan lalu mengolesi dengan jarinya.


Alisa bengong ketika melihat Hadi mengambil obatnya. Tadinya mu dia obati sendiri saja.


Pada Akhirnya Alisa menarik kedua sudut bibir nya mendengar Hadi yang terus ngoceh pada dirinya. "Sudah ngoceh nya Om?"


"Belum, kenapa gak bilang sebelumnya? biar saya bawa ke dokter atau beli obat," jawabnya Hadi tampak kesal.


"Kan sekarang udah beli obatnya, lucu ya? Om ini kayak perempuan juga loncat, bawel! he he he ..." Alisa tertawa kecil lalu menutup kembali lututnya.


Hadi duduk di mejanya Alisa. "Saya tunangan kamu dan saya bertanggung jawab penuh atas dirimu, faham?"


Senyuman Alisa memudar lalu menunduk sambil menjawab. "Iya faham,"


“Nanti, rapat bila tidak bisa, gak usah turun dan istirahat saja di kamar,” ucap Hadi sambil menunjuk ke arah kamar yang berada di sana.


Alisa sudah kembali menyibukkan tangannya. "Aku bisa, jangan khawatir! cuma begitu kok."


Ketika meeting pun di mulai.


“Oke, meeting kita mulai saja dan CEO kita akan menjelaskan sesuatu,” kemudian Alisa menoleh ke arah Hadi yang langsung mengangguk.

__ADS_1


Sementara Alisa mencatat apa saja yang menjadi kesimpulan dari pertemuan ini. Sesekali menyedot minumnya.


Pasang mata Zidan sering memperhatikan Alisa. Setiap gerakan geriknya membuatnya terpesona. Kecantikannya dan kepintarannya juga kerajinannya membuat seorang Zidan dibuat jatuh cinta sejak pandangan pertama.


"Giman kalau nanti malam kita jalan dan makan malam gitu?" suara Zidan pelan dan sedikit memajukan kepalanya ke arah Alisa.


Alisa menggerakan manik matanya pada yang lain dan Hadi yang tampak serius dengan perbincangannya. "Em ,,, maaf, aku gak bisa!"


“Kenapa?” Zidan tampak sedikit kecewa.


Alisa hanya menggeleng dan tidak lagi mengeluarkan suaranya selain untuk keperluan meeting menambahkan pembicaraan dari Hadi.


Sampai akhirnya pertemuan pun selesai dan semua pun bubar tinggal Alisa yang masih membereskan berkas dan Hadi pun sudah bersiap pergi, namun menunggu dulu Alisa, dan ZIdan pun sudah berdiri sambil menatap ke arah Alisa.


“Lisa, jalan yo?”ajak Zidan kembali.


“Maaf, aku tidak bisa.” Jawabnya Alisa sambil melirik ke arah Hadi yang juga meliriknya.


"Kenapa, katakan pada ku apa alasannya? apakah orang tua mu tidak mengizinkan kau keluar malam? jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam kok, malah biar kita lebih dekat dan saling mengenal" ucap Zidan kembali meyakinkan Alisa.


Hadi menyandarkan bokongnya ke bibir meja dengan kedua tangan terlipat di dada, memperhatikan Zidan yang mulai terang-terangan mendekati Alisa, yang notabene nya adalah tunangan dirinya sendiri.


"Bukan, bukan karena itu juga. Aku lagi malas jalan saja, capek."Alisa berjalan keluar dari ruangan meeting tersebut.


'Kan pakai mobil Lisa ... bukan jalan kaki." Zidan terus mengejar gadis itu.


"Pokoknya gak bisa untuk saat ini." Tambah Alisa lalu setengah berlari meninggalkan tempat tersebut.


Zidan berdiri melihat pungung Alisa yang tertutup oleh rambut yang terurai.


“Lebih keras lagi upayanya,” Hadi menepuk bahu Zidan sambil melintasinya.


Zidan hanya mengulum senyumnya lalu berjalan yang berlainan arah, dengan Hadi dan Alisa.


"Ehem. Ada yang naksir tuh! oya tolong carikan saya informasi dokter ahli tentang kanker dari Amerika, saya ingin mendatangkannya untuk istri saya," ujar Hadi setelah berada di ruangannya, kepada Alisa.


Alisa mengangguk, lalu segera mencari informasi yang sesuai dengan yang Hadi butuhkan, sementara Hadi menunggu dan berdiri di samping Alisa memperhatikan gadis itu bekerja ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


__ADS_2