Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Berduka


__ADS_3

Setelah jarak tempuh sekitar 3 jam lebih, akhirnya Alisa dan yang lainnya sudah berada di Bandara yang ada di kota besar tersebut.


Karena dari rumah tidak ada yang bisa jemput. Mengharuskan Alisa naik taksi saja.


"Ya sudah, kita antar saja bareng-bareng!" katanya Zidan sambil mengedarkan pandangan ke yang lainnya.


"Nggak, nggak usah makasih! kalian pulang saja, Kalian pasti capek dan aku bisa naik taksi kok. makasih ya. Sekali lagi Makasih atas semuanya! sampai jumpa lagi di lain kesempatan." Tolaknya Alisa sambil memesan taksi online.


"Ya, udah. Antar aja dulu ... tapi nggak pa-pa aku aja yang antar Bu Alisa ke rumahnya," ucapnya Mita sambil mengedarkan pandangan pada Burhan dan Zidan.


"Tidak usah ... pulang aja duluan? Mbak Mita pasti capek dan aku nggak apa-apa pulang sendiri kok. Lagian dari Bandara ke rumah juga nggak bakalan nyasar! ya udah aku duluan ya?" Alisa berjalan sambil menarik koper nya keluar dalam Bandara sambil menunggu taksinya datang.


"Lagian tumben banget, supir ada beberapa, scurity juga ada! kok nggak ada satupun yang bisa jemput aku sih? ha ... aku jadi takut. Om, aku sendirian!" gumamnya Alisa dengan ekspresi wajah yang sedih.


Alisa masih berdiri di pinggiran jalan. Sementara yang lain sudah berada di kendaraan jemputannya masing-masing.


"Beneran, Bu ... nggak mau diantar?" Mita menyembulkan kepalanya dari jendela.


"Nggak, makasih!" Alisa tetap menggeleng.


Burhan dan Zidan pun merasa kasihan, namun di tolak gimana!


"Sudah masuk saja. Nanti keburu malam. Kita tidak bakalan macam-macam kok, kalau niat ketika di luar kota saja!" Zidan membuka kan pintu dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Terlihat Alisa menghela nafasnya lalu melihat jam yang ada di tangan. "Bentar lagi taksi ku datang, kalian duluan saja! nggak papa kok."


"Em ... ya sudah kalau begitu! kami duluan saja." Mobil Zidan pun melaju mengikuti majunya mobil yang membawa Mita.


Sementara Alisa masih berdiri menunggu taksinya datang dan Alhamdulillah beberapa saat kemudian taksi yang dia pesan datang juga dan tiba-tiba dari belakang Alisa ada yang membukakan pintu, dan siapa lagi kalau bukan bodyguard-nya yang selalu menemani dari Bandung Surabaya dan sekarang sudah di Jakarta.


"Mas, ada di sini juga?" gumamnya Alisa sembari menatap pria itu.


"Silakan masuk, Bu? Nanti keburu malam," Ucap pria itu tanpa menjawab sapaan dari Alisa, lalu dia berbincang dengan sopir taksi entah apa yang mereka bicarakan.


Tanpa pikir panjang dan buang waktu, karena memang waktu sudah semakin larut Alisa pun masuk. Setelah memberikan kopernya pada pria itu untuk dimasukkan ke dalam bagasi.


Pria itu berdiri menatapi mobil taksi yang membawa Alisa dari bandara menuju kediamannya yaitu mension miliknya Hadi.


Sementara keadaan Mension di malam ini, memang suasana berduka dan sudah ramai dengan orang-orang yang menyiapkan semua nya termasuk pemakaman Diana yang kebetulan pemakamannya di belakang mansion tersebut, makanya di sana banyak orang yang sedang menggali kubur dan juga membangun tenda agar nanti bila hujan tidak kehujanan ataupun kepanasan buat yang mengaji.


Sementara di dalam rumah terdengar isak tangis terutama dari sang ibu dari Hadi, dia menangis sedih karena sang mantu telah berpulang meninggalkan dunia ini. Kembali pada sang khalik.


Sang ibu mertua berharap putranya bisa membawa berobat sang mantu, akan mendapatkan hasil kesembuhan yang baik dan membawanya dia pulang kembali ke Indonesia dengan sehat walafiat tetapi sepertinya tidak, justru Diana dipulangkan ke Indonesia hanya jasadnya saja karena sesungguhnya dia sudah diambil oleh yang maha kuasa.


"Saya sangat berharap kalau ibu Diana itu kembali dengan sehat dan bisa berkumpul kembali dengan kita semua, bukan mayatnya saja, hik-hik-hik!" ucap salah satu asisten yang saling berpelukan disertai hujan air mata.


Isak tangis mewarnai ruangan tersebut, para asisten yang sudah lama khususnya bekerja di sana bersama Diana dan Hadi dan rata-rata asisten memang sudah lama bekerja bersama mereka berdua.

__ADS_1


Dimata mereka, Diana adalah sosok seorang wanita yang baik hati, tuturnya yang lembut yang pemaaf. Sekalipun ada kesalahan yang dibuat oleh para asisten, Diana tetap baik ramah dan ringan tangan dalam berbuat kebaikan.


Membuat menjadi salah satu alasan mereka betah tinggal dan bekerja di Manson tersebut.


Namun kini dia telah tiada meninggalkan kenangan yang banyak di rumah itu, mungkin akan tergantikan dengan hadirnya wanita lain sebagai ganti istri dari Tuan Hadi.


Dan mereka semua tidak tahu apakah nantinya istri Tuan Hadi sifat dan sikapnya akan sama seperti Diana yang baik hati pemaaf dan lembut juga rajin, atau mungkin seperti Dania yang garang kurang ramah tempramental dan sok nyonya alias sok berkuasa.


Kebaikan sosok Diana itulah salah satu yang membuat mereka kehilangan! kehilangan sosok majikan. Mbak Mira yang berapa tahun ini menjadi asisten pribadi Diana menjaga setiap waktu merasa terpukul, shock. Di saat terakhirnya justru tidak bersama dengan sang majikan, Diana. Karena Mira tidak di ikut sertakan ke luar Negeri dalam pengobatan sang majikan.


Ibu dari Hadi menangkup wajahnya dengan Kedua telapak tangan, lalu dia ucapkan. Mengeringkan air matanya yang terus mengalir dari sudut mata! dia sadar dan dia tahu tidak seharusnya yang berpulang, kita tangisi. Justru kita harus mengikhlaskan dan mendoakan.


"Mbak-Mbak semua tolong dengarkan saya, bukannya kita tidak boleh menangisi atas kepergian seseorang! boleh, cuma dalam batas kewajaran dan kita tidak harus terus-menerus menangisinya. Karena justru akan membuat bersedih melihat kita," ibunya Hadi menjeda perkataannya sembari melihat pergantian pada para asisten yang berkumpul di tempat itu. Berbaur dengan para tamu lainnya.


"Kita harus mendoakan, semoga dia meninggalnya Khusnul khotimah, diterima disisi Allah dilapangkan kuburnya. Diterangi dalam kuburnya! diterima amal ibadahnya, diampuni segala dosanya. Yo kita berhenti menangis karena tangisan kita tidak berarti apa-apa, dan tidak akan membawanya kembali. Mendingan kita mengambil air wudhu untuk membacakan Alquran yang dikhususkan untuk ibu Diana," tutur lembut dari ibunya Hadi, yang para asisten dengar dan satu persatu beranjak dari tempatnya mau mengambil air wudhu.


Wanita sepuh itu mengembuskan nafas dengan sangat berat, sejenak memejamkan kedua matanya dan mendoakan wajah ke langit-langit, dalam hati bergema doa yang terbaik untuk sang mantu. Yang sudah meninggalkan nya lebih dulu dari indahnya dunia fana ini.


Beberapa saat kemudian asisten sudah berkumpul kembali dan para tetangga yang sudah mulai bertambah berdatangan, mereka pun mulai membaca ayat-ayat untuk mendoakan Diana yang sudah tiada dan juga mendoakan kepulangan mereka dari luar Negeri, agar selamat sampai tujuan.


Sedangkan Dania sebagai adik Diana dia justru menyendiri di kamarnya menangisi sang kakak yang telah berpulang, dia tidak larut dalam kesedihan. Dia hanya terdiam shock, terpukul. Dan mematung di tempat! antara percaya dan tidak kalau kakak satu-satunya itu telah tiada ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Terima kasih ya, bila kalian masih setia dan suka. Ingat ya dukungan kalian menjadi penyemangat buat ku terus berkarya.


__ADS_2