
Setibanya di sana Alisa masuk dan mendapati Hadi yang sedang berada di atas tempat tidur dengan memangku laptopnya. Alisa tidak berani menegur, dia langsung saja masuk ke dalam wardrof untuk mengambil selimut dan bantal.
Namun ketika membuka pintu lemari, teringat kata-kata Diana yang terngiang-ngiang di telinganya. Dan mengingat sikap Hadi yang agak dingin padanya membuat ia merasa sedikit bersalah
Alisa mencari baju tidurnya tangannya entah kanapa malah mengambil baju tipis yang menerawang yang sama sekali belum pernah dia pakai sama sekali.
Dia tatap baju itu dengan sangat lekat dan penuh keraguan. "Em ... pakai gak ya? tapi malu ach, masa aku harus pakai baju seperti ini, sama aja dengan tidak pakai apa-apa." Gumamnya Alisa sambil terus menatapi baju itu di bolak balik.
"Bahannya aja bolong-bolong kaya begini? macam jaring, buat ambil ikan saja ha ha ha ..." Alisa tertawa sendiri.
"Eh ... aku sudah bikin om Hadi kesel bahkan mungkin marah, apa salahnya sih aku coba ach ... kali aja dia gak marah lagi. Tapi ... gimana kalau aku di terkam habis-habisan sama dia, mati lah aku!" Alisa terus bermonolog sendiri.
"Kata Bu ustadzah juga, membuat hati suami bahagia itu ibadah. Akan dapat pahala juga, mana ada dia menerkam habis? emangnya Om Hadi singa buas atau Harau gitu? kan bukan! kalau dia galak istrinya, Tante Diana mana tahan dong sama suami macam dia! ada-ada aja kamu Alisa ... Alisa."
Pada akhirnya Alisa bawa baju itu beserta selimut dan bantalnya ke sofa tempatnya tidur.
Lalu kemudian buru-baru ke kamar mandi. Hadi melirik tanpa suara sedikitpun dan terus bersikap cuek yang dia tunjukan kepada Alisa.
Alisa berdiri di depan cermin menatap geli tubuhnya yang memakai pakaian tugas malam.
"Iih ... geli gue lihatnya. Tipis amat sih? bisa-bisa nya ya orang membuat baju kaya gini, gak bermutu banget. Eh ... tapi kan gak mungkin juga diciptakan bila tidak berguna sama sekali."
Alisa berputar melihat tubuhnya di belakang sama saja menerawang. dan masih mending di bagian belakang yang menonjol cuma bokong doang, lah di depan! ketara banget.
Kemudian Alisa kembali menatap dirinya, manik mata dia tertuju pada bagian dada yang kian menyembul kalau menggunakan baju haram seperti ini. Rasanya masih terasa gimana remasan tangan Hadi di bagian sana, kedua manik mata Alisa sejenak terpejam dan kejadian itu semakin membayang dan terasa gimana lembutnya perlakuan Hadi serta nafasnya yang penuh hasrat itu.
Buru-baru Alisa membuka kelopaknya, membuatkan semua bayangan yang menghantui ruang memorinya.
__ADS_1
"Huuh ... bismillah ..." Alisa perlahan mengayunkan langkahnya mendekati pintu dan menarik handle pintu.
Kedua netra nya melirik ke arah Alisa sekilas lalu kembali melihat ke layar laptop, dengan refleks netra Hadi kembali menoleh ke arah Alisa yang berpenampilan ach, bikin dia spot jantung.
Sementara Alisa yang berjalan menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya karena berasa sangat malu.
Mata Hadi tidak berkedip. Melihat pemandangan yang baru kali ini dia dapatkan. Sesuatu yang sangat luar biasa, tenggorokannya berasa begitu kering sehingga dia berkali-kali menelan Saliva nya itu.
Kemudian Hadi buru-baru mengalihkan pandangannya ke lain arah dan pura-pura tidak melihat pada istri mudanya itu.
"Apa maksudnya dia memakai baju itu? berniat menggoda ku apa? aku maunya tadi, sekarang aku terlanjur kesal. Lagian buat apa kau melakukannya bila terpaksa dan belum ikhlas memberikannya padaku!" gumamnya Hadi dalam hati sambil kembali menyibukkan diri.
Alisa sudah sampai di tepi tempat tidurnya Hadi berusaha mengangkat wajahnya melihat ke arah Hadi yang sama sekali tidak menoleh.
"Em, Om. Apa ada bis aku bantu?" suara Alisa sedikit bergetar, malu juga iya.
"Tidak, gak ada!" sahutnya Hadi tanpa menoleh, pada hatinya ingin sekali menikmati pemandangan yang indah dan jarang-jarang dia lihat, bukan jarang lagi tapi belum pernah.
Masa mau bikin kopi! berarti harus ke bawah dengan memakai baju seperti itu? kan gak mungkin.
Sontak Hadi melihat ke arah Alisa, di tatapnya dengan sangat intens. pemandangan yang bikin dia kehabisan cairan. Panas dingin dibuatnya, tangannya mengambil air minum yang berada di sampingnya itu untuk menghilangkan dahaga yang tak jua sirna.
"Tidak perlu, aku gak mau kopi." Hadi berucap dengan tetap dingin, lalu kembali menatap layar laptop.
Singa dia yang sudah bangun sedari tadi melihat Alisa keluar dari kamar mandi pun terus meronta ingin kabur dari persembunyiannya. Untung saja terhalang papan kiyboard, walau bergerak namun tidak ketara.
Terlihat Alisa menghela nafas dan lantas mendudukan dirinya tidak jauh dari Hadi. Tangannya menyampingkan rambut mengekspos bahunya sebelah.
__ADS_1
Hadi menggerakan ujung matanya melirik ke arah Alisa. Tampak sesuatu yang sangat menyembul lain dari biasanya. Dampak dari pakaian yang super tipis membuat semakin tinggi saja.
Pria itu tidJ kuat dan benar-benar mengarahkan wajahnya dan menatap sang istri dengan intens. Uuh ... rasanya ingin menyerangnya kembali bahkan kejadiantadi siang pun berasa masih terasa di telapak tangan, betapa kenyalnya bak agar-agar.
Hadi benar-benar dibuat kaku, meradang dan tubuhnya menegang.
"Ehem, kalau ... Om butuh sesuatu, Alisa bisa lakukan." Alisa menunduk malu. Keringat dingin pun keluar, termasuk kedua telapak tangannya berasa sangar lembab.
"Alisa, lihat. Dia tak bergeming melihat mu! ayo dong ... sentuh tangannya dan goda dia! bilang kalau kamu mau melakukannya!" batin Alisa memberi dorongan agar Alisa berbuat sesuatu.
"Goda gimana? gak ngerti gue, melakukan apa juga?" batinnya lagi Alisa yang tidak tahu harus berbuat apa.
Hadi yang tak bergeming, hanya terus memandangi ke arah Alisa dengan segala hasratnya yang membara! namun dengan sekuat tenaga dia tahan dan semoga kuat pertahanannya Hadi kali ini.
"Ayo dong ... dekati dia sentuh pipinya, kecup atau apa kek! Nggak ach, aku malu juga takut." Alisa terus menunduk sambil menarik ujung bajunya agar menutupi paha mulusnya yang jelas terbuka.
Yang tertutup saja kelihatan. Apalagi yang terbuka. "Em ... Om, aku ... mau minta maaf, soal tadi siang, hingga Om marah padaku kayanya!" ucap Alisa ragu-ragu.
Hadi tersadar dan menggercapkan netra nya. "Oh tidak apa-apa. Santai saja. Oke, tidur lah! biar besok tidak kesiangan!" entah kenapa tanpa sadar Hadi mengeluarkan kalimat seperti itu.
Alisa melongo, berharap Hadi melakukan sesuatu yang akan menyenangkan dirinya, memberi kecupan kek. Pelukan kek. Ini malah menyuruhnya tidur! why? Does a hadi not want himself right now?
Is there no sexual excitement? It's a surreal hot meal.
Alisa menatap nanar ke arah Hadi yang menutup laptopnya itu. entah kenapa hatinya terasa sangat sakit dan malu semalu-malunya. Berasa bak seperti pe-la-cur yang menjajakan diri di pinggir jalan, sudah seksi banget. Namun tidak ada yang berminat, hanya jadi tontonan saja! sungguh miris bukan?
Alisa turun dan berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya menahan tangis yang hampir saja pecah di hadapan Hadi ....
__ADS_1
...🌼----🌼...
Hancurkah perasaan Alisa saat ini? di saat dia berusaha menawarkan diri pada suaminya. Namun dengan ringannya di Ruruh istirahat.