
Hadi menoleh ke sumber suara, yang datangnya dari sebelah, yaitu kamarnya Dirga. Hadi mendekat dan langsung mendorong handle nya.
"Belum tidur, Dirga ... sudah malam nih!" sapa Hadi yang melihat putranya masih di depan meja belajar.
"Belum nih, Pah. ada yang harus ku pelajari, susah!" keluh anak itu.
Hadi mendekati seraya berkata. "Kenapa gak minta bantuan sama kakak?"
"Kakak gak mau, dia pacaran mulu. Sibuk!" sahut anak itu.
"It's okay. Papa yang bantu! mana coba? Papa ingin lihat!" Lantas Hadi membantu putranya belajar sampai selesai.
Malam semakin larut dan membawa penghuninya ke sebuah pagi yang insya Allah di sambut dengan suka cita oleh sebagian mahluk bumi ini.
Seperti biasa, Alisa sedang memasangkan dasinya Hadi dan setelannya.
"Kalau boleh tahu, siapa yang menyiapkan ini semua untuk mu?" tanya Alisa sembari memasang dasi di lehernya Hadi.
"Istri saya lah," jawabnya singkat dan Alisa menatap datar pria itu.
"Dulu istri saya yang menyiapkannya, makanya saya kangen masa-masa itu. Dan setelah istri saya jatuh sakitnya seperti sekarang ... saya sendiri." Ralat Hadi.
Alisa terdiam sambil mengenakan jas nya Om Hadi.
"Kenapa?" selidiknya Hadi.
"Nggak ... cuma tanya saja kok!" Alisa lalu menyemprot kan minyak wangi ke tubuhnya Hadi, lanjut membereskan pakaian kotor ke wadahnya.
Hadi menoleh dan menatap punggung gadis itu yang rajin terpaksa atau memang bertanggung jawab dan juga memang pintar.
Alisa berjalan keluar dari kamar tersebut untuk ke kamarnya untuk mengganti baju. Yang nantinya akan lanjut menyiapkan sarapan buat Hadi.
"Sayang, kita sarapan dulu yo?" Hadi mengajak sang istri ke ke ruang makan, sembari mencari angin segar di pagi ini.
"Kau begitu tampan. Suara ketampanan mu lebih keluar bila ada yang mengusir seperti sekarang ini, beda dengan kemarin-kemarin ketika kau mengurus sendiri. Beda saja." Diana memuji ketampanan suaminya.
"Kau juga tetap menjadi istri ku yang cantik. Baik hati dan perhatian!" Hadi mencium kening sang istri dengan durasi yang lama.
"Ehem, Mbak. Abang! aku besok mau ke tempat Abah, apakah mau titip sesuatu?" suara Dania tiba-tiba hadir di antara mereka berdua.
Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Dimana Dania mendudukan dirinya di sofa yang tidak jauh dari mereka berdua.
"Titip salam saja, lagian kan Abah dan ibu mau ke sini!" lirihnya Diana kepada Dania.
__ADS_1
"Iya, sih. Ngapain aku ke sana ya?" gumamnya Dania sambil menaikan alis nya.
"Karena ... Tante ini tulalit, bikin sulit yang sebenarnya mudah." timpal Liana yang baru datang.
"Kau ini, masih mending aku masih ingat untuk menemui orang tua ku. Daripada tidak." Akunya Dania.
"Tapi kan, mereka mau datang. Tapi tak apa lah bila Tante mau ke sana sekalian jemput!" tambahnya Liana.
Alisa yang sedang menyiapkan sarapan, khususnya buat Hadi. Sudah siap dan ia sajikan di meja. Alisa berjalan menghampiri Hadi dan istri.
"Tante, Om, sarapannya sudah siap. Aku mau ke atas dulu mengambil barang-barang buat bekerja." Kata Alisa dengan nada suara yang rendah.
"Sarapan lah dulu, Lisa ...ngambil barangnya nanti saja!" ucap Diana dengan lirih.
"Iya, nanti. Aku sarapan! sekarang mengambil tas dulu biar tenang dan gak balik lagi ke atas," sambungnya Alisa.
"Ya sudah, kalau begitu." Diana mengangguk.
Alisa memutar badan, lantas mengayunkan kakinya namun ketika melintas di dekatnya Dania, Alisa terjauh dan langsung berlutut. Dikarenakan langkah Alisa terhalang oleh kakinya Dania.
"Auw!" desis Alisa, lututnya terasa panas membentur lantas sebagai penyangga tubuhnya.
Hadi, Diana dan Lina bergumam. "Alisa?"
"Tante sengaja ya?" Liana menatap curiga ke arah Dania yang menunjukan mutado. Alias muka tanpa dosa.
"Apaan? kau mencurigai Tante? tega sekali! dai jatuh sendiri kok. Lagian apa yang melihat aku melakukan sesuatu gitu? gak ada kan?" elak Dania dengan santainya.
"Tapi, Alisa gak mungkin terjatuh bila Tante gak ngisengin dia." Liana kekeh.
"Mana ada Liana ... tanya saja sama orangnya. Mungkin jin penunggu rumah ini kali." Dania pun kekeh tidak mau mengakui.
Alisa yang sudah berdiri menahan kesalnya. Karena memang tadi ketika dia dia mau jalan. Kaki Dania menghalangi langkahnya.
"Em, sudah! Tante gak salah kok." Kata Alisa.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Hadi menatap ke arah Alisa.
"Nggak-nggak, aku gak pa-pa kok," sambung Alisa sambil meneruskan jalannya.
"Kan. Dia juga bilang tidak kenapa-kenapa kenapa kau yang menuduhku?" Dania ngeloyor pergi mendekati meja makan.
Kini mata Liana yang kini bicara, bukan mulut lagi.
__ADS_1
Hadi mendorong kursi sang istri di bawanya ke tempat sarapan. "Kita sarapan yo?"
Hadi langsung menikmati sarapannya dengan lahap. Sesekali menyuapi sang istri.
"Aku, bisa sendiri Abang ... Abang saja sarapan. Gimana, enak masakannya Alisa?" Diana menatap sang suami.
"Enak. Seperti masakan mu sayang!" jawabnya Hadi.
"Hem ... tega banget ya Abang. Memuji wanita lain di hadapan sang istri." Dania menatap tajam pada Hadi, sang kakak ipar.
Hadi bengong. Melihat ke arah Dania, dia menjawab seadanya.
"Tidak apa-apa, Dania ... kan Mbak yang bertanya dan Abang harus menjawab dengan jujur. Biar nanti bila ada kekurangan, akan Mbak kasih saran." Timpal Diana.
"Tapi--"
"Tante, bilang saja iri ... sama Alisa yang nyaris sempurna di mata papa dan mama. Kapan dong Tante memasak buat suami? usia Tante kan sudah berumur." Liana memotong perkataan Dania.
"Iri? buat iri sama anak ingusan seperti itu! saya ini sudah dewasa. Nggak level harus iri sama dia, lagian kalau sudah waktunya aku punya suami juga." Akunya Dania sambil menyuapkan makannya.
"Jangan bilang ya ... kalau Tante ku ini gak laku gitu! secara ... sudah cantik. Alim ..." lanjut Liana kembali dengan mulut mengunyah.
Manik mata Dania melotot dengan sangat sempurna pada Liana. Bisa-bisa nya sang ponakan bilang dirinya gak laku!
Kedua manik mata Diana melihat ke arah adik dan putrinya bergantian. "Sudah-sudah, kalau. ributi apa sih? makan kok ribut. Sayang, ayo sarapan?" Diana mengalihkan pandangan nya pada Dirga yang sudah rapi dengan seragam dan tas punggung nya.
Dania dan Liana saling mendelik, memasang bendera perangnya sehingga saling melotot dengan sangat sempurna.
"Mbak, aku mau sarapan roti saja ya?" pinta Dirga pada mbak.
Yang langsung mendapat anggukan dari mbak.
Tidak lama kemudian, Alisa kembali dengan tas Hadi dan tasnya juga, serta beberapa berkas yang sempat dia bawa pulang kemarin sore.
"Lisa ... sarapan dulu? nanti kamu sakit!" Diana menatap ke arah Alisa yang memasang senyum di bibirnya.
Semakin hari, penampilan Alisa pun semakin rapi dan menarik. Biarpun dandanannya terbilang sederhana. Tetapi tampak sangat menarik dan sedap di pandang mata.
Pandangan Dania yang tajam ke arah Alisa. Membuat Alisa sedikit menatap balik, namun segera ia duduk dan mengambil sarapannya ....
.
Akan kah Alisa menyambut tantangan Dania yang mulai beraksi membuat masalah dengannya?
__ADS_1