
Alisa berusaha mengontrol emosinya, agar tidak membalas perlakuan Dania yang sudah keterlaluan itu.
Helaan nafas, terlihat begitu berat dan Alisa pun memejamkan kedua manik matanya. "Huh ..." Alisa menembuskan nafasnya dari mulut.
Salah satu mbak mau membawakan barang-barang Alisa.
"Nggak usah, Mbak. Makasih?" tubuh Alisa berbalik dan melanjutkan langkahnya dengan membawa perasaan sesak dan sedih.
Para asisten pada bengong. menatapi kepergian Alisa.
Dania tersenyum licik, dan mengepalkan tangan sambil berjalan.
"Hem, gak bisa berkutik kan? ini bukan akhir dari segalanya Alisa." Gumamnya Dania.
Bugh. Hek!
"Auwwww ..." desis Dania yang terjatuh duduk nyengir kesakitan.
Diiringi terdengarnya seperti benda jatuh, semua yang ada di sana pun melihat ke sumber suara termasuk Alisa yang memutar kepalanya.
"Tante? ha ha ha ... Tante kalau mau istirahat itu di kursi. Ngapain duduk di lantai segala? aduh duh-duh ... bangun dong Tante! jangan main di lantai. Atau mau iklan super pel, dalam posisi wenak ya Tante? ha ha ha ...."
Alisa tertawa lepas melihat Dania duduk selonjoran sebelah. Kaki melipat sebelah dengan wajah kesakitan, pas di tempat tadi dirinya disiram oleh wanita sihir itu.
Beberapa asisten pun tersenyum puas. Dalam hati berkata. "Makanya jadi orang jangan suka usil."
Dania mengeratkan giginya sudah sakit. Malu juga! mau bangun juga sulit dengan posisinya itu.
"Kalian, awas ya? jangan menertawai ku! bantu saya berdiri?" teriaknya Dania Sambil berusaha berdiri.
Para asisten langsung terdiam dari cekikikan nya, serta saling pandang.
"Hi hi hi ... Tante-Tante! mau olah raga zumba ya, oke lanjutkan saja." Alisa masih terkikik. Lalu meninggalkan tempat tersebut.
Dania kembali teriak. "Kalian? nanti saya? bukan bengong kaya kambing congek. Bantu saya?"
Dania mengulurkan tangan minta di tarik oleh asisten. Mana tulang ekornya sakit sekali, kaki yang melipat juga sakit.
Siapa sangka, para asisten malah melengos dengan niat melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
"Saya mau masak," Kata mbak juru masak.
"Saya juga mau menyapu!"
"Iya, saya mau ngepel."
Dan saya mau siram tanaman. Nanti bila mati Ibu Diana marah," ucap mereka sambil meninggalkan Dania yang meminta pertolongan.
__ADS_1
Dania melongo dengan wajah yang bukan hanya menahan sakit, tapi juga menahan marah yang tidak terkira.
"Mbak? hei awas ya, saya adukan lho biar di pecat sekalian dan gak punya kerjaan!" teriak Dania sekencangnya.
"Dasar gak punya hati lu, orang kampung. Gak punya empati, tidak tahu saya ini siapa ha? aduhhh!" Dania masih terdengar teriakannya.
Dan pada akhirnya, Dania bangun sendiri sambil memegangi pinggang yang juga terasa sakit. Dia tampak nyengir. Sambil berjalan menjinjing tas nya terus saja mengumpat.
"Awas lu, saya buat kehilangan pekerjaan, dasar orang kampung! gak berpendidikan. Moga mati di patok ular." Umpat Dania sambil terus berjalan.
Alisa yang sudah sampai di kamar langsung menyimpan bunga nya atas meja, beserta tas dan dan berkas. Lalu berlalu ke kamar mandi mau bersih-bersih.
Dia berendam di dalam bathub yang berisi air hangat, untuk relaksasi kan tubuhnya yang terasa lelah dan penat.
Ketika Alisa berada di wardrof. Dia tidak menemukan koper yang di paking semalam.
"Ha? kemana kopernya?" tanyanya dalam hati sambil celingukan.
Setelah berpakaian dengan rapi. Sebentar lagi dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk Diana dan memberikan berkas kepada Hadi.
Alisa setengah berlari menuruni tangga. ''Mbak, apakah ada yang mengambil koper tuan?"
Pertanyaan itu Alisa lontarkan setelah menginjakan kakinya di lantai bawah.
"Em, koper? iya sudah di angkut, den Dirga juga di boyong ke sana. Katanya mau ke luar Negri berobat ibu!" jawabnya mbak.
Alisa termangu mematung. Kok Hadi gak bilang apa-apa kalau mau pergi hari ini? kan bilang nya juga kalau beberapa hari kondisi nya belum membaik!
"Oya, Non. Tadi mah Ujang yang angkut semua," sambung mbak lagi.
"Lian, Liana ikut juga mbak Mira?" selidik Alisa.
"Kalau Nona Liana ikut, tapi kalau Mbak Mira? kurang tau, Tau Non. Mg Ujang belum kembali. Ibu juga belum balik!" lanjut mbak lalu dia pergi entah kemana.
"Kok aku gak tahu kalau mau berangkat hari ini?" hati Alisa mencelos. Berasa sedih gimana gitu, lalu dengan lesu. Dia menaiki kembali anak tangga menuju kamarnya.
Saat ini Alisa sudah berada di kamarnya, menatapi bunga yang dari Hadi tadi. Diciumnya dan tanpa dia sadari manik matanya pun berlinang.
"Iih, kenapa aku menangis sih? ingat dia cuma suami sementara bagimu, biarkan dia bersama istrinya! jangan ganggu kebahagiaan mereka. Biarkan mereka bersama dan menjalani kehidupannya dengan suka cita. Semoga Tante pun sembuh!" monolog Alisa sambil menyeka air matanya yang sempat jatuh.
Kepala Alisa menoleh pada ponsel yang tergeletak di atas kasur. Yang terdengar suara notifikasi.
..."Saya pergi malam ini, dan sekarang sudah berada di bandara. Saya titip semuanya pada mu termasuk ibu yang kini dalam perjalan pulang bersama Mbak Mira."...
Isi chat dari Hadi yang Alisa baca.
..."Saya tidak tahu kapan saya bisa pulang, doakan saja semoga Diana lekas sembuh. Agar kami dengan cepat kembali ke tanah air. Jaga dirimu baik-baik, dan urus semuanya. Aku percayakan padamu, tunggu aku pulang."...
__ADS_1
Alisa terpaku dan menatapi, membaca berulang-ulang chat dari om Hadi. Tanpa membalasnya satu kata pun.
Lagi-lagi Alisa kembali meneteskan air matanya. "Kok aku jadi sedih sih ..."
Jari jemari lentik Alisa mengusap sudut matanya yang basah itu.
"Oh, iya. Ibu sudah pulang belum ya?" Alisa segera keluar kamar untuk melihat ibu mertua yang katanya dalam perjalanan pulang.
Dari atas pun sudah terdengar suara riuh mbak Mira yang ditanya-tanya mbak yang lain.
Alisa menuruni anak tangga dan tampak sang ibu mertua sedang duduk di sofa melamun. "Ibu, sudah pulang?"
"Lisa, Abang berangkat keluar Negeri untuk berobat Diana, anak-anak pun di bawa!" ucap sang ibu mertua.
"Iya, Ibu. Semoga cepat sembuh ya Tante nya!" sahut Alisa dengan lirih sambil duduk di dekat wanita sepuh tersebut.
"Ibunya Diana pun ikut, Ibu juga di ajak tapi Ini mending di sini saja dan Hadi bilang ... temani Alisa di sini. Mungkin dia takut Alisa kabur." Ucap ibunya sambil mesem.
"Ibu bisa aja, besok Alisa mau berangkat ke Bandung. Keperluan kerjaan dan om menyuruh ku dan yang lain untuk mengurus semuanya, padahal alisa tidak tau apa-apa, Bu ..." Alisa mengeluh.
"Alisa jangan mengeluh, kan banyak orang yang ahli untuk membantu Alisa dalam hal itu. Dan Alisa pasti bisa, makanya Hadi mempercayai Alisa." Ibu mertua menggenggam tangan Alisa seakan memberi kekuatan dan semangat.
"Makasih ya, Bu ... sudah memberi Lisa semangat. Oya, sebelum ke Bandung. Aku mau menemui ibu dulu. Lama Lisa tidak bertemu beliau." Alisa seakan minta ijin sama ibu mertua.
"Iya, boleh ... temui lah Nak ... minta doanya ya? doa ibu mu itu niscaya akan terkabulkan," tutur sang ibu mertua.
"Iya, Bu. Oya, kita makan malam dulu yo? kebetulan perut Alisa sudah keroncongan, hi hi hi ..." Alisa berdiri dan menuntun tangan ibu mertua.
Keduanya makan malam berdua dan tidak terlihat hidungnya Dania berada di sana.
"Apakah Tante Dania sudah makan? atau masih diet?" tanya Alisa pada mbak yang ada di sana.
"Bu Dania sakit karena jatuh tadi kayanya Non, jadi gak mau keluar dan makan pun di kamar!" Sahut mbak.
"Ooh," Alisa membulatkan bibirnya.
Wanita sepuh itu merasa heran. "Emang jatuh di mana dia? pantas tidak menemui Diana atau mengantar ke bandara!"
Alisa dan mbak saling lirik dan Alisa meneruskan makannya.
Mbak yang cerita kejadian tadi, sehingga mengakibatkan Dania terjatuh.
"Astagfirullah ... segitunya Dania sama kamu! emang apa masalahnya sampai-sampai dia seperti itu?" ibu makin penasaran.
Kepala Alisa menggeleng. Agar mbak tidak cerita apa yang dia dengar. Kemudian Mbak menjauh dengan alasan mencuci perabotan.
Uhuk-uhuk ... tiba-tiba Alisa terbatuk-batuk ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Kira-kira apakah Hadi dan Alisa akan saling merindukan atau sebaliknya? hubungan mereka pun renggang dengan terpisahnya jarak dan waktu.