
"Yank, tolong aku yank?" suara Alisa yang memanggil Hadi. Namun suaranya pelan sehingga Hadi tidak dapat mendengarnya.
Alisa sangat kesakitan sambil berdiri, tidak mampu untuk melangkahkan kakinya. Terlihat dari kedua kakinya itu mengalir darah, Alisa semakin panik, shock. Tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Kemudian Alisa berusaha untuk teriak memanggil suaminya. "Yank ... tolong aku?" keringat dingin keluar dari sekujur tubuh Alisa, seiring jatuhnya air mata yang membasahi pipi.
Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk menahan daya tahan tubuhnya untuk berdiri, sehingga dia meluruhkan tubuhnya ke lantai.
Kemudian berusaha untuk meringsut ke dekat pintu, dan berusaha menggedor nya. Berharap Hadi mendengar dan segera menolongnya.
Dugh-dugh-dugh ....
"Tolong ... Yank tolong?" suaranya Alisa sembari mukul-mukul pintu.
Hadi yang baru saja menerima telepon dari seseorang. Lalu berjalan mendekati pintu toilet yang sedari tadi istrinya belum keluar juga, setelah dekat. Terdengar di pintu tersebut di gedor dengan lemah dari dalam, membuat Hadi panik dan segera membukanya yang kebetulan tidak dikunci dari dalam.
"Sayang?" teriak Hadi seiring terbukanya pintu toilet tersebut.
Alangkah terkejutnya Hadi, melihat Alisa terduduk di dalam toilet dan banyak darah yang keluar. Mengalir di kakinya, bercecer jatuh ke lantai juga.
"Kamu kenapa? kenapa sayang, terluka karena apa? terjatuh atau gimana?" suara Hadi yang panik dan mencecar dengan beberapa pertanyaan yang tidak bisa Alisa jawab satupun.
Walaupun demikian, Hadi segera mengangkat tubuh Alisa digendongnya keluar dari toilet tersebut, sembari meminta tolong kepada security di sana.
Security pun langsung datang menghampiri, namun dia bingung harus bagaimana? apalagi dia nggak tahu apa yang telah terjadi, yang dia bisa hanya membawakan tas Elisa menyusul Hadi yang setengah berlari ke area parkiran.
Kondisi Alisa semakin lemah bahkan dia sudah tidak sadarkan diri dalam gendongan Hadi.
Ada beberapa orang yang menyusul Hadi dan membukakan pintu mobil, termasuk security tersebut berada di sana memasukan tas Alisa. Kemudian Hadi meminta tolong security yang membawakan tas Alyssa tersebut untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat! serta memberikan kuncinya.
Meskipun kebingungan, security pun menuruti dan langsung duduk di belakang kemudian membawanya ke rumah sakit yang tidak jauh dari Mall tersebut.
__ADS_1
"Sayang, sadar sayang? bangun! Jangan tinggalkan aku Lisa ..." suara Hadi bergetar. Jujurnya dia sangat ketakutan, takut terjadi sesuatu suatu pada Alisa sehingga dia harus kehilangan Alisa, sementara Belum lama ini dia kehilangan Diana.
Di jok belakang Hadi memeluk tubuh Alisa sembari menangis tak bersuara, hanya kata-kata yang terucap meminta Lisa bangun dan sadar.
Setibanya di rumah sakit terdekat, Alisa langsung ditangani oleh dokter dan salah satu dokter merekomendasikan Alisa untuk ditangani oleh seorang dokter kandungan.
Hadi menyerahkan semuanya kepada para medis, yang penting istri kecilnya bisa diselamatkan. Apapun dan bagaimanapun caranya.
Hadi yang berada di ruang tunggu Itu tampak gelisah, sangat cemas dan was-was. Wajahnya menunjukkan rasa kecemasan yang tiada terhingga, berjalan mondar-mandir sembari melipatkan kedua tangan di dada dan sesekali melihat ke langit-langit dan berucap doa. Semoga istri kecilnya selamat!Walaupun Hadi tidak tahu apa penyebabnya sehingga menjadikan dia seperti ini.
Sekian lama menunggu dan Alisa ditangani beberapa medis, akhirnya salah satu dokter keluar dari ruang UGD dan Hadi pun langsung menghampiri.
"Gimana istri saya Dok?" selidik Hadi menatap cemas.
"Istri anda telah mengalami pendarahan hebat, hingga mengakibatkan keguguran! janin yang diperkirakan baru berusia 2 bulan lebih tidak bisa diselamatkan," jawabnya dokter ahli kandungan.
Duaaaaarrrrrrrr ....
Tubuh Hadi serasa disambar petir, tiada hujan tiada angin Guntur pun menggelegar.
Lagi lagi bak suara guntur yang menyambar berkali-kali. Memenuhi gendang telinga Hadi, kata-kata capek bekerja dan stress membuat Hadi menyalahkan dirinya langsung.
Karena memang benar, di akhir-akhir ini Alisa yang menanggung beban begitu berat yang dia percayakan kepadanya! tanpa memikirkan kesehatan gadis tersebut.
"Berarti selama ini Alisa hamil sementara aku sendiri tidak tahu kondisi istrinya sendiri. Ya Tuhan ... suami macam apa aku ini? membiarkan istrinya kecapean, stress dengan pekerjaan. Sampai-sampai dia terpuruk seperti ini!" monolog nya Hadi dalam hati sambil menangis.
"Tapi istri saya selamat, kan Dok?" selidik Hadi dengan suara yang sangat bergetar.
"Kalau istri anda atau ibunya, insya Allah selamat. Cuma dia belum siuman dan masih memerlukan waktu beberapa lagi, karena memang tadi pun dia diberi obat bius yang cukup tinggi!" ujar kembali dokter wanita tersebut. "Tolong dijaga istrinya ya Pak!" kemudian dokter itu pergi meninggalkan Hadi.
Dengan batin yang menangis Hadi buru-buru masuk menemui sang istri yang terbaring lemah bahkan tidak sadarkan diri, jarum infus pun terpasang di punggung tangannya. sebelah kanan.
__ADS_1
Dan pasien akan dipindahkan dari ruang UGD ke ruang inap, oleh para medis yang masih berada di sana serta mengurus Alisa yang terpejam itu.
Tubuh Hadi merasa sangat lemas lutut rasanya bergetar, semua kejadian ini di luar dugaan. Ia tidak menyangka sama sekali kalau Alisa sedang hamil muda. Dada Hadi begitu terasa sesak bagai tertimpa benda yang begitu berat, sakit dan kecewa!
Sakit! kenapa dia sendiri sebagai suaminya tidak tahu apa-apa. Dan kecewa! kenapa dia sebagai suaminya tidak peka dan perhatian pada istri yang masih terbilang muda bahkan dia biarkan menanggung beban yang begitu berat.
Hadi menangis sambil mendorong berangkat sang istri yang dipindahkan ke ruang inap.
"Yang sabar ya Pak? doain istrinya biar cepat sembuh dan lebih dijaga lagi kalau seandainya dia sedang hamil muda! sebab kandungannya lemah. Apalagi bila terlalu capek dan stress." Pesan seorang dokter yang masih berada di sana sembari menepuk bahu nya Hadi.
Hadi hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanpa mengucapkan kata-kata yang dia sendiri pun tidak tahu harus berkata apa.
Seusai Alisa dipindahkan ke ruang inap. Perawatan, dokter pun sudah tidak ada di sana! Hadi mendekati sang istri lantas nunduk di sampingnya
Dia menarik kursi lantas duduk di hadapan Alisa yang tetap terpejam dan terbaring lemah. Tangan Alisa yang satunya digenggam dengan erat.
"Sayang, kenapa tidak bilang kalau kamu sedang hamil? kamu boleh marah padaku, sekalipun membenci aku. Tapi tidak dengan benihku dia tidak berdosa sayang ... dia tidak berdosa." Hadi menangis sejadi-jadinya sembari menempelkan tangan Alisa di pipi.
Sehingga tangan Alisa basah dengan air mata Hadi. Air mata penyesalan, kekecewaan yang teramat sangat menyiksa perasaannya Hadi.
"Seandainya aku tahu kamu sedang hamil muda, tidak mungkin aku biarkan kamu kecapean ataupun stress. Sayang maafkan aku? maafkan aku yang tidak bisa menjagamu! yang tidak peduli dengan keluh kesahmu!" Hadi menciumi tangan Alisa.
Lisa yang tidak sadarkan diri tetap tidak bergeming ataupun mendengar ungkapan hati dari Hadi.
Hadi mengangkat wajahnya lalu menyeka air mata yang terus menetes di pipi. "Aku mohon sayang, jangan tinggalkan aku! bertahanlah untukku!"
Kemudian setelah beberapa saat, Hadi berdiri dan membuka jasnya yang kotor dengan darah, terasa bau anyir juga, dan darah yang menempel di celana panjangnya, bekas tadi dia menggendong dan dia peluk Alisa. Bahkan kunci mobil rental pun dia gak tahu di mana sekarang.
Mungkin security yang tadi yang membawanya. Yang penting tidak hilang, atau hilang pun masa bodoh. Dia bisa menggantinya dengan mobil lain.
Yang penting sekarang ini adalah ... keselamatan sang istri, kesembuhannya adalah yang paling utama saat ini bagi Hadi ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih bila masih setia menunggu dan jangan lupa like komen dan vote nya. Makasih.