Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Gak tau diri


__ADS_3

Kebetulan menemukan dokter ahli dari luar Negeri dan sedang berada di Indonesia.


Sehingga dengan cepat bisa di hubungi dan akan mendatangkan ke rumah.


Alisa kini bersiap-siap untuk pulang karena sudah waktunya juga. "Om, aku mau ke tempat ibu dulu ya? kangen!"


Hadi yang sedang melipat lengan baju nya, menoleh pada gadis itu. "Saya antar!"


"Tidak usah, Om. Kan Om ada janji sama dokter dan aku bisa sendiri kok." Tolak Alisa. "Aku pasti balik sebelum jam makan malam."


"Yakin, tidak mau di antar? nanti ada apa-apa lagi--"


"Aish ... Om ini tidak boleh bicara begitu dong, pamali. Bukan kah ucapan adalah doa!" Alisa mengikat rambutnya di atas sehingga mengekspos lehernya yang jenjang.


Sesaat Netra Hadi memandangi leher bagian belakang Alisa. Kemudian mengedipkan kedua netra nya serta segera mengalihkan pandangan ke lain arah.


"Ayo, Om! aku duluan," Alisa menyoren tas branded nya berjalan keluar dari tempat tersebut.


Hadi hanya memandangi punggung Alisa tanpa bicara sepatah kata pun. Kemudian dia meraih tasnya dan berjalan begitu wibawanya.


Alisa menaiki taksi yang tujuannya adalah ingin bertemu dengan sang ibunda yang lama tidak ia temui.


"Ya Allah ... aku lama tidak bertemu dengan ibu. Setelah aku di tempat Tante Diana. Baru kali ini aku pulang, dan ibu pun tidak pernah mengunjungi ku lagi dari semenjak itu." Alisa bermonolog di dalam hatinya tentang dan ibu yang lama tidak ia jumpai.


"Pak, tolong berhenti di depan swalayan ya?" pinta Alisa pada supir taksi.


"Baik, Mbak." Supir taksi mengangguk.


Suasana sore yang indah, dengan matahari yang teduh dan tidak lama lagi akan menenggelamkan keberadaannya untuk menyinari wilayah lain.


Alisa berbelanja semua keperluan dapur untuk dia bawa ke rumah sang ibu.


"Aku rasa sudah cukup kah, toh buat ibu dan suaminya ini. Lilis Sinta kan di asrama sudah di cukup makannya." Begitulah kata hati Alisa di saat berada di swalayan.


Alisa kembali ke taksinya yang beberapa saat menunggu. "Maaf, Mas? lama menunggu!"


"Tidak apa, Mbak." Balasnya sambil mengangguk hormat.


Lantas Alisa meminta supir tersebut mengantar dia ke jln xx dimana rumah sang ibu berada.

__ADS_1


"Pasti ibu sudah berada di rumah saat ini. Biasanya jam segini sudah berada di rumah." Alisa melirik ke arah jam tangannya.


Selang beberapa saat. Taksi pun berhenti tidak jauh dari kediaman Alisa. Alisa membayar uang transpor nya.


Lalu Alisa berdiri menatapi rumah dimana ia di besarkan dan menyimpan sejuta kenangan. Rumah tersebut tampak sepi bagai tak berpenghuni.


Alisa berjalan sambil menentang keresek belanjaan. Berjalan pelan mendekati dengan bermacam perasaan yang berkecamuk dan mengingatkannya pada waktu-waktu itu dimana dia hampir menjadi korban kebejatan ayah sambungnya.


"Assalamu'alaikum ... Ibu? Bu ... ibu?" panggil Lusa memanggil sang ibu.


Namun suasana tetap sepi. Hening tak ada suara bagai rumah tidak berpenghuni itu, benar.


"Kemana sih?" Alisa mendorong handle dan membuka pintu utama yang kebetulan gak di kunci.


"Ibu?" panggil Alisa kembali dengan suara lirih.


Ke dapur kosong. Ke kamar yang dulu menjadi kamarnya pun kosong, kamar mandi kosong. belanjaan Alisa letakkan di di dapur lantas dia kembali ke ruang tengah.


Terdengar suara-suara aneh yang datangnya dari kamar sang bunda.


Perlahan langkah Alisa mendekati pintu dan menajamkan pendengarannya ke dalam kamar tersebut. Karena dia ragu kalau itu suara ibunya.


"Virgin mulut mu virgin? nih ku sumpek dengan belalai ku ha ha ha ..." Timpal si laki-laki.


Degh.


Alisa terlihat shock. suara laki-laki itu jelas-jelas suara pak Anwar. Namun perempuannya entah siapa.


"Astagfirullah ..." Alisa memegangi dadanya serta mundur ke belakang beberapa langkah.


"Ya Allah ... Ibu kemana? itu bukan suara ibu!" batin Alisa sambil terus menjauhi tempat tersebut.


Ketika Alisa mau keluar, pak Anwar pun keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada beserta wanita muda yang berpakaian seksi.


Pak Anwar shock melihat Alisa berada di sana, pandangan Alisa pun beralih pada wanita itu yang langsung disuruh keluar lewat belakang.


"Ibu mana?" Alisa tho the point menanyakan sang bunda.


"Masih berani kau pulang ke sini ya? apa kau menjemput kehancuran mu?" Anwar mendekat serta kata-kata yang membuat bulu kuduk Alisa merinding.

__ADS_1


"Ibu, mana? dan kenapa anda berani-beraninya membawa perempuan ke kamar ibu! tega ya dan gak tau diri," ungkap Alisa dengan beraninya mengeluarkan kata yang mengandung cacian.


"Ooh, beraninya ya kamu berkata demikian! mentang-mentang sekarang kau sudah menjadi orang kaya." Kedua netra Anwar menatap tajam serta sulit di artikan.


"Jawab! ibu kemana?" tanya Alisa kekeh bertanya tentang ibunya.


"Ha ha ha ... ibu mu sudah ku kirim ke alam sana. Ha ha ha ....


"Apa maksud anda? ibu dimana sekarang?" hati Alisa semakin di buat cemas dan sangat khawatir terhadap ibunya.


Anwar mendekat dan mencolek dagu Alisa yang langsung di tepisnya. "Tidak perlu capek-capek saya mencari mu. Karena kamu mendatangi saya dengan ikhlas. Mari kita bersenang-senang cinta?"


Alisa menjauh dan membuka pintu keluar, namun dengan gesitnya Anwar menangkap pinggang Alisa dan di tariknya ke sofa yang ada di sana.


"Pak Anwar jangan macam-macam ya? kalau pak Anwar tidak mau aku laporkan atas percobaan perkosaan!" pekik Alisa sambil berusaha melepaskan rangkulan tangan pak Anwar yang kuat.


"Ha ha ha ... kalau kamu mau! kenapa gak dari dulu ha? itu karena kamu takut ibumu menjadi janda kan? kamu takut ibumu menjadi janda yang kedua kalinya, kan?" Anwar begitu percaya diri.


Alisa tidak mampu menjawab, karena memang yang di antaranya memang seperti dan di tidak mau sih rumah tangga ibunya diketahui orang lain.


"Lepaskan? heh ..." Alisa menggigit bahunya pak Anwar sehingga dia bisa melepaskan diri dari pria tersebut.


"Auw ..." desis pria bertubuh gempal itu sembari menyentuh yang Alisa gigit. "Kurang ajar kamu ya!"


Anwar kembali mengejar Alisa yang sudah di ambang pintu keluar dan hendak kabur.


Lagi-lagi tangan Alisa ditangkapaaaa lengan kekar Anwar serta menarik kembali ke dalam, tangan yang satunya membungkam mulut Alisa yang halus saja menjerit.


Dan sekarang tubuh Alisa di seret ke kamar milik ibunya, Blak tubuh Alisa terjerembab ketempat tidur yang baunya tidak karuan.


Mata gadis itu melotot dengan sangat sempurna ke arah pria itu yang menunjukan wajah buasnya, bak harimau siap menerkam.


"Emm ...."


Sementara mulut Alisa di bungkam, berteriak pun tidak mampu keluar suaranya. Kedua tangan Alisa di kunci di atas kepala! rasa takut. Cemas, marah bercampur menjadi satu. Ingin menjerit sekencang-kencangnya biar dunia tau dan ada yang menolong dirinya pada waktu yang tepat ....


.


Bisa kah Alisa menyelamatkan diri dari bandot tua macam Anwar? pria yang tidak tahu diri tersebutšŸ¤”

__ADS_1


__ADS_2