
Geph!
Tangan bagian atas Alisa di pegang Hadi dan berdiri di dekatnya. Membuat Alisa berhenti melangkah. Menatap tangan Hadi yang memegang tangannya itu.
Hadi melepaskan tangan Alisa. "Kenapa?" tanya Hadi sambil menatap ke dalam.
"Kenapa, apanya?" Alisa balik bertanya.
"Eh, kenapa wajahmu sedih begitu?" Hadi mendekat dan berdiri di hadapan Alisa yang mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel di dinding.
"Nggak, biasa aja kok!" elak Alisa sambil menghela napas dalam-dalam. Lalu ia hembuskan dengan sangat panjang.
"Apa kamu menyesal mau menikah dengan saya?" Hadi kembali bertanya. "Kalau kamu berubah pikiran. Bicara saja? aku tidak memaksa kok!"
Mendengar itu, Alisa langsung menggelengkan kepala. Sambil menunduk dia berkata. "Bukan, aku tidak berubah pikiran ataupun menyesal."
Yang di rasakan Alisa memang tidak ada kaitannya dengan pernikahannya dengan Hadi. Tapi tentang perasaannya kepada Rahman. Dia merasa shock, sedih, tidak menyangka kalau Rahman ternyata mencintai Liana.
"Terus kenapa, kalau bukan karena itu?" tatapan Hadi semakin menyelisik.
"Tidak apa-apa, ya sudah aku mau menyimpan ini dulu!" Alisa hendak diganti.
Tangan Hadi bergerak mengangkat wajah Alisa yang menunduk. “Benar bukan karena menyesal mau menikah dengan ku?”
Kontak mata kedua insan itu bertemu sewaktu-waktu. Deg-deg-deg, jantung keduanya berdegup lebih kencang dari normalnya. Alisa dengan cepat mengalihkan pandangannya dan menyingkirkan tangan Hadi dari bawah dagunya.
"Saya tidak apa-apa, kenapa sih gak percaya amat?" Alisa menunjukan senyum getirnya.
"Apa omongan mu bisa dipercaya?" Hadi mengerutkan keningnya.
"Em ... kalau tidak percaya! tanya saja--"
"Sama siapa?" timpal Hadi yang memotong kalimat dari Alisa.
__ADS_1
"Tanya ... sama mata ku! apa dia berbohong pada mu?" Alisa menjawab demikian sembari melangkahkan kakinya mendekati pintu.
Namun lagi-lagi langkah Hadi menghadang. Dan kini membingkai wajah Alisa serta di tatapannya lekat-lekat kedua manik mata Alisa.
Bikin Alisa kaget dan serba salah. "Apa sih?"
"Lho, katanya saya harus bertanya pada mata mu, dan saya akan bertanya kepada matamu ini." Hadi dengan posisi yang sama.
"Om ... aku harus pergi!" suara Alisa dengan pelan juga tak berani menatap pria itu.
"Ada masalah apa hem?"pada akhirnya Hadi bertanya demikian sambil menjauhkan kedua tangannya dari wajah Alisa.
"Masalah apa? nggak ada masalah apa pun! kok ada tikus sih?" Alisa menunjuk ke arah bawah meja.
Hadi menoleh dan mendekati kolong meja dengan cepat. "Mana?" celingukan.
Tak terdengar suara Alisa sepatah kata pun, membuat Hadi menoleh dan orangnya sudah tak ada di sana. Bibir Hadi tertarik ke samping sambil menggeleng.
Alisa, buru-baru keluar ketika Hadi berjongkok di depan kolong meja kerja. "Akhirnya ... bisa keluar juga." Gumamnya sambil berjalan menuju dapur.
“Kamu tega, Man kau yang menuduhku yang macam-macam. Kau juga berbuat aneh sama Liana dan rupanya kau menyukainya juga, kamu yang tega!” gumamnya Alisa sambil telungkup memeluk guling. Air mata berjatuhan membasahi bantal yang berwarna bersih tersebut.
Alisa sesaat menangis dengan semua rasa yang menyiksa hati. Namun kemudian Alisa bangkit mengusap wajahnya yang banjir dengan udara mata. “Aku tidak boleh terpuruk dalam kesedihan terus menerus.”
Kemudian dia mengambil air wudhu lalu bersimpuh du atas sajadah dan menyerahkan semuanya pada yang maha kuasa.
...----...
Di kantor. Hadi sedang menyiapkan surat kontrak buat Alisa dan sendiri, surat perjanjian setelah menikah nanti.
Pengacara pun menyerahkan surat itu kepada Hadi yang sedang melamun dan memandangi pengacara tersebut.
“Ini, suratnya? sudah jadi. Sekiranya apa yang harus diperbarui, tapi menurut saya sih ... buat apa mencantumkan hal-hal nomor begitulah. Rugi lah kalau kita sebagai laki-laki tidak menikmati apa yang sudah hak milik kita, selama bertahun-tahun kau tidak pernah dibelai oleh istri pertama mu itu, kamu bisa membuat perjanjian tidak akan menyentuhnya! percuma, rugi-rugi.”Pengacara yang memang temannya itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sementara Hadi menatap tanpa ekspresi dan tidak merespon apapun.
“Bodoh sekali, sementara di luar sana nih ya, pria yang tidak puas dari istrinya saja berani jajan atau selingkuh. Apalagi kau yang justru istri mu mencarikan mu istri itu untuk melayani kamu lahir maupun batin, tetapi Anda akan sia-siakan begitu saja, bodoh sekali. Gadis cantik itu kau persiakan,” lagi-lagi orang itu ngoceh dengan pemikiran nya sendiri.
“Sudah, sudah bicara nya? saya melakukan ini, karena saya sadar diri, kalau dia terlalu muda buat saya, oke saya tidak masalah dia yang seusia dengan putri saya oke. Tapi gimana dengan dia? apa batinnya menerima kalau dia bersuami yang sudah tua seperti saya dan lebih pantas menjadi bapaknya. Dia punya kehidupan sendiri dan punya cinta sendiri, saya tidak bisa merenggut begitu saja segala yang dia punya. Saya cukup tahu diri,” jelas Hadi sambil duduk dengan tegak menatap tajam pada kawannya itu.
Kawannya itu menaikan alisnya di arahkan pada Hadi yang dia pikir gak mungkin juga Hadi tahan, yang hidup serumah, bertemu tiap hari bahkan bekerja di ruangan yang sama kamar pun pasti sama.
“Tapi saya tidak yakin bila kau mampu menahan syahwat mu itu, secara setiap hari bertemu dan satu kamar yang sama. Gak mungkin juga kalau tidur terpisah? apa kata istri pertamamu? buat apa dia susah-susah menikahkan kamu bila tidak melakukan apapun, percuma juga bila nafsu syahwat mu tidak tersalurkan juga. Percuma dong, orang tujuan istri mu memang untuk itu kok. Biar kau tidak kesepian,” ujar kawannya kembali.
Hadi menghela napas panjang. “Saya akan meniduri dia. Kalau dia sudah ada cinta kepada saya, bukan memberikan tubuhnya tanpa cinta. Saya ingin dia ikhlas memberikannya kepada saya bukan keterpaksaan.”
“Hem … intinya ingin menunggu dia mencintai kamu dulu, gitu? ha … lama, keburu karatan tuh barang kamu ha ha ha …” kawannya tergelak tawa lepas.
“Ha ha ha ... kau pikir barang ku terbuat dari tembaga atau besi, karatan. Sembarangan saja.” Hadi ikut tertawa lepas.
“Itu, loyo dan tenaganya kurang. Kurang tenaga kan keburu tua, ha ha ha ... makanya jangan di tunda-tunda lah ... hajar saja di malam pertama, nanti keburu di ambil orang baru tau rasa.” Lanjut pengacara tersebut.
“Saya sangat mencintai istri ku, tidak tega rasanya bila saya bersenang-senang selain dengannya—“
“Tapi dia sudah tidak bisa melayani mu kan? makanya dia carikan penggantinya untuk mu. Ngomong-ngomong, apa kau masih ada nafsu sama istri mu itu?” selidik kawannya dengan nada pelan.
Hadi menggeleng. “Tidak, bila ada pun kasihan lah dengan kondisinya. Jadinya ... saya tidak ada nafsu lagi.”
“Yakin deh. Bila sudah ada yang baru nan segar, nafsu mu akan mencuat kembali. Percaya deh, bahakan kau tidak bakalan kuat menahannya. Percaya deh,” tambah kawannya lagi.
“Ha, sok tau kau ini. Gak lah. Bertahun pun saya bisa, kenapa nggak?” Hadi menggeleng.
“Yang ini lain. Beda auranya lebih menggairahkan.” Tambahnya lagi.
Hadi hanya menatap tanpa ekspresi ke arah kawannya sambil sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Lalu menyesap minumnya dengan nikmat.
Kemudian kawannya tersebut berpamitan dari ruangan Hadi. Dan sebelumnya mewanti-wanti agar membatalkan surat kontrak tersebut, dengan Alisa ....
__ADS_1
.
Makasih.