
Alisa bangun dengan malas dan sebelumnya dia mengusap wajah yang terasa basah itu. Serta menyampingkan rambut yang terurai ke samping depan.
Lagi-lagi terdengar suara pintu di ketuk dari luar. "Hem ... siapa sih? lagian kok Om Hadi malam ini nggak ada telepon ya, tumben sekali. Biasanya dia suka bawel." Gumamnya Alisa dalam hati.
Lalu kemudian, dengan malas dan langkah yang gontai Alisa berjalan mendekati pintu. Dengan ragu-ragu dia memegang handle pintu dan di tatapnya. Dan tidak serta-merta dia menariknya atau membukanya, dia berinisiatif untuk mengintipnya dari selah pintu tapi tidak kelihatan siapapun orangnya.
"Ya Allah ... siapa ya? mudah-mudahan bukan orang jahat!" dan pada akhirnya tangan Alisa menarik handle pintu tersebut.
Sehingga terbuka sedikit dan membuat Alisa sangat terkaget-kaget, karena melihat Siapa yang datang? seorang pria yang berdiri memunggungi daun pintu dan langsung memutar badannya, dia ... ternyata sosok Hadi yang secara tiba-tiba berada di hotel tersebut.
Setengah tidak percaya, Alisa bergumam. "Om Hadi?" dan dia mundur beberapa langkah ke belakang dengan mata yang terus mengarah pada sosok Hadi yang melangkah maju masuk ke dalam kamar tersebut dan langsung menutup pintu dengan rapat lalu mengunci nya.
Hadi berdiri tegak depan Alisa menatap yang sangat lekat istri kecilnya tersebut.
"Benarkah ini, Om Hadi? ke-kenapa pu-pulang? dan ka-kapan?" nada bicara Alisa menjadi gelagapan.
"Benar, ini aku! Aku sengaja pulang dulu! ada yang ingin aku urus di sini," suaranya Hadi pelan.
Tatapan Alisa yang berkaca-kaca setengah tidak percaya lalu dia menyeruak ke dalam pelukan dan memeluk tubuh pria itu, menyembunyikan wajahnya di dada bidang tersebut yang sekian lama hanya bertemu melalui pesawat telepon saja. Alias LDR.
Hadi yang mulanya merentangkan tangan, seakan memanggil untuk di peluk istri kecilnya tersebut lantas memeluk dengan sangat era
Rasanya tidak percaya bila Hadi meluangkan waktu untuk pulang walau sekejap. Pikir Alisa.
Tiada kata yang terucap dari mereka berdua, selain nafas yang terdengar yang teratur dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan satu sama lainnya. Pelukan yang sangat erat dan sesekali tangan Hadi mengusap lembut punggung dan rambut sang istri.
Kepala Hadi pun menunduk mencium pucuk kepala alisa dengan durasi yang lama. Hadi sengaja pulang untuk menemui Alisa yang katanya terluka akibat sasaran seseorang yang iri pada dirinya. Dan kebetulan kondisi Diana sedang memungkin dia tinggalkan.
Alisa yang menenggelamkan wajahnya di dada Hadi, tak terasa meneteskan air mata. Setelah sekian lama baru merasakan lagi nyamannya berada dalam pelukan seorang pria yang kadang bikin dia kesal dengan dengan manjanya.
__ADS_1
Beberapa saat, Hadi membiarkan Alisa menikmati pelukannya yang hangat, Hingga akhirnya Alisa memudarkan tautan tangan dari punggung Hadi. Bergerak mundur dua langkah agar dapat menatap wajah itu.
“Em, Tante di mana?” tanya Alisa sambil mengusap sudut matanya.
“Tante ... masih di Luar Negeri.” Jawabnya Hadi sambil terus menatapi wajah Alisa yang tampak habis menangis karena matanya terlihat lebih sembab dan punggung jarinya pun mengusap sudut mata Alisa.
“Ha? jadi Om pulang sendiri atau—“
“Iya, aku pulang sendiri. Kau tidak apa-apa kan? mana yang lukanya?” tanya Hadi sambil menuntun tangan istri kecilnya duduk di sofa dan dia sendiri berlutut di hadapan Alisa.
Tangan Hadi mengangkat tangan Alisa yang terluka dan dia ciumi berkali-kali. “Maafkan aku sayang. Gara-gara aku kamu begini. Dan berhadapan dengan bahaya, semua gara-gara aku. Tapi aku gak tahu harus percayakan siapa lagi selain kalian dan termasuk kamu.”
Alisa hanya terdiam dan bengong melihat reaksi Hadi serta mendengar perkataannya. Beberapa kali dia menelan saliva nya sambil memandangi ke arah Hadi yang menggenggam tangannya dan menciumi di titik yang terluka.
“Terkadang, aku merasa capek. Aku tidak sanggup menjalani ini semua, aku gak ngerti bisnis dan juga aku bingung harus gimana?” suara Alisa lirih.
“Jangan bilang begitu, Alisa mampu kok dan kinerja kamu juga bagus, ini Cuma sementara saja bukan untuk selamanya, dan bila semua sudah selesai! Kamu bisa mengakhirinya,” ucap Hadi yang langsung menggigit bibirnya yang bawah.
Kemudian, Alisa menunjukan berkas yang harus di tandatangani secara langsung oleh Hadi dan fail-fail lainnya yang ada di laptop.
Hadi membuka jas nya dia simpan di bahu sofa, lalu mengecek semuanya. Termasuk dengan yang ada dia dalam laptopnya Alisa.
Alisa terus memandangi pria yang usianya jauh dari dirinya itu namun terlihat masih sangat tampan, siapa sangka kalau putri sulung nya itu seusia dengan dirinya. Alisa yang duduk di sebelahnya Hadi begitu anteng memandangi pria itu kalau kata pembohong sih sampai tidak berkedip.
Kepala Alisa beralih melihat ke lain arah, bila Hadi melirik ke arah dirinya. Dan pura-pura melihat kemana.
“Kenapa, kangen ya?” tanya Hadi sambil mesem.
“Ha? nggak, siapa juga yang kangen? Iih ... ge’er pake banget. No, no.” Alisa menggeleng.
__ADS_1
“Benarkah tidak kangen? sedikitpun? aku jadi curiga, apa mungkin ada yang lain?” Hadi menatap tanpa ekspresi.
Alisa menaikan kedua bahunya sambil menunduk melihat ke rah lantai.
Dan ketika wajahnya mengarah pada Hadi, betapa kagetnya Alisa. Karena wajah Hadi hanya berjarak satu jengkal saja dari wajah Alisa. Keduanya saling bertukar pandangan sejenak sebelum Alisa mengalih kan pandangan itu, dia tak kuasa harus membalas tatapan Hadi lebih lama.
Cuph! kecupan singkat Hadi mendarat di pipi Alisa yang bikin dia mematung dan akhirnya menunduk malu. Hadi tersenyum lantas kembali melanjutkan pemeriksaan nya soal kerjaan Alisa, dan setelah itu barulah akan memeriksakan yang lainnya. Sesuatu yang teramat pribadi.
Hadi membuka beberapa kancing kemeja dan mengekspos dadanya yang bidang dan sedikit berbulu halus itu. Alisa pun tidak dapat memungkiri memandangi pemandangan tersebut.
“Aduh, jantung ku jadi berdebar begini. Huuh ... tenang dong ... jangan terlihat gugup di mata om Hadi dan santai lah, ceme on Alisa! tenang kontrol dirimu. Jangan ingin di istimewakan hanya karena dia menyempatkan diri untuk pulang.” Batinnya Alisa sambil menunjukan pandanganya dari Hadi.
“Eeh ... jangan salah. Siapa juga yang mau di istimewakan? No ... dia pulang karena kerjaan dan urusan lain mungkin.” Gumamnya Alisa kembali.
“Woy, wajar dong ... berharap! kan kamu istrinya juga, siapa tahu dia itu pulang bukan Cuma urusan kerjaan saja! tapi memang untuk istrinya juga, wajar dong bila dia kangen sama istri yang ini? lagian apa salahnya sih bila kamu ingin di manja juga sama suami. Bagaimanapun kau itu sudah kecanduan juga dengan sentuhan dan perlakuannya, iya kan ... ngaku saja lah?” dalam hati Alisa terus beradu argumen.
“Tapi, jangan mau kamu Alisa. Jangan mau dijadikan pelampiasan doang, hanya penawar untuk melepaskan syahwat nya saja.”
“Emangnya kenapa? kamu itu istrinya yang sama-sama mempunyai hak untuk diperhatikan dan di sayang, termasuk untuk di sentuh. Lagian kamu juga kan mau! Eh ingat di manja sama suami itu enak lho ... di sentuh suami itu selain mengasyikan juga mendapat pahala.” Terus saja dalam hati Alisa beradu argumen sehingga Alisa dibuat bingung sendiri.
“Kau harus jujur. Kalau kau itu sebenarnya merindukan dia kan? mau dia ada di sini memelukmu dan memanjakan mu kan? sekarang orangnya ada, dan apa salahnya bila kau tunjukan rasa itu pada Hadi.”
“Nggak ah, aku malu. Dimana harga diri ku? bila harus begitu! apa lagi bila dia mengabaikan ku, harus ku simpan di mana muka ku ini?”
“Simpan saja di pantat, kalau kau bingung menyimpan muka mu dimana. Lagian yakin deh ... kalau dia itu sangat menginginkan dirimu, makanya menyempatkan pulang!”
Lagi-lagi Alisa menggeleng. “Nggak ahc. Aku gak enak pada tante yang pasti lebih membutuh kan kehadiran Om Hadi disisinya.
Bibir Hadi ditarik ke samping melihat Alisa tampak melamun dan sesekali senyum-senyum sendiri dan juga menggeleng. Hadi menutup laptop Alisa dan merapikan berkasnya kemudian mendekati istrinya yang begitu anteng melamun ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Hi-hi ... Alisa dan Hadi balik lagi nih. Ayo acungkan jempol nya yang suka dengan bab ini. Makasih ya!