Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Merindukan mu


__ADS_3

Alisa sedang menyiapkan sarapan, dan membuatkan nasi goreng keju permintaan Dirga yang merengek ingin dibikinkan itu dari kemarin sore.


Hadi yang sudah tampak rapi menghampiri Alisa yang tengah asik memasak dan di sana ada beberapa asisten sedang mengerjakan yang lain.


Pria itu mengagetkan Alisa dengan pelukan dari belakang.


Alisa terkesiap dan menoleh ke belakang. "Bikin kaget sih? lepas ich malu." Pintanya celingukan ke arah luar asisten yang berada di sana.


Tubuhnya Hadi sedikit membungkuk sehingga menempelkan dagunya ke kepala Alisa. "Emangnya kenapa? biar saja mereka tahu, kita kan suami istri."


Alisa memutar badan, sehingga berhadapan dengan pria tersebut. "Aku yang malu, nanti dikira gak tahu tempat!" bisiknya sambil menyembunyikan wajahnya.


Bibir Hadi tertarik ke samping. Kedua netra nya melihat ke arah dua asisten yang pura-pura tidak melihat mereka berdua. "Mereka tidak melihat kita kok sayang!


"Sudah, lepaskan. Aku mau masak." Pinta Alisa sambil mendorong dada Hadi.


"No-no. Tidak mau." Tangan Hadi mematikan kompor.


Krek!


Kemudian tangan Hadi membingkai wajahnya Alisa lalu ... Cuph! mengecup pipi Alisa kanan dan kiri. Lanjut ******* benda tipis milik Alisa sehingga sang empu terpejam merasakan nyess dan menghangat.


Detik kemudian, Alisa tersadar kalau ini di tempat umum. Jemari Hadi mengusap bibir Alisa yang lembab.


"Lanjutkan lagi masak nya sayang." Kalau sudah mendapatkan sesuatu yang dia mau, barulah Hadi melepaskan wanitanya.


"Aish ... ganggu saja." Alisa meneruskan kembali memasaknya dengan menyalakan kompor terlebih dahulu. Dan Alisa tidak berani melihat sekitar karena merasa malu.


Beberapa saat kemudian, masakan Alisa siap untuk di hidangkan. Mbak menyiapkan piringnya yang di berikan pada Alisa.


"Makasih Mbak!" Alisa mengambil piring tersebut.


Alisa menoleh pada sang suami yang sudah duduk di dekat meja makan. "Mau nasi goreng nya gak?"


"Mau dong sayang ..."Hadi mengangguk setuju.


Saat ini semua sudah berkumpul di meja makan yang bundar itu untuk sarapan. Sang ibu mertua, Liana dan Dirga pun sudah mulai menikmati sarapannya masing-masing.


"Mommy ... hari ini ada acara di sekolah dan Mommy datang ya? Semua teman aku akan datang mommy nya. Masa aku tidak." Suara Dirga dengan nada memelas.


Hadi dan Alisa saling pandang. Sejenak Hadi mengalihkan pandangan ke arah Dirga. "Kok baru bilang sekarang?"


"Aku baru ingat, Pah?" jawabnya sambil mengunyah.


"Em, ya udah nanti agak siangan Mommy ke sana ya?" Alisa sambil mengambil minumnya.

__ADS_1


"Beneran Mommy?" anak itu tampak girang.


Alisa mengangguk pelan sambil meneguk minumnya itu.


"Gimana kalau Oma saja yang datang, atau papa ya? mommy harus banyak istirahat." Lirihnya ibu dari Hadi.


"Nggak mau, Oma boleh. Tapi mommy juga." Anak itu menggeleng.


"Aku harus ke Semarang. Ada acara mendadak, Bu ..." ucap Hadi.


Alisa sontak melirik ke arah Hadi. "Kok gak bilang?"


"Maaf sayang. Barusan Zidan bilang begitu, mendadak." Hadi dengan lembut.


Liana yang sadari tadi terdiam. Hanya melihat orang-orang yang ada di sana bergantian. Hatinya merasa was-was khawatir dia hamil nantinya akibat perbuatannya itu dengan Rahman.


Alisa terdiam, dalam hati kalau pergi ke Semarang berarti bermalam di sana. Kemudian melirik ke arah Dirga. "Nanti Mommy sama Oma pasti ke sana kok, yang semangat ya! acara puisi kan? Mommy pasti akan datang sebelum Dirga tampil."


"Yey ... hore, mommy dan Oma akan datang." Anak itu kegirangan.


Kedua netra Alisa menoleh pada Liana. "Apakah Kakak akan ikut juga?"


Liana mengangkat wajahnya. "Ha? nggak. Aka ada kuliah pagi."


Kemudian Alisa beranjak dari duduknya setelah selesai sarapan. Dia harus menyiapkan pakaian Hadi, karena di Semarang pasti menginap.


Hadi menatap ke arah Alisa yang berjalan cepat menaiki anak tangga.


"Lisa ... jangan lari Nak ... kau masih belum pulih!" tutur sang ibu mertua ketika melihat Alisa setengah berlari.


Kemudian Hadi dengan cepat menyusul sang istri dan menghadangnya. Lantas di gendong untuk meneruskan langkah yang menuju ke kamar mereka.


Alisa kaget namun dengan refleks merangkul pundaknya Hadi dan melihat ke bawah. Karena ngeri juga kalau terjatuh.


"Kenapa! takut jatuh ya sayang?" goda Hadi sambil pura-pura ingin menjatuhkan wanitanya itu.


"Ach ... jangan, aku takut!" tangan Alisa semakin kuat merangkul pundak Hadi. "Mau aku jantungan? jahat banget!"


"Nggak dong sayang ... mana tega aku berniat seperti itu." Hadi membawa Alisa ke kamar.


Setibanya di sana. Alisa mengemas pakaian Hadi, karena di Semarang itu akan beberapa hari di sana.


Kini Hadi memeluk Alisa dari belakang. Lalu memutarnya. "Jaga baik-baik dirimu ya? istirahat yang cukup. Biar segera pulih dan jangan lupa minum obatnya. Aku akan merindukan mu."


Alisa tidak menjawab, selain menenggelamkan kepalanya di dada Hadi serta mengerat kan pelukannya di pinggang pria itu.

__ADS_1


Lantas Hadi pun berpamitan untuk berangkat kerja, sebelumnya mencium kening dan pipi Alisa dengan mesra.


Alisa menatap punggung suaminya yang melangkah pergi, rasanya berat juga mau di tinggalkan. Rasanya ingin sekali bilang, mau ikut.


Kemudian Alisa pun meminum obat terlebih dahulu sebelum bersiap untuk ke sekolahan Dirga.


Sekitar pukul delapan, Alisa sudah siap dengan dress panjang simpelnya. Melintasi pintu lift dan celingukan mencari keberadaan sang ibu mertua.


"Lisa ... sudah siap?" sapa sang ibu mertua yang sudah siap juga.


"Iya, Ibu. Takutnya kesiangan atau acara sudah dimulai, kasihan kan Dirga nya," jawabnya Alisa sambil mengecek isi tas tangan.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang?" tutur Ibu mertua.


Kemudian mereka berjalan bergandengan. Alisa tampak cantik dengan tatanan rambut di sanggul kecil dan dress panjang berwarna coklat.


Melintasi pintu utama dan sudah di tunggu sama pak Mur yang akan mengantar mereka ke sekolah Dirga.


Tidak lama di perjalanan. Dan setibanya di sekolahan, Alisa dan ibu mertua langsung masuk kelas. Dirga teramat senang dengan kedatangan mommy nya.


Dan acaranya juga baru di mulai. Dan Dirga sangat bahagia karena kali ini dia akan tampil membacakan puisi disaksikan oleh mommy nya.


"Mommy, Oma doakan Dirga menang ya?" anak itu melihat ke arah mommy dan Oma nya.


"Masya Allah ... tentu sayang, Oma doa kan." Omanya mencium pucuk kepala Dirga.


Begitupun dengan Alisa sekarang Dirga dipeluknya dengan sangat. "Mommy juga akan doakan Dirga supaya menang, yang semangat ya ... tapi biarpun tidak menang tidak apa-apa! karena kalah dan menang itu sudah biasa dalam sebuah kompetisi dan Dirga nggak boleh sedih jika tidak menang oke?"


Dirga mengangguk pelan. Lalu terdengar Dirga di panggil untuk ke depan dan tampil lebih dulu.


"Ayo semangat sayang!" Alisa dan Oma nya memberi dukungan.


Dirga naik. Ke depan dengan membawa secarik kertas lalu membacakan sebuah puisi dengan suara lantang dan santai.


Untuk mommy ku yang tersayang Karya Putra Dirga.


Mommy, kau hadir di saat gelap ku di saat aku sedih karena kehilangan mama. Kau menjadi penyeka air mataku dikala menangis karena kehilangan mama. Kau bagaikan cahaya diantara redupnya sinar yang ada. Kau buat aku tersenyum di saat aku bersedih dan merasa kehilangan, dan kau juga menjadi kehidupan baru buat aku dan papa, terima kasih Mommy ... setidaknya kau akan menjadi teman dalam hidupku di saat ini dan masa yang akan datang. tetaplah bersama kami dan menyayangi kami dengan tulus, lukis lah keceriaan dan senyum di bibir kami tanpa membuat sesuatu yang akan membuat kamu bersedih.


Prok .... prok .... prok ....


Semua bertepuk tangan, setelah Dirga selesai membacakan puisinya ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like comment dan subscribe nya ya? bagi yang belum. Semoga nanti dapat notifikasinya terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2