Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Hilangkan


__ADS_3

"Makan dulu yank? kok melamun?" Alisa menyentuh pipi Hadi agar menghadap ke arah dirinya.


"Sekarang Ibu merasa lega biarpun belum terjadi pernikahannya, namun setidaknya sebentar lagi Liana menikah." Suara sang bunda setelah mengantar tamu dari teras.


"Iya, Bu ... Lisa juga! setidak nya Liana sebentar lagi menikah." Timpal Alisa.


"Senang ya? setiap hari bisa bertemu dengan mantan." Hadi pun beranjak dari duduknya meninggalkan meja makan.


"Lho yank, makan dulu?" Alisa pun berdiri.


"Gak mood." Jawabnya sambil berjalan menaiki anak tangga.


"Iih ... ngambek apa? mana belum makan, lagi." Alisa buru-baru mengambil nasi dan lauk pauknya untuk makan berdua dengan Hadi.


Liana hanya bengong melihat papanya ngambek dan pergi. Sementara Oma nya tersenyum melihat putranya bersikap demikian.


Alisa buru-baru menyusul suaminya ke atas, dengan membawa nampan yang berisi buat makan mereka berdua.


"Dia di mana ya? di kamar atau di mana?" Alisa celingukan mencari suaminya.


Sebelum ke kamar pribadinya, Alisa melihat-lihat ke kamar Diana terlebih dahulu, karena siapa tau suaminya ada di sana.


Tetapi ternyata kamar tersebut kosong. Dan akhirnya Alisa langsung membawa langkahnya berjalan menuju kamar.


Ceklek.


"Kenapa sih? orang belum makan, main pergi saja!" kata Alisa sambil memasuki kamarnya, manik matanya mendapati Hadi sedang berada duduk di sofa.


"Aku gak mood makan." Jawab Hadi dengan nada dingin.


Alisa mendudukan dirinya di sebelah Hadi. "Ya terserah ... kalau gak mau. Gak maksa juga."


Hadi terdiam dan mengarahkan pandangan ke televisi. Alisa mulai menikmati makannya.


"Hem ... yummy ... beneran gak mau makan?" Alisa menatap ke arah Hadi.


"Nggak, gak lapar!" sahutnya Hadi sambil menyandarkan punggungnya ke pinggir sofa.


"Mau aku masakin, mie aja ya? biar lebih cepat!" tawarnya Alisa sembari tersenyum.

__ADS_1


"Gak usah, aku nggak lapar," Hadi tetap menggeleng.


Sejenak Alisa berdiam diri sembari memegangi makanan nya di piring. "Aku nggak ngerti deh kamu itu merajuk atau emang gak mau makan?"


"Kamu pikir seperti apa? merajuk apa nggak mau makan?" Hadi malah balik bertanya.


"Iih ... kau ini kayak bocah, bodo amat mau makan mau nggak!" Alisa merasa kesal lalu menyuapkan lagi makanan ke mulutnya.


Hati Alisa merasa gondok, jadi kesal sama suaminya. Gak ada angin, Gak ada hujan. Merajuk seperti anak kecil saja.


Namun lama-lama hati Alisa kasihan juga, melihat suaminya yang berwajah ditekuk melipat kedua tangan di dada. Kemudian Alisa mendekat dan menyuapinya.


"Ayo makan dulu, biar pun sedikit. Nanti kamu sakit!" lirihnya Alisa sambil menahan tangannya yang ingin menyuapi sang suami.


Setelah sepersekian detik kedua netra Hadi menatap sendok di tangan Alisa, akhirnya dia mau juga membuka mulutnya sambil mengembuskan nafas dari hidungnya.


Alisa tersenyum setelah beberapa suap Hadi mau makan. "Gitu dong ... sedari tadi kek makan."


Tangan Hadi bergerak mengarah ke pipi Alisa serta mengelusnya. "Sayang, nanti di acara akadnya Liana. Kita pun akan mengadakan akad ulang! agar pernikahan kita lebih resmi diakui negara juga."


Alisa terdiam dan menggerakkan menikmatinya menatap Hadi yang tampak serius dan terus menyuapinya sampai makannya pun habis.


Alisa pun mengangguk setuju dengan rencana Hadi, karena memang dia pun tidak pernah bermimpi untuk resepsi besar-besaran. Lagian waktu itu juga ... sudah syukuran, namun belum di akui sama negara saja pernikahannya.


"Kamu harus tahu! kalau surat kontrak menikah kita, sudah aku hilangkan. Dengan cara aku bakar dan gak ada duplikatnya, kita akan menjadi suami istri yang sesungguhnya." Hadi mengungkapkan soal surat itu.


Alisa menyimpan piring bekas makannya di meja lalu merubah posisi duduknya lebih menghadap dengan Hadi. "Apa kau menyayangiku?"


Hadi menggenggam tangan Alisa lalu mencium punggungnya. "Kenapa bertanya seperti itu? tidak cukupkah semua yang seolah mengatakan kalau aku sangat sayang sama kamu, kamu adalah istriku dan aku menyayangimu lebih dari yang kamu tahu!"


Alisa tidak lagi berkata-kata selain diam dan mencerna omongan Hadi yang mengatakan demikian.


"Diana memang tepat telah memilih kamu untuk menjadi istriku! dia benar-benar menyiapkan seseorang untuk mendampingiku. Setelah dia tiada! dan sekarang aku merasakan itu!" ungkap Hadi sambil menciumi punggung tangan Alisa berkali-kali.


Alisa menyandarkan kepalanya di dada Hadi. "Aku tahu, kamu sangat mencintai Tante Diana, seorang wanita yang sangat sempurna."


Cuph.


Kecupan mesra mendarat di pucuk kepala nya Alisa. "Kamu juga cukup sempurna di mataku!" Dengan aura lirih.

__ADS_1


"Bagaimanapun, aku nggak akan bisa seperti tante. Jadi istri yang sempurna, menjadi ibu yang lembut. Sabar dan menyayangi anak-anak," sambung Alisa di dalam dada Hadi.


"Kamu tidak perlu menyamai sosok Diana, jadilah dirimu sendiri yang tetap menyayangi aku dan anak-anak. I love you sayang?" bisik Hadi sambil mengecup kening Alisa yang langsung memejamkan kedua matanya.


Alisa mendongak. Menatap lekat ke wajah nya Hadi, dengan tetapan sendu. Dan berkaca-kaca.


"Kenapa, kok menangis?" tanya Hadi sambil menjepit dagunya Alisa serta tatapan yang dalam.


Alisa menggelengkan kepalanya lalu memeluk lagi dengan sangat erat menenggelamkan kembali wajahnya di dada bidang milik suaminya tersebut.


Hening ....


Tidak satupun yang mengucapkan kata-kata selain kontak fisik yang terjadi, pelukan yang sangat erat ungkapan perasaan yang tidak diungkapkan dengan perkataan.


Hingga tidak terasa Mereka pun tertidur di atas sofa tersebut, Hadi yang duduk bersandar sambil memeluk sang istri yang tidur di dadanya.


Dikala sudah tengah malam, Hadi pun terbangun dan menyadari kalau mereka tertidur di atas sofa. kemudian tangan Hadi meraih remote untuk mematikan televisi lanjut menyimpan kembali, tangan satunya memegangi tubuh Alisa agar tidak terjatuh.


Lantas setelah posisinya tepat, Hadi memangku tubuh sang istri untuk dipindahkannya ke atas tempat tidur.


Hadi naik melangkah dengan lututnya di atas tempat tidur dan membaringkan sang istri dengan perlahan. Menarik selimut menutupi tubuh keduanya, yang sebelumnya Hadi tidak lupa melepas kaos terlebih dahulu.


Hadi memiringkan tubuhnya menghadap tubuh sang istri. menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pipi Alisa.


Kemudian mengalihkan pandangan pada lampu, lantas menggantinya dengan yang temaram. Hadi menaruh kembali remote di tempatnya lalu kembali mendekati sang istri yang tampak sangat nyenyak.


Cuph. Di kecupnya kening sang istri hingga berkali-kali lalu turun ke pipi kanan dan kiri, di tatapnya sangat lekat walau di bawah sinar yang remang-remang.


"Sayang. Terima kasih sudah mau bertahan dengan ku!" bisiknya Hadi dan tidak membuat lawan bicaranya terbangun.


Bibir Hadi menyungging dan kini mendaratkan kecupan di bibirnya dengan sangat lembut. Mulanya biasa saja tapi lama-lama menuntut lebih sehingga begitu lama bermain di sana.


Tangan pun menjelajah tempat-tempat yang menjadi favoritnya, Bermain-main begitu betah. Di tempat yang halus mulus, semut aja terpeleset saking halusnya permukaan kulit tersebut. Makanya Hadi pun berpegangan ke batu karang yang kecil yang begitu kokoh berada di puncaknya.


Sang empu hanya sesekali menggeliat nikmat tanpa terbangun ataupun menyadari kalau Hadi sedang mengajaknya bermain.


Ritual bermain di atas atau sedikit traveling di puncak pun berakhir dengan rasa kantuk yang menyerang kedua netra mata Hadi ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Terima kasih banyak ya ... masih setia🙏


__ADS_2