
Kini Alisa sedang pelajari laporan keuangan di bulan ini. Namun setelah di teliti dengan seksama, ada sebuah keganjalan. Yaitu selisihnya laporan pengeluaran dan pendapatan. Serta ada uang yang tidak jelas penggunaannya.
"Huuh ... pusing pala baby. Dengan ini aku nyatakan bahwa laporan ini tidak valid, ayo lah Lisa ... kamu jangan gegabah! oke? Hati-hati dalam melangkah, eh salah! bertindak. Ini selisihnya hingga ratusan juta gitu!" Alisa menggeleng kepalanya yang terasa pusing.
"Permisi?" suara dua orang pria yang berdiri di depan pintu.
Alisa menoleh pada sumber suara yang menggangu ketenangannya. Yang ternyata Zidan dengan seorang pria yang entah siapa? dan belum Alisa kenal.
"Silakan masuk?" Alisa langsung berdiri menyambut kedatangan Zidan dan temannya tersebut.
Mereka pun berjalan memasuki ruangan tersebut dengan raut wajah yang ramah. Kemudian mereka berjabat tangan bergantian dengan Alisa, lalu Zidan kenalkan Alisa dengan seorang pemuda yang bernama Burhan.
"Alisa, ini kenalkan pak Burhan staf manajer." Kata Zidan menunjuk pak Burhan.
Yang bikin Alisa melongo. Dia kira yang namanya Burhan itu sudah bapak-bapak dan setidaknya samaan dengan Hadi. Tetapi ternyata seusia dengan Zidan. Mana tampan dan berwibawa lagi. Bibir Alisa menganga. "UPS, sorry? kok aku baru lihat ya?"
"Ooh, ini ya yang namanya Alisa. Asisten pak Hadi yang cantik dan smart itu? ternyata ..." Burhan malah menggelengkan kepalanya, karena bagi dirinya orang lebih cantik dan menarik. Walaupun dengan penampilan yang tetap sopan.
Burhan menatap Alisa dengan tatapan meneliti, dari bawah sampai ujung rambut.
Membuat Alisa menunduk malu dengan nada bicara dan pandangan dari Burhan.
"Iya, ini dia orangnya. Terpesona kan?" timpal Zidan.
"Oo! saya dari kantor cabang Surabaya, dan pak Hadi menyuruh saya untuk bertugas di kantor pusat ini menemani asistennya yang ternyata sangat cantik, luar biasa begini!" ungkap Burhan penuh pujian.
"Ooh, bisa saja. Mari duduk?" Alisa bergerak membawa langkahnya ke sofa untuk berbincang di sana.
Mereka bertiga mengobrol dengan rencana kalau besok ada pertemuan di Bandung. Dan hari setelahnya ke Surabaya, dan itu bersama Zidan dan Burhan pribadi.
Lanjut Alisa pun membincangkan soal selisih laporan keuangan yang dia pikiran ada nya kejanggalan sehingga selisihnya pun cukup besar dan mencapai ratusan juta.
"Adakan meeting serentak dengan pihak yang terkait dan bila hasil akhirnya kurang memuaskan, pecat! kan beres." Ucap Burhan simpel.
__ADS_1
"Tapi kalau menurut ku gimana ya. Membuat keputusan memecat seseorang itu gampang. Tetapi gimana dengan kehidupan dia setelah keluar dari sini, apakah dia akan dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan setelah dia punya embel-embel orang kurang jujur atau menyelipkan uang perusahaan. Gimana nasib keluarganya nanti?'' ujar Alisa sembari menatap keduanya dengan lekat.
Burhan dan Zidan memandangi sosok Alisa yang pemikiran nya cukup baik dan lembut.
"Hebat, pemikiran kamu memang sosok pemimpin yang baik untuk semua staf bahkan karyawan yang memikirkan kehidupan mereka. Tapi dalam dunia bisnis itu ada aturannya dan kita harus memenuhi prosedur yang ada. Seharusnya mereka yang memikirkan nasibnya sendiri dan makanya jangan berbuat ulah. Perusahaan tidak akan memecat mereka bila tidak adanya kesalahan yang mereka perbuat. Kenapa kita selaku pimpinan memecat karyawan atau staf? tentunya kita mengikuti prosedur yang ada." Ujar Burhan dengan nada serius.
"Itu benar sekali, tapi seharusnya dia yang memikirkan nasibnya, sendiri bukan kita. Kita harus tahu dengan jelas kemana uang itu dan dipergunakan buat apa dan juga siapa yang menggunakannya? perusahaan punya wewenang untuk membuat orang-orang terkait dan memecatnya." Tambah nya Zidan sembari meneguk minumnya.
"Memang kita juga harus selektif dan hati-hati, makanya rapatkan dulu bicarakan dengan baik dan bila hasil nya tidak memuaskan ... berarti perusahaan harus mengikuti prosedur yang ada." Timpal Burhan lagi.
"Oke, kalau begitu kita mengadakan meeting mendadak." Alisa beranjak dari duduknya mendekati meja kerjanya untuk menghubungi Mita dan menyuruhnya menyiapkan meeting mendadak di pukul 02.00.
"Fantastis. Ini sosok gambaran pimpinan yang garcep, cekatan dan tidak menunggu lama untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang cukup signifikan ini. Hebat," ucap Burhan sambil bertepuk tangan, dia sangat mengagumi sosok Alisa yang masih mudan dan pintar. Dia punya skill yang lumayan tinggi padahal kata Zidan kalau Alisa ini tidak kuliah.
"Oke, kita akan bertemu di tempat meeting nanti." Zidan beranjak dan sesungguhnya merasa terganggu perasaannya dengan setiap kata-kata dari Burhan yang terus menyanjung Alisa.
"Ya, sampai jumpa lagi nanti, dan makasih ya atas saran dan bantuannya atau kerja sama nya?" Alisa mengulurkan tangan pada kedua pria muda itu.
"Sama-sama. Memang kita seharusnya bekerja sama dengan baik dan membuat tim yang saling mendukung satu sama lainnya apalagi kalau kita saling dekat atau saling mengenal lagi." Akunya Burhan sambil berjabat tangan dengan Alisa.
"Baiklah. Kita kembali ke ruangan kita dulu." Pada akhirnya Zidan dan Burhan mengundur diri dan meninggalkan tempat tersebut.
"Huuh ... sampai kapan ini akan berakhir? kalau begini terus otak ku bisa meledak nih. Tante ... cepat sembuh dong ... biar Om Hadi balik ngantor lagi. Aku gak mampu nih." Gumamnya sambil menghela nafas dengan berat.
Kemudian Alisa melanjutkan kerjaan nya yang lain dan membereskan berkas-berkas yang sudah dia cek dan berkas yang akan di bawa ke tempat rapat. Netra nya menetap ke arah bunga yang entah dari siapa?
"Aku masih penasaran nih, dari siapa bunga ini? kenapa ada di sini dan buat siapa juga," Alisa menciumi bunga tersebut.
Lalu alisa kembali berkutat dengan laptopnya dengan serius. Dia harus mampu menjaga kepercayaan dari Hadi. Sehingga Alisa pun mampu menyingkirkan semua omongan Dania yang sempat mengganggu hati dan perasaannya.
Setelah jam makan siang, Alisa menyiapkan diri untuk rapat. Kini Alisa sedang berdiri di depan cermin menatap dirinya, sambil membubuhkan bedak di pipinya.
Dretttt ....
__ADS_1
Ponsel Alisa bergetar. Dan ternyata kontak Hadi yang menelpon. Alisa segera mengangkatnya, namun sebelumnya menarik senyumnya manis.
^^^Alisa: "Halo?"^^^
^^^Hadi: "Halo ... sedang apa? sibuk gak?"^^^
^^^Alisa: "Sedang bersiap mau meeting. Ada permasalahan yang harus di meeting kan!"^^^
^^^Hadi: "Oya, kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan saja pada Zidan dan Burhan."^^^
^^^Alisa: "Iya, gimana kondisi Tante sekarang? lebih baik kan?"^^^
^^^Hadi: "Begitu saja!"^^^
^^^Alisa: "Oya, sudah makan belum? jangan lupa makan! dan kapan bisa ngantor? aku gak sanggup nih harus gantikan terus?"^^^
Alisa mengeluh karena rasanya berat bila harus lama-lama seperti ini.
^^^Hadi: "Kau tidak sanggup dengan kerjaan atau kangen sama aku hem?"^^^
^^^Alisa: "Oke, oe. Mana ada. Ge'er amat sih jadi orang."^^^
^^^Hadi: "Gak pa-pa kangen juga sah kok."^^^
^^^Alisa: "Sudah belum? aku mau meeting nih!"^^^
^^^Hadi: "Sudah sayang, selamat bekerja saja ya?"^^^
Sambungan telepon pun terputus setelah terdengar ucapan salam dari Hadi.
"Cuman itu doang? iih ... dasar gajebo nih orang!" Alisa mesem-mesem sendiri sambil meneruskan aktifitasnya.
Alisa pun segera keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang meeting ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih reader ku yang masih setia dan semoga diberi kesehatan dan keberkahan🤲