
Sepulangnya dari kantor, Alisa langsung turun tangan untuk membantu yang bisa dia kerjakan. Mengurus bingkisan misalnya, ada juga Dania! dia hanya ongkang-ongkang kaki saja.
"Mommy, Dirga mau berenang. Temenin ya?" suara Dirga dari belakang Alisa yang sedang menghitung bingkisan.
"Sayang, berenang sendiri aja ya? temenin kak Liana atau ya? Mommy sedang sibuk nih!" Alisa menatap Putra Dirga dengan memegang buku dan ballpoint.
"Nggak mau, mau di temenin Mommy." Anak itu merajuk.
"Papa deh ajak berenang." Suruh Liana kepada adiknya.
Alisa menoleh pada Liana. "Papa sedang menerima tamu."
"Oya, papa sedang ada tamu." Tambahnya Dirga.
"Oma yang temenin ya?" omanya Dirga nawarin.
"Nggak mau ..." Dirga duduk lesu.
Alisa tidak tega. "Ya udah. Tapi jangan lama-lama ya?" Alisa memberikan buku pada Liana.
"Iya, Mom. Satu jam aja kok ... gak lama-lama." anak atau langsung bangkit dengan raut wajah yang sumringah.
"Rrggghhh ... nih anak jadi manja begini. Amit-amit." Gerutu Liana lalu melanjutkan tugasnya Alisa.
Semua pasang mata menggeleng melihat Dirga yang benar-benar manja setelah kepergian bundanya.
Alisa berjalan dengan Dirga menuju kolam renang yang berada di lantai atas.
"Beneran ya? tidak boleh lama, karena banyak kerjaan dan ini kan tujuh hari mama." Alisa mengusap kepala Dirga yang bersiap meluncur ke dalam air.
Menjelang magrib pun tamu sudah banyak yang datang yang dari dekat maupun yang jauh. Membuat di mension tampak ramai, begitupun dengan ustadz nya yang akan memimpin doa sudah duduk bersama keluarga termasuk Hadi.
Acara tujuh harinya Diana berjalan dengan sangat lancar. Walau pun berhias dengan tangis haru yang di rasakan keluarga dan handai taulan.
Alisa duduk bersama sang ibu mertua, Liana dan Dirga yang bersandar manja di pangkuan Alisa.
__ADS_1
Dania yang beserta orang tua nya berada dekat dengan Hadi yang tampak sendu dan murung.
Beberapa saat kemudian. Acara tersebut selesai dan kini keluarga sedang berkumpul.
"Abah dan ibu harap ... kau dapat memikirkan anak-anak mu yang butuh perhatian dari seorang ibu, khususnya Dirga yang masih membutuhkan perhatian--''
"Ibu tahu, kalau kamu sudah punya istri baru yaitu Alisa, tapi alangkah baiknya jika kamu turun ranjang untuk melengkapi kasih sayang terhadap anak-anak mu dan Diana." Timpal Bu Lia yang memotong perkataan suaminya.
"Maksud besan gimana ya?" sang ibunda jadi tidak mengerti dengan maksud besannya.
Semua pasang mata tertuju pada kedua orang tersebut. Yang tiada lain adalah orang tua nya Diana. Sementara Dania tersenyum bagaikan mau menang lotre.
"Begini besan ... kamu menganjurkan kalau Hadi turun ranjang saja dengan Dania, dia kan adik ya Diana almarhumah. Jadi mereka itu dan anak-anak akan lebih mempunyai ikatan batin yang cukup erat." Ujar sang ayah dari Dania.
Degh.
Semua terkejut mendengarnya. Kan sudah jelas kalau Hadi mempunyai istri lagi, Alisa. Kok bisa-bisanya menyodorkan Dania untuk jadi istri Hadi.
"Ikatan batin apaan? ikat pinggang kali ... bukan ikatan batin. Ogah aku!" sambar Liana sambil membuang muka.
"Tapi Tante mu ini mempunyai darah yang sama, Lian. Dan alangkah lebih baik bila papa menikahi Tante Dania." Jelas abahnya.
Sungguh di luar dugaan apa yang sudah di dengar dari pasangan suami istri itu. Sampai mengharapakan Alisa dan Hadi pisah atau Dania pun mau bila di madu dari Alisa.
"Dirga sudah punya mommy Alisa, Tante ya tante! tidak mau kalau papa menikah lagi sama Tante Dania. Apalagi, Tante kan galak. nggak ada sayang-sayang nya." Timpal Dirga sambil menggeleng, anak itu memegangi tangan Alisa yang bengong.
Dania merasa geram dengan jawaban Dirga, dia tampak menjulurkan lidah pada dirinya yang bikin tambah kesal.
Ibunda Hadi menatap ke arah Hadi dan ingin tahu jawabannya. Begitupun dengan yang lain penasaran dengan jawabnya pria itu.
"Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat saat ini, saya masih pusing!" Jawabnya Hadi dengan tatapan kosong ke depan.
Alisa mengangkat wajahnya melihat ke arah Hadi yang seolah tidak punya tujuan dan pikiran yang jernih.
"Kami menunggu keputusan mu itu, agar semuanya lebih jelas." Kata Abah penuh harap.
__ADS_1
"Jangan terlalu mengharap, karena saya tidak bisa memberikan apa-apa. Oke, saya mau istirahat." Hadi beranjak dari duduknya hendak meninggalkan tempat tersebut.
"Kalau gini sih ... gak jelas urusannya, besok saya akan kembali ke kota kami." Tambahnya Abah sambil melirik ke arah sang istri.
Hadi menoleh dan menatap ke arah pasangan suami istri itu. "Saya tidak akan menikahi Dania mau turun ranjang atau apa lah. Jadi jangan berharap lagi." Tegas Hadi, kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Orang tua Dania saling pandang Dangan tatapan kecewa. Apalagi Dania, dia kecewa banget mendapat penolakan dari Hadi.
Setelah Hadi pergi. Kumpulan keluarga pun bubar dan keputusan terakhir adalah Dania akan pindah kembali dari rumah itu, dan orang tuanya akan kembali ke tampar asal.
Semua masuk ke tempat peraduannya masing-masing. Begitupun Alisa sebelum ke kamarnya, dia mengantar Dirga ke kamarnya lebih dulu.
Alisa berdiri di depan pintu kamar dan menghela nafas dalam-dalam sebelum jemarinya mendorong handle pintu. Tampak Hadi sedang duduk di depan televisi.
Kemudian Alisa memasuki wardrof untuk berganti baju. Tanpa sepatah kata pun mereka tidak saling sapa. Sampai tertidur di tempat yang sama pun mereka tidak mengeluarkan suaranya.
Di hari ke delapan setelah Diana meninggal, Hadi masih juga enggan ke kantor dan dia hanya memantau dari rumah saja.
Alisa masih juga yang menggantikan meeting di hari ini. Lelah hati dan lelah pikiran semakin menyiksa dirinya. Namun dia berusaha menyembunyikan dari semuanya dan tampak baik-baik saja.
"Oke, meeting kali ini cukup di sini saja dan saya harap semua bisa bekerja sama dengan baik dan ... insya Allah akan ada bonus di pertengahan bulan ini, karena kinerja kalian semua sangat memuaskan yang sudah membantu ku dengan sepenuh hati." Alisa berdiri menutup meeting nya.
Karena sudah sore, Alisa pun pulang namun berhenti sebentar di sebuah Alfamart karena Dirga minta dibelikan Es krim.
Makanya setibanya di rumah, Dirga sangat antusias dan bersorak. Langsung memakannya dengan nikmat. Alisa tersenyum seraya mengusap rambutnya Dirga lalu naik ke lantai atas.
Dalam hati bertanya-tanya kemana suaminya. Dia berjalan menaiki anak tangga dengan langkah gontai dengan menjinjing tas nya.
"Sudah pulang?" tiba-tiba suara itu mengagetkan Alisa yang sedang melamun. Hadi berdiri di ujung tangga menatap ke arah dirinya.
"Iya," Alisa singkat lalu meraih tangan Hadi di ciumnya.
Hadi pun mencium singkat keningnya Alisa. Lalu setelah itu dia menuruni anak tangga membuat Alisa terdiam dan memandangi punggung pria tersebut dengan perasaan yang berkecamuk.
Hadi meninggalkan Alisa di ujung tangga lantai atas. Dan membawa langkahnya ke taman ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih pada yang masih menunggui karya ini update.