Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Baru pulang


__ADS_3

"Sayang, katanya Liana belum pulang. Kira-kira kemana ya? di telepon juga gak di angkat." Hadi membangunkan Alisa di pukul 11 malam.


Tadi Hadi terbangun lalu keluar dan bertemu dengan ibu yang bilang kalau Liana belum pulang jam segini.


Alisa pun terbangun dan menoleh pada sang suami. Dengan mata yang terbuka sedikit, Alisa bergumam.


"Mmmmm ... apa yank? pukul berapa nih?" suara Alisa terdengar parau dengan khas bangun tidur lalu kembali memeluk guling.


Cuph. Kecupan hangat mendarat di pipi Alisa sembari berkata. "Liana belum pulang, kira-kira sayang tau gak dia pergi kemana dan ponselnya aktif tapi gak di angkat!"


Hadi miring dan siku nya sebagai tumpuan menyangga tubuhnya. Di dekat Alisa serta membelai rambutnya.


Perlahan Alisa membuka manik matanya dan mengumpulkan jiwanya. "Hem ... masa belum pulang sih? ada bilang gak?"


Alisa menggosok matanya yang terasa ngantuk lalu merapikan piyamanya yang berantakan bekas orang yang tidak bertanggung jawab, mau buka! gak mau tutup.


"Iya sayang ... belum pulang, coba sayang yang hubungin. Kali saja dia angkat." Hadi mengambilkan ponsel milik Alisa.


Dengan mata yang masih sepet dan terbukanya nya pun kurang dari lima wat saja, Alisa menghubungi Liana namun hasilnya nihil.


"Tidak di angkat, yank ..." Alisa menyimpan ponsel ya sambil membuka matanya lebar-lebar.


Hadi mengerutkan keningnya seraya berkata. "Gimana dong ... sayang kemana anak itu?"


Alisa mengusap wajahnya sambil duduk dan membuang nafasnya pelan-pelan dan langsung ingat sama Rahman. Apa mungkin Lina sama Rahman? mantan kekasihnya Alisa dan kini menjadi kekasihnya Liana.


"Rahman!" Hadi dan Alisa berbarengan.


"Apa mungkin Liana sedang bersama dia sayang? coba telepon dianya!" Hadi menyuruh Alisa telepon Rahman.


"Nggak punya nomornya!" Alisa menggeleng.


"Yakin gak punya?" Hadi tidak percaya.


"Beneran, dari la aku buang nomornya." Alisa meyakinkan sambil mensekrol kontak di layar ponselnya tersebut.


"Ck. Kemana sih?" Hadi mengacak rambutnya lalu jalan mondar-mandir.


Alisa pun terdiam memikirkan kira-kira Liana kemana.


Hadi keluar dari kamarnya lalu turun ke ke lantai bawah dan menunggu Liana bilakah pulang.

__ADS_1


Pas Hadi keluar pintu utama, Liana datang bersama motornya dan di ikuti oleh motor seseorang yang menggunakan helm dan setelah di buka, dia adalah Rahman.


Alisa yang menyusul Hadi melongo melihat kedatangan Rahman. Lalu melihat ke arah Liana yang tampak lusuh. "Liana ... kau baru pulang? jam berapa nih?"


"Assalamu'alaikum ..." Rahman menghampiri Hadi setelah sebelumnya menatap ke arah Alisa yang dengan wajah bantalnya.


"Wa'alaikumus salam. Dari mana kalian? malam gini baru pulang?" tanya Hadi dengan nada dingin.


"Em ... Pah, Lisa. Aku tadi sore bis jalan-jalan terus kehujanan dan mampir ke rumahnya Rahman, karena ... hujannya semakin besar, eh ... em ... aku! baru bisa pulang sekarang!" suara Liana terbata-bata.


"Kalau hujan, kau bisa minta jemput mobil atau naik taksi, motor tinggalkan saja. Kau itu anak gadis yang tidak baik pulang malam gini tanpa tujuan yang penting." Hadi menatap putrinya. "Apalagi gak bilang-bilang! bikin orang rumah khawatir. Buat apa ada ponsel kalau tidak berguna sama sekali.


"Maaf, Pah?" Liana berdiri dan menunduk di hadapan Hadi dan Alisa yang memegangi tangan Hadi khawatir marah-marah berlebihan.


"Liana ... dari mana saja kamu Nak ... orang rumah khawatir sama kamu, lihat. Lisa pun terbangun karena kamu belum pulang!" suara lembut Oma nya yang baru muncul dari balik pintu.


"Maaf, Oma? aku kehujanan!" balasnya Liana.


"Lain kali kalau mau keluar yang bukan urusan kuliah, bilang dulu! dan kamu? kalau bawa anak gadis orang harus minta ijin dulu!" jelas Hadi sambil melihat ke arah Liana dan Rahman bergantian.


Kemudian Hadi ngeloyor pergi dari tempat tersebut memasuki kembali mension nya.


Alisa mendekati Liana. "Lian ... masuk? dah malam." Menarik tangan Liana di ajak ya masuk tanpa menghiraukan Rahman yang berdiri di teras.


"Oh, iya. Oma! permisi." Rahman memutar badannya. Setelah sebelumnya mengucapkan salam pada wanita sepuh tersebut.


"Ternyata kau sudah benar-benar melupakan ku Alisa." Batinnya Rahman sambil menduduki jok motornya dan juga mengenakan helm.


"Lain kali kalau mau pergi bilang dulu, mana di telepon gak di angkat-angkat. Kami jadi cemas!" ucap Alisa pada Liana setelah berada di ruang tengah.


Oma nya sudah mengunci pintu. "Ya sudah, sekarang Liana masuk kamar, istirahat. Dan lain kali ... jangan bikin kita khawatir dan pandai lah kau menjaga diri, perempuan itu beda dengan laki-laki. Perempuan itu membawa perut, kalau laki-laki tidak." Ujar Oma nya dengan lirih.


Degh.


Liana tersentak dengan kata-kata omanya. Jadi ingat dengan yang sudah dia lakukan dengan Rahman tadi. Jadi khawatir takut kenapa-napa.


"Kok melamun sih? masuk kamar, sudah Malim lho!" Alisa menepuk bahunya Liana yang melamun.


Kemudian Liana pun mengangguk seraya membawa langkahnya mendekati anak tangga berada langkah yang berada mengambang itu.


Alisa melirik ke arah sang ibu mertua. "Ibu ... ibu istirahat saja, sekarang Liana dah pulang. Jadi sudah tenang kan!"

__ADS_1


"Iya, Lisa ... tapi Ibu merasa khawatir sama Liana. Padahal kepergian itu bukan baru. Tapi dengan telatnya malam ini, hati Ibu menjadi was-was," tutur sang ibu mertua.


"Ibu jangan banyak pikiran, apalagi pikiran yang macam-macam! dia kan saja yang terbaik." Alisa merangkul bahu ibu mertuanya itu dan mengantarnya ke kamar wanita sepuh tersebut.


Alisa barulah kembali ke kamarnya setelah memastikan ibu mertua dia sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Tidak lupa menyelimutinya terlebih dahulu.


Hadi yang sudah berada di kamar tampak kesal, bukan cuma dengan keterlambatan Liana pulang saja. Tapi juga dia sempat melihat tatapan Rahman kepada istri kecilnya yang tampak menyimpan sesuatu yang sulit di gambarkan dengan perkataan.


Membuat hati Hadi merasa terbakar. Dan kepalanya terus berpikir tentang Liana, dia pun khawatir kalau putrinya kenapa-napa.


Terdengar derap langkah yang mendekati pintu yang kebetulan pintu ya terbuka lalu muncullah Alisa sambil melihat ke arah Hadi yang tampak mondar-mandir tersebut.


"Belum bobo? Yank!" Alisa mendekati tempat tidur lalu merangkak naik sambil menarik selimutnya.


"Iya, sayang!" Hadi mengikuti Alisa yang kini sudah berbaring.


Lalu Hadi berbaring miring sambil membelai anak rambut Alisa yang menghiasi pipi. "Apakah Liana nya sudah masuk?" tanya Hadi.


"Sudah, sudah ke kamar nya kok." Balasnya Alisa sambil memejamkan kedua manik nya kembali.


"Ya sudah, kita bobo dulu." Hadi membawa kepala Alisa ke dalam pelukannya.


Memberikan kenyamanan pada istri kecilnya tersebut.


Liana di dalam kamarnya sedang berada di bawah kucuran air shower, Seiring dengan air matanya yang terus mengalir. Menyesali yang sudah terjadi, dimana dia sudah menyerahkan sesuatu yang amat berharga dan seharusnya ia jaga dengan baik sampai waktunya.


Malam yang semakin larut dan beranjak pagi. Alisa sudah terbangun memandangi suaminya yang tampak masih nyenyak itu.


Bibir Alisa tertarik ke samping, lalu mengunakan selimutnya, turun menapakkan satu persatu kakinya ke lantai sambil mengikat rambutnya di atas kepala.


Geph.


Lengan Alisa di tangkap oleh Hadi yang sedang memicingkan sebelah matanya.


Alisa berbalik. "Bentar lagi subuh, aku mau bersih-bersih,"


Namun tangan Alisa di tariknya Hadi, sehingga Alisa kembali duduk di tepian.


"Emangnya sayang mau ngapain bangun buru-baru? salat juga belum Hem? kerja, gak boleh dulu. Kalau mau masak untuk ku, nanti saja!" suara bariton itu bikin Alisa merasa gemas.


Alisa menjepit kedua rahang pria itu dengan gemas! Lalu Hadi membawa Alisa ke dalam selimut dan entah melakukan apa di dalam sana sehingga Alisa terdiam dan terhanyut dalam suasana ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Masih adakah yang menunggu Alisa dan om Hadi muncul?


__ADS_2