
"Yank, sabar ... nanti tangan mu terluka bagaimana?" suara Alisa yang kaget karena Hadi menggebrak meja. Bagaimanapun dia merasa cemas.
"Kau benar-benar bikin Papa malu Liana, kan kamu sendiri yang inginkan kuliah sampai ke jenjang yang lebih tinggi, tapi kenapa sekarang baru saja berapa semester kamu malah berbuat begini?" Bentak Hadi kepada Liana.
"Yank ... kan ini nggak disengaja, jangan marah-marah? nggak akan menyelesaikan masalah!" Alisa terus mencoba menenangkan Hadi. Karena terus-terusan menyalahkan Liana pun percuma, semuanya sudah terjadi.
"Dengar ya Lian, Papa tunggu pria bejat itu datang temui Papa hari ini juga, paling telat nanti malam! kalau tidak ... Papa akan penjarakan dia! dan Papa nggak akan main-main dengan omongan Papa ini." Jelasnya Hadi kepada Liana.
Liana yang menunduk seraya berkata. "I-iya Pah, Liana akan bicarakan ini sama dia!"
"Emang kejadiannya kapan? apa kamu sudah--" Hadi menggantungkan pertanyaannya lalu melirik ke arah sang istri yang memegangi tangannya.
"Belum lama ini, Pah!" jawabnya Liana masih sembari menunduk dan terisak.
Alisa menghela nafas panjang. "Kejadiannya waktu kemarin telat pulang kan ya?" tambahnya Alisa sembari menatap ke arah gadis itu dan langsung mendapat anggukan.
Lantas Hadi terdiam seribu bahasa, dia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi? karena memang marah-marah juga nggak ada gunanya. Hanya merasakan sakit, menyesal dan kecewa. Menyesal karena dia nggak bisa menjaga putri satu-satunya itu, kecewanya kenapa harus terjadi semua ini.
Kalau saja Diana masih ada, dia pun pasti merasakan kekecewaan yang teramat sangat.
Sementara ibunya Hadi masih banjir dengan air mata, sambil merangkul cucunya yang belum lama ini ditinggal oleh mamanya.
Alisa menggenggam tangan Hadi dan sekali mengusap dadanya agar dia tetap bersabar.
Hadi menolehkan kepalannya ke arah Alisa. "Huuh ... sudah siang, apa kah jadi masuk kerja hari ini?"
Alisa mengangguk. Apalagi dalam keadaan kalut seperti ini, Alisa nggak akan tega membiarkan Hadi sendirian.
"Lisa pergi dulu ya? Ibu jangan menangis! masalah ini pasti akan cepat selesai." Alisa memeluk sang ibu mertua yang terus meneteskan air matanya.
"Dan kamu Liana, hari ini apa kamu mau kuliah apa mau istirahat di rumah?" Alisa mengalihkan pandangannya pada Liana.
Liana mengangkat wajahnya melihat ke arah Alisa. "Gue mau kuliah, gue nggak bisa diam di rumah!"
"Ya sudah, hati-hati ya? Kalau tidak ada keperluan, cepat pulang ke rumah." Pintanya Alisa sambil menyentuh tangannya Liana.
Kemudian Alisa pun melepaskan rangkulannya kepada sang ibu mertua yang kini sedang menyeka air matanya. "Ibu doakan ya? semoga semuanya cepat selesai!"
__ADS_1
"Tentu Lisa ... tentunya akan ibu doakan semoga semuanya cepat selesai."
Selepas berpamitan dan mencium tangan sang ibu, barulah mereka berdua, Hadi dan Alisa meninggalkan ruang kerja tersebut sebentar. Alisa pergi ke kamar untuk mengambilkan tas kerja milik mereka berdua.
Dalam keadaan hati yang marah, kesal. Kecewa terhadap putrinya, perasaan yang bercampur aduk, Hadi tidak lupa untuk berusaha menjaga sang istri kecilnya ini, begitu pun sambil berjalan dia menggandeng pinggangnya Alisa.
Apalagi ketika jalan menuruni anak tangga. Dia mengingatkan kalau Alisa jalannya jangan terburu-buru harus hati-hati.
"Iih ... kaya orang hamil saja diperhatiin, nggak boleh gini nggak boleh gitu! perut aku kosong nih," ucapnya Alisa kepada Hadi.
"Iya ... sekarang kosong! sebentar lagi juga ada isinya lagi," Hadi mengusap perut Alisa.
"Mbak Dirga sudah berangkat kan?" tanya Alisa kepada mbak.
"Iya sudah, Non dan dia pergi sekolahnya bersama mang Ujang!" sahutnya Mbak.
"Em ... Makasih ya?" sambungnya Alisa.
Kemudian Hadi terdiam seribu bahasa walaupun tangannya tidak pernah lepas dari pinggang sang istri. Yang terus berjalan mendekati pintu depan, serta mendekati mobil yang sudah disediakan oleh Pak Mur.
Sampai masuk dalam mobil pun Hadi tidak mengeluarkan suaranya. Jelas kalau Hadi kepikiran sama putrinya.
Selang berapa lama akhirnya mobil mewah yang ditumpangi oleh Alisa dan Hadi, tiba di halaman parkir para staf.
"Pak, tolong ya belikan buat sarapan? dan Ini uangnya," perintah Alisa kepada Pak Mur sembari memberikan sejumlah uang padanya.
"Baik Non." Pak Mur mengangguk sembari mengambil uangnya.
"Belikan aja bubur ayam dua porsi ya pak? dan selebihnya belikan saja buat pak Mur sendiri," kemudian Alisa bersiap turun sambil membawa tas kerjanya, sementara Hadi sudah menunggu di depan pintu tanpa berkata apa pun.
Semua staf yang berpapasan dengan Alisa menyambut bahagia, dengan kedatangan Alisa yang kembali bekerja.
Selain berjabat tangan, Alisa mengulas senyumnya dengan ramah! lalu memasuki ruang kerja yang selama ini dia tinggalkan menyusul langkah tadi yang sudah lebih dulu memasuki ruang tersebut.
"Jangan lari-lari, jalan santai aja!" pintanya Hadi ketika melihat Alisa setengah berlari menyusul dirinya.
"He he he lupa." Alisa malah nyengir.
__ADS_1
Sebelum duduk di kursi kebesarannya, Hadi membuka dulu jas nya yang ia gantung kan di sandaran kursi. Entah kenapa tubuhnya terasa panas. Meskipun dalam suasana yang masih pagi.
Begitupun Alisa duduk di kursinya menyalakan laptop, dan mulai beraktifitas seperti biasanya.
Berapa saat kemudian setelah Hadi duduk dan memulai aktivitasnya. Dia berdiri kembali berjalan mendekati jendela.
Bagaimanapun pikiran Hadi saat ini terasa kacau balau. Dan sulit untuk konsentrasi buat bekerja.
Bugh!
Hadi menonjok dinding yang berada dekat jendela, sehingga kepalan tangannya berdarah-darah. Masih untung tak kena kaca nya.
Alisa yang sempat mendengar suara tonjokan itu. Dengan bentuk kedua telinganya seraya menjerit. "Auw!"
Kemudian, Alisa segera beranjak dari duduknya dan menghampiri sang suami yang berdiri dekat jendela.
Pria Itu tampak menangis dan menatap tangannya yang berdarah, setelah bertarung dengan dinding yang tak bernyawa. Membuat Alisa kaget, shock dan cemas.
"Yank ... jangan macam-macam! tangannya berdarah." Lalu Alisa segera mengambil tisu dan mencari kotak obat yang kebetulan ada di sana.
Segera mengelap darah dari jari-jarinya Hadi dan lalu mengobatinya lanjut membalutnya dengan kain khusus buat luka. Dengan tatapan nanar, Alisa melihat ke arah Hadi yang tak bergeming serta wajahnya tampak sangat kusut.
"Aku mohon, jangan macam-macam lag! aku takut dan aku gak mau kamu terluka lagi." Lirihnya Alisa penuh permohonan.
Hadi tidak menjawab. Dia hanya terlihat berapa kali menelan saliva nya.
"Kamu boleh marah, tapi jangan melukai dirimu sendiri, aku mohon." Alisa memeluk lengan Hadi bagian atas.
Kini Alisa benar-benar merasa cemas, takut dan was-was akan suaminya ini. Sebuah perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Hadi mengecup kening istri kecilnya sembari menyandarkan punggungnya ke bahu sofa.
"Sayang, bisa mengantar aku kan? kita harus menemui pria itu!" akhirnya Hadi bergumam.
Alisa mendongak lalu mengangguk. Dia mengerti kalau Hadi minta diantar ke tempatnya Rahman.
Namun detik kemudian, pintu pun terdengar di ketuk dari luar. Kebetulan tirainya belum di buka! menjadikan tidak tahu siapa yang datang ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Selamat menunaikan puasa, bagi yang menjalankannya.