
Alisa pun sudah rapi dengan kostum kerja nya. Dia kini sedang berusaha menutupi tanda merah yang bertebaran di lehernya dengan bedak.
"Iih ... tuh kan ... tetap saja kelihatan!" keluh Alisa sambil menoleh pada Hadi yang tampak santai.
"Masih itu saja yang dipermasalahkan. Tidak apalah sayang ... kan aku yang sendiri yang buatnya! bukan laki-laki lain." Jawab Hadi dengan nada santai.
Kedua manik mata Alisa terbelalak dengan sangat sempurna pada Hadi. "Kok bicara demikian? masalahnya kelihatan orang banyak! aku ini bekerja bukan di rumah." Pekikan suara Alisa yang tertahan.
"Ya-ya sayang, Terus maunya gimana? mau aku bikin lagi he he he ..." ucap Hadi sambil mendekat ke arah sang istri.
"Aduh ... Bukan gitu! makin parah dong!" suaranya Alisa dengan nada manja.
Semakin Hadi merasa gemes dibuatnya dan berat untuk meninggalkan gadis kecilnya ini.
Hadi merengkuh punggung Alisa, ditarik agar lebih mendekat ke tubuhnya. "Tutup aja sama syal, ya kan ... beres itu!"
"Sama syal, orang nggak ada! aku nggak bawa gimana?" Alisa menggelengkan kepalanya.
Cuph! kecupan mesra Hadi mendarat di kening Alisa. "Itu sudah samar kok sayang. Gak begitu ketara!"
Kemudian terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, dan Hadi langsung menyuruhnya untuk masuk. Tanpa merubah posisinya yang sedang memeluk pinggang Alisa.
Alisa mendorong dada Hadi agar melepaskan rangkulan tangannya, karena dia merasa malu kalau sampai dilihat orang yang dipersilakan masuk oleh Hadi.
"Nggak apa-apa! biarin saja mereka lihat, kita ini kan suami istri, bukan selingkuhan!" ungkap Hadi sembari mesem dan meletakan dagunya di pucuk kepala Alisa.
Blak ...
Pintu terbuka dan rupanya mereka adalah Zidan, Mita dan Burhan. Alangkah terkejutnya mereka. dengan pemandangan yang mereka lihat, Zidan sih nggak aneh jika melihat pemandangan seperti itu karena sudah tahu kalau Hadi dari semalam berada di kamar tersebut.
Tapi lain lagi dengan Mita dan Burhan, apalagi Burhan. Dia pikir si Bos ada di kamar Alisa hanya duduk-duduk dan berbincang biasa saja! tetapi apa yang dia lihat sekarang ini sungguh di luar ekspetasi.
__ADS_1
Hadi sedang memeluk gadis pujaan hatinya itu! membuat dirinya kepanasan terbakar api cemburu. Padahal Zidan bilang kalau Alisa adalah seorang wanita yang bersuami, tapi kenapa berbuat demikian dengan Hadi? dengan bosnya sendiri! banyak spekulasi yang ada di pikiran Burhan saat ini.
"Apa jangan-jangan mereka ada main? atau kah mereka semalaman berada di dalam satu kamar yang sama dan apa yang mereka lakukan di luar batas kewajaran! sial sekali, aku aja yang mendekatinya tidak pernah mendapatkan apa-apa. Ini si Bos mentang-mentang Bos kali ya! bisa mendapatkan wanita cantik seperti dia, tapi bukankah dia sudah bersuami kenapa berbuat demikian? sikapnya yang lembut dan sopan. Kok jauh dari cerminan." Monolog Burhan dalam hati sambil tertegun melihat ke arah Hadi dan Alisa.
Hadi tersenyum, lalu mencium pipi Alisa kanan dan kiri seolah ingin menunjukkan kemesraan mereka berdua di hadapan para stafnya.
Sementara Alsa tidak bisa berbuat apa-apa ataupun menolak. Kemudian Hadi pun melepaskan rangkulannya terhadap sang istri lalu menoleh ke arah tiga stafnya itu.
Hadi berjalan sambil menunjuk. tangan Alisa agar duduk bersama dirinya berhadapan dengan Zidan, Burhan dan Mita.
"Apa kabar semuanya?" tanya Hadi sambil menatap ketiganya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Sebelumnya Hadi menyuruh ketiganya untuk duduk di sofa, lantas duduk berhadapan.
"Baik, alhamdulillah! gimana sebaliknya?" jawabnya Zidan sekaligus balik bertanya.
"Baik, seperti yang kau lihat." balas Hadi, lalu mengalihkan pandangan pada Mita yang bengong dan perhatikan tangan Hadi yang terus memegangi tangan Alisa.
"Em ... saya baik, Pak ..." Mita mengangguk ramah.
Sementara Burhan masih sibuk dengan pemikirannya sendiri dan matanya terus melihat ke arah Alisa dan Hadi bergantian, rasa curiga dan tidak percaya terus menghantui pikiran dan hatinya.
"Gila, duduk pun sampai benar-benar berdempetan begitu, padahal Hadi itu sudah punya istri yang cantik, punya anak dan aku rasa anaknya juga seusia Alisa. sungguh aku tuh pesona dengan kecantikan nya, ku kira dia wanita baik-baik, Hem. Ternyata ... dia hidangan Bos." dalam hatinya Burhan menjadi mencemooh sosok Alisa.
"Baguslah, kalau kabar Kalian bertiga ini baik, oh ya! saya ucapkan terima kasih dengan kerja keras kalian yang bisa menjalankan tugas dengan baik dan juga membantu Alisa untuk mengerjakan tugasnya." Jelas Hadi yang ditujukan ke mereka bertiga.
"Sama-sama, karena itu memang sudah menjadi tugas kami," jawabnya Zidan sembari mengangguk.
Perkataan Zidan, di dukung dengan anggukan dari Mita.
"Oh, ya, kamu Burhan! saya titipkan Alisa itu untuk kamu jaga bukan untuk kamu goda!" ucap Hadi yang kini tunjukkan kepada Burhan yang tampak melamun.
__ADS_1
Karena Burhan terlihat melamun. Mita yang lebih dekat dengan dirinya sedikit menggoyang tangan dia. "Pak Burhan. itu Pak Hadi sedang bicara pada anda kok malah melamun!"
Burhan tersadar dan menoleh pada Mita dan Hadi bergantian.
"Ha, apa bos? sorry. Saya kurang fokus?" Burhan menajamkan pandangannya ke arah Hadi.
"Hem ... kamu saya pindahkan sementara ke Jakarta untuk mendampingi Zidan, Mita dan menjaga Alisa sebagai staf baru. men ... jaga bukan untuk Kau goda!" Hadi mengulang perkataan yang tadi.
"He he he siapa yang menggoda Pak? saya tidak menggoda, karena Zidan bilang dia sudah bersuami, tapi aneh sekali jika semalaman anda berada di sini berduaan dengan wanita yang sudah bersuami. Bahkan dengan apa yang saya lihat barusan sungguh membuat hati saya tercengang tidak percaya namun nyata di depan mata, nggak percaya kalau dia bisa berbuat demikian dengan pria lain," ungkap Burhan sembari menggerak-gerakan tangannya.
Hadi menghela nafas yang panjang sembari memandang lekat ke arah pemuda tersebut. "Apa kau tahu siapa suaminya? sehingga kau berani berspekulasi buruk tentang dia dan juga saya! karena kamu berpikir saya semalaman di sini dan melihat pemandangan yang aneh!"
Burhan mengalihkan pandangan nya pada Alisa yang duduk manis di sampingnya Hadi. Dan walau terlihat samar namun begitu jelas dalam pandangan Burhan, terdapat banyak tanda merah bertebaran di area leher wanita muda tersebut.
Alisa menunduk malu dan merapikan rambutnya ke dua sisi samping, dia baru sadar kalau lehernya terekspos tanpa adanya penutup lain atau rambut sedari tadi.
"Saya tidak tahu siapa dan di mana suaminya, dan itu yang saya heran! membiarkan istri cantiknya sendirian tugas ke luar kota, emang gak aneh sih ... tapi apa nggak sayang itu ya? kalau istrinya digoda orang--"
"Termasuk kamu gitu yang menggoda dia?" timbalnya Hadi memotong perkataan dari Burhan.
"He he he ... saya sih cuman cuap-cuap saja Pak, menggoda pun masih dalam batas wajar. Gimana kalau orang lain yang melebihi dari wajar bahkan berbuat jahat! apa nggak sayang tuh!" jawabnya Burhan tanpa ragu-ragu mengatakan itu pada Hadi dan di hadapan yang lain.
"Supaya kamu tahu ya! kalau sebenarnya ... Alisa adalah istri saya--"
DUAAAAARRRRR ....
Bagai suara ledakan yang yang memenuhi gendang telinga, atau suara petir yang menyambar ....
...🌼---🌼...
Apa kabar hari ini reader semua. Masih setia kan dengan Alisa dan Hadi? jika masih. Makasih ya.
__ADS_1