
Setelah itu, Alisa bersiap untuk berangkat kerja bersama Hadi dan bekas makan di bereskan sama mbak, karena kata Hadi sudah siang nih.
Selama perjalanan. Tidak banyak kata yang terucap dari keduanya dan memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sesekali Hadi melirik ke arah Alisa yang begitu anteng melihat keluar jendela menikmati suasana yang masih pagi dan udara pun belum terlalu bercampur dengan polusi.
Selang beberapa puluh menit di jalan. Tibalah di kantor dan Alisa lebih dulu masuk ke dalam ruangannya.
Baru saja Alisa masuk, sudah dikejutkan dengan adanya sebuah buket bunga mawar merah tergeletak di mejanya.
"Bunga dari siapa nih? bukan yang kemarin kok," ucap Alisa sambil menoleh ke tong sampah yang kemarin Hadi buang bunga dari Zidan, yang kini sudah bersih.
"Dari siapa ya?" Alisa menatap tajam ke arah bunga tersebut dan lalu dia ambil terus menciumnya wanginya.
"Dari Zidan lagi kah?" Alisa celingukan sambil duduk memegangi bunga tersebut.
"Suka gak bunganya?" suara Hadi mengagetkan Alisa yang sedang menciumi bunga tersebut.
Alisa kaget dan sontak menoleh ke arah sumber suara. Dimana Hadi masuk dan mendatanginya. "Om?"
"Suka gak bunganya?" lagi-lagi Hadi bertanya sembari menyandarkan bokongnya di meja kerja Alisa.
Alisa mengerutkan keningnya, lalu menatap bunga yang barada di tangan dan ke arah Hadi bergantian. "Ini ... Ini dari, Om?"
"Iya, kemarin saya sudah membuang bunga pemberian dari Zidan dan sekarang saya ganti dengan yang lebih bagus. Semoga kau suka!" ungkap Hadi dengan sedikit menaik-turunkan alisnya.
"Terima kasih?" ucap Alisa sambil menyimpan bunga tersebut di tempat semula.
"Kok gitu, raut wajahnya! jadi kurang senang gitu kalau di kasih sama suami? beda dengan di kasih sama Zidan. Sumringah betul." Hadi berkata demikian karena Alisa terlihat biasa saja.
"Kata siapa? jangan fitnah deh ... aku suka kok!" kata Alisa sambil mesem.
Hadi mengambil bunganya yang Alisa pikir mau di buang lagi.
"Jangan, Om. Aku suka kok, jangan dibuang, sayang lho. Mubazir! masa mau di bunga lagi? mentang-mentang banyak duit, di beli untuk di buang gitu?" ucapan Alisa merepet kaya petasan.
__ADS_1
Hadi yang memegangi bunga tersebut menatap datar ke arah Alisa yang merepet dan tangan terangkat di udara.
"Merepet saja, emang siapa yang mau buang?" jadi menghirup baunya bunga yang berada di tangan.
"Ya, kali aja mau Om buang seperti kemarin. Gak sayang amat, sudah bagus-bagus di buang! emang gak di beli apa? jangan mentang-mentang banyak duit dan gampang membelinya di bikin mubazir." Lagi-lagi Alisa bicara tanpa jeda.
"Begitu kah menurut mu?" Hadi memandangi Alisa dengan lekat.
"Iya lah, memang begitu kalau orang kaya suka semaunya dengan barang-barang yang bisa dia beli tanpa memikirkan perlu apa tidak--"
"Shuttt ..." Hadi menempelkan telunjuknya di bibir Alisa sambil menggelengkan kepalanya.
Alisa terdiam sambil melihat gerakan tangan Hadi yang mengambil sesuatu dari bagian dalam buket bunga tersebut. Rupanya di san terselip sebuah kotak kecil berwarna ping.
Bunga, jadi simpan di tempat semula dan ... lantas membuka kotak tersebut yang berisi sebuah kalung permata, kecil namun terlihat indah.
Membuat manik mata Alisa terbelalak dengan sangat sempurna ke arah kalung tersebut dan juga mulut menganga. "Uwaw ... indah sekali!"
"Kamu suka?" tanya Hadi kepada Alisa yang tak tak berkedip melihatnya.
Alisa tidak menjawab, ia tidak bisa membayangkan untuk memilikinya. Takut kecewa! mending kalau itu untuknya, kalau bukan? yang ada sakit hati.
Alisa tampak menggigit bibir bawahnya, bikin Hadi merasa gemas dan ingin ikut mengigit benda kenyal itu yang sudah mulai menjadi racun dalam dirinya.
"Em, eh ... suka. Tapi sepertinya itu terlalu mahal untuk ku dan kurang cocok buat ku!" elak Alisa dan dia tidak mau berasumsi kalau barang itu untuk dirinya. Kerana siapa tahu ituk istri pertamanya di rumah.
"Kenapa bilang begitu? kau istri ku, masa aku gak bisa belikan kamu barang mahal dan bagus! berdirilah?" ucap Hadi yang membuat alis terkejut.
Apakah benar itu kalung buat dirinya? barang bagus dan mahal, bukan buat istrinya yang di rumah?
Alisa berdiri dengan sedikit kebingungan, Hadi memberi isyarat agar Alisa memunggungi dirinya.
Hadi mulai menggerakkan tangannya dan menyingkirkan rambut Alisa ke samping, begitupun tangan Alisa yang merapikan rambutnya menyamping.
Sehingga leher jenjang Alisa terekspos dengan sempurna di depan mata Hadi. Sejenak Hadi tertegun memandangi leher Alisa yang jenjang dan mulus.
__ADS_1
Lalu detik kemudian memasangkan kalung yang dia pegang, kini kalung tersebut sudah menggantung dan terpasang di leher Alisa yang tidak memakai apapun.
Bukan gak punya, karena dia juga ada pemberian dari Hadi ketika lamaran. Namun tidak dia kenakan dan di simpan saja.
Bibir Alisa tertarik ke samping, menunjukan senyumnya mengembang. Ini pertama kalinya di pasangkan kalung oleh seorang laki-laki.
Perasaan Alisa begitu tidak karuan. Deg-degan, alias berdebar dan semacamnya lah. Apalagi ketika hembusan nafas Hadi yang menyapu kulit tengkuknya.
Netra Hadi terus menatapi leher belakang Alisa dan ... lalu sedikit membungkuk, perlahan mendekati. Cuph! kecupan kecil mendarat di sekitar leher belakang, kedua tangannya memegangi kedua bahu Alisa.
Dan Alisa dengan refleks memejamkan kedua manik matanya, merasakan sebuah sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ingin rasanya kabur dari hadapan Hadi tapi tak mampu melakukan apapun.
Antara hati dan pikirannya tidak pernah sejalan. Selalu bertolak belakang.
Kemudian Hadi memutar badan Alisa yang langsung membuka kedua matanya. Sorot mata Hadi tertuju pada kalung tersebut yang kini terpasang di leher Alisa.
"Beneran ini buat aku?" suara Alisa pelan dengan manik mata ke arah kalung yang menggantung itu.
"Tentu, itu buat kamu dan buat apa saya pakaikan ke kamu kalau bukan buat orang lain!" Jawabnya Hadi sembari menatap lekat ke wajah Alisa.
Alisa mendongak dan menatap sesaat, makasih ya? makasih banyak," ucap Alisa sembari menyentuh kembali kalungnya.
"Di pakai ya? kalungnya!" pinta Hadi lalu mengecup kening Alisa dengan durasi yang lama.
Nyesss ....
Lagi-lagi kedua manik mata Alisa kembali terpejam. Ketika bibir Hadi menempel di keningnya.
Setelah itu, jari Hadi menyentuh dagunya Alisa agar mendongak dan kepala Hadi menunduk mengecup pipi Alis kanan dan kiri.
Tubuh Alisa benar-benar mematung. Perasaannya bercampur aduk. Antara nyaman, was-was. Dag-dig-dug jantung ini bagai bedug yang di tabuh, bagai bak ingin melompat dari tempatnya.
Sejenak keduanya saling bertukar pandangan begitu dalam. Dengan posisi tangan Hadi yang masih sama memegangi dagu Alisa, dia mendekatkan wajahnya kembali ke satu titik yang bikin dia candu untuk menyentuhnya! seketika itu terdengar suara derap langkah seseorang yang yang datang dan terdengar mengetuk pintu ....
.
__ADS_1
...🌼----🌼...
Sudahkah Alisa menerima Hadi sebagai suami? adakah secercah cinta yang tumbuh dalam hati Alisa!