
Setelah beberapa suap, Diana mengangkat tangan nya. "Cukup, Lisa ... Tante sudah kenyang, kau lanjutkan saja makan mu. Nanti kalau sudah selesai makan! temui Tante ya?" pinta Diana dengan sangat lirih.
Diana di antar ke kamarnya oleh sang suami. Meninggalkan ruang makan.
Sementara Alisa termangu melihat kepergian Diana dengan suami dan asistennya.
Liana menepuk bahunya. Alisa yang melamun. “Hi, makan? jangan bengong begitu, nanti kita temui mama di kamarnya,” ucap Liana.
“Iya.” Alisa mengangguk.
Kemudian mereka melanjutkan makannya. Walau dengan perasaan yang kurang baik dan penuh rasa yang bercampur aduk.
“Kak, Dirga tidak tega melihat mama seperti itu terus. Kasian Kak. Kapan sembuh nya?” gumamnya Putra yang merasa sedih melihat kondisi sang bunda seperti itu.
Semua yang berada di sana menoleh kepada Putra Dirgantara dengan tatapan yang penuh haru. Alisa dan Liana tidak tau harus berkata apa?
“Sayang ... yang sabar ya? mama pasti sembuh kok, percaya lah sama Tante?” ucapnya Dania sambil menatap ke arah anak bungsu dari Diana alias keponakan nya itu.
“Tapi kapan, Tante? Sudah lama mama sakit-sakitan begitu kan?” keluh Putra dengan nada sedih.
“Em ... Dirga berdoa saja ya? semoga mama nya cepat sembuh sepertu semula dan Allah tak kan menguji hambanya di laur batas kemampuan nya.” Alisa mengusap pipi Putra Dirgantara yang kebetulan duduknya tidak jauh dari Alisa.
Putra mengusap sudut matanya yang mulai basah, dan jemari Alisa pun ikut mengeringkan nya.
“Sudah, jangan sedih ya? ayo makan nya di lanjut, nanti malah Putra yang sakit gimana? kan mama akan sedih bila melihat Putra sakit nanti. Yang sabar ya?” lanjut Alisa kembali lalu menoleh pada Liana yang pasti merasakan hal yang sama. Tangan Alisa mengusap punggung tangan Liana untuk memberikan kekuatan.
“Makasih Alisa?” Liana tersenyum getir kepada sahabatnya itu.
“Iya sama-sama, Lian ... kau harus sabar ya dan banyak-banyak berdoa agar allah memberi kesabaran dan kesembuhan pada Tante!” ucap kembali Alisa.
Detik kemudian. Mereka menghabiskan makannya dan selepas itu Alisa dan Liana ke kamar Diana untuk menemui wanita yang sakit-sakitan tersebut.
“Apa ya yang akan mereka bicarakan?” jiwa kepo Dania meronta dengan apa yang akan Diana bicarakan dengan Alisa.
“Permisi Tante?” Alisa berdiri di depan pintu yang terbuka itu.
__ADS_1
Di belakangnya Alisa, Liana yang mengajak nya masuk.
Diana yang sedang duduk dengan asistennya menoleh dan menggerakkan wajahnya seolah menyuruh Alisa masuk.
Dengan senyum lesu. Diana menyuruh Alisa untuk masuk. “Sini masuk Lisa ....”
Alisa pun berjalan mengikuti Liana yang lebih duluan berjalan dan duduk di dekat sang bunda.
‘Duduk lah?” pinta Diana pada Alisa yang masih berdiri.
“Makasih Tante, oya ada apa ya? hatiku jadi tak karuan begini. Apa aku ada salah pada tante atau keluarga ini?” selidik Alisa dengan lirih kepada Diana.
“Oh, tidak Alisa ... Lisa tidak ada salah apapun. Sama kita semua. Tante hanya ingin mengatakan sesuatu yang menurut Tante sangat penting!”
“Tentang apa tuh, Tante? Aku menjadi penasaran.” Kata Alisa sambil sedikit mengulas senyum nya.
“Begini ... seperti yang kau tau gimana kondisi Tante ini, Tante rasanya tidak akan tenang bila meninggalkan suami dan anak-anak tanpa ada yang menggantikan peran. Tante selama ini, bahkan sudah beberapa tahun ini ... Tante lepas kewajiban Tante sebagai seorang istri karena sakit.” Ungkap Diana dengan lirih.
Alisa dan Liana saling pandang dengan hati yang deg-degan terutama Alisa.
“Jujur, Tante pesimis Lisa ... Tante ingin kamu menggantikan. Tante di keluarga ini,” lirih nya Diana penuh harap kepada Alisa.
Deg, Alisa merasa tidak percaya dengan yang dia dengar saat itu. “Tante bicara apa sih? Dan itu tidak mungkin, Tante. Aku sudah punya kekasih dan itu memang tidak mungkin. Gak akan bisa aku menggantikan peran Tante di keluarga ini.”
Alisa menggeleng beberapa kali. Merasa itu sangat tidak mungkin, bisa menggantikan posisi Diana di keluarga itu.
"Sebelum ijab kabul terucap, kau masih berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup mu," lirihnya Diana sembari menghela nafas panjang
"Iya sih, Tante. Tapi tidak segampang itu." Alisa lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
“Tante ini serius, Lisa ... Tante melamar mu untuk menikah dengan suami tante.” Sambung Diana sembari menatap lekat ke arah gadis yang seusia dengan putrinya itu.
Alisa menggelengkan kepalanya. “Itu tidak mungkin, Tante? aku gak mungkin menikah dengan om Hadi. Aku punya kekasih dan aku gak mau mengambil kebahagiaan kalian semua.”
Liana, tak sepatah katapun bicara, dia hanya sesekali mengusap ujung matanya yang basah dan berusaha menyembunyikan nya dari orang-orang yang berada di sana.
__ADS_1
“Gimana sih? Katanya mau melamar ku? Tapi melamar anak bau kencur itu! Aneh ... justru aku lebih layak untuk abang ketimbang anak bau kencur itu yang belum tau apa-apa,” gumam nya Dania yang berdiri di balik pintu kamarnya Diana.
Dania berdiri di sana dan sengaja mendengarkan pembicaraan Diana dan Alisa. Kemudian berjalan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ehem, boleh saya bergabung? Dan bicarakan apa sih ... serius banget.” Dania berjalan menghampiri mereka bertiga.
Diana menoleh dan begitupun dengan yang lain kepada Dania yang tiba-tiba datang tanpa permisi terlebih dahulu.
“Em ... ini, Mbak mau melamar Alisa untuk menikah dengan
abang. Karena sepertinya abang kurang setuju bila menikahi mu, Dania.” Ungkap Diana kepada adiknya tersebut.
“Tapi, Mbak? Anak bau kencur seperti dia mana tahu berumah tangga? dia belum punya
pengalaman?” protes Dania sembari menatap tajam ke arah Alisa.
Diana menggeleng pelan seraya berkata. “Kalau soal pengalaman kan bisa datang sendiri, Mbak juga dulu biarpun ketika menikah dengan usia yang cukup dewasa. Sama aja tidak berpengalaman. Begitupun dengan dia yang belum berpengalaman.”
“Tapi Mbak ... aku jelas ada pertalian darah dengan mu,
sedangkan dia bukan siapa-siapa, Mbak ...” lagi-lagi Dania memprotes keputusan sang kakak.
“Em ... Tante, mungin Tante Dania benar, Tante Dania lebih tepat untuk menggantikan posisi, Tante Diana, bila ingin om menikah lagi.” Alisa lirih yang ditujukan kepada Diana.
“Tidak, Tante akan melamar mu buat suami, Tante!” kata Diana kekeh dengan pendiriannya, dia yakin kalau Alisa gadis yang lebih tepat.
“Mbak, dengarkan adik mu ini! Alisa sudah jelas sudah punya kekasih. Biarlah dia melanjutkan hidup dengan kekasihnya itu. Mendingan Mbak cari yang lain mungkin?” ucap Dania yang tetap tidak setuju jika Alisa harus menyingkirkan dia sebagai calon nya Hadi.
Liana menatap ke arah tantenya yang sangat percaya diri itu ....
.
.
Mohon dukungannya ya reader ku. Komentar like dan lain-lainnya ya agar author semakin semangat berkarya nya.
__ADS_1