Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Sorry


__ADS_3

Mobil yang di dikemudikan Pak Mur, berhenti di depan sekolahnya Dirga.


"Terima kasih ya Mommy sudah mengantar kan aku?" anak itu mencium tangan Alisa.


"Iya, sama-sama. Sekolah dan belajar yang baik dan yang pinter ya?" balasnya Alisa sambil mengusap dan merapikan rambut Dirga.


Lanjut mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, menuju yayasan dimana adik-adik nya berada.


"Pak, tolong mampiri dulu ke Alfamart ya? aku mau belajar buat anak-anak." Pintanya Alisa pada pak Mur, yang langsung memberikan respon dengan anggukan.


Di depan Alfamart pun mobil berhenti sesuai permintaan sang majikan. Menepi tidak jauh dari Alfamart.


Alisa bergegas memasuki tempat tersenut untuk belanja makanan buat kedua adiknya. Lilis dan juga Sinta.


"Woi ... lagi apa nih ibu negara?" suara Liana mengagetkan Alisa yang sedang memilih barang yang mau dia beli.


"Kau ini membuatku kaget saja, nggak bilang-bilang napa? emangnya nggak kuliah ngikutan aku?" kata Alisa sambil mengambil belanjaannya dalam keranjang.


"Nggak, lagi libur gue. Nggak kuliah!" jawabnya Liana sembari melihat-lihat barang-barang yang ada di sana. Kemudian dia mengambil minuman kotak berapa biji dan dia masukkan juga ke dalam troli yang dipegang oleh Alisa.


"Ya sudah ... kalau gitu ikut aja sama aku, apa mau ikut juga ke kantor?" ucapnya Alisa sambil berjalan dan mendorong troli belanjaan.


"Boleh juga sih ... daripada gue nggak ada kegiatan. Kali aja dapat ketemu cowok-cowok ganteng di sana hi hi hi ..." Liana membebaskan rambut dengan gaya centilnya.


"Iih centil banget sih lo, kecentilan tahu! emangnya lu mau yang kayak gimana? banyak kok di kantor juga, berserakan tuh cowok-cowok ganteng!" tanyanya Alisa.


"Lo pikir sayuran, berserakan, ha ha ha ..." Liana tertawa lebar.


"Ketawanya jangan lebar banget, pamali. Nanti banyak yang masuk. masih mending setan yang masuk nggak kelihatan, halus. Kalau angkot masuk ke mulut lu bisa celaka!" Alisa nyeleneh.


"Iddih, ngarang ... mana ada angkot masuk mulut! mulut buaya? he he he ...."


Kemudian keduanya membayar belanjaan dan langsung kembali meluncur ke yayasan, sesekali Alisa melihat jam yang berada di tangan kirinya.


Dan tidak lama kemudian mobil pun tiba di depan yayasan. Sebelum turun pun sudah kelihatan kalau di sana ada Bu Juli dan adik-adiknya yang sudah menunggu kedatangan Alisa, Alisa langsung turun, berlari memeluk mereka bertiga bergantian.


"Apa kabar Ibu? apa kabar kalian berdua. Aku kangen sama kalian?" Lisa memeluk sang ibu dengan sangat erat lalu memeluk kedua adiknya yang sekarang sudah semakin tumbuh besar.


"Alhamdulillah ... kabar Ibu baik gimana kabar kamu juga, Nak?" tanya balik sang ibunda sambil memeluk dengan erat Putri sulungnya itu.

__ADS_1


"Lisa baik, Bu ... seperti yang Ibu lihat." Jawabnya Alisa sambil mengamati dirinya sendiri.


"Wah ... kalian juga semakin besar sekarang, tubuh kalian tuh hampir sama dengan aku bahkan bisa melebihi aku nih tingginya!" Lisa menatap kepada Lilis dan Sinta yang tingginya sudah hampir sama dengan dirinya.


"Iya dong ... kan namanya juga orang hidup, ya tumbuh lah!" jawabnya Lilis dan Sinta lalu memeluk sang kakak.


Kedua adik Alisa pun merasa rindu sekali kepada sang kakak yang memang jarang bertemu.


"Sekarang Kak Lisa lebih gemukkan, beda dari kemarin-kemarin ya?" kata Sinta kepada Lilis.


"Ho'oh, sekarang Kak Lisa lebih gemuk dan cantik. Iih nanti gemuk banget nggak! diet Kak?" tanya kedua adiknya kepada Alisa.


"Eh ... emangnya kalian belum tahu kalau Alisa ini sedang hamil? jadi wajar kalau dia lebih gemuk dan tidak boleh diet!" celetuknya Liana dari belakang, dia berdiri di dekat kresek belanjaan yang barusan diantarkan sama sopir.


"Ya ... kok ngomong duluan sih? aku kan mau bikin kejutan!" Alisa melirik ke arah Liana.


"Uups, sorry. Tapi kan apa salahnya diomongin sekarang biar nanti menjadi doa, iya kan Bu?" Liana mendelik pada Alisa lalu melihat ke arah ibu Juli.


Mendengar Apisa hamil. Bu Juli langsung tersenyum bahagia. "Ya Allah ... beneran kamu hamil lagi?"


Alisa menanggapi pertanyaan sang ibu dengan anggukan. "Bu doain Alisa ya? biar sehat semuanya."


"Berarti kita berdua mau punya keponakan dong?" Lilis menatap ke arah Alisa dan Liana bergantian.


"Iya dong ... kalian itu mau punya keponakan. Kalian mau request nggak? adek aku aja udah request bawel, mau bayi kembar cowok dan cewek. Terus kalian sendiri mau apa?" Liana merangkul bahu mereka berdua.


"Em ... aku sih mau cowok atau cewek terserah. Yang penting sehat saja." Jawabnya Lilis yang ditimpali oleh Sinta.


"Hooh. Kalau bisa sih ... mirip kita berdua ya Kak?" Sinta menolehkan kepalanya pada Lilis.


"Cielahhh ... ya mirip ibu bapak nya lah, masa mirip kalian berdua!" Liana menggeleng sambil tersenyum.


Kemudian setelah memberikan belanjaannya, Alisa pun berpamitan. Karena memang sudah terlalu siang untuk ke kantor. Kedua adiknya pun mau masuk sekolah.


"Ibu, aku berangkat dulu ya? besok atau lusa aku akan main ke rumah Ibu, ada di rumah kan?" Alisa memegangi kedua tangan sang Bunda.


"Iya, Ibu akan ada di rumah. Kalau Lisa mau datang ke sana! oh iya, jaga kesehatannya baik-baik ya jaga kehamilannya juga jangan sembarangan makan apa-apa rus di jaga, pokoknya hati-hati!" sang ibu memeluk Putri sulungnya sejenak.


Lalu Alisa memasuki mobilnya sementara Liana menaiki motornya.

__ADS_1


"Dah ... Assalamualaikum?" Alisa melambaikan tangan kepada ibu dan kedua adiknya.


Mobil yang dikemudikan oleh Pak Mur, terus meluncur menuju kantor pusat. Di belakangnya mobil yang di tumpangi Alisa terlihat motor Liana yang terus mengikuti dari belakang.


Alisa disambut ramah oleh para staf dan karyawan yang berpapasan dengan dirinya di kantor tersebut.


"Lama juga, gue nggak pernah ke sini. Pangling juga!" kata Liana sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan gedung yang ada di sana.


Mereka berdua masih berdiri di sebuah koridor yang tidak jauh dari ruangan kerja, Alisa dan Hadi.


Bugk. Brak ....


Ada yang menyenggol bahu Liana dan barang orang yang menyenggol Liana itu terjatuh berserakan di lantai.


Alisa melihat berkas yang berserakan di lantai, dengan refleks berjongkok dan merapikannya, begitupun dengan orang pemiliknya! seorang pria tampan yang memiliki tubuh atletis ikut mengambil barangnya.


"Hati-hati dong ... Zidan, kok terburu-buru sih, ada apa?" sapa Alisa sembari memberikan berkas-berkas yang ia pungut dari lantai.


"Ooh iya, sorry? bener! aku sedang terburu-buru mau ke ruangan kerja ku!" balasnya Zidan sambil tersenyum ka arah Alisa.


"Woi, aku yang ditabrak kok minta maaf sama dia sih!" suara Liana membuat Zidan dan Alisa menolehkan kepalanya kepada Liana yang bersuara cempreng itu.


"Iya sorry-sorry? aku terburu-buru!" Zidan meminta maaf kepada Liana yang sudah ditabrak bahunya.


"Aku yang sakit karena di tabrak, kok bukannya minta maaf sama aku, malah sama orang!" Liana tampak ketus.


"Lian ... Zidan kan sudah minta maaf! kok kamu gitu sih napa?" protes Alisa kepada Liana.


"Iya-iya diterima kok ibu negara ... tenang saja aku cuma bercanda!" Liana menunjukan senyumnya kepada ramahnya pada Alisa dan Zidan.


"Kalian sudah saling kenal kan?" tanya Alisa pada Liana dan Zidan.


"Ka-kami sudah kenal ya? jadi tidak perlu kenalan lagi ya?" Liana melihat ke arah Zidan yang langsung mengangguk.


"Oo! ya sudah kalau sudah saling kenal, Yo kita ke ruangan ku? sudah siang nih!" Alisa menarik tangan Liana di ajaknya berjalan maju.


Namun mata Liana menoleh ke arah belakang, yaitu melihat Zidan dan begitupun Zidan yang melihat ke arah dirinya. Padahal sedang berjalan berlainan arah ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya.


__ADS_2