
“Jawab Lisa? Apa benar yang dikatakan oleh mama ku?” tanya Rahman kembali, dia mulai terhasut omongan dari mama nya.
Air mata alisa semakin deras berjatuhan dan rasa sesak sangat menyiksanya di saat ini. “A-aku, pergi dengan om Hadi—“
Brakkkk ....
Rahman memukul meja sekuatnya. Sehingga hancur ke lantai, membuat Alisa terkaget-kaget dan dengan refleks memejamkan kedua manik matanya serta menutup kedua telinganya. Hatinya dibuat ngeri dengan perilaku Rahman saat ini.
Bahkan semua orang yang berada di san apun merasa kaget dan ngeri. Mata Rahman mendadak merah dan rahangnya mengerat, menatap ke arah sang kekasih.
“Aku tidak menyangka orang yang aku sayangi selama ini mengkhianati ku?” pekiknya Rahman.
“Man, aku bisa jelaskan itu semua.” Belanya Alisa setelah membuka matanya.
“Apa yang akan kau akan jelaskan lagi ha? kau sudah mengkhianati ku. Seandainya kau butuh sesuatu seharusnya kau bilang padaku agar aku dapat membantu mu, bukan menjual diri se—“
“Cukup! Aku tidak serendah yang kalian pikirkan, Man. Aku dengan pria itu memang ketemuan, tapi tidak melakukan seperti tante bilang. Dia ayah nya Liana, Man,” Alisa tetap membela diri.
“Oh. Berarti kau ada main dengan ayah sahabat mu sendiri ha? Aku tidak menyangka bila kau sepicik itu, Lisa ... hebat, kau sudah permainkan ku! Kau menghancurkan harapan ku bersama mu.” Prok-prok-prok.” Tangan Rahman bertepuk tangan.
Alisa menoleh kanan dan kiri dirinya masih juga jadi tontonan orang banyak yang sesekali saling berbisik mencibir dan ikut menghujat dirinya.
“Terserah kau percaya atau tidak, yang jelas aku tidak serendah itu. Aku masih punya harga diri. Man,” suara Alisa bergetar menahan tangis. Hatinya terlalu sakit sudah diperlakukan seperti ini.
“Aku kecewa sama kamu Lisa ... aku kecewa! Aku sudah menabung buat kita berdua, sekarang kau hancurkan begitu saja. Tegak kau,” hardiknya Rahman dan lagi-lagi.
Brakkk ....
Rahman membanting kursi hingga hancur berkeping.
Lagi-lagi Alisa menutup telinga dan matanya. Merasa ngeri.
__ADS_1
Mama nya Rahman kini tersenyum di pojokan, menyaksikan prahara dalam hubungan putranya tersebut.
Alisa membuka celemek nya dan dia sudah memutuskan kau saat ini juga dia hengkang dari tempat ini termasuk berhenti bekerja bersama Rahman.
“Aku cape bila harus membela diri lagi, percuma bila kau kau tetap tidak percaya! Saat ini juga aku resign dari sini, makasih kau sudah memberi kesempatan aku bekerja di sini?” Alisa buru-buru pergi daru tempat tersebut.
“Al? Lisa? Tunggu aku?” Rahman berniat mengejar namun di tahan oleh mamanya sehingga dia tidak jadi menyusul Alisa yang terus berlari tanpa menoleh ke belakang lagi.
“Sudah, jangan kau kejar dia. Itu sih mau-mau nya saja, wanita masih banyak bahkan lebih cantik dari dia yang standar begitu! gadis yang benar-benar bisa menjaga diri. Tidak seperti dia, murahan.” Mama nya Rahman terus meracuni pikiran Rahman’
Alisa yang berlari sambil menangis berhenti di stop jalan dan ingin mencari angkutan umum, ini baru sekitar pukul sebelas siang.
Sesak di dada membuat air matanya terus mengalir deras, rasa pedih dan perih menjadi penyebab rasa sakit yang menyiksa jiwanya. Alisa benar-benar di fitnah kau dia sudah masuk hotel dengan om-om, padahal dirinya dan om Hadi hanya berbincang di cafe saja tidak lebih. Kok bisa-bisanya bilang mereka berdua masuk hotel sih?
Lututnya terasa lemas dan bergetar hingga tak mampu berdiri. Alisa yang terus menangis, di bawah sinar matahari yang terik. Wajahnya basah kuyup dengan air mata. Tubuhnya luruh ke tanah sambil terisak-isak tangisnya terdengar pilu.
Semua orang yang melihat hanya melirik dengan sebelah mata, tidak seorang pun ada niat untuk mendekat atau sekedar bertanya kenapa?
“Alisa?” gumamnya sambil memarkirkan mobil ke pinggir dan tidak jauh dari Alisa berada.
Pria itu pun segera turun dan menghampiri Alisa dengan cepat. “Alisa? kau kenapa di sini?”
Alisa mendongak, dengan tatapan penuh dengan air mata dan tampak remang-remang penglihatannya itu. Mengusap pipinya yang basah dan membuang ingusnya.
“Kau kenapa di sini?” Hadi mengangkat bahu Alisa diajaknya berdiri. Lantas dia bawa ke dalam mobil dengan cara di gendong, karena kedua kakinya Alisa sulit untuk di langkahkan.
Hadi memberinya minum, air mineral agar dia lebih tenang. Namun tangisnya semakin menjadi setelah melihat benar-benar wajah Hadi, Alisa menangis sejadi-jadinya. Dan membuang ingus pun sembarangan.
Hadi kebingungan dibuat nya. Dia memberikan Alisa tisu beserta tempatnya, sembari menjalankan mobil nya kembali.
Sesekali melihat Alisa yang masih juga menangis hingga wajah nya banjir dengan air mata. Dada nya terasa sakit dan sesak mengingat perkataan mamanya Rahman yang memfitnah dia yang bukan-bukan.
__ADS_1
Malah menuduh nya boking kamar hotel dengan Hadi segala, sesuatu yang tidak pernah terjadi antara mereka berdua.
Saking lama nya menangis, Alisa sampai-sampai merasa capek dan ketiduran.
Hadi melirik ke arah Alisa yang tertidur. “Hem ... sampai ketiduran begitu nih anak, lagian kenapa sampai dia sedih segitunya? Bukannya dia berkerja? Tapi jam segini berada di pinggir jalan.”
Hadi menepikan mobil nya di pinggir jalan tidak jauh dari kantornya, bingung mau di bawa kemana gadis ini. Di antar? Di antar kemana? Mau langsung ke rumah nya nanti banyak pertanyaan kenapa? akhirnya membawa ke area kantor dan berdiam diri di sana sambil membuka laptopnya di sana.
Di sela-sela sibuk dengan laptop nya, tangan nya Hadi meraih tisu yang ada di tengah-tengah jok, dan mengusap pipi alisa yang masih tampak basah itu.
Ditatap nya dengan intens dengan rasa penasaran, kenapa bisa seperti ini? Kemudian dia kembali mengalihkan pandangan nya ke layar laptop kembali sembari menghela napas panjang.
Setelah beberapa saat Alisa tertidur di jok mobil. Akhirnya Alisa terbangun dan menyisir kan penglihatan nya ke sekitaran dirinya. Lalu melihat ke arah Hadi yang sedang anteng dengan laptop yang berada dalam pangkuan nya itu.
Hadi menoleh ke arah Alisa yang kini meneguk minumnya, dan tampak lebih tenang tersebut. “Kau sudah bangun?”
“Ha? Iya sudah,” jawabnya dengan lirih.
Alisa masih mengumpulkan jiwanya yang masih belum terkumpul tersebut. Kemudian Alisa meneguk minumnya yang berada di sampingnya tersebut.
“Kita ada di mana nih ?” akhirnya Alisa celingukan ke luar mobil.
“Kita sedang berada di sekitaran kantor saya,” jawabnya Hadi sambil tetap anteng dengan laptop nya.
“Ngapain kita di sini?” Alisa menatap heran ke arah Hadi.
Hadi mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Alisa yang
berada di samping tersebut ....
.
__ADS_1
...Bersambung!...