
Akhirnya Hadi dan Alisa mandi bersama, di bawah air shower yang hangat kuku. Setelah puas mencumbu tanpa penetrasi.
"Kau, mesem terus ..." Alisa mendorong dada Hadi yang tidak bosan-bosan mencumbu sehingga tubuhnya berkali-kali bergetar hebat.
"Salah kah sayang? kalau aku menginginkan itu?" Hadi membingkai wajah Alisa dengan tatapan lembut.
Alisa tidak menjawab, melainkan memeluk pria tersebut dengan sangat erat. Hadi pun membalas pelukan tersebut sambil mengusap punggungnya bersama air yang mengalir.
Selepas itu merekapun. Segera bersiap-siap untuk pulang dari kantor. Dan waktu pun sudah menunjukan pukul 17.30 dan sebentar lagi juga Maghrib.
Setibanya di mension. Di sambut oleh Dirga yang minta di belikan robot-robotan. Dan Hadi pun mengiyakannya dengan cepat.
Keduanya beristirahat di balkon sambil menikmati bulan dan bintang yang sudah terlihat menghias malam.
Hadi yang duduk di samping sang istri sambil sibuk dengan laptop dan Alisa sedang membaca novel online nya.
"Apakah semua sudah di urus?" Alisa melirik ke arah sang suami.
"Soal apa?" jadi melirik istri kecilnya itu.
"Soal akad kembali kita!" Alisa menggercapkan matanya.
"Ooh, iya ... sudah! sudah di urus. Tapi kan tanggalnya belum jelas masih menunggu kabar dari keluarga Rahman.
"Ooh." Alisa membulatkan mulutnya.
Hadi merubah posisinya dan semakin mendekat pada Alisa. Merangkul pinggangnya dan mengecup pipi sang istri dengan mesra.
"Pah," suara Liana yang mendatangi papanya.
Membuat sang papa kaget, padahal berniat bermesraan sama sang istri. Dengan reflek menoleh pada sang anak. "Iya ada apa?"
"Kata ibunya Rahman, akad akan di laksanakan tanggal xx tepatnya pada Minggu ini, berarti tiga hari lagi!" kata Liana pada sang ayah. Dan menunjukkan hasil chat mereka kepada Hadi.
"Ohh ... gitu! baguslah berarti sudah jelas waktunya." Hadi kembali memberikan ponsel kepada pemiliknya, Liana.
__ADS_1
"Jadi sayang, kita akadnya di tanggal itu juga bareng-bareng. Di hari yang sama." Hadi melirik ke arah sang istri.
"Akad siapa yang akan bareng?" Liana mengurutkan keningnya karena tidak mengerti.
"Papa mau ngajak Alisa akad lagi, agar pernikahan kami berdua disahkan juga oleh Negara." Jawabnya Hadi.
"Oh. Berarti akadnya akan dilaksanakan pada hari yang sama dengan ku kan?" tanya kembali Liana.
"Iya benar, biar lebih di sahkan lagi bukan cuma agama tapi juga Negara. Oh ya tadi kamu beli barang apa? sehingga kurang uang segala, tabungan kan banyak kok minta transfer sama Lisa!" sang ayah mulai mengintrogasi putrinya.
"Aku ... beli tas ibu mertua, katanya dia pengen ... sekali tas seperti itu dan hadiah dari ku, makanya aku belikan." Jawabnya Liana dengan ragu-ragu.
"Seharusnya kan! mereka yang ngasih sama kamu, mereka juga orang berada. Kecuali kalau emang dia nggak punya apa-apa dan kamu yang ngasih, wajar. Itu mereka juga punya harta kok, dia juga bisa ngasih apa yang kamu mau." Ujar Hadi yang kurang setuju pada sikap sang anak.
"Sekali-sekali, Pah ... belum tentu aku juga keseringan seperti itu!" jawabnya Liana dengan santainya.
"Tapi kalau menurut Papa, itu bukan hanya sekali-sekali tapi mungkin akan keenakan. Beda kalau mereka orang nggak punya ... Papa nggak akan ngelarang kamu ngasih hadiah bahkan kehidupannya sehari pun terserah kamu cukupi. Tapi kalau orangnya macam itu rasanya Papa tidak rela!" jelasnya sang ayah.
"Iya Pah, aku tahu dan aku tak akan mengulanginya lagi," Liana menunduk.
"Coba kamu tanyakan kepada Alisa Mungkin dia lebih tahu gimana perangainya calon mertua kamu itu." Hadi melirik pada sang istri.
Liana mengalihkan pandangannya ke arah Alisa, seolah ingin tahu penjelasan dari Alisa tentang keluarganya Rahman.
"Aku kurang tahu pasti sih, karena emang jarang ketemu sama ibunya! tapi yang jelas ... ketika aku hubungan sama putranya, beliau memang nggak suka karena aku hanya anak orang gak punya. Tahu lah kamu juga, seperti itu Lian ceritanya." Alisa menjelaskan.
"Ya ... sudahlah, yang sudah biar saja. Anggap saja sebagai hadiah, tapi nanti-nanti janganlah ... mendingan kamu ngasih sedekah sama orang yang sangat membutuhkan, ketimbang kamu memberi orang yang kaya." Jelasnya Hadi pada Liana.
Kemudian, Liana pun keluar dari tempat tersebut dan membiarkan papanya dan Alisa berdua kembali seperti semula. Liana menjadi kepikiran soal perkataan sang ayah. Jangan memberi orang kaya! mendingan bersedekah sama orang miskin.
"Ya gimana? bingung juga kalau orang minta hadiah, ya gimana lagi." Gumamnya Liana sembari berjalan menuju kamarnya.
...----------------...
Pagi-pagi di hari Ha. Liana sebagai mempelai wanita, sudah didandani dengan sangat cantik dan kebaya putih bawahan batik warna senada. Sanggul yang besar dan berhias melati juga pernak-pernik ala pengantin umumnya.
__ADS_1
Karena hari ini, dimana dia akan menikah dengan Rahman sang pujaan hati. Yang sesungguhnya telah mengambil kesucian dia, sehingga pernikahan secepatnya terjadi.
Begitupun dengan Alisa, karena dia pun sama akan melakukan akad yang kedua, saat ini dia pun sudah siap dengan dandanan pengantin yang sangatlah tampak cantik dengan paduan kebaya yang berwarna biru pastel serta batik warna senada.
Hanya bedanya tatanan rambut Alisa lebih simple, sanggulnya pun sanggul modern tidak terlalu besar dan berhias melati pun lebih sedikit yang memberikan kesan sederhana namun tidak kalah dengan kesan cantik yang melekat di dirinya. Karena itu yang menjadi permintaan Alisa dan juga Hadi.
Para undangan yang akan turut mendoakan pun sudah tampak hadir, karena keluarga dari m
Rahman belum datang juga. Sehingga akadnya Hadi dan Alisa dilangsungkan terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan Rahman.
Akadnya Hadi dan Alisa begitu hikmat. Berjalan lancar sesuai rencana dan Hadi pun menyebutkan mas kawin yang sudah dia berikan kepada Alisa.
Semua yang ada di sana turut berbahagia dengan peresmiannya pernikahan Hadi dan istri mudanya tersebut. Yang bukan hanya sah di mata agama, namun juga di mata Negara.
Namun dibalik kebahagiaan itu, Liana tampak gusar, gelisah dan cemas karena mempelai prianya belum juga datang.
"Lian kemana mempelai prianya, kok belum datang juga?" tanya sang Oma kepada cucunya itu.
"Entah Oma, aku sudah hubungi namun telepon dari ku nggak diangkat-angkat!" Liana tanpa kesal sambil celingukan dan menggigit Bibir bawahnya.
Dalam hati terus bertanya, kenapa Rahman belum datang juga. Nomornya pun sulit untuk dihubungi. Apa yang terjadi, apa dia akan mangkir dari pernikahan ini?
Keadaan ini benar-benar bikin dia stress. Rasanya ingin menjerit atau mencari keberadaan pria itu sampai.
Alisa yang kini sudah sah menjadi istri Hadi bukan cuman di mata agama namun juga Negara. Alisa Baru saja berpelukan dengan ibunda dan kedua adiknya.
Alisa menoleh pada Liana yang tampak gusar dan terus celingukan karena mempelai prianya tak kunjung juga datang.
"Yank. Lihat Liana. Mempelai prianya belum datang." Alisa setengah berbisik pada pria yang memakai jas putih tulang yang kini berada di sampingnya itu, siapa lagi kalau bukan sang suami tercinta. Hadi.
Hadi menoleh ke arah yang Alisa tunjuk, bagaimanapun dia juga merasa gusar, khawatir dan merasa kesal juga, kenapa Rahman belum juga datang padahal sudah telat 1 jam dari waktu yang sudah ditentukan.
Kemudian Hadi menggerakkan orang suruhannya untuk menyusul Rahman ke kedai miliknya. Siapa tahu dia masih ada di sana, karena di hubungi pun nomor tidak aktif.
"Sial. Apa maunya pemuda itu?" Hadi bergumam dengan penuh rasa kesal. Merasa dipermainkan oleh pemuda kemarin sore ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan kalau ada typo langsung lapor ya