
Liana terus melajukan motornya menyusuri jalan yang menuju ke arah mension. Membawa perasaan yang tidak karuan, sedih kecewa. Menyesal, semua bercampur aduk menjadi satu.
Rasanya ingin menangis dan menjerit sekencangnya. Namun dia harus tegar apalagi di jalanan seperti ini, setidaknya sampai tiba di mansion.
Selang berapa puluh menit kemudian, akhirnya motor Liana sampai juga di depan mansion dan dia meminta security untuk membukakan pintu gerbang.
Security merasa heran, kenapa Liana malam-malam pulang dengan membawa koper besar kayak orang pindahan.
Namun Liana sama sekali tidak berkata apapun. Melainkan dia berjalan setengah berlari ke dalam langsung, dan membiarkan covernya dibawakan oleh security.
Asisten yang membukakan pintu pun bengong melihat Liana pulang malam-malam beserta kovernya. Padahal baru kemarin dia pergi dan mau tinggal bersama suaminya, baru 2 hari 1 malam ini.
Sang Oma yang kebetulan belum tidur pun merasa aneh, kenapa cucunya pulang sendiri dalam ke adaan malam membawa koper pula.
Kemudian sang Oma pun mengikuti langkah Liana yang setengah berlari itu menuju kamarnya.
"Lian, kamu kenapa dan mana suami mu?" selidik Oma nya yang langsung membuntuti sampai ke dalam kamar.
Sementara Liana datang-datang, langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur lalu tangisnya pun pecah.
Melihat kondisi seperti itu, omanya duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut Liana yang menelusup di antara bantal.
Setelah sekian lama dia menangis terisak-isak. Dia bangun dan berhadapan dengan sang oma. "Oma, aku mau cerai! aku nggak mau melanjutkan lagi pernikahan ini dengan Rahman, lagi pula aku nggak hamil kok omah. Saat ini saja aku sedang datang bulan dan aku pun sudah ngecek ke dokter kandungan! bahwa aku tidak hamil."
Mendengar itu oma nya cuman melongo menatap sang cucu yang sedang berderai dengan air mata.
"Rahman itu nggak pernah mencintai aku Oma. Aku sudah menikahi orang yang salah. Aku menyesal Oma. Hik-hik-hik," ucap Liana memeluk Oma nya sambil tersedu. Tangisnya terdengar pilu.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? pernikahan mu dan dia itu baru saja! baru beberapa hari, masa sudah inginkan berpisah seperti itu! masalah dalam rumah tangga itu biasa, Liana ... jangan dibesar-besarkan karena itu bumbunya dalam rumah tangga!" ujar sang oma dengan lirih.
__ADS_1
"Tidak Oma, aku akan meyakinkan diri kalau aku akan berpisah dari Rahman. Dan aku akan minta cerai darinya. Percuma dilanjutkan juga kalau dia itu nggak cinta sama aku, dia belum bisa melupakan Alisa dan aku hanya sebagai pelampiasannya saja, Oma!" ucapnya Liana sembari tersedu.
"Sebentar, Oma mau bertanya. Emangnya Rahman adalah mantannya Alisa, istri papa kamu?" tanya sang oma.
Dan Liana mengangguk membenarkan pertanyaan dari sang oma. "Rahman itu memang kekasihnya Lisa Oma. Dan entah kenapa mereka putus sebelum Alisa dilamar sama. Mama untuk jadikan istri papa."
Omanya Liana terdiam, dia baru tahu kalau Rahman itu ternyata mantannya Alisa yang jadi mantunya sekarang.
"Em ... Sebaiknya kamu pikirkan lagi, Lian. Jangan terburu-buru ya?perceraian itu sangat dibenci sama Allah, pikirkan lagi dengan matang-matang, jangan sampai nanti suatu hari justru Lian juga yang akan menyesal!" ucap lirih sang oma sambil memeluk cucunya tersebut.
"Aku tidak akan menyesal Oma, justru aku akan menyesal kalau aku meneruskan Rumah tanggaku ini dengan dia. Aku pun ingin dicintai setulus hati, Oma. seperti papa yang kini sangat mencintai Alisa aku tahu semuanya butuh proses. Tapi kan Papa itu sedari dulu memang sudah welcome pada Lisa!"
Omanya menghela nafas dengan sangat panjang, dengan terus mengusap punggung Liana yang kini masih terisak.
"Oma, aku mohon jangan cerita dulu sama papa dan juga Alisa soal masalah ini, biar nanti saja kalau mereka sudah pulang aku akan cerita sendiri. Aku nggak mau berita ini mengganggu pikiran mereka berdua yang sedang bersenang-senang dan berbulan madu!" pintanya Liana pada wanita sepuh yang memakai kerudung panjang tersebut.
"Baiklah ... kamu maunya Liana kayak gitu nanti saja Dia anak yang cerita sama papa sama Alisa ketika mereka sudah pulang dari raja Ampat. Lagian biar lebih jelas ceritanya! soalnya kalau Oma itu nggak tahu apa-apa." Sang oma mengangguk setuju atas permintaan sang cucu.
Oma terdiam dan dengan setia mendengarkan cerita sang cucu.
"Rasanya aku tidak dihargai di sana, Oma. Aku nggak akan sanggup bila lama di sana! makanya aku ingin bercerai saja," sambungnya Liana.
"Baiklah ... Oma hanya bisa mendoakan yang terbaik buat cucu-cucu Oma, begitupun dirimu! biarpun Oma ingin rumah tangga kamu dan Rahman baik-baik saja ... tapi kalau memang kamu tidak merasa nyaman bahkan tertekan. Oma tidak bisa apa-apa!" ujar wanita sepuh tersebut sembari memegang tangan Liana.
Kemudian Liana melepaskan cincin yang melingkar di jarinya, cincin mas kawin dan cincin pemberian Rahman ketika pacaran. Lantas dia masukkan ke dalam dompet, suatu saat nanti dia akan kembalikan pada Rahman.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat saja! sudah malam dan apapun keadaannya ataupun masalah yang sedang kau hadapi. Jangan sampai terpuruk, hadapi dengan kuat dan tegar, Oma yakin suatu saat nanti kalau memang Rahman bukan jodoh mu yang terbaik. Kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia!" ujar sang oma sembari menatap cucunya itu.
"Ya. Oma ... aku juga akan segera istirahat dan aku akan hadapi semuanya dengan tegar tanpa ada penyesalan nantinya." Sembari mengembuskan nafas dari mulut.
__ADS_1
"Bagus itu, Oma bangga padamu!" oma kembali memeluk Liana dengan sangat erat
Setelah kepergian sang oma, Liana Menganti pakaian. Sebelumnya mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.dan berkali-kali menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan sangat panjang! untuk menghilangkan semua beban yang ada.
...-----...
Setelah sekitar 5 sampai 7 jam jarak tempuh Antara Jakarta ke kabupaten raja Ampat, akhirnya saat ini Hadi dan Alisa sudah berada di sebuah hotel.
Kini Alisa dan Hadi sudah berada di sebuah hotel yang berada di kabupaten raja Ampat dan karena tibanya sudah terlalu malam, sehingga pemandangan tidak terlalu terlihat karena keadaan gelap. Dan mereka berdua pun langsung saja mendatangi hotel yang akan mereka tempati.
"Aduh ... rasanya capek banget yank ... Alisa menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
Karena untuk menduduki tempat tidur asalnya sayang banget bila dikacaukan sekarang. Tilam yang putih bersih, berhiaskan banyak kelopak bunga mawar merah dan putih tak ketinggalan juga angsa putih kembar yang berhiaskan pita di leher sangatlah cantik berhadapan di atas tempat tidur.
Dan bibir Alisa tak henti-hentinya tersenyum melihat ke arah tempat tidur tersebut. "Masya Allah ... Cantik sekali!"
"Kamu suka sayang?" tanya Hadi sembari merangkul pinggang Alisa yang sedang duduk di sampingnya.
"Suka, tapi tempat tidurnya nggak usah dipake ya? sayang banget ... nanti tempat tidurnya berantakan, angsanya pun akan rusak," ucap Alisa.
"Sayang ... itu angsa terbuat dari handuk. Handuk buat kita pakai, yang disediakan oleh pihak hotel!" kata Hadi sembari menunjuk ke arah angsa putih tersebut.
"Iya, aku tahu itu terbuat dari handuk, tapi nanti bikinnya susah lagi dan aku nggak bisa, ya? jangan di rusak ya? please ..." Alisa menyatukan kedatangannya di depan dagu.
"Oke, nanti angsanya aku pindahin ke atas meja biar bisa kamu pandangi, oke?" cuph Hadi mendaratkan kecupannya di kening Lisa hingga berapa kali.
Dan sang empu pun memejamkan kedua manik matanya, lantas keduanya membersihkan diri terlebih dahulu! di sebuah kamar mandi yang tampak begitu mewah ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Selamat menjelang hari lebaran bagi semua umat muslim, terima kasih masih mengikuti kisah Alisa dan Hadi.