
"Sekarang istri ku sudah tampak cantik dan press." Hadi menatap sang istri dengan tatapan yang dalam dan sentuhan lembut di pipinya.
Bibi Alisa tersenyum manis. "Gombal!"
"Kok gombal sayang? kan benar, istri sudah cantik dan press. Tampak segar, mudah-mudahan bisa segera sehat dan ku ajak pulang." Tatapan Hadi terkunci di sekitar wajahnya Alisa.
"Aamiin ..." sahut ya Alisa dengan membalas tatap itu yang bikin jantungnya berdebar kencang.
"Bulan depan, kita akan bulan madu bila kesehatan mu benar-benar pulih dan kamu bisa memilih kemana-mana nya, mau masih di dalam Negri ataupun luar Negeri. Boleh aku akan turut kan kemauan istri kecilku ini." Hadi menatap mesra sang istri dengan remasan kecil di jemarinya yang lentik itu.
"Bener, aku boleh memilihnya kemana?" tanya Alisa dengan sorot mata yang berbinar.
"Tentu, sayang tentu kamu yang akan memilihnya." Suara Hadi dengan lembut. Kini tangannya bergerak dan mengarah pada pipi Alisa, di elusnya sangat lembut.
"Em ... tapi aku masih bingung mau kemana!" Alisa merasa bingung.
"Tidak apa-apa pikirkan saja dulu maunya kemana. Yang penting kesehatannya cepat pulih." Cuph kecupan hangat mendarat di kening Alisa sangat mesra.
Tangan Hadi bergerak ke tengkuk ya Alisa serta mendekatkan wajahnya dengan wajah Alisa.
Cuph ... Hadi mengecup bibir Alisa dengan sangat lembut, membuat sang empu memejamkan kedua matanya.
Bibir keduanya menempel dengan durasi begitu lama.
Blak ....
Pintu terbuka, membuat keduanya merasa kaget dan menjauhkan wajah mereka dan menoleh ke arah pintu.
Bu Juli pun yang membuka pintu terkejut dan sekaligus merasa bersalah dengan refleks membalikan tubuhnya. "Maaf gak sengaja!"
Wajah Alisa berubah merah, merasa malu pada sang ibu. Lain dengan Hadi yang tampak lebih santai dan sempet mengusap bibir sang istri yang terlihat basah karena ulahnya tersebut.
"Aku ke toilet dulu sebentar sayang ya?" Hadi turun dan membawa langkah ya ke kamar mandi. Dan Alisa hanya mengangguk pelan.
Alisa menoleh pada sang bunda yang datang menghampiri nya. "Ibu ... apakah Lilis dan Sinta di kasih tau kalau aku di sini? kalau belum ... jangan di kasih tahu biar mereka fokus belajar."
"Belum, lagian kalau di telepon tuh pasti harus melalui gurunya dulu." ibunya Alisa menggeleng.
"Iya, gak usah di kasih tahu saja. Alisa tidak ingin mereka khawatir juga." Tambahnya Alisa.
Sesekali Alisa menoleh ke arah kamar mandi, dimana sang suami yang katanya mau sebentar, tapi sudah sepuluh menit belum keluar juga.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bu Juli berjalan mendekati pintu karena ada yang mengetuk dari luar dan ternyata pak Mur yang mengantarkan baju Alisa.
Hadi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, rupanya dia lama di kamar mandi karena mandi dulu dan dia tampak segar.
"Yank, mandi?" sapa Alisa sambil menatap dengan meneliti.
"Iya, panas sekali." Jawab Hadi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Apa yang panas? sejuk begini Yank ..." Alisa menoleh ke arah AC uang terasa sejuk.
"Panas sayang, ada yang meronta nih!" bisiknya Hadi sembari melirik ke arah Bu Juli yang datang menenteng paper bag.
Kedua manik mata Alisa pun bergerak melihat ke arah sang bunda.
"Em ... Oya Lisa ... sebenarnya ada yang ingin ibu katakan pada Lisa." Sang ibu tampak serius sambil menyimpan paper bag di atas Medan dekat tempat tidur Alisa.
"Apa, Bu ... mau bicara apa? aku merasa deg-degan nih." Alisa menatap lekat pada sang bunda.
Hadi pun ikut melihat dan penasaran pada sang ibu mertua.
"Ibu ... mau menikah lagi. Dan sekarang ini ibu yakin akan lebih baik dari pan Anwar." Bu Juli penuh keyakinan.
Alisa melirik sang suami yang juga melihat ke arah dirinya. Lalu kembali melihat pada sang ibu. Siapa dia Bu ... emang habis Iddah Ibu dari pak Anwar?"
"Kalau menurut saya sih, nggak pa-pa. Lagian mungkin ada kebutuhan yang tidak bisa di penuhi selain ekonomi," ucap Hadi sembari melirik ke arah Alisa.
Lisa mengangguk dengan pendapat sang suami, biarpun dia bisa mencukupi dengan materi. Tapi kebutuhan yang lain kan tidak bisa terpenuhi dengan materi saja.
"Lisa setuju saja, tapi harap ibu mendapat pria yang setidaknya seperti ayah, sayang dan setia pada Ibu. Jangan seperti pak Anwar." Harap Alisa yang tidak ingin sang bunda mendapat pria seperti yang sudah.
"Iya, insyaallah tidak lagi seperti pria itu lagi." Bu Juli sambil tersenyum.
Kini Hadi yang duduk di samping sang istri. Dan tangannya merangkul pinggang sang istri yang menyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan mata terpejam. Sesekali jadi mencium pucuk kepalanya.
Sementara Bu Juli duduk di sofa sambil menonton televisi.
Waktu terus berputar dan kini Alisa sudah hari ke tiga di rumah sakit dan Alisa pun sudah tampak lebih baik dan dokter nyatakan bisa pulang besok pagi.
Sekarang ini keluarga sedang berkumpul di ruangan tersebut. Ibunya Hadi. Liana, Dirga Dedi dan istri. Bu Juli juga berada berkumpul, ada yang sedang makan. Tiduran ada juga yang menonton televisi.
Seperti Hadi saat ini sedang makan sambil menyuapi sang istri. "Lagi gak makannya, hem?"
__ADS_1
Alisa menggeleng sembari berkata. "Nggak ach, kenyang!"
"Biar tambah gemuk dan enak di peluknya!" Hadi mesem dan sambil mengarahkan tangannya yang ada nasi ke mulut Alisa.
"Em ... nanti aku gemuk! matanya jelalatan ke mana-mana!" Alisa mencubit paha Hadi.
"Auw ..." Hadi meringis. "Aku tidak akan menuntut kamu untuk gimana-gimana."
"Iya, gak nuntut. Pas aku gimana-gimana atau gemuk matanya langsung kemana-mana." Jawabnya Alisa kembali.
"Cemburu ya? Hem ... bilang aja cemburu." Kini Hadi mencubit hidung Alisa dengan gemas.
"Woi ... pacaran mulu! jangan bikin iri napa? dah tahu anaknya yang cantik ini belum ada pasangan." Suara Liana sambil mendekati papanya dan Alisa.
"Kamu kan mau kuliah dulu, jadi jangan dulu punya pasangan. Kuliah aja yang benar." Timpal papanya.
"Kau gak ada niatan untuk kuliah Alisa?" Liana menatap ke arah Alisa.
"Nggak ach, aku gak ada minat untuk kuliah. Kuliah itu untuk bekerja. Karena aku sudah dapat kerjaan jadi aku gak mau kuliah." Jawabnya Alisa sambil mesem.
"Hem ... dasar." Liana memanyunkan bibirnya.
"Iya sih, kalau kamu mau kuliah ... nggak pa-pa aku kuliah kan," ucapnya Hadi pada Alisa
Alisa menggeleng. "Nggak mau! kan memang iya, tujuannya kan itu juga, jadi buat apa aku kuliah! kerjaan udah dapet. Lagian kalau suami aku nggak ke urus gimana? intinya aku belum bisa membagi waktu!"
"Ya sudah, nggak apa-apa kalau seandainya suatu waktu pengen kuliah bilang aja, oke?" Hadi mengusap punggung tangan Alisa.
"Iya." Alisa mengangguk pelan sambil melirik ka arah Dirga yang mendekat.
"Mommy kapan pulang?" tanya anak itu sambil glendotan.
"Besok juga mommy pulang," jawabnya Hadi.
"Beneran, Pah besok mommy pulang? hore ... bisa dianterin mommy lagi sekolah!" anak itu tampak senang mendengar Alisa mau pulang.
"No-no-no, mommy jangan dulu ke mana-mana, minimal satu minggu istirahat total di rumah!" jelasnya Hadi.
Membuat Dirga merengut memanyunkan bibirnya sampai berapa cm ke depan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Tidak bosan-bosan ya ... aku ingatkan jangan lupa like comment dan lainnya ya makasih.