
"Em ... Abang ada yang ingin dibicarakan sama sayang--"
"Apa itu, Bang?" Diana langsung memotong perkataan dari suaminya tersebut.
Sebelum bicara, Hadi Dirgantara menghela nafas dengan panjang. "Sekretaris saya ... sedang cuti hamil dan melahirkan, otomatis saya membutuhkan penggantinya. Bahkan saya membutuhkan asisten pribadi yang siap menemani saya kemanapun dan menyiapkan segala kebutuhan saya apapun itu."
"Terus?" Diana mendongak sesaat lalu kembali menempelkan pipinya di dada Hadi.
"Saya kepikiran, dan kebetulan Alisa tidak punya pekerjaan. Bagaimana kalau saya mengangkat dia sebagai sekretaris di kantor dan merangkap asisten saya! jadi di manapun saya berada dia harus ada sangat sedikit ruang bagi dia jauh dari saya, tapi itu pun jika sayang mengizinkan." Ungkap Hadi seraya membelai kepala sang istri. Diana.
Diana mengangguk pelan seraya berkata dengan lirih. "Tentu saya setuju apalagi kalau dia sudah menjadi istri Abang, sangat setuju. Makanya kita harus segera melamar dia dan menikah dengan cepat! agar abang punya asisten, sekretaris sekaligus istri yang jelas-jelas halal buat abang."
"Terima kasih, sayang sudah menyetujuinya dan Abang juga akan mengikuti kemauan sayang kapanpun itu!" sambungnya Hadi sembari memejamkan kedua matanya.
"Baiklah, saya akan menelpon Alisa bahwa besok sore kita akan datang ke sana." Diana tersenyum kemudian mengangkat kepalanya dan berpindah ke bantal.
Keesokan harinya, pagi-pagi Diana memanggil si sulung, yaitu Liana. Dan menyuruh dia agar memberi tahu Alisa kalau mereka akan datang untuk melamar.
"Siap Mama. Aku akan telepon Alisa, tapi serius kan Mah? jadi kan sore ini?" Liana ingin meyakinkan, jangan sampai setelah bilang-bilang. Eh ... gak jadi, kan malu.
"Jadi, sayang. Insya Allah jadi. Mama akan menyuruh orang untuk belanja buat hantaran lamaran nya dulu." Sang bunda menyakinkan.
"Oke, kalau begitu. Aku akan memberikan informasi kepada Alisa agar bersiap-siap--"
"No-no sayang, gak usah bersiap-yang merepotkan. cukup mereka ada saja di rumah." Ralat Diana kepada putrinya.
"Iya, gitu." Liana langsung pamitan dan sebelum pergi kuliah, dia mau mampir saja dulu daripada telepon. Kurang afdol.
Hadi yang berdiri di dekat pintu. hanya tersenyum melihat ke arah Liana dan sang istri bergantian.
"Kenapa Abang senyum-senyum begitu? saya sedang memikirkan apa saja hantaran buat lamaran nanti sore. Sementara waktu sangat mepet." Diana menatap ke arah sang suami yang tampak sudah rapi itu.
"Oh, jangan capek sayang. Suruh saja orang untuk itu." Cuph! Hadi mencium kening nya sang .
Istri
__ADS_1
"Iya, saya sudah pesan semuanya dan nanti akan di antar ke sini. Saya kurang percaya kalau menyuruh Dania. Jadi saya langsung ke penataan langsung, biar terima beres saja?" lirih Diana sambil merapikan kerahnya.
Terserah gimana sayang saja. Yo sarapan dulu?" Hadi langsung memindahkan sang istri ke kursi roda dan mendorongnya untuk sarapan di lantai bawah.
"Saya akan pulang cepat. Atau makan siang pun saya di rumah." Ungkap Hadi sambil mendorong kursi roda sang istri.
Kemudian setibanya dai ruang makan. Keduanya sarapan di 5emani olah Dirga yang menyapa sering sang bunda yang semakin hari semakin kurus saja tubuhnya.
"Pagi sayang! sarapan yang banyak ya!" Hadi mengusap kepala sang putra.
"Iya, Pah." Dirga mengangguk pelan dengan mata tidak sanggup menatap kearah bundanya.
"Sayang, yang rajin sekolahnya ya? jangan nakal. Oke!" Diana lirih sambil menatap putra bungsunya itu.
Lagi-lagi Putra Dirgantara mengangguk pelan.
"Mbak, Diana mau makan sama apa? aku ambilkan." Tawar Dania sambil mengambil piring.
"Makasih ya Dania?" Diana mengangguk pelan dan mengambil gelas minum nya.
"Abang. Mau makan apa. Biar saya ambilkan atau mau apa gitu? saya akan buatkan dengan senang hati." Kini Dania menawarkan tenaganya pada Hadi yang langsung menggeleng pelan.
Mereka makan bersama tanpa Diana mengutarakan niatnya 7ntik ke tempatnya Alisa.
Selesai makan. Hadi langsung mengantar sang istri ke lantai atas kali dan menitipkannya kepada asisten yang khusus untuk merawat Diana.
Hadi mendudukan Diana di atas tempat tidur. Lalu menyusun bantalnya agar duduk bersandar.
"Sayang, Abang berangkat kerja dulu ya? baik-baik di rumah dan jangan lupa minum obat." Cuph! Hadi mencium pucuk kepala Diana dengan mesra.
"Hati-hati Abang. Jangan ngebut dan cepatlah pulang!" lirih Diana sambil menunjukan senyumnya kepada sang suami.
"Iya, Assalamu'alaikum?" Hadi berdiri tegak dan mulai mengayun kan langkah kakinya mendekati pintu kamar Diana.
"Wa'alaikumus salam ..." sahutnya Diana sambil melambaikan tangan, mengiringi langkah sang sui tercintanya.
__ADS_1
"Ya Allah ... aku ikhlas, bila kau mengambil nyawa ku di saat suami ku sudah ada yang mendampingi." Diana mendongak ke langit-langit.
Lalu memegang ponsel yang diberikan asistennya. "Terima kasih ya Mbak? kau betah bekerja di sini? tanya Diana ambil menatap ke arah mbak yang usianya masih muda itu.
"Betah, Nyonya." Dia mengangguk hormat.
"Syukurlah. Bila kau betah dan kau harus jujur dan amanah bekerja di sini ya? juga jangan mudah tersinggung ya!" Diana memberikan senyum ramah dan manis kepada asistennya itu.
"Baik, Nyonya ... saya sudah dua tahun di sini dan berusaha bekerja yang terbaik untuk Nyonya." Ungkap bibi sambil mengangguk.
"Terima kasih, Bi. Kau sangat baik dan penyabar dalam mengurus saya." Lirihnya Diana, kemudian dia menyibukkan dirinya dengan ponsel miliknya itu.
Dia menelpon orang yang dia mintai pertolongan membuatkan hantaran buat lamaran Alisa.
"Makasih ya ... kami tunggu hasilnya dan langsung saja di antar kemari, sekali lagi terima kasih ya? dan saya tunggu!" Ucap Diana di ujung telepon.
...----...
Liana yang melakukan motornya dengan kecepatan sedang itu, sudah tiba di halaman rumah Alisa dan dari jauh pun tampak Alisa sedang menyapu halaman.
"Hi ... Non ... pagi!" Liana menghampiri sahabatnya itu.
Alisa bengong melihat Liana yang pagi-pagi sudah datang. "Ada apa lagi nih? pagi-pagi datang?"
"Aish, kau ini gitu amat pertanyaannya! bukanya di sebut mesra hitu!" Liana memeluk Alisa yang secepatnya Alisa lepaskan.
"Gue bahu. Belum mandi, Oya. kau itu mau kuliah, kenapa ke sini?" mau kabur ya?" Alisa menatap curiga pada Liana yang malas cengengesan.
"Siapa bilang gue mau kabur? Gue hanya mau membawa berita yang baik untuk mu." Liana memegang kedua bahunya Alisa.
"Tentang? pekerjaan atau apa? jangan bikin penasaran dong?" selidik Alisa.
"Ibu mu mana? aku juga ingin bicara dengan ibu mu. Dia belum berangkat kerja bukan?" Liana celingukan melihat-lihat ke dalam rumah.
"Buat apa nanyain ibu? kan kita bisa ngomong berdua saja." Alisa menatap curiga kepada Liana yang tampak sangat sumringah wajahnya ....
__ADS_1
.
...Bersambung!...