Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Masam


__ADS_3

"Memang seperti itu kan? kalau saja tidak murahan! tidak mungkin saya pun mendapatkannya dengan semudah itu. Coba tanya istri kecilmu itu! apa pernah saya dulu kurang ajar sama dia?'' mengalihkan pandangan ke arah Alisa.


Hadi mengeratkan giginya dan tangannya rasanya sudah gatal ingin menghajar kembali pria tersebut.


Namun Alisa yang memeluknya dari depan terus menghalangi. "Yank ... sabar, aku gak mau kamu yang justru mendapat masalah!" suara Alisa dengan lirih.


"Huuh ..." Hadi mengembuskan nafasnya dengan teratur. Alisa benar, kalau dia harus tenang dan sabar. Agar tidak berbalik masalah padanya.


"Oke, kita bicara di sana!" Hadi menunjuk ke arah sofa.


Sehingga Alisa pun melepaskan pelukannya dan melirik ke arah Rahman, seakan memberi isyarat agar duduk bersama dan bicara dengan baik-baik.


Rahman pun tak ayal berjalan duduk di sofa berhadapan dengan Hadi dan Alisa sambil sesekali mengusap pipinya.


"Sebagai orang tua dari Liana, saya meminta pertanggung jawaban dari kamu. Saya sangat menyayangkan kenapa itu harus terjadi di antara kalian." Suara Hadi yang kini lebih tenang dan santai.


Rahman terdiam sambil menatap ke arah Alisa yang terus memegangi tangan suaminya, bikin hati Rahman terasa panas.


"Apa kau tidak mendengar kata-kataku?" ucap Hadi sambil menatap dengan tajam ka arah Rahman.


Rahman menoleh ke arah Hadi seraya berkata. "Saya mendengarnya! saya memang sudah ada rencana untuk datang ke rumah bersama ibu saya nanti malam. Anda tidak perlu khawatir karena saya orang yang akan bertanggung jawab kepada puti anda biarpun bukan 100% kesalahan saya!"


"Bagus, kalau kamu ada niat baik kenapa tidak secepatnya? dan saya harap tidak perlu kamu bilang seperti itu lagi yang seolah menyudutkan putri saya, karena senakal-nakalnya wanita. Tidak akan pernah terjadi seperti itu kalau laki-lakinya juga kuat menjaga imannya!" Hadi tidak suka kalau Rahman seolah menyudutkan Liana.


"Saya beserta ibu saya, memang sudah menyiapkan untuk datang ke sana nanti malam. bagaimanapun saya bukan tipe orang yang suka lari dari tanggung jawab!" sambungnya Rahman sembari menatap ke arah Hadi dan Alisa bergantian.


"Bagus kalau begitu! mulanya. Saya tidak ingin menikahkan anak saya secepat ini. Karena dia pun masih ingin kuliah, tapi dengan kejadian ini apa boleh buat," timpalnya Hadi. "Saya harap omonganmu bisa dipegang. Karena yang dipegang dari laki-laki itu adalah omongannya!"


"Tentu. Benar itu ... saya tidak akan mengulangi kesalahan saya yang kedua kali. Di mana saya sudah menyia-nyiakan orang yang sangat berharga." Jata Rahman sembari melirik ke arah Alisa.


Hadi pun menoleh, melihat ke arah Alisa yang justru Alisa melihat ke arah dirinya. Hadi tahu yang menjadi maksud dari Rahman, kalau Rahman sudah menyia-nyiakan Alisa.

__ADS_1


"Saya tahu maksud kamu dan saya tahu orang yang sudah sampai hati, telah kamu sia-siakan! memang kamu menjadi orang yang bodoh sangat bodoh pada waktu itu. Karena sudah membuang permata sehingga akhirnya dia saya dapatkan dan berbalik saya yang beruntung!" ungkap Hadi sembari menyunggingkan senyum kemenangan! karena dia lah yang sudah mendapatkan Alisa.


Rahman terdiam membisu dia merasa marah, kesal dan benci kepada Hadi. Karena pria itu yang sudah mendapatkan atau memenangkan hati Alisa dalam segala hal.


"Yank, kalau obrolannya sudah selesai, sebaiknya kita pulang saja masih banyak pekerjaan di kantor!" lirihnya suara Alisa sembari menggoyangkan tangan Hadi.


Kini Hadi mengalihkan pandangannya ke arah Alisa. "Iya sayang kita balik ke kantor!"


Wieehh ... kata-kata itu membuat hati Rahman semakin berkobar bak terbakar api, mendengar kata-kata mesra yang terucap dari Hadi dan Alisa.


Hadi beranjak dari duduknya sembari berkata. "Saya tunggu kamu sama keluarga, datang nanti malam, jika kamu tidak bisa membuktikannya ... saya tidak akan ragu-ragu untuk membuat perhitungan denganmu dengan cara apapun!" jelaskan pria yang lebih tua dari Rahman tersebut.


Rahman pun berdiri dan membalas perkataan dari Hadi. "Saya tidak akan ingkar dan saya akan membuktikan kalau saya adalah pria yang bertanggung jawab."


Hadi menganggukkan kepalanya lalu menatap ke arah Rahman yang bila dilihat-lihat dia itu lebih sering mencuri pandang ke arah Alisa. Dengan tatapan yang sulit di artikan.


Setelah itu Hadi dan Alisa berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Hadi berjalan menuntun tangan Alisa yang tidak pernah lepas dari genggamannya! sampai mereka duduk di dalam mobil.


"Jalan Pak?" pintanya Hadi kepada sopir, yaitu Pak Mur.


Di sepanjang perjalanan tidak satupun yang mengeluarkan suaranya! baik Alisa maupun Hadi.


Kini kalau masalah Liana, Hadi merasa sedikit lega. Namun sekarang ada yang mengganjal dalam hati nya. Yaitu tatapan Rahman yang terasa aneh kepada istri kecilnya tersebut yang menimbulkan rasa cemburu.


Setibanya di kantor. Mereka pun langsung berkutat dengan pekerjaannya yang menunggu uluran tangan mereka sedari pagi.


Sesekali Alisa melirik ke arah Hadi yang tampak serius dalam pekerjaannya. Sehingga tidak kata-kata yang terucap untuknya setelah kepulangan dari kedai Rahman.


Untuk sejenak, Alisa beranjak dari duduknya. Lalu mendekati pria yang tampak serius dengan pekerjaannya itu. Alisa duduk di meja, tepat di hadapannya Hadi.


Membuat Hadi melirik dan merasa heran. "Kenapa sayang?"

__ADS_1


Alisa menggeleng sembari berkata. "Nggak, suntuk aja habis kamu sedari tadi wajahnya di tekuk terus gak ada senyum-senyumnya!"


Kemudian Alisa menjepit rahangnya Hadi, sembari digerakkan kanan dan ke kiri. seolah-olah dia melihat sesuatu di wajah itu.


"Kenapa sih sayang? aku nggak kenapa-apa, nggak tahu apa Aku lagi sibuk!" Hadi menyikirkan tangan Alisa dari wajahnya.


"Aku tahu kamu sibuk, tapi bukan berarti harus ditekuk begitu wajahnya. Senyum kek, bicara kek ... dikira di ruangan ini sendirian, apa!" cerocos Alisa kembali.


"Kalau sayang nggak ada kerjaan! Sudah sana istirahat gih di kamar! Jangan ganggu aku, aku lagi sibuk nih!" ucap Hadi sambil mengarahkan pandangan ke layar laptop.


Dasar Alisa yang jahilnya lagi kumat, laptop Hadi yang sedang di pakai itu di tutup begitu saja.


Hadi merasa heran dan kesal melihat ke arah wanitanya itu yang malah menaik turunkan alisnya. Pria itu berdiri dengan tetapan yang tajam serta terus mendekat ke arah Alisa.


Alisa yang menjadi was-was. Turun dari meja kerja nya Hadi dan berjalan mundur yang terus di dekati Hadi.


"So-sorry!" Kemudian Alisa berlari ke dalam kamar, hendak mengunci pintu namun kalah cepat dengan tangan Hadi yang mendorong nya.


"Ma-maaf sa-sayang, aku cuma bercanda! habis wajahmu masam banget kaya belimbing wuluh!" Alisa seingat saja ngomongnya.


Hadi terus berjalan mendekati sembari membuka jas nya. Dan Alisa yang terus mundur, kedua kakinya mentok ke tempat tidur sehingga dia terduduk di tepi tempat tidur tersebut.


Membuat Hadi tersenyum puas, terus mendekat dan tubuh Alisa terdorong dan berbaring. Hadi melonggarkan dasinya dari leher.


"Begini kan maunya hem? sayang mau aku melakukan ini kan ..." Hadi membuka kancing kemeja Alisa.


Alisa memegang tangan Hadi. "Jangan yank, nanti kebablasan. tadi aku cuman bercanda kok matikan laptop nya ... maafin!" menyatukan kedua tangan di dada.


"Hem, tidak ada kata maaf bagi mu. Sudah terlanjur gimana?" Hadi menarik sebelah bibirnya ke samping. Lalu mendekati wajah Alisa dan membungkam mulut dengan bibirnya.


Hening ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa like dan komen ya? makasih.


__ADS_2