Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Istriku


__ADS_3

Alisa memejamkan mata seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Liana sangat kaget melihat Dania melayangkan tangannya ke arah Alisa.


Geph.


Tangan Dania yang melayang di udara hampir saja lima jari itu mendarat di pipi Alisa. Dan membuat tanda merah di sana! untung saja Hadi datang dengan tepat waktu, dari pintu lift dia berlari meninggalkan Diana yang sedang dia dorong menuju meja makan.


"Kau jangan coba-coba menyakiti istri ku!" suara bariton itu menatap tajam ke arah Dania yang tangannya Hadi hempas kan ke bawah.


"Kau, kau itu tidak tahu kalau dia dah kurang ajar sama aku!" teriak Dania membalas tatapan tajam seorang Hadi Dirgantara.


Mendengar suara Hadi berada dekat di sana, Alisa langsung membuka kedua tangannya. Rupanya keberadaan Hadi yang membuat Dania tidak jadi menampar dirinya.


"Pah, Papa. Alisa gak salah. Pah, aku yang bertengkar dengan Tante, Alisa hanya melerai saja." Liana langsung membela diri Alisa yang memang tidak salah apa-apa.


Hadi menoleh pada Liana. "Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut, tidak malu apa? di meja makan lagi, apa tidak malu dengan makanan yang seharusnya kalian syukuri."


"Maaf, Pah?" Liana menunduk.


Suasana berubah menjadi tegang. Orang-orang di sana pada kaku dan membisu sejenak.


"Liana ... ada apa sih, Nak ..." tanya Diana sambil memegangi tangan putri nya, Liana.


"Itu, aku jengah dengan kelakuan, Tante Dania yang selalu bak nyonya di rumah ini, Alisa saja yang menjadi istri papa tidak semuanya di kerjakan orang lain, tidak serba dilayani. Kenapa Tante kebalikan nya?" jawabnya Liana sambil duduk.


"Sabar sayang!" Diana mengusap bahu Lisna yang tampak kesal itu.


"Kalau keberatan bilang, saya juga tidak akan tinggal di sini kok, also Oma mu tidak menyuruh ku tinggal di sini tuk jagain mama mu." Timpalnya Dania tidak mau kalah.


"Jagain? emang kalau Tante ada di rumah jagain mama gitu? kan tidak! Tante sibuk saja dengan dunia, Tante sendiri--"


"Kau sendiri apa? ha ... apa kau mengurus Mama mu. Tidak! kau juga sama saja," bela Dania memotong perkataan dari Liana.


Hadi melihat pada Dania dan Liana yang juga masih beradu mulut. Sementara Alisa menyodorkan sarapannya.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar ya? mendingan kalian makan," lirih Diana menatap keduanya sambil menggeleng.

__ADS_1


"Ada apa sih ... ribut-ribut, berisik tahu," Dirga menatap satu persatu orang yang berada di sana.


"Sayang, sarapan dulu ya? mau sekolah kan?" Omanya Dirga memegangi bahu Dirga dan menyuruh duduk.


Alisa terdiam di dekat Hadi, namun dengan sikap yang terlihat canggung.


Diana sebenarnya merasa heran. dengan sikap mereka yang sepertinya ada masalah. Namun setidaknya Diana merasa senang, ketika tadi pas di pintu lift, Hadi berani berlari meninggalkannya demi menjaga istri keduanya dari tamparan Dania sang adik.


Diana menatap nanar sang suami dan Alisa, namun itu dia sembunyikan dengan cara menunduk dan tersenyum kepada sang ibu mertua.


Hadi menyudahi makannya dengan segelas air minum, dan setelah memastikan Diana dah makan dan minum obat. Hadi barulah siap-siap untuk berangkat dan kali ini di antar oleh supir untuk ke bandara dan di sana Zidan menunggu.


Saat ini Hadi dan Alisa sudah berada di dalam mobil. Hadi melirik ke arah istrinya itu.


Tangan Hadi bergerak menyentuh tangan Alisa yang barada dia dalam pangkuannya san empu. "Sudah sarapan? aku gak lihat kau sarapan!" tanya Hadi dengan lembut.


"Sudah," jawabnya sambil merek tangan dari genggaman Hadi.


"Huuh ..." Hadi menghela nafas. "Emang tadi kenapa sampai bertengkar segala hem?"


Hadi merasa gemas dengan sikap Alisa saat ini, tapi bukan marah sih ... lebih ingin mengungkapkan rasa, sudah bikin dia nangis semalam. "Kenapa semalam menangis?" suaranya pelan.


"Ha? siapa yang nangis?" elak Alisa sambil kembali membuang mukanya dari Hadi.


"Tahu kok," Hadi mengulum senyumnya.


Dan Alisa tidak menanggapi lagi. Dia pun sangat dibuat kesal dengan kejadian semalam, lebih-lebih ke rasa malu yang tidak bisa dia sembunyikan.


Tidak lama berselang, tibalah di sebuah bandara untuk penerbangan domestik yang akan di lakukan Hadi dan Alisa. serta Zida sebagai eksekutif muda di perusahaan yang di bawah naungan sang CEO Hadi Dirgantara itu.


"Hi, kau sangat cantik Alisa." Sapa Zidan sambil tersenyum kagum ke arah Alisa.


"Terima kasih, atas pujiannya!" balas Alisa sambil senyum tipis yang dia tunjukan pada lawan bicaranya itu.


Mendengar perkataan dari Zidan, Hadi yang mulanya agak jauh pun mendekat dan berada di antara Alisa dan Zidan.

__ADS_1


"Kau sudah lama sampai di sini?" tanya Hadi melirik ke arah Zidan yang duduk di samping kirinya.


"Em ... sekitar tiga puluh menit yang lalu." Zidan melihat jam yang melingkar di tangannya tersebut.


"Lisa, gimana kalau kita minum dulu di sebelah sana? kopi ya enak, sambil menunggu penerbangan masih ada waktu sekitar satu jam lagi." Ajak Zidan menoleh pada Alisa yang terhalang oleh tubuh Hadi.


"Aku," Alisa melirik ke samping yang tentunya pada Hadi.


Hadi menoleh tanpa ekspresi. Alisa buru-baru mengambil ponselnya yang kebetulan berbunyi.


"Em, aku gak bisa nih ada catatan yang harus ku urus segera." Tolak Alisa sambil membuka ipad nya.


"Hem ... padahal pemandangan di sini bagus lho, tempatnya juga enak dan nyaman." Tambahnya Zidan sambil menghela nafas kasar.


"Oya, lain kali saja deh!" Alisa senyum garing.


"Oya, soal yang di Bandung gimana? jadinya kapan saya harus kelapangan?" tanya Hadi kepada Alisa yang sedang menunduk dan sibuk.


Wajah Alisa terangkat dan menoleh pada Hadi. "Ke Bandung di cancel sampai Minggu depan."


"Ooh, oke. Berarti masih ada waktu!" timpalnya Hadi sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas kerja.


Tidak lama kemudian. Mereka pun beranjak bersiap untuk boarding dan melakukan boarding pass dimana dilakukannya pengecekan data dan sebagainya.


Selanjutnya semua penumpang menuju pintu departure untuk masuk ke area keberangkatan. Alisa yang baru pertama kali naik pesawat, tapi dia cukup tau untuk mengurus keberangkatan itu tersebut merasa deg-degan.


"Bismillah ... semoga Allah memberi keselamatan kepada ku dan yang lainnya." Alisa sejenak terpejam, lalu berjalan mengikuti langkah yang lain.


Kebetulan tempat duduk pun Hadi dan Alisa berdampingan. sehingga membuat Zidan merasa cemburu.


Membuat Zidan pun berkomentar. "Bos, gantian deh duduk nya? biar saya di sana!" pinta Zidan pada Hadi sambil menepuk bahunya.


Sementara Hadi hanya menoleh malas. Membuat Zidan kesal juga tadinya ingin berdekatan dengan Alisa, tapi masih banyak kesempatan sih ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Kira-kira apakah Hadi dan Alisa akan menginap di satu kamar yang dama? sementara Zidan tidak tau hubungan mereka berdua.


__ADS_2