Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Apalah daya


__ADS_3

Prek ....


Telor yang di tangan Alisa pegang terjatuh dan pecah di lantai.


"Tante!" Alisa bengong melihat telor yang pecah di lantai dan Dania bergantian.


"Kau sudah tahu. Di rumah ini sedang berduka dan kamu mau masak-masak. Mau pesta ha?" ucap Dania dengan nada penuh kebencian kepada Alisa.


"Tante, aku mau masak buat suami ku. Dia belum makan. Tante tega ya?" Alisa langsung berjongkok membersihkan lantai dari kotoran telor.


Alisa dan di bantu asisten membersihkan bekas telor itu.


Dania di seret asisten lain. menjauh dari tempat tersebut, biar tidak mengganggu Alisa.


Alisa menghela nafas panjang, lalu melanjutkan aktifitasnya untuk memasak buat Hadi. Dan setelah beberapa saat berkutat dengan wajan dan sodet juga teman-teman nya akhirnya masakan pup sudah siap! Alisa mendengar dari sang ibu mertua kalau Hadi ke kamarnya, jadi dia putuskan untuk membawanya langsung ke kamar.


Langkah Alisa menaiki anak tangga dengan membawa nampan berisi satu piring nasi goreng buat suaminya yang sebenarnya dia bingung, Hadi di saat ini di kamarnya atau di kamar Diana.


Setelah berbincang dengan pak ustadz dan keluarga. Hadi memutuskan untuk pergi ke kamar, yang tentunya berada di lantai atas. Dan sebelum ke kamar nya dengan niat mau mandi. Dia mampir dulu ke kamarnya Diana.


Kamar itu tampak bersih nan tapi juga wangi. Tempat tidur yang biasa Diana tempati kini kosong dan tiada lagi senyum sendu ataupun canda manjanya. Tangan Hadi mengusap semua permukaan tempat tidur tersebut.


"Sayang, kini tidak akan ada lagi senyum mu di tempat ini. Suara canda mu, manja mu!" gumamnya Hadi lalu mencium bantalnya yang masih terasa wanginya Diana.


Kemudian langkah Hadi mendekati pintu wardrof di bukanya, kedu netra Hadi menyisir ruangan itu di mana pakaian dan aksesoris lainnya masih tertata rapi.


Terbayang ketika Diana masih sehat, Diana menggoda dirinya di sana sehingga terjadi percintaan di wardrof ini.


"Sayang kenapa begitu cepat meninggalkan Abang? bahkan kau tidak sembuh dulu setelah bermacam cara Abang tempuh untuk penyembuhan mu. Kau tega tinggalkan Abang, sayang!" Hadi kembali menutup pintunya.


Langkah Hadi kini mendekati kamar mandi. Dia masih ingat dengan jelas sering memandikan sang istri di sana, Diana sering meminta dia untuk memandikan terlebih dahulu sebelum dia pergi bekerja.


Hadi mengembuskan nafasnya melalui mulut. Lanjut Hadi keluar dari kamar tersebut menuju kamar pribadinya bersama Alisa.

__ADS_1


Setibanya di kamar dia, berdiri di depan pintu dan memandangi ruang tersebut. Tidak ada yang beda keadaannya tetap sama. Kemudian dia berjalan mendekati tempat tidur sambil membuka kancing kemejanya. Lalu membuka jasnya terlebih dahulu.


Terdengar suara pintu yang terbuka, sehingga Hadi memutar badannya melihat siapa yang datang.


Rupanya Alisa dengan membawa nampan di tangan berjalan masuk. Hadi melanjutkan membuka jas dan menarik tangannya, jas tersebut ia simpan di atas tempat tidur.


"Om pasti belum makan, makan dulu ya?" Alisa mengulas senyumnya sambil berjalan mendekati.


"Aku belum lapar." Hadi mendudukan dirinya di tepi tempat tidur sambil mengangkat kakinya membuka kaos kakinya.


"Om, boleh bersedih karena kehilangan Tante. Tapi bukan berarti harus lupa makan juga," ucap Alisa sambil membawa sendok mendekati mulutnya Hadi.


Hadi terdiam melihat wajah Alisa yang tampak lebih cantik nan anggun lalu netra Hadi beralih ke lain tempat.


"Aku sudah bikinkan kesukaan Abang. Makan ya!" sambung Alisa karena Hadi tidak membuka mulutnya juga.


Hadi sontak melihat Alisa yang barusan menyebut Abang. Di tatapnya lekat.


Kemudian Hadi membuka mulutnya dan menerima asupan dari tangan Alisa. "Terima kasih atas perhatiannya."


"Hem, sama-sama." Alisa terus menyuapi hati sampai habis.


Hati pun tampak sangat lahap, kebetulan dari malam memang dia tak menemukan makan. Seiring dengan kacaunya perasaan.


"Ini minumnya, Abang mau mandi ya? aku siapkan dulu semuanya." Alisa memberikan minumnya pada Hadi. Setelah menyimpan nampan di atas meja. Alisa berniat mau menyiapkan keperluan Hadi tuk mandi.


Geph!


Tangan Hadi menangkap tangan Alisa sehingga Alisa berdiri di tempat. Hadi berdiri di hadapan Alisa, kemudian Hadi memeluknya erat seraya bergumam. "Istri ku telah tiada. Meninggalkan ku lebih dulu. Aku sangat mencintainya! aku tidak sanggup bila tidak ada dia."


Degh.


Rasanya kata-kata itu menonjok relung hati Alisa. Sehingga terasa sakit dan perih, sesak tak terhingga. Alisa mematung dalam pelukan pria yang menyatakan cintanya pada istri yang telah tiada.

__ADS_1


Namun apalah daya yang bisa Alisa lakukan? perlahan tangan Alisa bergerak mengusap punggung nya pria yang tinggi besar itu. "Om sabar ya, ikhlaskan kepergiannya Tante, om tidak boleh terpuruk dalam kesedihan. masih banyak tugas dan yang membutuhkan om termasuk anak-anak."


Hadi menangis sambil memeluk istri kecilnya. Walau di mata orang dia terlihat kuat, namun sebenarnya dia rapuh dan terpuruk di saat sang istri telah tiada. Bagai tiada penyemangat lagi dalam hidupnya.


"Oke, Abang mandi dulu ya. Kau tampak lusuh, setelah itu istirahat. Kau pasti capek." Alisa memudarkan pelukan Hadi.


Gadis itu mundur dua langkah, di tatapnya wajah Hadi yang basah dengan air mata. Jemari Alisa yang lentik mengusap dan mengeringkannya. "Om tampak lusuh sekali. Setelah mandi baru istirahat."


Kedua tangan Hadi mengusap wajahnya. Sementara Alisa membukakan kemeja dan kaosnya. Lanjut membukakan sabuknya dan Alisa berjongkok membukakan celana panjangnya.


Hadi berjalan gontai ke kamar mandi. Alisa terdiam sambil memeluk pakaian kotor milik Hadi setelah mengeluarkan ponsel dan dompetnya.


Setelah beberapa saat terdiam dan mematung di tempat. Alisa pun menyusul ke kamar mandi untuk mencuci pakaian Hadi di sana.


Hadi sedang mandi di bawah air shower dan tampak banyak melamun dengan tangan di tempelkan ke dinding. Alisa yang sedang mencuci menggunakan ember dan mengucek ya pakaian pun sesekali melirik ke arah Hadi yang tampak banyak melamun itu.


Alisa sudah menyiapkan handuk kimono untuk Hadi yang belum keluar dari ruang wardrof sehingga Alisa mengetuknya.


Hadi menoleh pada Alisa yang berdiri di depan pintu ruang kaca tersebut. Kemudian Hadi pun mematikan shower lantas keluar.


Alisa melongo melihat pemandangan eksotis yang berada di depan matanya. Beberapa kali dia menelan Saliva nya yang tercekat di tenggorokan, Manik mata sampai-sampai tidak berkedip sorot matanya dari atas turun ke bawah yang hidup tapi kedinginan.


Buru-buru Alisa menyerahkan handuknya lalu membalikan badan dan menunduk malu sendiri.


Sementara Hadi biasa-biasa saja, mungkin karena suasana hatinya memang kurang baik-baik saja sehingga tidak berpikiran apapun. Coba kalau suasana hatinya sedang sehat dan normal, tidak akan membiarkan Alisa menganggur.


Alisa segera mengurus cuciannya. Dia gantung, Hadi keluar dari kamar mandi begitu saja.


Perasaan Alisa merasa gimana ... gitu, dengan sikap Hadi seperti ini. Tapi sudah sewajarnya Alisa mengerti dan memaklumi ini semua walau ada rasa sesak yang menyelimuti dadanya ....


...🌼---🌼...


Tiada kata yang lebih indah selain Assalamu'alaikum ... semoga raeder ku semua kabar baik.

__ADS_1


__ADS_2