Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Pura2


__ADS_3

"Kau ini apa-apaan sih?" Dania menghempas tangan Alisa yang memegangi bahu Dania.


"Lho, bukannya Tante tadi pusing dan minta om Hadi Antar ke kamar bukan?" Alisa menaikan alisnya kepada Dania yang sangat tampak merasa kesal tersebut.


"I-iya, tapi sekarang sudah agak mendingan. Terima kasih?" Tante Dania duduk di tepi tempat tidurnya.


"Ooh, apa mungkin ... Tante ini cuma pura-pura agar--"


"Cukup, silakan pergi? saya sudah berada di sini." Dania mengibaskan tangannya di udara.


"Hem ... oke, tapi jangan menunjukan diri sebagai wanita kurang berkualitas, Tante." Jelas Alisa sambil melangkah mundur. Meninggalkan Dania.


Alisa kembali ke kamar ya dengan senyuman yang sulit di artikan. Enak saja mau menjebak calon suami gue, eh calon suami! bos gue."


Kemudian setibanya di kamar, Alisa menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


"Rrrrggghh ... ngantuk berat gue ... seharusnya sedari tadi gue tidur." gumamnya Alisa sambil mengesampingkan rambutnya lalu memejamkan kedua matanya.


Waktu terus berputar dan malam pun berganti siang. Yaitu sebuah pagi yang berhias kicauan burung yang ada di belakang rumah tersebut.


Alisa menggeliat nikmat. Telinga nya mendengar suara tahrim subuh, menyingkirkan selimutnya dan turun menapakkan kedua kakinya di lantai.


Kini Alisa tengah berbenah di kamar nya Hadi, setelah sebelumnya menyiapkan air buat mandi. Padahal tinggal putar saja isi bathub.


Begitulah keseharian Alisa di rumah ini. Tanpa mengerjakan yang lainnya kecuali keperluan dirinya pribadi. Dan sekarang Alisa sedang lebih dua Minggu tinggal di sana.


Hadi, keluar dari kamar mandinya dengan handuk melilit di pinggang dan tangan kanan dengan handuk kecil yang mengeringkan rambutnya yang basah.


Alisa menunduk pandangannya sambil mengerjakan hal lain. Sebelum memasang dasi dan setelan Hadi.


Bibir Hadi menyungging bila berhadapan dengan Alisa yang selalu membuang muka bila dia bertelanjang dada.


Tangan Alisa memungut pakaian kotor milik Hadi dan masukan ke tempatnya biar nanti mbak yang ambil. Dia tidak ada waktu bila harus mengurus sampai ke tek-tek bengek nya.


Belum di kantor, yang dia rasa sangat menyita waktu dan pikiran. Tugasnya sebagai asisten pribadi sangat lah berat. Apalagi ketika masih di awal-awal yang sebenarnya dia tidak mempunyai basic untuk itu.


Namun dengan seiring berjalannya waktu. Alisa mulai enjoy dengan pekerjaannya tersebut Meski kadang merasa lelah, capek dan sebagainya.


Saat ini dia sedang mengadakan pertemuan dengan perusahan asing yang menuntut dia untuk belajar bahasa Inggris khususnya.


Hadi, sekretaris dan eksekutif muda yang bernama Zidan, tangah berbincang dengan pihak mereka dengan bahasa yang Paseh.


Sementara Alisa masih sering melihat apk bahasa yang penting sedikitnya mengerti dan tidak di bilang kurang pengetahuan.


Setelah beberapa jam kemudian pertemuan pun selesai.


Semua berdiri dan saling berjabat tangan.


"Thank you for your cooperation?" ucap Hadi sambil berjabat tangan dengan lawan bicaranya tersebut.


"Good luck to you, Sir!" tanggapan dari salah satu orang asing yang bersikap ramah.

__ADS_1


Begitupun dengan Alisa yang menyodorkan tangan pada tamunya itu. "It's been a pleasure working with your company."


"Yes, we'd love to work together and meet you, miss fabulous!" orang tersebut menyambut dengan sembari tersenyum.


Kemudian orang tersebut menoleh kembali ke arah Hadi seraya berkata. "His assistant is so pretty and smart, when you no longer need him! We're ready to contain it."


Hadi menoleh pada Alisa. "Oo, No. um ... I won't spare him, Sir." Sembari tersenyum manis.


"Ha ha ha ... before you, of course I need him first," ucap Zidan sambil tertawa lepas.


Membuat Hadi menatap tanpa ekspresi kepada Zidan.


Kemudian mereka pun berpamitan, sementara Alisa membereskan berkas dan mencatat sisa obrolan tadi. Hadi pergi duluan entah kemana?


Sekertaris Hadi yang memiliki nama Lia pun mulai beranjak dari tempat tersebut.


"Ehem. Gimana kalau kita makan siang dulu, bersama?" tawar Zidan pada Alisa yang tampak kaget mendengar suara baritonnya yang tiba-tiba berada dekat dengannya itu.


Netra mata Alisa bergerak-gerak melihat Zidan yang dia rasa tiba-tiba berada di dekatnya tersebut, dengan menunjukan senyum nya. Menebarkan pesonanya.


"Em ... sorry. Aku masih sibuk! em ... mungkin lain kali saja!" balasnya Alisa. Bukan apa. Dia pun merasa risih pada Hadi bila dia makan siang dengan pria lain.


Ya ... kecuali di maja kerja, meja rapat, mereka saling bercengkrama dan tertawa bersama.


"Come on shithead As a thank you for arranging our meeting with the company earlier. Ayolah ..." Zidan menaikkan alisnya.


Dengan masih menyelesaikan tugasnya. Alisa tidak merespon.


"Em ... okay. Aku akan ikut dengan mu." Alisa beranjak menenteng berkas. Berjalan bersama Zidan yang tidak berhenti tersenyum.


Setibanya di kantin. Keduanya memesan makanan untuk makan siang mereka. Makan sambil mengobrol dan sesekali tertawa.


Hadi yang mencari-cari Alisa, sampai ke kantin dan mendapati Alisa sedang makan siang semeja dengan Zidan.


Kemudian Hadi memilih duduk di meja yang tidak jauh dari pintu.


Alisa yang baru saja selesai makan, langsung melonjak berdiri. Karena ingat Hadi belum makan siang dan dia pun tidak tahu kalau dirinya makan dengan Zidan.


Alisa mengambil berkas dan ponselnya dengan buru-baru.


Zidan heran melihatnya gadis ini terburu-buru. "Kau kenapa? seperti sedang di kejar setan saja."


"Iya, bukan setan lagi. Tetapi jin! he he he ..." Alisa pergi menjauhi meja nya Zidan.


Namun ketika mendekati pintu keluar, mendapati Hadi tengah duduk dengan sorot mata tertuju padanya. "Astagfirullah!"


"Kenapa! beneran lihat jin? sekaget itukah melihat ku?" Hadi dengan tatapan yang tertuju pada Alisa yang mendadak pucat wajahnya.


"Em, em ... itu!" Alisa salah tingkah sambil menggaruk tengkuknya.


"Am, em. Am, em. Saya belum makan." Hadi sedikit menirukan ucapan Alisa.

__ADS_1


"He he he ... kenapa belum makan? kan bisa pesan?" Lis menyimpan berkas di meja.


"Baru datang!" balas Hadi.


"Ya sudah mau makan apa?" tanya Alisa kembali.


"Makan orang!" Hadi sekenanya sambil mesem-mesem yang tidak luput dari bibirnya.


"Iih, Om ini. Nanti cepat tua!" Alisa memesan makan siang buat Hadi yang tidak menjawab mau makan apa.


"Emang sudah tua!" Jawabnya Hadi.


"Em ... sebenarnya, Om ini gak terlihat tua kok, dan banyak tuh wanita yang naksir sama, Om. di kantor ini tidak kurang wanita yang diam-diam memperhatikan, Om--"


"Sok tau kamu ..." Hadi memotong perkataan Alisa.


"Beneran, Om. Bukannya sok tahu. Cuma om saja yang tidak pekak, jangankan di luaran. Di rumah saja buktinya Tante Dania naksir berat sama pesona, Om." Lanjutnya Alisa sambil menyiapkan makanan buat pria yang menjadi lawan bicaranya tersebut.


Hadi menghela nafas panjang sembari melihat ke arah Alisa yang fokus menyiapkan makannya.


"Ternyata kau masih di sini! sama big bos," sapa Zidan sambil menenteng tas kecil.


"Iya, pak Zidan. Maklum asisten kan harus siap siaga! he he he ..." balasnya Alisa.


"Okay, saya duluan lah!" Zidan melangkah dengan wibawanya keluar dari tempat tersebut.


Alisa menatap punggung Zidan yang berjalan keluar dengan bibir yang di tariknya ke samping.


Hadi. Melihat ke arah Alisa yang begitu anteng melihat ke arah punggung Zidan sampai pemuda tersebut menghilang dari pandangan.


"Sudah, sudah puas melihatnya!" ucap Hadi sambil meneruskan makannya.


Alisa menoleh pada Hadi sambil nyengir. "Mau tau aja!"


"Oya, Om. Boleh ya? aku keluar sebentar. Sudah lama aku gak keluar." Alisa intinya meminta ijin.


"Kapan?" tanya Hadi sambil meneguk minumnya.


"Nanti malam, boleh ya?" sahut Alisa sambil menyatukan kedua tangannya.


"Sama siapa, mau ketemu siapa? apakah janjian sama Zidan?" tanya Hadi sambil memicingkan matanya.


"Nggak, nggak. Aku ada urusan lain," Jawabnya.


"Hem ..." Hadi melanjutkan makannya.


Selesai makan. Keduanya kembali melanjutkan kerjaannya yang tertunda ....


.


...Bersambung!...

__ADS_1


__ADS_2