Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Di pindahkan


__ADS_3

"Mengingat besok kalian harus bekerja, jadi kalian nggak usah mengantarkan ke Bandara. Kalian istirahat saja yang cukup," pesan Hadi kepada kedua stafnya.


Sementara Alisa sendiri sudah dibawa para perawat masuk ke dalam mobil ambulance bersama brangkar nya sekaligus, sebab Alisa belum bisa bangun.


"Ini barang-barang anda!" Zidan menyerahkan tas nya Hadi yang berisi laptop dan barang penting lainnya.


"Semoga ibu cepat sembuh," ucap Mita pada Hadi.


"Ya makasih. Oke saya pergi dulu dan di tunggu semua laporannya!" kemudian, Hadi menarik kedua koper di masukannya ke dalam mobil rental yang di sewanya itu.


Zidan dan Mita memandangi punggung Hadi sampai memasuki ambulance bersama istrinya.


Sebenarnya Zidan sangat sedih melihat kondisi Alisa yang seperti itu. Sesuatu yang tidak pernah di duga sebelumnya.


"Kalau saja kita tahu kehamilan Alisa. Mungkin kita bisa ikut menjaganya selama ini." Gumamnya Zidan mengenang Alisa.


"Iya benar, kalau saja tahu. Kita pasti ikut menjaga Lisa dan juga keselamatan bayinya. Tapi ... ya sudahlah sumua sudah terjadi." Tambahnya Mita sembari melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Zidan.


Kini Hadi sudah berada di dalam ambulance berada tidak jauh dari sampingnya Alisa.


"Kita mau ke mana?" tanya Alisa dengan nada suara yang lemah.


"Kita akan pulang ke Jakarta dan kamu akan dirawat di rumah sakit terbesar di sana, biar keluarga kita pun bisa menjenguk dan kita berkumpul!" jawabnya Hadi sambil memegangi tangan Alisa kuat-kuat.


Alisa menelan saliva nya, manik matanya menatap ke arah wajah Hadi yang begitu lusuh, sedih ... kecewa mungkin, semuanya bercampur aduk. "Emangnya nggak apa-apa dalam keadaan seperti ini naik pesawat?"


"Tidak sayang! aku sudah bicarakan nya dengan pihak medis yang di sini maupun yang di Jakarta. Kamu tidak perlu memikirkan apapun yang penting kamu sekarang segera sehat seperti dulu. Sekali lagi aku minta maaf karena semuanya adalah kesalahanku!" ucap kembali Hadi dengan lembut.


Alisa tidak menjawab, hanya menggerakan matanya saja yang terus memandangi pria yang sudah menanam benih dalam rahimnya.


Tidak lama di jalan, akhirnya ambulance sudah tiba di area bandara dan Alisa pun dipindahkan langsung ke dalam pesawat.


Hadi pun tidak pernah jauh dari keberadaan sang istri yang tampak lemah itu.


"Ibu dan keluarga yang lainnya pasti marah Atas kejadian ini, aku yang tidak bisa menjaga kehamilan aku. Tapi itu benar-benar di luar pengetahuanku!" ucapan Alisa dengan lirih.

__ADS_1


"Kamu nggak salah apa-apa, karena yang salah itu aku, dan mereka akan menyalahkan aku! bukan dirimu." Balasnya Hadi seraya membelai rambut Alisa lalu dia mengikatnya ke samping.


"Yank ... Bukannya Dirga minta adik?" tanya Alisa.


"Benar sayang, dia pesan hingga beberapa kali, dia bilang ... Pah pulang dari Lampung bawa adik ya Pah." Kenangnya Hadi kepada terhadap Dirga.


Dan Hadi sudah siap kalau dirinya akan disalahkan oleh semua keluarga nya. Dia pun harus mengakui kesalahannya yang sudah dia perbuat selama ini. Sehingga mengakibatkan kehilangannya calon bayi dia, benih yang sudah dia tanam di rahim istri kecilnya tersebut.


Kini pesawat yang membawa Alisa dan Hadi melayang-layang di udara membelah langit yang gelap gulita menerjang hujan dan badai. yang kebetulan cuaca mendadak tidak bersahabat. Dan kemungkinan akan mengalami kendala saat landing nanti.


Ooi bikin perasaan campur aduk bila pesawat yang ditumpangi sulit landing dan kembali putar haluan pun nggak mungkin kecuali memilih transit ke ke bandara lain, tetapi bila cuacanya sama, ya tetap saja! kendala itu menunggu.


Pesawat mulai Landing walau dalam keadaan licin landasannya. Dengan hati yang deg-degan dan perasaan yang bercampur aduk. Takut gagal landing atau gimana-gimana.


Namun puji syukur pada yang maha kuasa, yang hakikatnya melancarkan landing nya si burung besi yang membawa Hadi dan Alisa.


Di luar sudah ada, ambulance yang siap membawa Alisa ke rumah sakit ternama di ibu kota. Dan Hadi terus menemani sang istri kecilnya tersebut.


Barang-barang milik Hadi dan Alisa sudah di jemput oleh pak Mur yang sudah siap sedia biarpun dalam keadaan malam.


Tidak ketinggalan Dedi dan istri pun datang ke rumah sakit tersebut. Menyambut kedatangan Hadi yang tampak kusut dan lesu.


Sang bunda memeluk Hadi seraya berkata. "Yang sabar ya? mungkin belum rejeki!"


Begitupun Dedi memeluk sang adik, mengusap punggungnya. "Sabar yang kuat, ini sudah menjadi kesalahan mu yang membiarkan istri muda mu seperti ini, tapi semuanya tidak perlu disesali kembalikan saja pada yang maha kuasa."


"Insya Allah akan segera tergantikan," suara istri Dedi pada Hadi.


"Ini gara-gara Papa yang membebankan semuanya pada Alisa. Dia itu masih muda Pah ... dan dia belum tahu apa-apa," kini Liana yang jelas-jelas menyalahkan sang ayah atas kejadian ini.


"Papa minta maaf? Papa mengakui kesalahan kok," Hadi menunduk.


Kemudian semuanya masuk ke dalam ruangan inap Alisa setelah para suster dan pihak medis lainnya keluar dari ruangan tersebut.


Ruangan VIP yang dengan perlengkapan yang serba lengkap, termasuk lemari pendingin pun ada di sana.

__ADS_1


Alisa malah melongo melihat ruang inap tapi mewahnya bahkan lebih dari yang kemarin Diana di rawat.


Namun apalah arti semua ini? kalau di saat ini justru yang menghuni tersebut sedang berada di dalam kedukaan.


Ibu mertua, suami, Abang Dedi dan istri. Liana juga masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri Alisa dengan wajah yang ikut berduka.


"Yang sabar ya Lisa ... mungkin ini sudah takdir dan semoga Allah segera menitipkan kembali pada kalian berdua!" ucap sang ibu mertua.


Alisa hanya mengangguk pelan sambil berbaring dan di pegang tangannya oleh sang ibu mertua.


"Iya, nanti juga di kasih lagi. Buat bonekanya Dirga ya? asal rajin aja bikinnya dan jangan kapok." Timpal istri Dedi sambil mesem.


"Aku, kecewa sama papa. Dia yang buat kamu seperti ini kan? kamu itu capek kerja dan capek hati juga dengan sikap papa kan Lisa?" Liana berkata demikian sambil melirik ke arah sang ayah yang sedang memandangi mereka.


"Tidak, Lian ... papa mu memang tidak tahu kalau aku hamil dan ... jangankan papa mu! aku aja tidak tahu sama sekali kalau ku sedang hamil. Kalau saja aku tahu itu, mungkin aku juga bisa menjaganya!" tutur Alisa.


"Ini bukan waktunya saling menyalahkan, anggap saja ini takdir," ucap lembur omanya Liana.


"Tapi Oma ... Alisa tidak mungkin keguguran kalau tidak kecapean dan stress." Liana kekeh merasa kecewa pada sang ayah.


Mendengar Liana kekeh yang menyalahkan papanya, bikin hati Alisa semakin mencelos lalu menangis. Dia sangat sedih dengan kondisi seperti ini.


Semua pasang mata melihat ke arah Hadi, setelah melihat Alisa menangis.


Hadi mendekati Alisa yang sedang menangis tersedu.


"Sayang, jangan menangis. Jangan berpikir yang macam-macam juga." Hadi menenangkan istri kecilnya sambil di peluk dan di kecupnya.


"Jangan di bawa sedih yang berlarut ya? hidup akan terus berlanjut. Sekarang fokus saja dengan kesehatan Alisa, soal anak ... itu bisa di atur," ujar istri nya Dedi.


Hadi terus memeluk Alisa dengan sangat erat. Yang lain pada duduk di sofa ....


...🌼---🌼...


Terima kasih ya atas dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2