
Kini Alisa, Mita. Zidan dan Burhan sedang berada di sebuah restoran sedang menikmati makan malam nya.
Mereka tampak akrab, dengan cara mengobrol sana sini. Alisa pun berbaur dengan ketiganya.
"Kau, jangan terlalu begitu lihatnya. Bagaimana pun dia istri orang." Bisik Zidan pada Burhan yang selalu intens melihat ke arah Alisa.
"Cuman lihat, gak macam-macam. Lagian siapa sih suaminya. Kenapa juga gak menemani istrinya? jadi jangan salahkan lah kalau banyak mata yang memandang dan ataupun mata nakal." Balas Burhan sekenanya saja.
"Hem ... gak bisa di bilangin!" Zidan menghela nafas dalam-dalam.
"Emangnya kenapa benar dong!" Burhan membuka kedua tangan nya.
"Rrggghhh. Sebelum kamu juga aku duluan lah naksir dia.
Burhan tidak perduli dengan perkataan Zidan. kerena dia merasa tidak macam-macam, ya paling-paling perasaan ini makin mendalam.
"Em, aku mau balik ke kamar hotel dulu, capek!" Alisa berdiri.
"Iya, saya juga capek." Mita pun beranjak dari duduknya.
"Lho, emangnya gak mau jalan-jalan dulu? sayang nih kalau langsung istirahat!" ucap Burhan sembari menatap ke arah Alisa dan Mita.
"Iya, Alisa. Tidak ingin jalan dulu menikmati malam di kota Bandung!" tambahnya Zidan.
"Nggak, aku capek. Lain kali saja lah," sahut Alisa sambil berjalan menjauhi tempat makan tersebut.
"Uuh, sayang banget dong!" Burhan menggeleng.
"Mungkin dia capek." Ucap Zidan sambil menyesap minuman yang tinggal seperempat itu.
Alisa berjalan dengan teratur, keluar dari restoran menyebrangi jalanan yang akan menghubungkan dengan hotel tempat dia menginap.
"Mbak sering ke sini?" tanya Alisa sambil berjalanan.
"Sering, kenapa?" tanya balik Mita.
"Ooh, nanti saja kita jalan-jalan nya berdua." Sambung Alisa.
Mereka berdua hendak memasuki lobby, namun dengan cepat kilat tas Alisa di jambret orang. Gadis itu panik.
"Copet ... tas ku ....?" teriak Alisa.
"Copet ..." teriak Mita ketika melihat orang yang membawa lari tas Alisa.
Alisa berlari mengejar si copet. "Copet ...."
"Alisa, kau diam saja? biar saya yang kejar." Burhan berlari mendahului Alisa.
__ADS_1
Alisa hentikan langkahnya dan Mita pun memegangi tangan Alisa agar tidak menyusul.
"Woy-woy! kembalikan tas teman ku? kembalikan!" Burhan menghadang copet tersebut sambil menggerakkan jarinya meminta tas Alisa.
"Enak saja, kau mau tas ini? langkahi dulu mayat ku!" kata copet itu dengan santainya. Toh tidak ada yang menyusul.
Dan copet itu langsung menyerang Burhan tepat di dadanya.
"Aduh, duh-duh. Kenapa kau menyerang ku? kita kan cuma bohongan!" suara Burhan pelan.
"Kau mau tas ini bukan? ayo ambil cuma gitu saja kau sudah tumbang. Cemen?" ucap kata orang yang memakai masker sehingga tidak dikenali wajahnya itu.
"Mo-ny-e-t lho. Malah memukul ku! kurang ajar." Burhan menyerang membabi buta, namun orang yang tinggi besar itu tidak bergeming.
Dan tiba-tiba jedughh! si copet di serang seseorang sehingga tubuhnya terhuyung dan tasnya langsung direbutnya.
Ketika masih terhuyung. Orang itu kembali menyerang dengan sikunya dan copet pun terjatuh ke tanah.
Burhan melongo dan memandangi copet yang dibikin tak berdaya oleh seseorang yang sama-sama tinggi besar. "Ja-jangan!" suaranya pelan.
"Am-ampun!" copet itu menyatukan kedua tangan dan meminta ampun, secara tiba-tiba dia berdiri dan berlari.
Namun, orang itu biarkan saja yang penting tas Alisa sudah di dapatkan lagi.
Burhan yang berjongkok karena dadanya terasa sakit. Melongo dan heran siapa orang itu, apalagi ketika datang orang yang dia kenal.
"Bos, gak kenapa-napa?" tanya orang tersebut sambil membantu Burhan bangun dan berdiri.
"Maaf, Bos! saya terlambat!" orang itu menunduk.
"Jadi yang tadi siapa? bukan teman kamu atau?" Burhan tambah tidak mengerti dibuatnya.
"Bukan, itu tidak tahu!" orang itu menggeleng.
Plak ...
Sebuah tamparan bersarang di pipi orang tersebut. "Gila, kau itu saya suruh untuk mengambil tas dia dan saya yang menjadi pahlawannya."
"Maaf, Bos." Orang itu menunduk.
"Dasar kau ini ya?" Burhan tampak marah namun tak bisa apa.
Orang yang merampas tas Alisa dari jambret langsung mengembalikan tas pada sang empu.
"Nona, tas nya. Coba cek isinya! kali saja ada yang bilang." Tas Alisa kembali.
Wajah Alisa tampak cemas dan pucat. Gimana tidak pucat? ponsel uang ATM dan netbook dalam tas itu. Semuanya penting apalagi di netbook tersimpan data perusahaan.
__ADS_1
Makanya Alisa begitu shock dan ketakutan. Tubuh nya menggigil dan meriang juga menangis, Karena data perusahaan itu yang berasa lebih penting dibandingkan ponsel dan lainnya.
Melihat tas nya kembali, membuat wajah Alisa kembali berdarah tidak terlalu pucat Paseh seperti tadi. Dia menyeka air matanya yang sudah jatuh ke pipi.
"Makasih ya, A ... sudah mengembalikan tas bos saya?" ucap Mita sambil mengangguk dan mengambilkan tas Alisa.
"Sama-sama." orang yang tinggi besar juga bergodeg itu mengangguk.
Kemudian Mita memberikannya pada Alisa. "Ini di cek dulu, Bu."
Alisa yang duduk di kursi yang berada di pinggir jalan. membukanya dan Alhamdulillah semuanya lengkap.
"Ya Allah ... Alhamdulillah, semuanya lengkap dan tidak jadi hilangnya. Terima kasih ya Allah!" Alisa mendongak ke langit.
"Gimana, Bu?" tanya Mita sambil menoleh pada tas nya Alisa.
"Alhamdulilah, semuanya lengkap. Makasih ya, A ... makasih banyak?" Alisa mengedarkan pandangannya pada orang tersebut.
"Sama-sama, itu sudah berkewajiban saya." Balas orang itu.
Alisa mengambil uang dari dompet nya yang dia serahkan pada orang itu yang berdiri tegap.
"Tidak, usah. Nona, saya memang berkewajiban menjaga anda. Karena saya sudah di tugaskan untuk menjaga anda." sambungnya.
"Maksud anda?" Mita mengerutkan keningnya, mewakili Alisa yang penasaran dengan ungkapan orang tersebut.
Orang itu palango-plongo melihat kanan-kiri dan depan belakang. "Saya memang bertugas untuk menjaga anda. Saya diberi tugas oleh pak Hadi untuk menjaga anda dari kejauhan." Orang itu pun menunjukan. isi chat nya dengan Hadi.
"Oo!" Mita melirik pada Alisa yang begitu di istimewakan. Tapi memang wajar sih! bila Alisa diistimewakan. Mengingat tugasnya lebih berat dan jabatannya juga asisten pribadi.
Alisa justru terdiam tak bergeming. Tidak menyangka kalau dirinya akan di dampingi bodyguard segala. Namun ada rasa sedih dalam hatinya dan entah karena apa itu?
"Ok, Nona. Silakan masuk ke dalam kamar hotel, biar saja menjaga mu dari kejauhan. Dan jangan khawatir akan keselamatan anda, Oya. Saya harap anda lebih berhati-hati dengan orang baru Anda kenal." orang pun pergi sebelum Burhan sampai tempat.
"Pak Burhan kenapa? jalannya terhuyung begitu?" Mita kaget, dan yang tadi mengejar copet itu kan Burhan, tapi yang mengembalikan tas Alisa lain orang.
"Aduh, saya kena tonjok nih. Sakit ..." jawab nya Burhan. "Oya, tas nya sudah kembali kan? saya yang menghajar copet itu sampai babak belur dan kabur begitu saja. Kemudian orang itu datang mengambil dan katanya mau di berikan pada pemilik nya."
Burhan mengarang cerita, kalau dialah yang menghajar perampok tersebut. Padahal pada kenyataan nya tidak seperti itu.
Mita yang kurang percaya dengan Burhan cuma tersenyum tipis sambil menoleh pada Alisa yang kini memeluk tas nya.
"Ooh, makasih ya pak Burhan? makasih banyak sudah mengejar itu orang!" ucap Alisa sambil melirik sekilas ke arah Mita yang menaikan bahunya.
"Ooh, sama-sama. Saya juga senang bisa membantu anda kok!" Burhan tampak bangga.
Lalu, Alisa pamit untuk masuk duluan di ikuti oleh Mita ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih ya reader ku! semoga kalian di berada dalam lindungan yang maha kuasa, Aamiin.