Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Meminang


__ADS_3

Netra mata Diana menyisir ruang tengah yang tidak lebih luas dari kamarnya itu. Dan kosong tanpa furniture kecuali sofa untuk duduk.


"Assalamu'alaikum ..." gumamnya Hadi dan Diana.


Di susul oleh keluarga Hadi lainnya. Sementara Liana langsung masuk ke dalam kamar sang sahabat.


"Wa'alaikum salam ... silakan masuk dan maaf di sini cuma begini adanya," ucap Bu Juli menyilakan tamunya untuk masuk dan dengan barang bawaan saja sudah tampak penuh ruangan tersebut.


"Makasih, sudah di akui juga dan jangan repot-repot, dan kami membawa makanan. Di buka saja." Gumamnya Diana dengan lirih sembari menunjuk barang hantaran yang kini di pindahkan ke ruang lain.


"Aduh, jadi tambah malu ini. Bukan kami yang menyediakan ya? malah yang bertamu yang repot-repot membawa ini itu." Bu Juli menunduk merasa malu.


"Jangan malu, Bu ... ini tidak seberapa kok." Diana melirik ke arah Bu Juli yang kini mereka duduk berhadapan.


Liana yang masuk ke dalam kamar Alisa, mendapati temannya itu dengan penampilan sangat cantik, di balut dengan kebaya warna abu pastel dan kainnya juga.


Tatanan rambut di kepang rapi dan berhias beberapa bunga serta hiasan lainnya, sangat tampak cantik. Membuat Liana melongo dan benar-benar pangling pada sahabatnya itu.


Mulut Liana menganga dan tidak mampu berkata-kata akan kecantikan sahabat sekaligus calon ibu sambung nya itu.


Alisa yang tampak gugup pun memandangi Liana tanpa kata. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangannya.


“Ya Tuhan ... kau cantik sekali dan bikin aku pangling. Yang lain pun pasti pangling sama kamu Alisa.” Pada akhirnya Liana mengeluarkan suara dari mulutnya setelah beberapa saat terkesima dibuatnya.


“Kau jangan buat aku tambah nervous dong. Malu tau ...” ucap Alisa sembari menunduk.


“Emang benar lho, gimana reaksi papa ku ya nanti?” Liana mengetuk-ngetuk jari telunjuk ke dagu, seolah berpikir penasaran dengan ekspresi sang ayah nanti.


Liana bukannya sakit hati, sang ibu akan di madu, namun malah tampak happy-happy saja.

__ADS_1


Sementara Alisa menatap heran kepada sang sahabat yang tidak merasa sedih atau kecewa, kalau sang ayah akan menikah lagi. “Al? aku heran sama kamu. Seharusnya nya kau ini kecewa, sakit hati atau sedih, ini malah slengean begitu?”


“Ha? ngapain sedih? Apalagi kecewa? kalau keputusan mama seperti ini, kan jelas. Bukan papa ku yang mengkhianati mama ku! Tapi mama ku sendiri yang menginginkan ini semua demi menyempurnakan kebahagian papa ku, kalau papa ku yang selingkuh sama kamu. Barulah aku kecewa dan sakit hati gitu,” ujar Liana dengan suara yang pelan.


“Memang tidak. Papa mu tidak pernah selingkuh atau semacam nya, apalagi sama aku. Sumpah gue,” ucap Alisa sambil mengangkat jarinya.


Alisa menjadi teringat pada omongan ibunya Rahman yang menuduh dirinya yang tidak-tidak, bahkan memfitnah dia menjadi simpanan om Hadi.


“Emang benar, papa ku emang sosok orang yang setia dan perhatian, kau tidak perlu khawatir ya? apalagi mengkhianatinya,gue gantung di pohon toge,” sambung Liana dan berekspresi geram.


“Waw, gue takut. Takut sahabat ku ternyata kejam juga.” Alisa bergidik sambil tersenyum geli.


Kemudian, Liana mengajak Alisa untuk keluar dari kamarnya.


“Aku  malu Lian ... malu banget nih.” Alisa bergumam sembari menunduk dalam, gak berani mengangkat wajah atau menunjukan wajah cantiknya ke semua orang.


“Sudah, jangan malu-malu. Apa sih yang membuat kau mu malu? yang ada ... biasanya juga kau ini kan malu-maluin, ha ha ha ...” Liana malah tertawa kecil.


Degh.


Hadi yang melihat kedatangan Alisa yang merasa pangling dengan penampilannya yang sangat cantik. Tadi dia di butik hanya melihat mengenakan kebaya nya saja, tanpa make up dan tatanan rambutnya yang mungkin dari salon itu, namun Hadi tampak tenang biarpun dadanya mendadak berdebar melihat gadis itu.


“Masya Allah ... cantiknya, Alisa. sungguh cantik kau Lisa,” gumamnya Diana sambil melihat ke arah Alisa yang terus menunduk.


“Mas, ini kah calonnya Hadi?” bisik kakak ipar Hadi yang bernama Cici pada suaminya yaitu Kakaknya Hadi yang bernama Didi.


“Iya kayanya, saya juga baru melihatnya.” Jawab sang suami yang menggelengkan kepalanya yang baru juga melihat Alisa.


Kemudian Didi mendekati Hadi dan berbisik. “Dia bukan calon mu, tapi kok masih muda banget?”

__ADS_1


Hadi hanya melirik ke arah Alisa sebentar lalu sedikit menangguk. Emangnya kenapa?”


“Tidak, abang hanya merasa ... apa tidak kemudaan? ini sih seusia putri mu,” ucap pak Didi.


“Bukan pilihan saya, tapi pilihan istri jadi ... gimana yang pilihkan saja. Saya cuma tinggal menikmati saja he he he,” suara Hadi tidak kalah pelannya.


“Untuk mempersingkat waktu, saya mau mengutarakan maksud dan tujuan saya datang ke sini,” tutur Diana dengan lirih.


Bu Juli dan suami jaga yang lain, mendengarkan dengan seksama. Dirga pun tidak mengeluarkan suaranya sambil makan hidangan yang ada.


“Maksud saya ke sini, yaitu ingin meminang Alisa untuk suami saya yang akan menjadikannya istri. Apakah akan Alisa terima?” Diana mengarahkan pandangan nya kepada Alisa yang terus menunduk tidak sedikitpun mengangkat wajahnya.


Kemudian Diana mengalihkan pandangan nya ke arah orang tua nya Alisa yang terdiam dan merasa minder, terbesit juga dalam hati. Apa iya Alisa harus menikah dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang suaminya.


Hanya ... Hadi lebih terlihat segar dan tidak terlalu tampak tua di usianya yang sudah menginjak kepala empat itu.


“Apa kau rela menikahkan putri mu itu dengan pria yang usianya tidak jauh dari mu? Lebih pantas menjadi ayah memang anaknya seusia Alisa bukan?” pak Anwar berbisik, dia merasa tidak rela bila Alisa jatuh ke pelukan Hadi. Karena sebenarnya dia pun ada hati pada anak sambung nya itu.


Istri nya hanya terdiam dan memikirkan bolak-balik dan memikirkan baik dan buruknya, kalau melihat dalam hal ekonomi sih, bu Juli yakin kalau putrinya akan diberikan hidup yang senang, intinya akan lebih baik dari sebelumnya. Sebab setidaknya bu Juli cukup mengenal keluarga Diana dan Hadi dengan baik.


Hadi dan Diana memang sangat baik sedari dulu juga sewaktu Alisa masih kecil juga asalkan main ke tempat Liana, apa yang di butuhkan oleh Alisa menyangkut sekolah selalu di bantunya.


“Gimana, Bu Juli. Apakah pinangan saya apakah diterima oleh kalian?” lirihnya Diana kembali dengan tatapan yang mengarah pada bu Juli dan suaminya.


“Em ... saya selaku orang tua, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putri saya,” ucap bu Juli menjeda ucapannya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Marasa haru juga, di saat ini berhadapan dengan orang yang mau melamar putrinya. Tanpa ayah kandung dari Alisa sendiri ....


.

__ADS_1


...Bersambung!...


Mohon dukungan dengan cara like komen dan lainnya🙏


__ADS_2