
Setelah rapi, mereka pun sarapan. Hadi pun tetap membisu. Tidak mengeluarkan suaranya barang sepatah katapun. Dia malah sibuk dengan ponselnya.
Sarapan pun Alisa suapi. Ketika Alisa tanya pun cuman ... menggeleng atau mengangguk.
Dia memang merasa pusing atas bawah. Gara-gara gagalnya menyalurkan keinginan yang sudah hampir membuncah tersebut.
Melihat Hadi cuek begitu, rasa kasihan dan sedih bercampur menjadi satu. Gak enak juga, namun harus gimana? masa dia harus nawarin, mana dah siang juga.
...----...
"Aku kangen deh sama kamu, Man." Liana memeluk Rahman.
Liana mendatangi Rahman di kantornya. Dan sudah tidak canggung melakukan peluk cium pada Rahman.
Seperti saat ini. Rahman dibuat dapat banyak dengan perlakuan Liana yang memeluk dan menciumnya. Benar-benar beda dengan dulu dengan Alisa yang tidak pernah melakukan apapun.
"Kau itu suka banget perlakukan aku seperti begini!" ucap Rahman sambil membalas yang Liana lakukan.
"Iya dong. Karena aku cinta sama kamu, aku sayang banget sama kamu, Man!" balasnya Liana sambil mengalungkan tangan di pundak nya Rahman yang memeluk pinggangnya.
"Benarkah kau mencintai ku?" Rahman menatap lekat, pikirannya mulai traveling. Sepertinya apa pun yang dia minta pasti akan di berikan termasuk kehormatan.
"Iya, aku cinta banget sama kamu. Dan aku itu gak pernah lakukan atau memberikan nya pada pria lain selain sama kamu. Alisa tahu aku gimana," Liana membalas tatapannya Rahman yang mulai berani itu.
"Aku percaya. Apa yang kau berikan itu yang terbaik," timpal Rahman lalu memeluk Liana dengan tangan mencoba-coba menyentuh sesuatu yang menonjol.
Dan apa reaksi yang Liana berikan? gadis itu terdiam seolah membiarkan dan keasyikan. Terbukti dengan ekspresinya yang memejamkan kedua manik matanya, dia tampak sangat menikmati sentuhan Rahman yang termasuk kurang ajar itu.
Blak!
"Ups, maaf? sorry!" suara staf nya Rahman sambil buru-baru menutup pintunya kembali.
Seiring dengan terbukanya pintu, keduanya sangat terkejut dan dengan reflek menjauh dari sama lain.
Rahman terlihat malu-malu setelah kepergok oleh staf nya itu. Dia menjadi serba salah di hadapan Liana.
"Maaf? aku khilaf!" Rahman tampak kikuk.
Begitupun dengan Liana, dia berusaha menyembunyikan rasa malunya, wajahnya memerah.
"Em, lanjutkan saja kerjanya. Aku biar menunggu mu di sana." Liana menunjuk pada sofa.
__ADS_1
"Oh, iya." Rahman mengangguk lalu mendudukan dirinya di kursi kerjanya.
Liana duduk dengan santai di sofa yang tidak jauh dari Rahman yang masih terlihat tegang.
Kemudian Liana memainkan ponselnya. Dengan pikiran yang melayang. "Huuh, hampir saja." batinnya Liana bermonolog.
Rettt ....
Rettt ....
Ponsel Liana berbunyi di saat sang empu melamun. "Mbak."
Liana menerima pesan kalau mamanya ingin dia cepat pulang.
"Ada apa ini?" buru-baru Liana beranjak meraih tas nya dan mendekati ke arah Rahman.
"Man aku pulang dulu! di suruh orang rumah untuk segera pulang." Liana mencium pipi Rahman.
"Lho, terburu-buru?" Rahman heran.
"Iya, aku pulang dulu!" Liana mempercepat langkahnya untuk menjangkau motornya.
Liana terus melajukan motor kesayangannya. Membelah jalanan dan dan berbaur dengan keramaian, hatinya sudah mulai di rumah sementara dirinya masih di jalanan.
"Semoga saja mamah tidak kenapa-kenapa!" batinnya Liana dengan cemas.
Selang beberapa waktu, akhirnya dia sampai juga di kediamannya itu. Tanpa menyimpan dulu motornya, dan memberikan kunci pada supir di sana. Sementara dirinya berlari memasuki rumah mewah tersebut.
"Mama? Mah?" Liana langsung ke kamar sang bunda. Dan di lantai dasar tiada orang seorang pun.
Diana sudah dari pagi kesehatannya drop. Kondisinya melemah sehingga saat ini dia infus di tempat karena dia menolak di bawa ke rumah sakit.
Sang Oma yang melihat ke arah Liana lebih cepat. Melambaikan tangan pada cucunya yang tampak shock melihat kondisi sang bunda.
"Mamah?" suara Liana pelan dan lalu menghampiri Diana yang tampak lemah.
"Liana? kau dari mana saja! pulang kuliah itu langsung pulang ke rumah. Jangan keluyuran dulu, apalagi menemui laki-laki, suruh saja dia yang datang," Lirihnya Diana yang di tujukan pada putrinya itu.
Liana hanya terdiam. Dengan manik mata yang berkaca-kaca melihat ke arah sang bunda.
Di sebelah kanan ada Dirga yang duduk sedari tadi. Menunggui bundanya yang tampak lemah tersebut.
__ADS_1
"Aku dari tempatnya Rahman. Aku langsung pulang setelah mendapat chat dari mbak." Suara Liana pelan sambil memegangi tangan Diana yang kena infusan.
"Ooh ... lain kali langsung pulang ya? kalau ingin ketemu suruh saja dia yang datang ke sini. Pintu rumah ini akan terbuka untuk orang-orang yang serius pada mu." Tambahnya Diana dengan lirih.
Beberapa asisten pergi dari kamar nya Diana tinggal Oma dan asisten khusus yang berada di sana.
"Mama, cepat sembuh dong ... Dirga kan sedih bila Nama seperti ini terus." Keluhnya Dirga yang di tujukan pada ibundanya.
"Iya, sayang ... doakan saja sama kamu ya Dirga. Biar mama cepat sembuh ya?" tutur Oma nya sambil mengusap kepalanya anak itu.
"Iya, Oma ..." Dirga mengangguk 0elan dan mengusap pipi nya.
"Papa sudah di beri tahu belum?" tanya Liana sambil mengeluarkan ponselnya.
"Papa hari ini akan pulang, mungkin nanti malam sampai nya dan jangan bilang-bilang kalau Mama drop. Biar saja! papa juga mau pulang kok." Pinta Diana dengan lirih.
Liana terdiam lalu melihat ke arah Oma nya yang mengangguk pelan. Agar Liana menuruti perkataan mamanya.
Wanita sepuh itu merapikan kerudungnya serta memeluk tubuh tubuh Dirga.
"Kalian jangan khawatir. Saya baik-baik saja dan saya sekarang mau tidur," ucap Diana sambil memposisikan kepalanya dan memejamkan kedua mata.
Liana memegangi tangannya sang bunda sambil meneteskan air mata. Menatapi bundanya yang kini tertidur.
"Dirga belum makan, makan dulu yo? sama Oma ya! biarkan Mama istirahat," ajak Oma nya sambil menarik bahu anak itu yang belum makan.
Anak itu menurut, turun dari tempat tidur sang bunda.
"Lian ... Oma dan Dirga mau makan dulu ya? tungguin mamanya.'' Sang Oma menuntun Dirga keluar dari kamar.
"Iya, Oma." Liana kembali menatap sang bunda dengan hati yang mencelos.
Sekitar pukul 20.00 wib, Hadi dan Alisa sampai di kediamannya. Dia yang tidak tahu kondisi sang yang sebenarnya itu. Tetap konsisten dengan janji yang berniat mau pulang walau sebenarnya ingin istirahat dulu barang semalam di sana.
Sang ibu yang menyambut di depan langsung memberi kabar kalau Diana drop. Dan Hadi langsung menyimpan tasnya di meja lalu berlari menuju kamar sang istri dengan menggunakan tangga. Agar lebih cepat ke tempat yang menjadi tujuannya saat ini.
Hati Hadi tidak karuan mendengar kondisi sang istri yang drop itu, sedih bercampur dengan rasa berdosa karena dia tidak ada di sisinya bahkan bisa di bilang bersenang-senang dengan istri mudanya ....
...🌼----🌼...
Siapa yang tau hari esok, karena jari ini kenyataan! kemarin kenangan dan hari esok adalah perencanaan yang hanya Tuhan yang menentukan.
__ADS_1