Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Bimbang


__ADS_3

Pak Mur jadi serba salah, mau nanya tidak enak, dibiarkan juga kasihan melihat majikannya menangis seperti itu.


Kini Alisa harus memantapkan hati untuk bercerai dari Hadi. Walaupun dia merasa bimbang dengan keputusan itu! karena dalam hati yang paling dalam dia tidak ingin mengucapkan hal tersebut.


Karena bagaimanapun dia sudah terlanjur jatuh cinta dan sayang kepada sosok Hadi begitupun pada keluarganya.


"Pak, berhenti di restoran dekat bandara ya? bapak pasti belum sarapan!" Alisa setelah membuang ingusnya dengan tisu.


"Iya, Non. Tapi sebenarnya sih ... Non tidak usah pikirkan Bapak. Pikirkan saja kesehatan Non. Sepertinya Non ini terlalu capek, setiap hari berkerja, belum bolak balik keluar kota!" Kata pak Mur dari belakang kemudi.


Kata pak Mur benar, Alisa pun rasanya pengen kabur bila harus mengikuti ego. Tidak perlu pergi ke Lampung untuk mengurus kerjaan.


Tapi itu tidak baik dan itu lari dari tanggung jawab namanya. Biarlah mungkin ini yang terakhir dia ke luar kota. Dan seterusnya biar dia kerja di tempat saja. Pikir Alisa.


"Tidak, apa. Pak ... selama tuan belum mau ngantor! terpaksa aku yang gantikan, itung-itung belajar." Alisa menunjukan senyum getirnya, lalu dia mengeluarkan alat make up nya, dia tidak mau terlihat pucat dan tampak habis menangis.


Alisa harus terlihat kuat dan tegar juga smart di mata orang lain. Dia tidak boleh terlihat rapuh di mata sesama stafnya.


Mobil pun berhenti tidak jauh dari bandara, keduanya turun dan memesan makan buat sarapan.


"Pak pesan aja yang bapak suka," Alisa menatap ke arah sang supir.


"I-iya, Non." Pak Mur mengangguk.


Tidak lama kemudian, pesanan pun datang, pak Mur langsung melahap sarapannya. Lain dengan Alisa yang bengong dan mengaduk-aduk makanannya.


Alisa tidak mau berpisah dari Hadi. Tapi dia gak bakalan kuat bila memang sikap Hadi yang dingin dan tidak perhatian semenjak kepergian istri nya itu.


Masih mending dulu ketika mereka baru-baru menikah, biar cuek tapi penuh kehangatan. Tidak seperti sekarang, biarpun ada sentuhan namun terasa hambar bersama sikap dinginnya tersebut.


Tanpa di sadari air matanya pun kembali berlinang. Jatuh ke tangannya dan buru-buru menyekanya sambil melirik pada pak Mur.


Pak Mur pun menjadi gak enak hati bila terus melihat Alisa seperti itu. "Non, kenapa gak di makan? nanti Non sakit."


"Ooh, Oya. Pak!" Alisa pun memaksakan diri untuk makan lagian sayang juga yang sudah di pesan jika tidak di makan sama sekali.


Selesai makan, mereka pun langsung ke Bandara. Pak Mur membawakan koper nya Alisa, di sana Alisa bertemu dengan Mita dan Zidan yang baru datang.


"Wih ... pagi sekali, mana bos? bukannya mau sama dia perginya!" Zidan celingukan mencari Hadi yang tak nampak batang hidung nya itu.


"Em, dia gak ikut." Balas Alisa singkat.


Mita yang merasakan ada hal tidak beres yang nampak dari Alisa. Mengusap punggung nya. "Mungkin dia masih butuh waktu untuk beraktifitas. Dan katanya dia yang akan mengurus di kantor pusat."

__ADS_1


Alisa menoleh dan mengangguk. Mereka langsung menunjukan data/tiket dll nya.


Pak Mur pun berpamitan pulang, setelah Alisa memasuki pintu untuk menuju pesawat. Karena sebentar lagi pesawat akan take-off.


Saat ini Alisa duduk melamun di dekat jendela melihat pemandangan di pagi hari dari dalam pesawat.


"Hari ini begitu cerah ya?" kata Mita pada Zidan yang berada di sebelah sana.


"Hem," Zidan mengangguk.


Alisa terdiam saja sambil melamun dan teringat masa-masa manis bersama Hadi. Dari situlah timbulnya rasa cinta dan sayang di dalam hatinya.


Pesawat yang mulai lepas landas membawa berapa puluh penumpangnya ke tempat tujuan, yaitu kota Lampung.


Begitupun dengan Alisa dan kedua rekannya, pergi ke sana namun bukan untuk berlibur. melainkan untuk urusan kerjaan.


Dan beberapa waktu kemudian, pesawat pun sudah landing di atas permukaan landasan pacu.


"Bu, mari kita turun?" Mita menepuk bahu Alisa yang tampak begitu anteng melamun.


"Ha, iya!" Alisa tersadar lalu beranjak mengambil tasnya dari dalam kabin.


Mereka langsung menuju tujuannya yaitu perusahaan HD grup yang sudah menunggu kehadiran mereka bertiga.


Setelah sekian waktu bergelut dengan perasaannya sendiri. Akhirnya Hadi memutuskan untuk ke kantor.


Saat ini Hadi sudah nampak rapi untuk ngantor. Namun dia tampak melamun di depan cermin membayangkan! biasanya sang istri yang menyiap semua keperluannya, tapi kali ini dia siapkan sendiri.


Tidak lama kemudian pintu pun diketuk berapa kali, dan suara pekikan Dirga memanggil-manggil mommy nya.


"Mommy? masih di dalam bukan? kok nggak nyiapin sarapan buat aku sih?" suara Dirga dari belakang daun pintu.


Hadi memutar badannya sembari mengancingkan lengan kemeja, dia juga baru ingat mungkin istrinya pun tidak membuatkan sarapan untuknya.


Hadi yang membawa langkahnya menuju pintu lalu membuka pintu tersebut dan tampak Dirga sedang berdiri, celingukan mencari mommy nya.


"Mommy mana Pah? kok nggak ada bikin sarapan buat aku?" tanya Dirga.


"Kalau sarapan ... kan pasti sudah siap dibikinkan mbak." Hadi menatap putranya.


"Nggak mau, maunya dibikinkan sama mommy," balas nya Dirga sambil menggeleng.


"Tapi mommy nya nggak ada! dia sudah pergi ke bandara," ucapnya Hadi sambil mengacak rambut Dirga.

__ADS_1


"Apa, mommy ke bandara, ngapain ke sana? nggak ditemenin sama Papa!" anak itu semakin menyelidik.


"Em, mommy ada urusan kerjaan!" Hadi duduk sambil memakai kaos kakinya.


"Terus aku gimana dong ... aku mau berangkat sama mommy sekolahnya, kok Mommy gak pamit dulu sama aku?" wajah anak itu berubah sangat sedih.


Hadi berdiri setelah mengenakan sepatunya. "Sama papa ya berangkat sekolah nya!"


"Mau, sama mommy juga!" anak itu mendongak.


Sejenak Hadi terdiam sambil mengusap bawah dagu anak itu. Sungguh berartinya kehadiran Alisa di rumah ini.


"Nanti, kalau mommy pulang dari luar kota. Kita bersama-sama ya? sekarang berdua saja dulu!" pada akhirnya Hadi membujuk putra bungsunya itu.


"Aahc ... mommy jahat. Nggak bilang-bilang mau perginya!" anak itu cemberut sambil berjalan dengan tangan Hadi merangkul bahunya.


"Papa janji, nanti bila mommy pulang ... kita akan pergi ke sekolah sama-sama. Oke, sudah jangan cemberut! hilang gantengnya Putra Papa ini." Bujuk Hadi kembali.


"Bener ya? Papa dan Mommy akan mengantar ku setiap pagi ke sekolah." Dirga mengangkat wajahnya.


"Hem!" mereka berjalan menuju ruang makan, pagi ini Hadi dan Dirga makan masakan yang ada saja.


Hati sang bunda, marasa bahagia melihat Hadi sudah rapi dan tas kerja di tangan. "Masya Allah ... alhamdulillah, akhirnya putra ku bangkit dan mau ngantor juga.


Namun wanita sepuh itu heran kok Alisa gak kelihatan. "Lho. Alisa mana? kok dia belum turun?" tanya sang bunda.


"Eh ... Alisa." Hadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dia ada urusan, sudah pergi ke Lampung."


"Pergi ke Lampung?" sang bunda tampak kaget. "Kok tumben dia gak pamit sama Ibu."


"Nggak juga," Hadi mendudukan meneguk minumnya.


"Apakah kalian bertengkar?" sang bunda menatap curiga.


Hadi terdiam, tidak menjawab pertanyaan dari sang bunda.


"Apa tidak sebaiknya, kau saja yang pergi? jangan terus-terusan larut dalam masa berkabung, kasihan Alisa. Dia butuh rehat juga, Hadi ... kasian istri kecil mu itu, mati-matian berjuang berkorban untuk mu, dia butuh perhatian mu juga," tutur sang ibunda.


Hadi hanya terdiam sambil menikmati sarapannya. Ada yang aneh memang! biasa di layani sang istri namun kali kini tidak ada.


Liana yang baru datang pun menanyakan keberadaan Alisa tidak nampak di tempat. Dan Hadi memberikan jawaban yang sama ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Like, komen dari kalian lah membuat aku lebih semangat lagi. Makasih ya🙏


__ADS_2