
Alisa terperanjat kaget ketika merasa ada yang lembab menyapa pipi nya dan bya ... rrrrrr ... lamunannya pun pudar.
“Mikirin apa sih hem? anteng bener, atau ... sedang lamun kan kita berdua,” suara Hadi yang jaraknya begitu dekat dengan wajah Alisa yang sedang duduk melamun serta tangan yang bertumpu menopang kepala.
“Nggak, siapa bilang? Gak mikirin apa-apa,” akunya Alisa sambil mesem-mesem.
“Tapi senyum-senyum sedari tadi.” Hadi makin mendekat dengan sorot mata yang mengarah pada satu titik yang bikin dia candu serta sekian lama tidak ia cicipi manisnya.
Kedua manik matanya Alisa pun menatap wajah Hadi yang begitu dekat dengannya sehingga tidak ada jarak di antara mereka berdua. Nyess ... seiring dengan menempelnya dua benda yang tipis itu menjadi menyatu dan menikmati manis dan kehangatannya.
Hadi terus menyapu dan melu-mat benda tipis miliknya Alisa yang merah merona dan natural tanpa polesan. Nafas keduanya mulai memburu dada keduanya berdebar cepat dan jantung pun berdegup begitu kencang.
Kepala Alisa yang menyandar ke sofa membuat Hadi lebih leluasa, kedua tangan mereka berdua menyatu dan tangan Hadi meremas lembut jemari Alisa yang lentik.
“Com on Alisa ... nikmati peran mu, santai dan buat senyaman mungkin. Buat om Hadi begitu menikmati dan rehat dari kepenatan mengurus istri yang sedang sakit, jadikan dirimu penawar lelahnya. Dan jadikan dia sebagai pengganti capek nya tenaga capek pikiran karena pekerjaan mu,” hati alisa bergumam.
Di saat sedang menyatukan bibir mereka berdua, Hadi memberi panduan agar Alisa mengatur nafasnya dengan teratur dan memperoleh oksigen yang cukup agar Alisa merasa nyaman dan dengan aktifitas ini.
Alisa pun mengatur nafasnya dan menghirup oksigen sebanyak-banyak nya dari hidung, dengan bibir masih menempel dan Hadi semakin mengeksplor setiap yang dia suka.
Kini kedua tangan Alisa merengkuh pundak Hadi, dia kini ingin benar-benar menikmati waktunya bersama Hadi. Tidak perduli perkataan Dania atau perasaan lain, yang jelas sekarang ingin melupakan semuanya dan merasakan kasih sayang dari Hadi malam ini.
__ADS_1
Begitupun dengan Hadi yang ingin menikmati waktunya dengan seratus persen bersama gadis kecil yang sudah bikin dia candu! Sehingga saat ini dia sempatkan pulang walau untuk sebentar, karena kekhawatiran dan rindu dengan gadis ini.
Hadi terus mencumbu sang istri yang melai terbawa suasana dan perasaan, wajah Alisa mendongak seakan menyilakan Hadi untuk menjelajah area leher yang mulus dan jenjang. Hadi pun tanpa membuang waktu langsung saja mengeksplor daerah itu.
Saking gemas dan kangennya, sehingga Hadi pun membuat banyak tanda kepemilikan di area sana yang Alisa tidak mau dan katanya malu bila di lihat orang. Alisa yang merasa greget pun menggigit bahu Hadi.
Hadi mengangkat wajahnya dan mendekat kembali wajah Alisa. “Jangan gigit dong sayang,” suaranya sangat pelan.
“Om juga gigit aku, di sana lagi. nanti orang lihat kan, malu,” sahutnya Alisa tak kalah pelan.
“Itu kan tanda sayang. Hem ...” Hadi kembali meraup bibir Alisa yang menggemaskan. Dengan tangan bergerilya ke mana-mana dan membuka kaitan kaca mata yang letaknya berada di belakang.
Tubuh keduanya yang sudah meremang dan panas dingin, darahnya yang sudah menggolak panas naik ke ubun-ubun. Menjalar ke seluruh tubuh berkumpul di satu titik membuat sebuah dorongan untuk menyalurkan hasratnya.
Alisa di baringkan di atas tempat tidur, dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah tanpa sehelai benang pun. Manik matanya menatap sendu ke arah Hadi yang sedang melepas semua pakaiannya dan tidak menyisakan satu pun di tubuhnya.
Sehingga semua yang dia punya terekspos begitu saja, begitupun singa Hadi yang siap menyerang lawan dengan kegarangannya yang dia miliki, bikin yang melihat menciut takut namun penasaran untuk menikmati serangannya tersebut.
Bibir Hadi menyungging melihat Alisa yang menatap ke arah dirinya. Kemudian dia merangkak naik ke atas tempat tidur masuk ke dalam selimut dan memposisikan dirinya di atas nya Alisa yang tampak sudah siap namun masih malu-malu. Sehingga harus Hadi arahkan gimana-gimananya, termasuk membuka dua tiang gawang yang tertutup rapat, Hadi bukakan biar jalan yang mau di lalui senantiasa lancar jaya dan mendapatkan gol yang sempurna.
Tatapan Hadi mengarah pada wajah Alisa dan sorot matanya pun bertemu. Serta nafas pun menyapu kulit wajahnya masing-masing. “Siap belum sayang? Gawangnya sudah menganga, terbuka. Boleh ya, aku masukan gol ku sekarang.” Setengah berbisik Hadi meminta ijin pada sang empu.
__ADS_1
Dengan malu-malu ... Alisa pun menganggukkan kepalanya. Membuat Hadi tersenyum bahagia, dan langsung saja bersiap menendang bola ke gawang yang sepertinya sekarang sudah tidak ada penjaganya lagi.
Dengan satu gerakan saja. Hadi berhasil melepas singa yang sedari tadi meronta, kini dilepasnya di kandang yang akan membuat dia betah untuk bermain. Hadi bergoyang riang sangat bahagia dengan melepasnya kebutuhan nya ini.
Alisa terus menggeliat-geliat bagai ular yang menari di gelitik dengan ulat bulu. Hadi menyatukan kedua tangan dengan tangan Alisa, saling bertaut dan jemari Alisa yang lentik dan mungil itu di remas Hadi dengan lembut.
Hadi menyerang lawan dengan garangnya. Melepas tembakan dari air liur si singa yang banyak dan menghangat, tubuh Alisa pun dibuat menegang panas dingin bagai orang yang meriang. Sesekali tangan Alisa menjambak rambut Hadi dibuatnya mendongak, habis dia terlalu bersemangat memasukan gol nya hingga bikin dia kaget. Dan merasa sesak.
Permainan yang bikin melayang dan nikmatnya sampai ke ubun-ubun, dan berlangsung cukup lama. Hingga Hadi merasa lelah setelah beberapa kali melepas tembakan dengan air liur si singa. Membuat dia kecapean dan peluh pun bertukar satu sama lain.
Cuph! kecupan terima kasih Hadi mendarat di kening dan pipi Alisa.”Makasih sayang, sudah memberikannya padaku, dan bukan khilaf lagi melakukannya namun penuh dengan kesadaran.”
Alisa terdiam jadi ingat dengan surat itu, namun detik kemudian dia menggelengkan kepalanya. Itu biar gimana nanti saja, yang penting sekarang ini dia menikmati kebahagiaannya bersama Hadi.
Hadi berbaring di sampingnya Alisa yang menoleh padanya dan Hadi menarik kepala istri kecilnya itu untuk tiduran di dada. Dan membelai rambutnya dengan mesra.
Alisa menempelkan pipinya di dada Hadi yang bidang dan terasa hangat biarpun tidak ada apinya. Jari Alisa pun menari-nari di sana.
“Aku sangat bahagia di malam ini bisa melewatkan waktu bersama mu.” Ucap Hadi sangat pelan. Tangannya terus membelai kepala Alisa dan sesekali diciumnya ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan lainnya ya. Makasih