
"Abang. Lakukanlah kewajiban mu sebagai seorang suami kepada istrinya, sekarang ada Alisa yang akan menjadi tempat berkeluh kesah mu. Perlakukan dia sebagaimana mestinya." Pinta Diana dengan suara lirih sambil mengusap kedua pipi suaminya dengan lembut pula.
Alisa yang berada tidak jauh. dari mereka berdua hanya menunduk terdiam.
"Iya, sayang. Abang akan perlakukan dia sebagaimana mestinya. Seperti Abang perlakukan sayang!" cuph. Kecupan hangat mendarat di kening Diana yang memejamkan kedua manik matanya.
"Abang janji ya? akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan menjadi suami lahir dan batin buat Alisa." Suara Diana kembali penuh permintaan.
Hadi terdiam sejenak. Sementara dia sulit untuk berjanji bila harus melakukan kewajibannya lahir maupun batin terhadap Alisa. Kalau sekedar tanggung jawab bisa itu mudah, tapi kalau harus selayaknya suami istri ... Hadi tidak tahu. Karena dia sendiri sangat mencintai istrinya itu, dan Hadi juga harus memikirkan perasaan Alisa.
Lirikan mata Hadi ke arah Alisa yang sekilas melirik juga ke arah dirinya.
"Aku gak cinta. Dan om Hadi juga sudah sepakat kalau pernikahan ini hanya sementara, nantinya aku bisa melanjutkan hidup dengan orang yang cintai nantinya." Batinnya Alisa sambil kembali menunjukan pandangannya.
"Dan Alisa ..." Diana memegangi tangan Alisa di genggamnya dengan lembut. "Lisa ... Lisa harus bisa membahagiakan Abang, layani Abang dengan sepenuh hati. Jangan membantah kemauan Abang."
Alisa melirik ke arah Hadi yang seolah menyuruhnya untuk mengangguk. pada akhirnya Alisa pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Saya sangat bahagia bila kalian menjadi suami istri seutuhnya. Bukan cuma status saja." Diana mengedarkan pandangannya pada Hadi juga.
"Sayang, jangan banyak pikiran apa pun. Kami berdua tau apa yang harus kami lakukan," ucap Hadi sembari merangkul bahu Diana dengan mesra. Sayang cukup pikirkan kesehatan sayang saja. Okay?" lalu Hadi pun menyuruh Diana untuk beristirahat.
Alisa duluan keluar dari kamar Diana, dia sudah ingin melakukan ritual mandi karena badannya sudah terasa sangat lengket dan ingin berganti pakaian.
"Sayang, Abang temani bobo ya?" Hadi membaringkan tubuhnya di sisi sang istri.
Diana menatap suaminya yang masih mengenakan pakaian pengantin. "Abang belum mandi dan berganti pakaian. Mandilah dulu, dan biar aku tidur sendiri. Abang pergilah ke kamar Abang bersama Alisa sekarang."
Kedua netra mata Hadi menatap dirinya yang iya masih belum berganti pakaian. Lalu dia kembali bangun. "Oke, Abang mau mandi dulu lah. Nanti Abang balik lagi ke sini."
"Tidak, Abang tidak perlu balik lagi, aku akan tidur. Abang pasti capek dan beristirahat lah? bersama Alisa." Kata Diana sembari sedikit mendorong dada Hadi agar pergi.
"Tapi sayang, Sayang belum tidur. Kan biasa nya juga Abang akan masuk kamar Abang. Bila sayang sudah tidur." Protes Hadi.
"Sekarang Abang sudah punya istri lain yang harus diperhatikan. Jadi Abang datangi dia, aku akan segera tidur kok jangan khawatirkan aku," tambah Diana terus menyuruh Hadi untuk pergi ke kamarnya.
Hadi tampak menghela nafas kasar. "Baiklah, Abang mau pergi. Sayang segera tidur ya!"
__ADS_1
"Iya ... aku akan segera tidur kok." Diana memeluk pundak Hadi sembari berkata lirih. "Datangi Alisa ya? aku tahu. Abang sangat merindukan sesuatu yang selama ini tidak bisa aku berikan kepada Abang."
Sontak Hadi tertegun mendengarnya.
"Abang janji ya? Abang akan melakukan kewajiban Abang dengan baik terhadap Alisa. Janji?" Diana memudarkan rangkulannya dan menatap wajah Hadi dengan lekat.
"Em, Abang ..." Hadi tampak ragu-ragu.
"Ayolah Abang ... Diana minta Abang perlakukan Alisa seperti Diana juga." Rengek Diana. "Okay. Diana ngerti kalau Abang belum cinta sama Alisa. Tapi lambat laun ... Abang akan memiliki perasaan itu dan awali lah dengan sikap yang manis, lakukan kewajibannya dengan baik. Niscaya rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya."
Hadi tidak menjawab sedikitpun. Dia membisu seribu bahasa.
"Abang, tahu. Aku tidak bisa melakukan apapun buat membahagiakan Abang lagi." kini suara Diana bernada sedih.
"Sayang, Abang bahagia dengan sayang jadi--"
Diana menggeleng serta menempelkan telunjuknya di bibir Hadi. "Tidak perlu Abang lanjutkan perkataan Abang itu, sudah lah. Sekarang Abang lakukan saja kewajiban Abang pada istri Abang lainnya."
"Baiklah. Abang akan istirahat dulu." Hadi pun pergi dari kamar Diana.
Sementara Alisa yang berada di kamarnya, kebingungan karena semua barang nya tidak tersisa satupun.
"Kemana semua barang ku? pakaian ku, handuk pun tidak ada." Manik mata Alisa memandangi kamar yang hanya ada tempat tidur yang rapi.
Kemudian Alisa buru-baru keluar lagi dan mendatangi kamarnya Liana. Dia mau menanyakan pakaiannya yang sudah tidak ada di kamar.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Lian ... apa kau belum tidur?" suara Alisa dari balik pintu. Karena tidak ada sahutan dari dalam. Membuat tangan Alisa mendorong handle pintu di bukanya perlahan.
Pandangan Alisa jelas langsung ke dalam dan apa yang dia temukan? Liana dan Rahman sedang berciuman.
"Astagfirullah!" Alisa dengan refleks berbalik dan menutup wajahnya.
__ADS_1
Sungguh tidak menyangka kalau dengan beraninya mereka berduaan di kamar! dan entah siapa yang salah, perempuannya yang ngajak atau gimana? yang jelas Rahman itu dulu gak pernah berani macam-macam sama dirinya, masuk kamar pun gak pernah. Apalagi ngamar!
Dada Alisa turun naik, dan tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilihat barusan.
Lina dan Rahman pun kaget, ketika pintu tiba-tiba terbuka. mereka berdua memang sudah lama berada di dalam kamar dan sekedar mengobrol. Tadinya memperlihatkan kolam renang di lantai atas.
Mereka melakukan ciuman baru waktu itu saja pas Alisa membuka pintu. Mulanya hanya mengobrol biasa saja. Paling-paling tangan Liana mengusap pipinya saja.
Namun entah kenapa, tiba-tiba mereka berdua malah nyosor begitu saja sehingga terjadinya ciuman pertama bagi Liana maupun Rahman, lalu keduanya pun menikmati pertemuan bibir yang menghangatkan.
Mereka teramat kaget, ketika pintu terbuka dan yang membukanya adalah Alisa. Keduanya tak bergeming, dan saling bertukar pandangan dengan jantung yang terus berdegup sangat kencang.
Hancur perasaan Alisa saat ini. Menyaksikan orang yang dia sayang ternyata melakukan sesuatu pada sahabatnya sendiri. walau pun mereka sudah putus. Tetapi perasaan tidak bisa dipungkiri.
Alisa berlari ke kamarnya menangis di sana. Dadanya yang terasa sakit dan sesak. "Aku tidak menyangka kalau kalian! hik-hik-hik."
Kepala Alisa menyusup ke bawah bantal. Menangisi seseorang yang amat di sayang. Tetapi sesaat kemudian tangisnya pun reda, mengusap pipinya yang basah itu.
"Aku tidak boleh begini! yakinlah Alisa ... kalau jodoh tidak akan kemana. Dan bila Rahman adalah jodoh ku, dia akan kembali padaku!" Alisa bergumam sambil menghela nafas panjang. Huuh ....
Lalu kemudian Alisa bangkit dan berniat ke kamar yang ada ibu dan kedua adiknya itu.
"Tapi, apa kata dunia? bila aku tidur di kamarnya ibu! apa kata Tante Diana? oke! aku harus ke kamarnya om Hadi, pasti batang ku ada di sana. Aku pengen mandi!" Alisa bermonolog sendiri sambil menutup pintu.
Ketika sedang berjalan sambil melamun menuju kamar Hadi.
"Ehem ... selamat ya? pengantin baru, saya baru bisa mengucapkan sekarang nih. Baru sempat!" Dania hentikan langkah Alisa yang terkesiap.
"Tante! kemana saja? aku baru melihat mu? apa kau bersembunyi di gua Hiro dan tidak ingin melihat ku bersanding dengan om Hadi?" Alisa bicara sekenanya.
"Hem, kau boleh bersenang-senang saat ini kau sedang berada di atas angin. Tapi bersiaplah bila suatu saat nanti kau akan di jatuhkan." Jelas Dania sembari melipat tangan di dada, memperlihatkan keangkuhannya.
"Aku tidak takut, Tante. Karena jatuh, bagiku adalah hal yang biasa. Jadi aku tidak akan gentar bila itu terjadi." Balas Alisa dengan tatapan yang tajam ke arah Dania yang berasa di skakmat dengan omongan Alisa ....
.
Jangan lupa like komen dan vote nya ya?
__ADS_1