Istri Kontrak Ayah Sahabatku

Istri Kontrak Ayah Sahabatku
Terpikirkan


__ADS_3

Hadi yang tampak tenang, namun Alisa terlihat kaget dengan adanya Zidan di depan pintu kamarnya itu, lalu Alisa ingin menarik tangan dari genggaman Hadi yang mengunci.


Keduanya terdiam dan berdiri di tempat. Tanpa suara ataupun pergerakan.


Zidan masuk ke dalam kamar beberapa langkah. Dan menutup pintunya, dengan hati yang yang terbakar. Zidan melepas tatapan tajam dan kecewa ke arah mereka berdua begitu intens.


"Sedang apa kalian berduaan di dalam kamar? apa pantas kalian yang notabene nya bos dan bawan berduaan di dalam kamar bahkan dari semalaman," suara Zidan bergetar dan dadanya terasa sesak, sakit.


Hadi menarik tangan sang istri untuk duduk di sofa, dengan ekspresi yang tetap tenang dan berwibawa Hadi dengan santai nya duduk berasa Alisa yang tampak tegang.


"Tidak terpikirkan oleh ku, bila kalia ada main di belakang orang-orang yang menghormati dan percaya sama kalian. Tidak pernah ku duga, kau yang tampak sempurna tega menduakan istri mu di rumah!" sambung Zidan sambil menahan Saliva nya yang sulit melewati tenggorokan.


Karena Hadi maupun Alisa masih terdiam, membuat Zidan kembali mengeluarkan suaranya sambi duduk di sofa satunya. "Aku percaya sama kamu Lisa. Kamu gadis baik-baik, dan aku ada niat untuk melamar kamu menjadi istri ku, tapi melihat kenyataan ini ... saya kecewa sangat kecewa!"


Dada Alisa terasa sesak, seserius itukah Zidan padanya. Padahal tidak pernah ia memberi harapan kepada pemuda tampan itu.


"Sudah, sudah mengeluarkan semua unek-unek di dalam hati mu itu?" Hadi menatap datar ke arah Zidan yang sedang duduk dan menumpukan tubuhnya pada siku yang menempel ke paha.


"Apakah kau tidak memikirkan gimana hancurnya hati istri mu! suami tercinta yang terlihat nyaris sempurna selingkuh!" ucap Zidan dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kecewa.


Alisa menunduk dalam. Hatinya bisa membayangkan apa yang di rasakan oleh Zidan saat ini.


"Kamu akan melaporkan nya? pada istri ku atau semu orang?" tanya Hadi dengan santainya.


"Hem, tidak begitu juga, saya bukan tipe orang yang pandai membuka aib orang?" balas nya Zidan. Membuat Alisa mengangkat wajahnya melihat ke arah Zidan.


"Oke, terima kasih?" Hadi melirik ke arah Alisa yang tampak cemas. "Ayo sayang? kita sarapan dulu! sudah siang nih."


Hadi beranjak dan menarik tangan Alisa yang terus menoleh pada Zidan yang menatap ke arah dirinya.


Semua pertanyaan Zidan belum terjawab satu pun.


Sebelum melintasi pintu, Hadi hentikan langkahnya sembari menoleh ke belakang melihat Zidan seraya berkata. "Kita bisa bicarakan nanti, setelah urusan kerja selesai."


"Hehhh ..." Zidan kesal, menonjok sofa dengan kepalan tangannya.

__ADS_1


Kemudian Hadi dan Alisa berjalan menuju lobi dan ingin mencari sarapan.


"Kenapa? bengong saja dari tadi, menyesak kah? kita sudah melakukan itu dengan ku? atau ... ingin lag?" goda Hadi sambil mesem di sela sarapannya.


"Em, gak tau." Alisa menggeleng tidak mengerti.


Hadi menggerakan tangannya ke arah Alisa, dan mengusap ujung bibirnya nya yang terdapat makanan. Lalu ia lap lagi dengan tisu.


"Kalau makan itu jangan belepotan, Kanya anak kecil saj, Dirga juga kalau makan gak kaya kamu!" Hadi berucap sambil mesem-mesem.


"He he he ." Alisa tersenyum garing, Lalau mencuri-curi pandang pada Hadi yang melihat ke lain arah.


Adegan itu di lihat oleh Zidan yang semakin hancur hatinya. Rasanya tidak sanggup melihatnya, tapi tetap matanya selalu melirik ke arah mereka berdua.


Setelah sarapan keduanya langsung berdiri untuk memulai aktifitasnya hari ini.


Zidan menghela napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosi nya. Lalu dia berdiri mengikuti langkah mereka yang memang dengan tujuan yang sama.


Di sela aktifitas ya, Alisa menyempatkan diri mengoleskan salep ke lehernya di toilet. Malah Hadi menyuruh Alisa untuk mengoleskan nya ke bagian sensitif yang jadi bilang pasti sakit dan memang benar. Rasanya agak bengkak. Mungkin karena belum terbiasa saja di masuki mahluk astral.


"Malu aku, kalau sampai dilihat orang, atau orang rumah kan malu." Alisa bermonolog sendiri.


"Dasar, kenapa di sini sih bikin nya? Biar gak malu gitu, di lebih bawah kek, di dada kek yang sekiranya gak akan kelihatan!" gumamnya Alisa kembali.


"Ooh, jadi pengennya di tempat lain ... gitu? boleh, nanti aku bikin di daerah lain." Suara Hadi mengagetkan Alisa yang sedang menunduk.


Sontak Alisa menoleh, dengan ekspresi malu. "Apaan sih? dengar saja orang ngomong."


"Dengarlah." Hadi mencuci muka nya dan lalu menyemprot tubuhnya dengan parfum.


Alisa meraih tas lalu menyoren nya, keluar duluan dari toilet.


"Alisa. Coba kau jawab, ada hubungan kamu sama pak Hadi?" Zidan meraih tangan Alisa ketika bertemu di sebuah koridor.


Alisa mengedarkan pandangannya pada tangan yang menyentuh tangan nya itu.

__ADS_1


Zidan segera menarik tangannya. "Sorry, tapi kau mau aja di tarik-tarik pak Hadi bahkan kamu sudah satu kamar dengannya semalaman. Apa namanya ha?"


"Murahan, itu yang ingin kau katakan? aku wanita yang dulu kau anggap baik-baik dan ternyata sekarang kelihatan busuk nya. Iya?" Alisa menatap lekat pada Zidan sembari menelan Saliva nya yang tercekat di tenggorokan.


"Bukan, maksud ku begitu. Tapi aku! hanya kecewa saja kamu itu satu kamar dengan pak Hadi yang jelas-jelas satu kamar dengan ku. Dia dari semalam tidak ada di kamar. Pulang-pulang dengan mengenakan handuk dak seperti orang sudah mandi, dan aku yakin dia bersama mu kan?" Zidan menatap curiga.


"Perasaan, aku gak pernah ngasih harapan apapun sama kamu. Dan aku juga gak minta di percaya ataupun di sanjung. Dengan kata-kata bahwa aku wanita sempurna ataupun baik-baik, kamu sudah lihat kan? kenyataannya seperti apa!" Alisa dengan suara pelan.


Zidan tidak bicara lagi. Dia terdiam seribu bahasa, kemudian mereka berdua berjalan kembali menjalankan tugasnya.


Seharian mereka bersama dan saling mendukung satu sama lain. Seolah tidak ada apa-apa.


Dan kini mereka hendak kembali ke kamarnya masing-masing.


"Zidan. Kita bisa bicara sebentar di lobby" Hadi menoleh pada Zidan.


"Baik," Zidan mengangguk pelan.


Lalu mereka bertiga berjalan memilih salah satu tempat duduk di lobby, dan memesan minumnya masing-masing.


Alisa menarik gelas minumnya di dekatkan pada orang nya sembari mengucapkan makasih pada yang membawanya.


"Terima kasih, Mbak?" Alisa mengangguk hormat dan ramah.


"Sama-sama, Nona." balas mbak itu tidak kalah ramah.


Kemudian pegawai hotel pun mengundur diri dari tempat tersebut.


Hadi menyesap minumnya sebelum memulai pembicaraannya dan membuka jas nya yang terasa panas diberikannya pada Alisa.


Zidan menatap ke arah keduanya sambil bermonolog dalam hati ....


...🌼----🌼...


Sebagai orang yang menyimpan harapan terhadap seseorang, memang tidak akan mudah menerima kenyataan yang berbalik dengan harapan.

__ADS_1


__ADS_2