
Tangan Alisa sedikit mendorong dada hati. "Awas aku mau kerja lagi!"
"Nggak bisa, temenin aku dulu!" pinta Hadi di sela ciumannya pada Alisa.
"Tidak mau! kamu kan nggak mau aku segera masuk kerja. Dan setelah kerja malah keenakan gini!" kata Alisa sembari merangkul pundak Hadi.
"Iya ... masalahnya aku nggak mau kamu capek, kan sudah bilang boleh masuk kerja tapi jangan capek-capek. Nah ... sekarang aku mau istirahat," Hadi semakin tersenyum nakal.
"Apanya yang istirahat? kalau istirahat itu tidur, santai beneran. Ini harus ngelayanin kamu, iih. Sama aja capek." Alisa mengerucutkan bibirnya penuh manja.
"Apanya yang capek sayang? nggak menyuruhmu melakukan sesuatu pun yang berat, emangnya aku suruh kamu membawa kursi atau meja? kan tidak. Kamu cukup diam dan menerima yang aku berikan," ucap Hadi.
"Em ... oke!" Alisa terdiam dan menarik tangannya dari pundak Hadi.
Kemudian Hadi mencumbu Alisa dengan lembut dan Alisa hanya diam tanpa respon sama sekali.
Hadi hentikan aktifitasnya seraya mengerutkan kening. "Sayang kenapa? bagai pohon pisang yang tak bergerak sama sekali? jangan gitu juga dong sayang ...."
Alisa menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil terkekeh. "Ha ha ha ... katanya aku harus terdiam, tapi diam! salah juga gimana sih?"
"Bukan gitu juga sayang ... bukan gitu maksud ku." Kata Hadi yang masih berada di atas tubuhnya Alisa.
"Iya. Terus harus gimana? kan katanya tadi harus diam!" protes Alisa sambil tetap mengembangkan bibirnya.
Kemudian Hadi memegang kedua tangan Alisa yang dia rangkulkan ke pundaknya. "Seperti biasa aja istri ku ... cuma jangan berontak atau banyak alasan ini itu."
"Tapi, kan bener kerjaan ku banyak. Lagian ini kantor untuk bekerja bukan untuk senang-senang!" ucapnya Lisa sembari menyisir pandangannya setiap sudut ruang.
"Cuma sebentar sayang. Anggap saja untuk rehat sesaat. Lagian siapa yang akan memecat mu?tidak ada. Sekalipun di sini istriku cuman diam dan menemani aku duduk saja! tidak apa-apa," sambungnya Hadi.
Alisa tidak berkata lagi dia hanya menatap wajah suaminya sambil membelai rambutnya.
Hening ....
Sejenak mereka berdua saling bersitatap, tatapan yang penuh arti serta getaran kasih sayang di antara keduanya.
"Oh ya, sayang belum jawab yang aku tanyakan," ucap Hadi dengan masih di posisi yang sama.
"Em ... pertanyaan yang mana?" tanya Alisa sembari mengerutkan keningnya seakan mengingat-ingat sesuatu.
"Aku pernah bertanya, apa kamu masih mencintai mantanmu?" pertanyaan itu kembali Hadi ajukan kepada sang istri.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Alisa balik bertanya sambil terus membelai rambut Hadi yang dekat telinganya, dengan sangat lembut.
"Sayang jawab aja, jangan ditanya lagi!"
"Kalau menurut kamu, apakah aku masih mencintai mantan atau apa?" Alisa malah bertanya lagi.
"Ck, sudah ku bilang. Jangan bertanya lagi dan aku malas untuk menerka." Hadi membaringkan kepalanya di bantal.
Kini Alisa yang merubah posisi. menjadi miring menghadap ke arah sang suami.
"Seharusnya ... tanpa aku berkata ataupun menjawab. Kamu sudah tahu jawabannya seperti apa! seharusnya kamu udah merasakan itu!" suara Alisa dengan lirih.
Hadi menggerakkan sebelahnya netra nya ke arah Alisa. Lalu tangan mengarah membelai pipi istri kecilnya itu. "Aku tahu, kamu sayang sama aku. Tapi aku gak tahu tentang perasaan mu mengenai orang lain."
Alisa menggeleng. Lalu menempelkan pipinya di dada Hadi, ingin rasanya bilang. Kalau dia sudah move on dari pria lain dan saat ini hanya Hadi saja seorang yang bertahta di hatinya.
Namun bibir Alisa terasa kelu untuk mengatakan itu. Sehingga yang ada hanya diam dan memeluk pria itu.
Hadi menggerakan tangannya untuk memeluk Alisa dengan erat seraya mencium pucuk kepalanya sangat mesra.
Waktu terus berputar. Dan Hadi terbangun. "Aku harus bekerja lagi. Kalau sayang mau istirahat. Istirahat lah." suara Hadi begitu lembut.
Alisa yang juga terbangun menggelengkan kepalanya, dia pun punya satu tanggung jawab kalau dia harus bekerja dan datang ke sana bukan untuk berleha-leha.
Hadi pun ikut tersenyum sembari merapikan rambut istrinya yang acak-acakan. Alisa merapikan pakaiannya yang juga berantakan.
Jemari Hadi bergerak untuk mengancingkan kembali kancing kemeja istrinya yang tadi sempat dia buka, namun tidak sampai menjamahnya.
Selanjutnya Alisa merapikan kemeja Hadi yang kusut.
Kini mereka sudah duduk di kursinya masing-masing, memghadapi laptop yang menyala di mejanya. Tapi duduk mereka tidak berlangsung lama. Karena mau makan siang dan keduanya bangkit kembali untuk mencari makan.
"Yank, kan belum salat!" Alisa sambil menyoren tas nya melirik ke arah sang suami.
"Iya nanti saja, dekat restoran kamu pesan makanan. Aku salat dulu ya? bolehkan?" Hadi pun mengambil tasnya.
"Em ... baiklah kalau begitu. Pakaiannya bersih nggak?" Alisa memperhatikan pakaian Hadi.
"Bersih dong sayang!" jawabnya sambi menuntun tangan istri nya itu.
"Benar ya, aku yang pesan makan dan sayang salat." Alisa melirik.
__ADS_1
"Iya dong sayang ..." Hadi terus berjalan sambil menggandeng pinggang Alisa ke sebuah restoran yang berada di samping gedung kantornya tersebut sehingga tidak perlu menaiki kendaraan.
Alisa memesan makan dan Hadi ke mushola yang ada di samping resto tersebut. Alisa duduk di sana sendiri sambil menunggu pesanan datang.
"Hi ... cantik. Kau semakin cantik dan menarik, boleh aku ikut duduk di sini?" suara seorang pria yang membuat Alisa kaget dan melonjak naik.
Dia Luki yang mendatangi Alisa yang sedang duduk sendiri. "Kau, Abang!"
Luki duduk tanpa menunggu persetujuan Alisa untuk duduk. "Aku sering menunggu momen seperti ini, dimana kita dapat berduaan seperti ini.
Alisa yang tampak gelisah dan berdiri di dekat kursinya. "Em ... Abang sedang apa di sini? aku, aku sedang bersama suami ku!"
"Mana suamimu? Aku tidak melihatmu sama laki-laki. Jangan bilang kalau suami mu siluman, sehingga tak dapat terlihat." Katanya Luki sekenanya saja.
"Abang jangan sembarangan ya kalau bicara, karena suamiku itu adalah manusia yang dapat dilihat, saat ini dia sedang ke mushola." Alisa tetap berdiri di dekat kursinya.
"Ha ha ha ... aku ini bicara sesuai fakta, karena kemarin kamu hanya jalan dengan wanita tua dan sekarang kamu jalan sendiri. Sementara kamu bilang jalan dengan suami! suami yang mana? angin kah dia." Seringai nya Luki sembari menyandarkan punggungnya.
"Tapi aku ke sini bener-bener sama suami aku, dan kami datang ke sini karena dari kantor." Jelasnya Alisa.
Luki memang tidak tahu yang mana suaminya Lisa, karena sewaktu Alisa menikah yang berada di kota dan tidak juga diundang. Dia tahu-tahunya pulang sang ayah sudah berada di penjara.
"Ada apa ini, sayang kenapa?" Suara Hadi terdengar di antara mereka berdua.
Keduanya langsung menoleh ke arah Hadi dan Luki lantas berdiri.
"Oh ini suami kamu. Dan ini juga yang sudah menjebloskan bapakku ke penjara?"
"Siapa dia sayang?" tanya Hadi sembari mengerutkan keningnya karena dia memang tidak kenal dengan sosok Luki.
"Em ... dia--"
"Kenalkan nama saya Luki anaknya Pak Anwar. Anda bukan yang telah menjebloskan Bapak saya ke penjara? Hebat
... hebat sekali." Luki tepuk tangan pelan.
"Oh ini putranya! sepertinya tidak beda jauh sih sama ayahnya! maaf apakah dia juga pernah kurang ajar sama kamu sayang?" selidik Hadi sembari melirik ke arah sang istri.
Dengan ragu-ragu Alisa pun mengangguk sangat pelan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Like komen ya makasih.